Pelajaran IPS di kelas 4 sedang membahas tentang perkembangan teknologi produksi, komunikasi, dan transportasi. Sepanjang pembahasan teknologi produksi, kami terus berkelana ke industri kecil dan pabrik-pabrik melalui youtube. Gosh! Terimakasih kepada youtube yang sudah begitu banyak memudahkan pekerjaan saya sebagai guru.

Minggu kemarin, kami masuk ke teknologi komunikasi. Kami sudah mengarungi waktu memperhatikan bagaimana teknologi komunikasi kita terus berkembang. Dari masa memakai tanda api dan asap, sampai munculnya tulisan, penemuan kertas, ditemukannya mesin cetak. Dari mulai tukang pos pakai kuda, sampai telegraph, lalu ditemukannya telpon, sampai masuk era internet.

Nampaknya, anak-anak terkesan sekali bahwa apapun kemajuan yang kita miliki sekarang, itu berkembang secara bertahap.

Waktu ibu masih kecil, ibu gak pernah berpikir bahwa suatu saat nanti, ada telpon yang bisa dibawa kemana-mana seperti ini, (saya mengangkat HP) dan dari benda kotak kecil kayak gini, bisa keluar lagu dan musik.

‘Jaman ibu kecil, belum ada MP3?’

Mengkhayal pun enggak pernah.

‘Kasihan, ibu..’

Hihihi..

Coba kalian bayangin, misalnya pada zaman dahulu, saat zaman kerajaan, bagaimana kalau ada orang yang bilang bahwa kita bisa berkomunikasi dengan orang lain di tempat yang jauh, dengan kotak kecil seperti ini?

Mungkin, orang itu akan ditertawakan.

Dan saya memberi PR, meminta mereka merancang alat komunikasi untuk masa depan. Mengkhayal lah sebebas-bebasnya.

‘Boleh yang aneh-aneh, bu?’

Terserah, terserah…

‘Horeeeee…’

Mereka menjerit-jerit kegirangan. Gak brenti bikin heran mereka itu, dikasih PR malah girang.

‘Dikumpulinnya, besok bu?’

Loh, kok, besok? Besok kan gak ada pelajaran IPS. Dikumpulkan saat pelajaran IPS selanjutnya.

‘Besok ajalah bu. Nanti siang aja..’

Hari Rabu, saat pelajaran IPS. Cobalah belajar untuk melakukan sesuatu sesuai waktunya. Besok ada pelajaran lain, mungkin ada ulangan. Ibu gak tahu. Lalu karena PR ini asik, PR pelajaran lain atau ulangan jadi dilupakan?

Kemarin, PR itu dikumpulkan. Setumpuk kertas sudah ada di meja guru saat saya masuk. Anak-anak sudah gemas sekali ingin segera cerita-cerita rancangan mereka. Mereka terlonjak-lonjak saat saya masuk kelas.

Gosh, saya bersyukur berhadapan dengan anak-anak ini mengingat keluhan guru-guru IPS biasanya mengatakan, saat pelajaran IPS, anak-anak biasanya akan menguap lebar-lebar terkantuk-kantuk. Dianggap tidak penting, dan tidak menarik.

‘Nanti, nanti… Dibacain bu, PRnya?’

Gak, ibu gak akan membacakan. Enak saja! Kalian presentasi di depan kelas. Ceritakan kepada kawan-kawan, alat komunikasi rancangan kalian sendiri yang hebat itu.

Anak-anak perempuan menjerit: OOOOHHHH NOOOOOOO!!!!!

Tapi jeritannya, jeritan kesenangan. Saya nyengir lebar sekali.

Pelajaran IPS jadi melar panjang sekali, sampai pak IPA akhirnya duduk bengong di depan kelas 4 cukup lama menunggu saya keluar. Maaf ya paaak…

Bagaimana rancangan mereka?

Sebenarnya, kalau mau dilihat kerapihan mereka mengerjakan, itu memprihatinkan sekali. Setengah kertas yang terkumpul di meja saya sungguh lusuh, lecek, dengan tulisan yang acak-acakan, orat-oret tidak jelas. Gambar-gambar rancangan mereka pun kebanyakan miring, geradakan, dan beberapa penuh coretan tumpang tindih. Tapi saya terkesan dengan ide-ide mereka yang cukup segar.

Ada anak yang merancang HP yang sekaligus adalah sisir, deodoran, sikat gigi, dan alat pendeteksi jantung. Asik juga itu, kalau pergi-pergi, tidak usah bawa banyak barang.

Vinci merancang suatu robot yang super canggih. Selain bisa diperbantukan melakukan segala macam pekerjaan rumah tangga, robot itu bahkan bisa menangis, menjerit, menyanyi, tertawa, dan main gitar. Di dadanya ada layar LCD, jadi bisa menonton TV, terkoneksi internet sehingga bisa browsing, chatting, blogging, dan fesbukan. Bisa juga menonton DVD dan memutar musik. Kita juga bisa berkomunikasi dengan orang lain melalui robot itu. Bahkan, robot itu pun bisa berfungsi sebagai supir pribadi.

