Bagaimana Jika, Bagaimana Kalau

Ini adalah cuplikan-cuplikan dari catatan harian saya, dengan beberapa perubahan:

Kamis, 24 Oktober 2008

Bahasa memiliki makna dan konsep kata yang telah disepakati, tapi makna dan penggunaannya terus berubah dan bermutasi. Seorang penulis, mengerahkan kreativitas yang sangat besar untuk memilih symbol-simbol bahasa yang paling bisa mengkomunikasikan gambaran yang ada dalam pikirannya, tapi ia tidak dapat mengontrol dampak sebuah bahasa terhadap penggunanya. Seorang penulis mungkin ingin menyampaikan X, tapi bahasa yang dipergunakan mungkin saja menyampaikan XY, XZ, XT atau bahkan M. Seorang penulis adalah pihak yang menggunakan bahasa untuk menyampaikan makna, akan tetapi ia tidak dapat mengendalikan makna yang disampaikannya. Bahasa menambahkan aturan dan batasannya sendiri, dan membentuk serta menyalurkan makna.

Mungkin jika kita membaca suatu teks dan menangkap makna yang tersurat juga yang tersirat, itu sungguh bukan maksud sang penulis teks tersebut. Mungkin..

Bagaimana jika seorang guru membaca pesan yang ditulis ibunda dari anak didiknya dalam buku penghubung, dengan tulisan besar-besar seperti ini:

ASSS!!! IBU.. ANAK SAYA ITU GAK KREATIF! TOLONG INGATKAN DIA AGAR KREATIF!!!!

Lalu, beberapa hari kemudian, kalimat-kalimat yang muncul adalah..

ASSS!! IBU.. TOLONG INGATKAN ANAK SAYA AGAR TAKUT DENGAN GURUNYA!!!!

Kemudian..

ASSS!!! IBU.. TOLONG AGAK KERAS SEDIKIT DENGAN ANAK SAYA ITU ORANGNYA DIPUKUL DULU BARU BISA BUNYI!!!!

Pesan-pesan sebelumnya sudah cukup membuat sang guru termangu di mejanya. Namun, pesan terakhir membangunkan sebuah pertanyaan besar di benaknya.

Bagaimana jika…? Bagaimana kalau…? Bagaimana…?

Selasa, 18 November 2008

Pagi tadi, rekan saya tiba di mess langsung menggeret saya dan cerita. Bicaranya cepat sekali. Lagi, tentang salah seorang anaknya. Baru saja, ia mendapat telpon dari sang ibu yang sering meninggalkan pesan-pesan meresahkan di buku penghubung.

‘Ibu..’ kata sang ibu. ‘Tolong awasi anak saya dia kan begitu! Gak bisa apa-apa!!!’

Setelah telpon ditutup, ada telpon lagi masuk. Dengan nomor yang sama. Rekan saya mengangkatnya, tidak ada suara orang bicara kepadanya. Mungkin tanpa sengaja tertekan nomor sang ibu guru. Lalu terdengar suara-suara bentakan dari dalam rumah terdengar sampai di telinga sang guru melalui HP. Alih-alih menutup, bu guru mendengarkan dengan seksama. Ada 3 orang bicara:

Suara 1: INI MASIH ADA WAKTU 15 MENIT LAGI SEBELUM MOBIL JEMPUTAN SEKOLAH DATANG!! AYO BELAJAR!! KERJAIN SOAL MATEMATIKANYAAA!!!

Suara 2: Aku kan capek, mami..

Suara 1: CUMA 5 SOAL SAJA KOK CAPEK! LIHAT NIH, MASA BAHASA ARAB SAJA DAPAT NILAI 7,6? AGAMA CUMA DAPET 8,5? MAU JADI APA KAMU?

Suara 3: Sudah xxx, kerjain aja soalnya! Nanti mami marah loh! Gak boleh sekolah lagi nanti!

