‘Bu AL,’ celetuk Bu Lulu. Saya sedang asik menempelkan label nama untuk locker anak-anak di kelas 5. ‘Edo pindah.’
Pindah?
‘Iya. Pindah sekolah. Tadi bundanya datang.’
Saya melongo. Bu Lulu nyengir.
‘Wah, agak tenang, nih.. Satu masalah hilang..’
Saya masih diam. Sesuatu di dalam dada saya mencelos jatuh. Rasa perih tiba-tiba mencengkram tenggorokan. Saya sedih. Ya, saya kehilangan. Sampai rasanya ingin menangis saat itu juga.
Saya gak menganggap Edo masalah.
Tanggapan saya pelan. Agak dingin kepadanya. Bu Lulu mengamati wajah saya, lalu tersenyum. ‘Iya, ya.. Kamu kan selalu deket sama anak-anak yang bermasalah.’
Jadi tambah pengen nangis.
Tertinggalkanlah pekerjaan saya langsung mendatangi TU. Kebetulan Pak Kepsek sedang ada disana.
Saya kepada Kepsek: Pak, Edo pindah?
Kepsek kepada saya: Oh, iya. Tadi pagi bunda angkatnya datang. Wah, agak lega ya, kelas 5 nanti (tersenyum pada saya)
Saya diam saja.
Saya kepada Kepsek: Saya sedih, pak. Saya baru saja, akhirnya, bisa mengerti dia.
Edo adalah tokoh yang cukup banyak saya ceritakan di blog ini. Biasanya tertulis dengan inisial xxx, atau, yah, Edo. Kadang tanpa nama juga.
Pertama kali dia datang, adalah dua tahun yang lalu. Tidak dapat berhenti bicara. Sayalah yang mewawancaranya pertama kali, mengajaknya bicara tentang hidupnya. Tapi, dia nyaris tidak bercerita apa-apa. Berbeda dengan anak-anak lain yang selalu berceloteh tentang dirinya, dia justru berceloteh tentang berita. Segala berita yang ditayangkan di TV.
Anak yang menarik.
Tahun pertama, dia langsung bikin para guru minta ampun-ampun. Hampir tidak dapat dikendalikan. Mungkin yang paling bikin ruwetnya, karena dia selalu membangkang. Cobalah memperingati, dia justru kesenengan. Dengan lahap dan gembira akan mengajak berdebat sampai justru akhirnya, guru yang akan kehabisan akal. Tapi, kalau Cuma membantah, itu mungkin tidak begitu masalah. Dia adalah anak yang seringnya menyelesaikan masalah, atau melampiaskan kemarahan, dengan kekasaran. Tidak hanya berkelahi, tapi juga memukuli anak lain.
Anak tumbuh sebagaimana dia dibesarkan.
Seandainya saya adalah Edo… Wah! Saya malah gak bisa membayangkan bagaimana seandainya saya adalah Edo. Saya tidak dapat membayangkan diri saya sendiri ditolak oleh orang yang melahirkan saya. Dibesarkan dengan teriakan, hinaan, cercaan, dan kekerasan. Saya tidak dapat membayangkan menjadi orang yang terus menerus disalah-salahkan, atas nasib buruk dan kemiskinan yang diderita oleh orang yang melahirkan saya itu. Lalu kemudian, ibu saya sendiri yang tercinta, membuang saya ke panti asuhan. Lalu pengelola panti asuhan akan mengusir saya, atau kemudian saya kabur. Lalu pulang hanya untuk ditaruh di panti asuhan yang lain lagi, kemudian saya akan diusir atau kabur lagi.
Menghadapi Edo, memang memusingkan. Kami tahu bahwa dia layak mendapatkan kesabaran diatas normal. Tapi mendidik dia pun ribet. Biasa diperlakukan dengan kekasaran, dia susah untuk diperingatkan dengan kasih sayang. Kasihan rekan-rekan sekelasnya yang jadi menderita dengan kehadirannya.
Tapi perjalan hidup anak ini selanjutnya membaik. Takdir mempertemukan dia dengan sepasang suami istri dokter setengah baya. Anak mereka sudah dewasa semua. Edo diadopsi pasangan yang budiman ini. Dengan sepenuh hati, mereka mencoba sekuat tenaga mengembalikan apa-apa yang pernah hilang, dari hidup anak ini.
Tentu tidak dapat secara instan. Perlahan-lahan. Dia mulai bisa hidu. Mengerti bahwa akhirnya, semua orang disekitarnya menyayanginya, Edo mulai dapat menumbuhkan kasih sayangnya kepada orang-orang di sekelilingnya.
Satu tahun kemudian, bunda angkatnya, dengan bahagia bercerita, bahwa Edo sekarang sudah mulai memanggilnya bunda. Dan tidak lagi tante. Seiring dengan itu, prilakunya jauh membaik. Masih emosional, tapi tidak memukuli anak lain. Sekarang, kalau marah, dia lari ke kamar mandi, lalu menangis sendirian.
Tapi kadang-kadang, dia masih suka kumat juga, kalau perasaannya lagi gak enak. Kalo dulu, tiap hari dia ‘perasaannya gak enak’.
