Kemarin saat pulang sekolah, seorang anak kelas tiga menghampiri dengan senyum yang lebar.

‘Hai, Bu..’

Hai, seneng banget?

‘Aku ulang tahun, bu. Ini untuk ibu. Makasih ya, sudah sabar ngajarin aku.’

Dia menyerahkan satu kantong kertas yang cukup besar. Saya bisa mengira isinya apa.

Oh, ya? Wah, senangnya sudah 9 tahun. Mudah-mudahan, kamu jadi anak yang sholeh.

‘Makasih ya bu..’

**

Ingat gak saat kecil dulu? Kita sering diundang perayaan ultah kawan. Biasanya acara akan berlangsung meriah. Hiasan dan ada badut. Tiup lilin serta nyanyi. Terkadang acaranya berlangsung di taman bermain atau restoran fast food. Kita akan datang dan membawa kado yang besar untuk kawan. Waktu kecil, kita ultah senangnya dapat kado yang banyak. Tapi anak-anak saya di sekolah ini, kalau ultah, tidak mendapat kado.

Tradisi merayakan hari ulang tahun, tidak terdapat dalam agama Islam.. Tapi kami juga tidak secara kaku melarangnya. Merayakan ultah anak-anak di sekolah, boleh-boleh saja, dengan catatan bahwa itu sebagai acara syukuran yang sederhana. Tanpa tiup lilin, serta tidak bermewah-mewah. Hanya kue dan penganan yang cukup untuk dimakan setiap orang.

Beberapa ortu protes, alasannya anak-anak akan kecewa. Tapi lucunya, anak-anak justru tidak protes. Yang berulang tahun akan datang dengan gembira, walaupun tanpa mendapat satu pun kado dari kawannya.

Acara berlangsung tidak lebih dari 15 menit, dan dimulai beberapa saat sebelum bel pulang berdering. Sebuah bungkusan besar dibawa dari ruang guru, tempat dimana bungkusan itu selalu dititipkan sebelumnya. Tanpa ada pengumuman, maka selalu merupakan kejutan yang menyenangkan. Bagi kawan-kawan satu kelas, ataupun semua anak di sekolah. Tergantung berapa banyak jumlah makanan yang tersedia tentu. Kalau cukup untuk semua anak, maka acara akan dilangsungkan di aula.

Duduk rapih, wali kelas akan mengumumkan bahwa hari ini ada syukuran ulang tahun seorang kawan. Bagi-bagi kue pun tidak selalu oleh sang anak yang berulang tahun, terkadang guru-guru yang membagikan. Berdoa mengucap syukur atas rezeki yang diberikan hari ini dan doa-doa untuk anak yang berulang tahun, serta untuk kita semua. Lalu..makan-makan.

Boleh nyanyi gak?

Pertanyaan itu selalu ditanyakan oleh ortu. Kami tidak merayakan tiup lilin, maka ortu akan bertanya-tanya tentang lagu ultah. Well, kami tidak meminta anak-anak menyanyi lagu ulang tahun, tapi kalau anak-anak ingin menyanyikannya, kami pun tidak saklek melarang. Lucunya, justru anak-anak yang mengingatkan bahwa ini bukan acara ulang tahun biasa, tapi syukuran.

Pada suatu hari, di kelas 2, tahun ajaran kemarin. Hari itu, kami sedang syukuran di kelas. Endrie tau-tau berteriak:

‘Nyanyi dong buuu…’

Otomatis saya menepuk tangan dan mulai bersenandung:

Happy birthday to you

Happy birthday to you

Anak-anak bukannya ikut nyanyi, malah bengong ngeliatin saya.

‘Ibu, kita kan bukan lagi pesta ulang tahun, tapi syukuran. Kok lagunya kayak gitu?’

Oh, iya. Lalu untuk syukuran bagaimana ya?

Endrie lagi, bershlatawat keras-keras:

Shalatullah Salamullah
Alla Toha Rasullilah
Shalattullah Sallamullah
Alla Yasin Habibillah

Lalu semua anak jadi ikuta bershalawat:

Shalatullah Salamullah
Alla Toha Rasullilah
Shalattullah Sallamullah
Alla Yasin Habibillah

Tawassalna Bibismillah
Wabil Hadi Rasulillah
Wakulli Mujahidilillah
Bi Ahlil Badri Ya Allah

Shalatullah Salamullah
Alla Toha Rasullilah
Shalattullah Sallamullah
Alla Yasin Habibillah

Wah, ini syukuran ultah apa acara maulid nabi ya? Heheh..

Tentang tradisi kami ini, banyak ortu yang menentang. Ingin tetap merayakan dengan pesta yang meriah. Kami tidak melarang tentu, tapi sekolah tidak memfasilitasi itu. Maka terkadang ada saja surat undangan perayaan ultah yang beredar yang acaranya jika tidak di rumah, maka dirayakan di restoran fastfood. Namun karena banyak anak yang tidak mampu datang ke mall, apakah karena terlalu jauh atau karena sebab lain, ini jadi tidak begitu popular. Akhirnya tahun depan, sang anak akan minta dirayakan di sekolah saja.

Saya melihat, justru kebanyakn ortu yang kecewa. Saat ultah kan kesempatan mendandani anaknya, pesta, lalu foto-foto. Jadi sebetulnya perayaan ultah anak itu untuk siapa sih? Untuk anak, atau untuk ortunya?

Beberapa protes karena kami jadi kesannya nanggung. Kalau mau melarang karena alasan bahwa itu bukan tradisi agama kita, lalu kenapa tidak sekalian saja melarang sama sekali?

Namun lihat, lihatlah… Contoh-contoh di sinetron dan gosip artis. Anak-anak, setiap hari, disuguhi kesan bahwa acara ultah itu adalah acara yang memang semestinya hura-hura. Bahkan, tidak sedikit ortu yang rela menghabiskan uang sampai jutaan rupiah hanya untuk acara beberapa jam saja yang anak-anak malah tidak mengerti apa sebetulnya hikmah dari itu semua.

Anak-anak, belajar dari setiap yang ia lihat, dengar, dan rasakan. Apakah kita akan mengajarkan mereka untuk berhura-hura?

Kami ingin menunjukkan pada mereka, bahwa dengan acara yang sederhana, lebih sedikit egoisme, toh tetap menyenangkan. Perayaan dari apa yang kita capai, dapat berupa memberi, dalam kebersamaan. Tanpa badut atau kado, kita bahkan bisa tertawa lebih lebar. Intinya toh, menyukuri. Dan mari kita syukuri dengan sebaik-baiknya.

About these ads