Saya Cuma bisa terdiam. Kami diam… Lalu, sampai kapan musti diam? Lalu bagaimana? Melaporkan kepada pihak berwajib? Tentu tidak. Yang terbaik yang seharusnya kami lakukan adalah menghubungi sang ibu, mengajak bicara dan memperkenalkan cara yang lebih baik dalam mendidik anaknya.

Jum’at, 28 November 2008

Pesan-pesan yang tersirat itu, hari ini terbukti dengan jelas ketika sang ibu tau-tau muncul di kelas dengan muka semrawut sementara sang anak berdiri di sebelahnya dan seperti biasa, melamun selalu terkaget-kaget sendiri. Tanpa banyak basa-basi tanpa banyak cing-cong apalagi izin kepada sang guru yang sedang mengajar, sang ibu duduk di sebelah anaknya yang harus menghadapi soal Bahasa Inggris di kelas. Tidak hanya anaknya, bahkan guru yang mengajar pun ketakutan—ya, sang guru ketakutan—saat sang ibu mendesis-desis jelas sekali.

‘Ayo.. lama amat sih mikirnya! Lihat disebelah kamu itu sudah nomer 5! Masa kamu masih nomer satu juga! Apa jawaban nomer satu!!! Cepetan!!’

‘Four..’ jawab sang anak.

‘Ya udah tulis! Bisa gak sih nulis four itu gimana!’

‘Bisa, mami..’

Si anak menulis huruf f, lalu huruf o, lalu huruf r.

FOR..

Si ibu langsung merampas pinsil si anak dan mencoret tanda X besar sekali di nomor satu itu. Lalu mendesis pelan tapi menusuk..

‘SALAH…’ Lalu mengembalikan pinsil ke tangan si anak. ‘Cepet! Sekarang nomor dua! Jangan salah lagi!’

Di titik ini, sang guru berdoa sepenuh hati agar sang anak tidak salah. Tapi ternyata, sang ibu kembali merampas pinsil sang anak seraya mendesis, ‘SALAH LAGI!!!’

Saat semuanya telah selesai, kertas dikumpulkan, si ibu langsung pulang tanpa pamit. Sang guru bernafas lega. Dia biarkan anak-anaknya sedikit merayakan keberhasilan mengerjakan soal itu dengan ramai-ramai bermain peran menjadi kambing dan domba. Kelas penuh suara anak-anak yang mengembik dan tertawa.

Sang guru duduk di kursinya, membaca semua kertas pekerjaan anak-anaknya. Tersenyum-senyum melihat tulisan pletat-pletot miring-miring cakar ayam anak-anaknya itu. Dia senang, semua anaknya yang sedang berjuang untuk dapat menulis tanpa gemetaran itu berhasil melalui 15 soal bahasa Inggris tanpa ngambek. Sampai ketika ia melihat kertas sang anak yang ibunya baru pergi tanpa pamit tanpa kata, senyumnya mendadak lenyap. Di atas kertas, ada tulisan lagi besar-besar.

IBU.. INGATKAN ANAK SAYA KALAU NILAINYA JELEK, DIA AKAN DIHUKUM DI RUMAH!!!

Sang guru, rekan saya itu, saat ini sedang banyak mengumpulkan keberanian untuk berhadapan langsung dengan sang ibu. Ini tidak mudah, untuk memberi tahu bahwa ada cara yang jauh lebih baik dalam mendidik anak kepada seseorang yang sudah merasa jauh lebih berpendidikan dari sang guru dan jauh lebih berpengalaman. Dan khususnya ketika sang guru sudah tidak lagi dianggap ada.

My dear friend, jangan menyerah. Kamu bisa.. Saya tahu kamu bisa.

Kita bisa….

Jum’at, 5 Desember 2008

Saya kira ini akan menjadi hari yang tenang tanpa insiden apapun di sekolah. Ternyata salah.

