Beranda > Gosip Ruang Guru, Kisah, Pendidikan, Sekolah > Bagaimana Jika, Bagaimana Kalau II: Ceritanya Salah!!!

Bagaimana Jika, Bagaimana Kalau II: Ceritanya Salah!!!

Kisah pun berlanjut.

Beberapa hari yang lalu, sang anak terlambat. Datang dengan diseret-seret sang ibu ke dalam kelas. Biasanya, anak yang terlambat datang musti lapor diri dulu ke guru piket di depan. Apapun itu, orang tua hanya bisa mengantar, dan memberikan seribu satu macam alasan sebagai pembelaan, ya hanya sampai di meja guru piket itu saja. Selanjutnya, biarlah sang anak yang belajar untuk menghadapi dan bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri.

Tapi sang ibu yang ini, langsung menyeret anaknya masuk ke kelas 1 SD. Guru piketnya dianggap asbak, hehe… Tanpa basa-basi, seperti biasa, menghampiri kelas 1 SD yang sedang baris di depan kelas. Bu Kirsan sedang memberi petuah-petuah pagi kepada anak-anaknya.

Sang ibu dan sang anak tau-tau sudah berada di sebelah Bu Kirsan, lalu menyelak pembicaraan:

‘Anak saya terlambat,’ katanya. Tapi dia tidak bicara kepada Bu Kirsan, melainkan kepada semua anak kelas 1 Fatahillah yang sedang riang berbaris.

‘Tapi itu bukan salah dia,’ lanjut sang ibu. ‘Saya yang salah.’

Anak-anak kelas 1 nyengir-nyengir saja. Sang ibu lanjut bicara.

‘Awas nanti kalau ada yang ngata-ngatain dia!!!’ Melotot.

Ya, ampuun!! Pagi-pagi anak kelas 1 sudah diancam-ancam sama ibu-ibu yang menyeramkan.

Acara pagi itu dilanjutkan dengan Bu Kirsan dan Sang Ibu berdebat dengan seru. Suara sang ibu yang semakin tinggi sampai terdengar di ruang perpustakaan, tempat saya sedang bekerja. Bu Kirsan meminta agar Sang Ibu tidak ikut masuk ke dalam kelas, sang ibu ngotot. Alasannya, dia khawatir nanti anaknya akan dikata-katain oleh anak-anak yang lain.

Tapi anak-anak tidak pernah mengata-ngatai anak yang terlambat. Anak yang terlambat ya dihukum. Tergantung kesepakatan kelas masing-masing. Tapi tidak ada yang ngata-ngatain. Macam-macam saja! Emangnya mereka mau, kalau terlambat dikata-katain? Salah satu filosofi yang dipegang anak-anak adalah: Jangan melakukan apa yang tidak mau orang lain melakukannya kepadamu!

Akhirnya, karena tidak selesai-selesai berdebatnya, Bu Kirsan mengalah juga. Sang Ibu boleh masuk, dengan catatan hanya boleh duduk di pojok kelas saja.

Pagi, setelah baris dan berdoa, acara di kelas satu adalah cerita-cerita. Bu Kirsan memanggil si anak yang terlambat untuk duduk di depan kelas, menceritakan kejadian pagi ini. Bagaimana ceritanya dia bisa terlambat.

Sang anak terus menatap ibunya.

‘Gak usah lihat mama, nak.. Lihat temen-temen aja..’

‘Iyaaaa, gimana ceritanyaaaaa.’ Kelas satu ramai-ramai. Mereka semua duduk di karpet, melongok dan garuk-garuk kepala. ‘Tadi kamu kena macet, yaaa..?’

Si Anak terus menatap mamanya, seperti minta petunjuk. Lalu berkata pelan,’ Aku takut salah, bu guru..’

‘Loh, kok cerita salah sih? Kan tadi kamu yang mengalaminya, terus kamu ceritain aja.’

‘Iya, tapi aku takut salah, bu guru…’

  1. suhadinet
    14 Mei 2009 pukul 3:11 PM | #1

    lucu juga ya (sebenarnya juga memprihatinkan)…
    bila di daerah, sangat jarang orang tua peduli dengan proses pendidikan anaknya. eh, ternyata di kota, orang tua banyak yang peduli cuma gak ngerti gimana proses pendidikan di sekolah.
    tapi, sebenarnya kasian anak itu, ya? ibunya justru telah merampas kebebasan berpikir kreatif si anak, tanpa disadari oleh beliau. merampas kebebasan berpikir kreatif sama saja dengan upaya pembodohan.

    Ya.. Suhu. Itulah…

  2. 14 Mei 2009 pukul 6:44 PM | #2

    duh, ini masih soal si ibu yang sarap itu ya?
    tuh, kan, aku jadi ngata-ngatain nggak sopan deh.
    abis masih ingat gimana si ibu yang menyeramkan ini di cerita yang lalu.
    duh, al. aku betul-betul kuatir dengan perkembangan mental anak ini, lho.

    Iya, Bu Dokter. Masih menyeramkan itu orang. Menyebalkan sekali.
    Dibilangin juga, bukan cuma kita para guru yang khawatir, bahkan para pembantu di kompleknya khawatir loh.. Soalnya mereka, klub pembantu itu, merasa kasian ngeliat ada anak kecil saking sibuknya les dan belajar, sampai gak punya waktu buat main.

  3. ushmrkstv
    14 Mei 2009 pukul 8:49 PM | #3

    ibu, saya sedih bacanya =(

    Saya juga nulinya sedih..

  4. 3 November 2009 pukul 4:59 PM | #4

    Prihatin membaca nasib sang anak. Moga2 ibunya bisa berubah. Mungkin sang ibu punya pengalaman buruk waktu kecil. Misalnya, dia dulu bahkan tidak punya waktu sekolah karena terlalu miskin. Barangkali….

  1. 7 Juni 2009 pukul 11:53 PM | #1