Beranda > Sekolah > Berpisah dengan Seorang Kawan Kecil

Berpisah dengan Seorang Kawan Kecil

Hari ini saya sedih, seorang kawan musti pergi.

Namanya Alifia, sama dengan saya. Tapi dia laki-laki. Usianya hari ini belum genap 10 tahun.

Saya ingat sewaktu dia datang 2 tahun yang lalu, seorang anak laki-laki yang sangat pemalu dan merasa tidak nyaman. Beberapa hari kemudian saya baru tahu kalau dia sedang bertengkar hebat dengan bundanya, perihal sekolah. Keluarga Alifia baru pindah dari Bandung, saat mencari sekolah, Ibunda Alifia sudah ‘jatuh cinta’ dengan sekolah tetangga. Tapi Alifia ‘jatuh cinta’ dengan sekolah ini. Sama-sama ngotot, akhirnya ayah Alifia memutuskan, mengikuti yang punya hajat aja…maksudnya ngikutin yang mau sekolah gitu.

Alifia waktu pertama kali datang membuat saya tertegun dengan karakternya yang sangat ‘streng’, kaku banget!!! Hari pertama di kelas dua, dia duduk menoleh kepala kiri dan kanan. Di luar kelas dia berbisik padaku, ‘Bu… Boleh aku bertanya’

‘Oh silahkan nak…’

‘Kenapa di sekolah ini, anak perempuannya suka membuka aurat?’

Aiiiiihh!

Memang sih salah satu peraturan adalah, memasuki kompleks sekolah harus berbusana muslim. Seragam anak-anak pun adalah baju yang sesuai syariat Islam, artinya yang perempuan lengkap dengan jilbab. Tapi tetep aja, dalam pelaksanaannya ya gak se kaku itu..apalagi sama kelas-kelas kecil. Masa sih kita musti memaksa mereka terus-terusan memakai jilbabnya sepanjang hari….yang ada ngamuk semuanya karena kegerahan. Untuk kelas 3 ke atas, jilbab harus terpasang sepanjang hari.

Alifia itu pemalu banget.

Paling enggak mau disuruh ke depan kelas. Dia anak yang lebih suka berada dibalik bayang-bayang di suatu pojok sana. Saya ingat pertama kali dia musti ke depan, setengah menangis dia memohon untuk tidak harus ke depan. Tapi tidak bisa, semua anak harus ke depan. Aku tanya, apa yang kamu takutkan.

‘Aku takut kalo ada yang ngeliatin aku’

‘Kalo gitu kita semua merem aja’ kata nouval memberi usul.

‘atau balik badan’ kata Farhan

‘Bagaimana kalo begitu?’ kata saya. Dia mengangguk.

‘Ayo semuanya, balik badan graaaak!’

Alifia baru mau ke depan, membaca sebuah karangan di buku Bahasa Indonesia. Tugas ke depan selanjutnya ke depan, adalah pelajaran Al Qur’an, menghafal surat Al Humazah dan artinya. Kali ini anak-anak maunya merem saja, soalnya kemarin sudah balik badan. Alifia agak tersendat-sendat menghafalkan di depan kelas (kalo sendiri, hafalan Al Qur’annya sudah sampai Al Lail, weeew…). Barulah pada tugas ke sekian, Menyanyikan lagu Indonesia Raya, Alifia bisa menyelesaikan dengan dengan baik, walopun meleset semua nadanya. Selesai tugasnya, dia bernafas panjang huaaaaaah!!! Ku pegang badannya basah kuyup dengan keringat, anak-anak bertepuk tangan riuh.

‘Hebat Alif!!!’

Di kelas ada Alif, mau gak mau tiap hari harus banyak belajar. Walopun semua anak suka bertanya, kebanyakan yang aneh-aneh, tapi Alif sangaaaaaaaaaaaaaat suka bertanya. Setiap pelajaran, berkali-kali bertanya. Serta Interupsi. Guru gak bisa salah kasih informasi. Dia juga senang duduk dan berdiskusi denga guru, khususnya saya. Dengan bahasa yang sudah bukan anak-anak lagi.

‘ ibu…tau filem Knight Rider?’

‘Tau, kenapa?’

‘Menurut ibu, bagaimana filem itu?’

‘Yah…ibu mah nonton itu waktu masih kecil, lupa. Kok kamu tau sih filem itu?’

‘Ada di rumah bu. Gini…menurut saya, ada beberapa kekurangan filem tersebut. Yang pertama…….’

Weh :O

Beberapa kali saya dipermalukan di depan kelas oleh Alif ketika dia menyanggah, ‘Ibu salah…yang ibu ceritain itu penyu, bukan kura-kura. Kalo kura-kura itu begini…’

‘Bukan begitu bu, yang saya tahu itu gini….’