Masuk ke ruang guru masih tertawa-tawa sendiri. Baru saja, saya berpapasan dengan anak-anak kelas satu yang lari-lari di lapangan mengacung-acungkan selembar kertas yang kemungkinan besar baru pertama kali mereka terima seumur hidup: KARTU UJIAN. Tertawa, semangat, dan mengumumkan dengan antusias kepada kakak-kakak mereka yang mengkerut kebingungan.

‘LIHAT!! KARTU UJIAAAANNN!!!’

Senyum saya langsung hilang melihat rekan-rekan saya sedang merangkak di lantai perpustakaan kami yang bersistem duduk lesehan, mengerumuni satu titik. Ada HP yang tergeletak di atas lantai, speaker-nya hidup. Ada telpon masuk yang sedang di dengarkan bersama-sama.

Apaa ya…

‘SStttttttt…..’ Semua ber ssttt dan menyuruh saya menunduk. Saya ikut merangkak, mendengarkan. Suara-suara dari HP terdengar jelas. Suara seorang ibu sedang memarahi anaknya dan suara seorang anak yang terisak-isak…

‘xxxxx, nak..’ salah satu rekan saya berbicara. Saya paham, ini masih kasus yang sama. Si ibu yang aneh itu. ‘kamu boleh ulangan perbaikan, tapi tidak besok ya.. besok kamu istirahat dulu, kan hari selasa kita Ulangan Umum. Setelah Ulangan umum ya..’

Lalu suara-suara omelan terdengar lagi. Si anak, dimarah-marahi sampai merembet kemana-mana. Apa saja diungkit-ungkit.

‘BILANG SAMA BU GURU!!! BESOK ULANGAN PERBAIKAN!!!’

Lalu beberapa detik kemudian, suara anak kecil terdengar lagi.

‘Ibu.. ibu guru..’

‘Iya nak.. Gak apa-apa, xxx itu anak yang sholeh sekali ya…’

‘Aku, aku..aku ma-mau ulangan…’

Kami semua bengong menahan nafas. Semua mata berkaca-kaca.

‘I-Ibu guru..’ seru anak itu lagi. ‘Bo-bolehkah saya ulangan perbaikan?’

‘Boleh nak.. boleh, tapi tidak besok ya nak. Besok semua guru pulang nak, tidak ada yang standby di sekolah. Kan, hari senin kita lebaran.. Lagian, kamu musti istirahat dulu ya…’

Lalu, serangkaian omelan lagi. Panjang. Sampai saya pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil, dan sedikit menenangkan diri, lalu kembali masih suara sang ibu mengomel-ngomel.

‘Nak, sayang… gak bisa besok ulangannya ya.. Nanti habis Ulangan Umum. Nanti kan xxx, musti Ulangan Umum hari selasa. Bukan ibu yang bikin soalnya, tapi dari bapak-bapak diknas yang pakai baju coklat-coklat itu loh. Kan gini, besok libur sampai hari senin karena lebaran, lalu hari selasa kita Ulangan Umum, nanti sesudah itu, boleh Ulangan perbaikan ya..’

Lagi, serangkaian omelan panjang. Rekan saya nampaknya sudah tidak dapat menahan diri lagi, dan mulai protes keras..

‘Mama! Mamanya xxxx, coba saya mau bicara dengan mama sebentar, Maa!!!!’

Suara-suara omelan berhenti digantikan suara-suara anak kecil menggerung-gerung keras. Sang anak menangis keras sekali.

‘Hu..hu..hu..’ rekan saya menangis di pelukan bu English. ‘Anakku …. anakkuuu… hu..hu..’

Kami diam. Diam mendengar dua orang menangis, salah satu adalah rekan kami dan seorang anak kecil di seberang sana. Suasananya, tidak usahlah ditanya, mencekam! Kami berusaha menajamkan telinga mencari tahu apa yang sedang terjadi di sebrang sana.

‘I-I-Ibu..’ suara anak kecil lagi. Kali ini semakin lirih..’Bo-bo-bolehkan saya ulangan per-per-perbaikan?’

‘Nak, berikan telponnya ke mami ya.. Ibu guru mau ngomong sama mami..’