Saya sampai bengong… Ni anak baru nonton film apa ya?

Anak-anak sih, tertawa saja.

Ada yang menggabungkan HP dengan segala jenis remote control. Jadi Hpnya selain bisa berfungsi seperti HP biasa (telpon, SMS, Chatting, kamera, Music Player, dan TV) juga bisa untuk dipergunakan sebagai remot TV, AC, dan bahkan, bisa juga jadi remote control mainan pesawat-pesawatan yang bisa terbang beneran.

Donny merancang sebuah HP yang bisa langsung menerjemahkan segala jenis bahasa. Jadi kita bisa berkomunikasi dengan orang Jerman langsung, kita berbahasa Indonesia, dia berbahasa Jerman. Aduuh, enak sekali….

Nouval, baik sekali. Dia ingin memudahkan pekerjaan polisi, jadi membuat HP yang bisa dipergunakan untuk menembak peluru bius, dan mendeteksi kebohongan. Bahkan, HP ini pun bisa digunakan untuk mendeteksi logam dan melacak bau.

Terkesan saya karena anak ini tidak asal mengkhayal saja, tapi benar-benar merancang sesuatu yang diperuntukkan secara spesifik: polisi. Ternyata, Nouval bukan satu-satunya yang begitu.

Anis mengkhayalkan HP yang cocok sekali untuk seorang guru. Sebab HP rancangannya ini begitu kecil sehingga pas di tangan. HP ini bisa juga berfungsi sebagai spidol dan sekaligus penghapusnya di ujung yang lain. Bisa berfungsi sebagai pointer laser, dan… in focus mini. Asik sekaliii….

Anis, nanti kalau kamu benar-benar membuat HP itu, ibu beli ya satu.

‘Kalau buat ibu, saya bikin Hpnya khusus yang bisa terbang. Nanti, ibu tinggal panggil, Hpnya dateng.’

Saya terdiam beberapa detik, lalu tertawa..

Ibu tau, sebab ibu orangnya pelupa kan? Ibu selalu kehilangan barang karena lupa meletakannya dimana. Jadi kamu mau bikin HP yang bisa dipanggil saat ibu lupa naronya dimana, yaaa

‘Ibu itu ya,’ celetuk Salman. ‘pelupanya parrraaaahhhh, buuu..’

Hihihi..

Anak-anak kela 4 ini, adalah anak-anak saya yang pertama. Tiga tahun bersama saya, baik itu saya sebagai walikelas mereka saat kelas 2, lalu sepanjang pelajaran IPS. Tentu sudah mengenal saya. Mereka adalah anak-anak yang paling mengenal saya di sekolah ini.

Selain Nauval dan Anis, Nurul juga membuat HP yang spesifik. Untuk memudahkan para petualang. Sebab HP rancangannya tahan air dan tekanan. Menangkap sinyal super sensitif sehingga bisa dipergunakan untuk menulis blog dibawah laut. Hebuaaaaatttttttt!!! Tahan dingin sehingga bisa dipergunakan di kutub tidak rusak karena membeku.

Tapi ternyata, dari semua rancangan anak-anak, yang paling menarik anak-anak sendiri adalah Hpnya Edo. Dia membuat HP itu begitu kecil hingga bisa dilekatkan di gigi. Jadi saat bicara, tidak perlu repot musti diangkat-angkat, tapi langsung saja ngomong.

‘Lah, cara mencet tombolnya, gimana?’ Donny.

‘Yaa, gak ada tombolnya. Langsung sebut saja. Kan HP ini punya sensor suara, jadi kita sebut nama, dia langsung menghubungi nomor yang kita mau hubungi.’

Anak-anak mengangguk-angguk. Kerrreeeennn…

‘Cuma ada satu kekurangannya bu..’ kata Edo. ‘Saya juga jadi bingung sendiri.’

Heh, dia bahkan mengevaluasi rancangannya sendiri? Benar-benar, anak-anak ini!

Apa itu Do?

‘Itu, bu.. Kan kalo nenek-nenek udah ompong. Jadi gak ada giginya..’

Anak-anak itu, dunianya luas. Mereka mengkhayal kemana-mana. Dengan segala macam informasi dari TV, buku, dan internet, bayangkanlah betapa menumpuknya ide di dalam kepala mereka sesungguhnya. Dan bayangkan, bayangkan.. Jika setiap hari mereka harus menghabiskan waktu duduk mendengarkan guru saja, mengerjakan soal, sampai di rumah disuruh ini dan itu dinasihati ini dan itu. Jarang didengarkan, jarang diminta menyampaikan pendapat.

Pada akhirnya mungkin, mereka jadi terdiam. Membisu. Tidak lagi mengkhayal, tidak lagi bermimpi, tidak lagi mau berpikir. Jadi makhluk-makhluk yang Cuma menerima dan menghafal.

Sedih, bukan?

About these ads