Selamat Jalan Selamat Datang (Siapa Mempengaruhi Siapa?)
Satu minggu sebelum masuk sekolah, acara kami tentu sibuk siap-siap. Dari mulai membuat Prota (program tahunan) dan prosem (program semester), menyusun kalender akademik, daftar pelajaran, Sylabus juga RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dan seterusnya dan seterusnya. Lalu dua hari terakhir adalah menyiapkan kelas serta mengadakan pertemuan dengan walimurid untuk pertama kalinya.
Sibuk.. Antusias..
Juga menghadapi turbulensi hati karena sekali lagi, musti berpisah dengan rekan kerja. Pak IPA dan Bu Kirsan.
Bagi saya, perpisahan ini sungguh berat. Saya tidak hanya berpisah dengan rekan kerja, tapi juga dengan seorang sahabat. Orang, yang bisa dikatakan, paling dalam yang pernah saya percayai untuk saya kisahkan mengenai diri saya.
Dan saya sungguh tidak dapat bisa membayangkan bagaimana berada di sekolah ini tanpa Kirsan.
Juga, rekan baru datang. Tentu nantinya akan membawa kesegaran baru. Well, bagi guru-guru cowo, sungguh membawa kesegaran baru. Sebab, semua guru barunya perempuan, masih muda, dan cantik-cantik jek!
‘Asikkk..’ Seru Pak Satria. ‘Akhinya ada juga cewe-cewe yang masih tersedia. Disini bu gurunya udah ibu-ibu semua, sih! Bu Guru yang masih single, dua-duanya cowo..’
*Pak Satria dilempar spidol oleh Bu Eni*
Saya kira, ini memang agak lucu. Mudah-mudahan tidak akan menimbulkan masalah atau membuat kelompok dalam kelompok. Sebab, seluruh guru yang diterima berasal dari tempat yang sama.
Sekolah tetangga kami, menghadapi masalah yang nampaknya sudah tidak dapat diselesaikan lagi. Itu membuat nyaris seluruh siswanya pindah sementara seluruh gurunya mengundurkan diri. Mengetahui bahwa sekolah ini terbuka lowongan guru baru, melamarlah mereka ke sini. Dan karena memang bagus-bagus, ya, diterima donk.
Pada hari Senin pagi, saya sudah cengengesan kepada Bu Kirsan.
Kir, guru barunya cewe semua. Ituloh, dari SDS xxxxx. Semuanya. Modis-modis..
Iya, soal cantik emang relatif. Tapi guru-guru baru ini, semuanya, enak dilihat. Berbeda dengan kita-kita orang yang seadanya yaitu bahkan pake bedak aja insya Allah kalo inget, mereka dandan! Pake lipstik, blush on, ya…entahlah apa lagi.
‘Yaa, kita liat aja nanti.’ Eni. ‘Kita yang ikutan modis dan cantik seperti mereka, atau mereka yang kebawa preman kayak kita.’
‘Wah, kalo gitu, musti diperingati dini mereka. Jangan terlalu sering bergaul dengan kalian berdua.’
*Pak Satria dipelototin Eni dan saya.*
Guru-guru baru ini, sudah kebingungan dengan suasana baru. Ya, dong… Sekolah ini dibanding sekolah tempat mereka mengajar dulu, cukup jauh keadaannya. Dulu mereka menghadapi 15 orang siswa dalam satu kelas dengan guru yang menangani 2 orang plus satu orang Nanny. Artinya, satu orang guru hanya menghandle 8 orang, pun dengan bantuan. Disini, mereka harus menangani 28 orang siswa satu kelas dengan hanya 1 guru tanpa Nanny. Satu guru musti menghandle 28 orang siswa dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore. Pula gak usah ikut dibandinginlah perbandingan fasilitasnya apalagi salary. Namun, mereka terlihat tidak menyerah punya semangat untuk terus belajar. Paling tidak, saat diberi tahu, hanya sedikit shok, namun tidak mengeluh. Cuma berceloteh, ‘Tolong dibimbing, yaa.. Sebab, kita belum punya pengalaman menghandle murid sebanyak itu.’
Itu yang penting. Sungguh, itu yang terpenting.
Tadi saya dan Eni mengantarkan mereka ke rumah kami. Hanya 2 orang yang akan standby di mess bersama kami. Sisanya, kemungkinan datang dan pergi.
Baru datang, mereka udah seru ngatur-ngatur dekorasi yang menurut mereka aneh. Cekakakan dengan keberantakan sehingga mereka sudah bikin-bikin list apa yang mau mereka bawa dari rumah: tambahan beberapa rak buku (melihat buku-buku tertumpuk di pojokan begitu saja), rak sepatu, rak piring, lemari, cermin (ternyata kita gak punya cermin! Yah, gak kepikiran sih!), meja rias, rak CD (melihat kaset PS punya Eni yang berserakan) dan lain-lain dan lain-lain. Bahkan, mereka juga berencana untuk mengecat dinding.