Lalu terdengar suara orang dewasa, suara yang sama dengan yang tadi mengomel-omel panjang.

‘Halo..’

‘Halo mami?’

‘Bukan. Ini pembantunya.. Maminya xxx lagi mandi..’ Kami terdiam. Ini suara orang yang sama.

‘Oh begitu ya. Kemarin saya datang juga mami gak ada di rumah ya? Akhir-akhir ini, sibuk sekali nampaknya. Saya nelpon tidak diangkat-angkat.’

‘Ibu mau apa?’ Jegrek!!

‘Begini, tolong bilang mami, ulangannya setelah ulangan umum. Tolong xxx agar istrahat dulu. Kalau tertekan, malah nanti tidak dapat mengerjakan dengan baik.’

‘Kata mami, besok saja ulangan perbaikannya.’

‘Tapi saya tidak dapat datang ke sekolah, gimana? Saya akan pulang ke rumah mertua saya di Cirebon.’

‘Setelah ulangan saja bu pulang ke Cirebonnya.. kan Cuma sebentar.’

‘Keretanya berangkat sore ini, ba’da maghrib.’

‘Kalau begitu, ulangan perbaikannya hari ini saja.’

‘Ibu, xxx sudah lelah sekali. Sudah seharian belajar di sekolah, menurut saya, hasilnya tidak akan maksimal. Lagipula, ini sudah jam 3, semua guru sudah bersiap pulang ibu. Begini loh bu…’

‘Ya sudah! Trimakasih!’

Telpon ditutup.

Rekan saya menelpon suaminya, menangis tersedu-sedu. Bercerita. Kami kelu, menatapnya. Selesai, dia masih belum dapat tenang.

‘Dia itu, dimarahin karena Bahasa Arabnya dapet nilai 7. Agamanya 8 juga dimarahin, katanya percuma ngaji setiap hari. Gimana pas ibunya tahu kalau nilai Matematika di Cuma 6? Gimana?’ Seru rekan saya itu sambil masih tersedu-sedu.

Padahal tadinya sang anak adalah salah satu anak yang tercepat di kelas, namun setelah sang ibu terus-menerus mendorongnya terlampau keras, bukan hanya nilai-nilai yang terus merosot tajam, dia juga mulai menarik diri. Mulai jarang tertawa dan banyak melamun. Kalau disapa orang, terkaget-kaget sendiri. Bicara semakin lama semakin sering gagap.

Maka:

Ketika kita menulis dan mempublish sesuatu itu selalu ada tujuannya. Saya harap Anda yang membaca, dapat mengambil hikmahnya.

Saya benar-benar berharap. Untuk anak-anak kita.

  1. 22 Maret 2009 pukul 1:02 AM | #1

    ya ampun. aku menahan napas membaca tulisan ini, al.
    aku takut akan kelanjutan pendidikan si anak, bahkan lebih buruk lagi: masa depannya. arogan sekali ibunya.
    al, apa yang bisa dilakukan sekolah dalam hal ini, ya? menyeramkan. aku membayangkan si anak bisa depresi dan kalau sudah tak tahan bisa lari atau bunuh diri. nauzubillah min dzalik.

    Ya, bukan hanya kami para guru sangat mengkhawatirkan, bahkan para pembantu di kompleknya pun khawatir.
    Rekan saya bahkan sampai bergaul dengan pembantunya anak itu.

  2. 22 Maret 2009 pukul 1:03 AM | #2

    eh, itu kejaidannya sudah desember lalu ya?
    sekarang bagaimana kelanjutan kisah si anak, al?
    duh, menguatirkan banget ya?

    Masih berusaha menjangkau ibunya. Dia menghindar terus.

  3. 23 Maret 2009 pukul 2:15 AM | #3

    Hiii.. jijaj… suer, saya deg-degan sampai akhir…
    Kayak nonton film horor…
    Gak ngebayangin, kalo saya jadi anaknya… ampun… mboke….
    *kabur*

    Kita malah pas kejadian bukan cuma deg-deg-gan, tapi nangis-nangis bombay. Maklum, cewe-cewe….