Hubungan saya dengan Edo, selalu emosional. Sepenuh hati sayang, atas apa yang pernah dialaminya, tapi juga sering kesal, karena dia sering menyakiti anak lain. Saya mengakui, bahwa ambang batas toleransi saya terhadap ulah nakal anak-anak itu paling fleksibel diantara rekan-rekan kerja saya. Hal-hal yang bagi mereka sudah masuk ke dalam kategori nakal, saya masih menganggapnya hanya bercanda. Sering rekan-rekan saya begitu geregetan karena itu. Namun, saya sangat susah menerima jika ulah bercanda itu menyakiti anak lain, atau membahayakan dirinya sendiri. Saya malah jadi guru yang paling tidak dapat mentolerir hal itu.
Bagi Edo, saya selalu guru yang sangat. Maksudnya, bagi dia, saya tidak pernah jadi guru yang biasa-biasa saja. Kalau tidak dia sangat sebal dengan saya, dia sangat suka dengan saya. Beritahulah saya segala kata-kataan, saya pernah menerimanya. Dari mulai dikatain galak, menyebalkan, najis, monyet, sampai segala makian kasar lainnya saya pernah menerimanya darinya. Tapi juga ada saat-saat bahkan dia menunggu-nunggu saya tiba di sekolah. Menyambut dengan sorak gembira, berlari menyongsong saya, berteriak dari jauh.
Di kelas IPS, dia paling merepotkan saya. Bukan karena gak nyambung, tapi karena sering uring-uringan. Ya bagaimana gak uring-uringan, dia maunya lari-lari secepat kilat sementara seluruh teman sekelasnya masih terengah-engah mengikuti pelajaran. Angkatannya, secara akademik, memang kelas yang bisa dibilang lamban. Ada beberapa anak yang pada akhirnya membuat berjalan lebih lama dari yang seharusnya. Dan itu membuat dia kesal. Saya pun jadinya selalu agak kewalahan menghadapinya. Coba bayangkan saja, sementara seluruh kelas sedang berjuang memahami apa perbedaan kekayaan alam yang dapat diperbaharui dan tidak dapat diperbaharui, dia sudah gemas sekali ingin mendiskusikan kenapa pada daerah-daerah pertambangan selalu terjadi kerusakan alam yang parah, dan bagaimana cara mengatasinya. Saat kelasnya masih bingung dengan apa yang dimaksud LSM itu, dan saya berjuang menerangkan, mendengar kata WWF, Edo langsung berteriak-teriak tentang Heart of Borneo. Bingunglah kita semua mengikuti celotehan Edo yang gak beraturan. Akhirnya, selalu, kosentrasi 23 anak lain akan buyar berkeping-keping.
Gimana gak pusing saya.
Jadi kalau masuk kelas 4, saya sudah siap-siap print out artikel atau buku pengetahuan umum. Jaga-jaga aja.Kalau Edo sudah terlalu bosan, tinggal disodorin aja heheh..
Melepas kembali label namanya dari pintu locker, saya jadi termenung sendiri. Dua tahun bersama anak itu, walaupun saya belum pernah berkesempatan menjadi walikelasnya, namun sungguh merasakan jungkir balik naik dan turun juga. Tapi, pada akhir tahun ajaran kemarin, dia sudah jauh…jauh sekali lebih baik. Kalau dua tahun yang lalu, saat pertama datang, Edo adalah anak liar yang sama sekali tidak mengerti aturan sosial, sekarang dia sudah siap untuk melesat maju.
Membuat saya ingin menangis adalah, bahwa pada akhirnya, baru saja, saya dan Edo bisa menjadi teman. Selama berhari-hari, pada pagi, kami sering duduk berdua di pinggir lapangan. Ngobrol. Dan sungguh, berdiskusi dengannya jauh lebih menyenangkan daripada ngomelin dia (ya iyalaaahhh!!!)
Yah, seharusnya sih saya gak usah sedih Edo pergi. Bundanya pernah mencari-cari info tentang bagaimana menyelenggarakan homeschooling. Saya belum tahu apakah Edo akan homeschool atau hanya pindah sekolah. Tapi bagaimanapun, saya yakin, dia akan mendapatkan pendidikan yang lebih layak. Jauh lebih baik dari apa yang dapat kami berikan kepadanya disini. Dan dia layak untuk mendapatkan itu.


hiks. ikut sedih, sis…
semoga edo memperoleh pendidikan yang memang lebih baik.
Amin..
salam kenal, AL..
Saya terdampar di blog kamu, dan terharu membaca kisah tentang anak-anak di sekeliling kamu..
Lam kenal juga Arie..
Saya dikelilingi anak-anak spesial nih..
[...] Minimal ada tiga hal yang membuat saat ini saya terkenang dengan kental masa-masa nyantri dulu. Pertama, bulan Ramadhan. Bulan ketika saya mendadak melankolis meleleh-leleh menikmati aroma manis pulang. Kedua, novel Negeri 5 Menara yang sedang saya baca. Sebenarnya saya ingiiiiiin sekali membaca ulang Road to Mecca tulisan Muhammad Assad. Saya pernah membacanya, dan ingin memiliki. Cuma gara-gara tulisannya Uda Vizon dan komentar-komentar yang saya baca-baca bikin tertarik. Dan yang ketiga adalah, Edo. Teman kecil yang baru saja pergi pada awal tahun ajaran ini. [...]
misi blogwalking..
blognya bagus banget kakak,
salam buat anak2 yang berkesan itu yaaa.