‘Masa sih bu, bukannya ini…’

Akhirnya saya sadar, menjadi guru di negeri ini sekarang, jangankan menjadi sumber informasi, mengikuti siswa-siswanya saja terkadang terseok-seok sendiri. Walo bagaimanapun, menurut saya Alif beruntung wali kelasnya adalah saya, coba wali kelasnya orangnya sempit, anak itu langsung masuk blacklist. Saya sih seneng aja, jadi banyak info baru dari anak itu.

Tapi walopun dalam pengetahuan umum Alif sangat luas, nilai Alif berada di seputaran 7 dan delapan. Gak gitu mempesona. Salah satu hal yang membuatku mengagumi Alif juga adalah sikap pantang putus asa-nya. Ini ku lihat dalam pelajaran Bahasa Arab. Sejak awal, Bahasa Arab merupakan siksaan yang mematikan bagi Alif. Dia ketinggalan jauh karena di sekolahan yang lama, tidak ada pelajaran itu. Ditambah gurunya yang killer. Setelah 2 kali ulangan nilainya di bawah 5, aku mengatakan bahwa jika ulangan selanjutnya di bawah 5 lagi, dia harus masuk kelas tambahan atau diberi PR. Alif berkata, ‘Ya bu…saya juga sedang berusaha menyelesaikan persoalan ini.’ Ulangan selanjutnya Alif mendapat nilai pas, 6. Tapi ada sesuatu yang terjadi, guru Bahasa Arab mengundurkan diri karena harus pindah kota mengikuti tugas suaminya. Semua anak sedih, Alif menangis sesunggukan di perpustakaan. Ketika saya mendekatinya, Alif berkata, ‘Saya sadar, bahwa masalah saya bukanlah persoalan Bahasa Arab, tapi saya tidak menyukai guru Bahasa Arabnya..’

‘Tapi kenapa kamu tidak suka sama bu guru Bahasa Arab?’

‘Apa sekarang masih penting untuk membicarakannya bu?’

Eh enggak ya.. hehehehe, kalo ngomong sama Alif, kadang-kadang suka keder sendiri.

‘Lalu?’

‘Aku udah berusaha untuk menyukai beliau, aku benar-benar berusaha bu… Tapi sampai beliau harus pindah, aku tidak bisa menghentikan ketidak sukaan aku sama beliau. Padahal kan, beliau guru aku…’

‘Alif, kadang kita tidak bisa memilih untuk suka atau tidak suka dengan seseorang. Tapi ibu rasa, kamu sudah melakukan yang seharusnya. Kamu hormat kepada beliau. Ibu gak pernah dengar keluhan dari guru Bahasa Arab tentang kamu tidak menghormati beliau, yah…kecuali tentang nilai-nilaimu yang jeblok terus sih..hehe..’

‘Ya bu…menurutku juga begitu. Suka atau tidak suka kita pada orang, orang yang harus kita hormati musti kita hormati. ’

Saya suka sekali bicara dengan Alif, kayak ngomong sama orang gede aja.

Beberapa bulan yang lalu, ada kabar buruk dari keluarga Alif: Usaha ayahnya bangkrut dan harus menanggung hutang yang sangat besar. Setelah Ulangan Umum, Alif sudah tidak masuk sekolah lagi. Kemarin hari pertama tahun ajaran baru, dia pun tidak datang. Saya tidak tahu dimana dia sekarang tinggal, rumahnya sudah berpindah tangan ke orang lain.

Hari ini, dia datang. Hatiku langsung melonjak senang, Aduuuh! Kangen sekali sama anak itu. Tapi kemudian, dia memberi tahu kabar yang menyedihkan

‘Bu..hari ini aku datang untuk pamit’

‘……’

‘Orangtua aku gak sanggup lagi bayar uang sekolah disini bu. Sekarang, untuk makan pun kita susah’

‘Tapi kamu gak putus sekolah kan nak..?’

‘Gak bu, saya pindah di daerah ‘c’. Ngontrak hehehe.. Saya mungkin akan sekolah di SDN XX, soalnya sekolahnya gratis bu..’

Menyaksikan dia berpamitan dengan rekan-rekan sekelasnya, dan melambai tersenyum dengan muka yang sedih. Tidak kuat air mataku mengalir pelan-pelan.

Bye Alif, my dear friend. Ill be missing you…

Mudah-mudahan suatu saat nanti kita bisa berjumpa lagi.

  1. Anne
    18 Juli 2008 pukul 5:56 AM | #1

    gue tau Alif itu siapa, anak kecil yang sering banget lo ceritain itu kan? Yang dua hari mikirin kenapa Albert Einstein rambutnya acak-acakan trus yang percaya kalo mukjizat adalah indera ke tujuh heheh.

  2. 4 Agustus 2008 pukul 3:10 PM | #2

    blog yang menarik,,dunia anak-anak ternyata sangat mengasyikkan,,,,salm kenal bu

  1. 30 November 2008 pukul 6:03 PM | #1