  4. 23 Maret 2009 pukul 2:40 AM | #4

    aduh kasihan sekali.. segera diselesaikan tuh.. kalo bu guru / sekolah mentok bisa juga tuh dilaporkan ke komnas anak.. ke kak Seto, … atau palingkan super nany aja…

    Mudah-mudahan gak sampai mentok.. :)

  5. 23 Maret 2009 pukul 3:12 AM | #5

    Ingat mamanya Rama hehehehehehe… Dikira itu yang paling buruk ada lagi.
    Mudah-mudahan bias teratasi

    Amin.. Lim

  6. suhadinet
    23 Maret 2009 pukul 3:30 AM | #6

    Wah, kasian anaknya. Mudah-mudahan segera ditanggulangi. Ini pasti akan sangat sulit karena berkaitan dengan tabiat seorang ibu dalam mendidik dan berkomunikasi dengan anaknya.

    iya, suhu..
    Suhuuuuuuu… Kemana aja? Bagi-bagi ilmu kanuragannya setelah lama bersemedi itu…

  7. KF
    23 Maret 2009 pukul 7:14 AM | #7

    @H5_sadiya
    Haliiiim… Musti.. Musti ke sini. Nginep neng…

  8. 23 Maret 2009 pukul 5:27 PM | #8

    wow…. catatan harian yang ciamik ini bu alfia. wah, sangat cocok utk bahan ajar nih. kebetulan di kurikulum ada KD tentang menulis buku harian.

    Wah, dijadikan contoh bahan ajar. Mudah-mudahan, anak-anak bapak bisa mengambil hikmahnya pak..

  9. 23 Maret 2009 pukul 7:22 PM | #9

    Rupanya guru pun menghadapi persoalan tersendiri dalam dunianya. Aku bisa membayangkan betapa sulitnya menghadapi hal seperti itu. Terutama si anak. Duh, andai ibunya tau: hal itu akan terbawa terus oleh si anak melalui alam bawah sadarnya hingga dewasa. Membekas. Betul-betul akan membekas.

    Dialog di telpon yang awalnya ngaku pembantunya, tapi kok tiba-tiba berubah jadi si maminya sendiri…

    Terima kasih sudah membaginya melalui postingan ini, Bu Guru. Jadi ingin tahu kelanjutannya. Ini hal serius kukira.

    Sangat serius. Sejak kejadian tanpa sengaja dengar pagi-pagi itu, rekan saya sudah mulai mengumpulkan serta menyimpan tulisan-tulisan yang meresahkan. Bahkan, pembicaraan di telpon pada hari Jum’at itu pun direkam olehnya. Kami tidak mengharapkan kasus ini akan membesar. Yang kami harapkan, mungkin dengan waktu, kekakuan sang ibu bisa llumer juga akhirnya. Tapi, yah paling tidak, kami punya catatan jika nanti kami harus berkonsultasi dengan pihak lain.

    Yah, begitulah. Entah kenapa sang ibu bila di telpon selau ngaku-ngaku pembantunya anak itu.

  10. ketibandaru
    1 Juli 2009 pukul 4:32 PM | #10

    saya menahan tangis membaca tulisan ini… membayangkan kehidupan xxx. Saya sedih dan kasihan dengan xxx. Semoga anak-anak saya dan anda tidak pernah mendapat perlakuan demikian…
    kenapa juga si ibu tidak melihat orang lain yang jauh tidak seberuntung dia…

    kepada bu guru al dan guru-guru yang lain… sabar dan tetap semangat ya bu… semoga Alloh SWT membalas amal bu guru semua…

    (saya link blog bu guru al ya… salam kenal…)

  1. 14 Mei 2009 pukul 12:37 PM | #1
  2. 7 Juni 2009 pukul 11:53 PM | #2
  3. 2 November 2009 pukul 4:15 PM | #3