‘Maaf, ya.. Tapi, saya bener-bener gemes liat ini rumah kok mirip sekre hima di kampus.’
‘Gak papa..Gak papa.’ Eni.’Kita malah seneng, kok. Akhirnya rumah ini keurusan lagi.’
‘Kayaknya saya akan banyak gosrek sana gosrek sini deh! Saya paling gatel liat berantakan. Maunya ngeberesin aja. Gak papa?’
Uoooo!!! Dengan segenap hati, saya rela! Sungguh!!
Bercakap-cakap. Saling mencoba menilai dan menjajaki. Okey, mereka modis dan suka hang out ke sana kemari. Saya dan Eni demen menyendiri berkubang buku. Dua dunia yang berbeda. Tapi, toh, rasanya sudah ‘klik’
Tau-tau jadi teringat Bu Guru Ratu tempo hari. Apa kabarnya dia? Well, seperti yang sudah terasakan, setelah beberapa minggu mengajar penuh keluhan, dia memutuskan kembali ke kampung halamannya dan kembali menjadi guru SMA. Anak-anak SD, dia tidak dapat mengerti, katanya.
Shalat Ashar. Eni seperti biasa keluar. Bekerja kembali. Guru-guru baru siap-siap pulang. Seru ngobrol membicarakan masalah dan sakit hati yang tersisa dari sekolah yang lalu. Saya diam saja tidak ikut campur dan tidak menimpali. Tapi yang jelas, pada akhirnya, bagi perempuan, pekerjaan itu yang penting adalah kenyamanan. Sambil ngobrol itu, mereka sambilan…dandan.
Duduk menonton, saya baru sadar, betapa banyaknya peralatan dandan seorang perempuan itu sesungguhnya. Betapa ribetnya. Dan betapa lama waktunya.
Wedeh…
Kalo saya sih, keluar kamar mandi langsung pakai baju seragam, pakai bedak (kalo inget), pakai jilbab, langsung melesat pergi. Sepuluh menit. Ini cewe-cewe, sampai 40 menit lewat.
Saya melongo..
‘Kenapa, AL?’ Rita. Guru baru..
Gak papa. Tau, gak. Pas lihat kalian, kata Eni gini. Kita liat aja nanti, kita yang kebawa-bawa mereka, atau mereka yang nanti kebawa-bawa kita, heheh…
Rita mendadak berhenti dandan, mengamati wajah saya. Mengerut..
‘Kamu gak pernah dandan, ya?’
Gak pernah..
‘Saya akan mengajari kamu dandan. Tenang aja, pasti nanti kamu yang akan kebawa-bawa kita.’
Hehehe.. Kayaknya gak bakalan mau. (dalam hati: dandan? Jijay..)
‘He! Saya punya temen juga tipe seniman (seniman?) kayak kamu. Tapi, sekarang dia jadi modis.’
Rasa dingin tau-tau menjalari tubuh saya. Kok, saya jadi merasa ngeri, ya..


wahwahwah…. ckckck…..ishishish….
ternyata ada juga bu guru gaul yach… seorang guru merangkap blogger… salam kenal buk.. dari murid yang juga blogger di padang….
BTW: judulnya bikin aku pusing buk… hehe
Salam kenal juga Aurora…
asyik..
ayo bu guru baru, ajari al dandan.. biar matching sama ‘tas dan barang2 perempuan’-nya
nanti aku potret ya, al..
SEbelum gue, lo duluan lah!
Gak enak sama yang lebih tua, duluan ya kaka..
ooo… sekolah yang keren banget ituuu… *manggut-manggut*
kekekekekkk… alhamdulillah, akhirnya… tiba juga pertolongan Allah. kayaknya itu satu-satunya hal yang bisa mengubahmu, al, ketentuan Allah! eni aja udah terkontaminasi jadi suka masak dan merajut, sekarang dia pasti lebih gampang dipengaruhi buat ikut-ikutan dandan. taruhan?
bu kirsan mau ke mana? hiks… kenapa pergi, bu kirsan yang paling bijaksana dan kalem? atu-satunya yang bisa menenangkan ibu guru tomboy ini?
Sekolah yang keren banget itu, sok tau bu dokter!!
Ayo kita taruhan. Deal? Jitak-jitakan, yaa…?
Bu Kirsan sekarang jadi kepsek TK di Jakarta. Masih di bawah yayasan yang sama sih.
eits, kamu pernah kok cerita soal sekolah ini, dulu.
kalau gak salah gurunya yang ada ekspatriat, trus setiap kelas muridnya dikit banget. dan kalau gabung dengan mereka kamu suka ngeces gitu dengan kekerenannya itu. bener gak?
atau itu sekolah lain lagi?
bu kirsan jadi kepsek TK? di jakarta? wah, tantangan baru dong.