Beranda > Kisah, Pendidikan, Sekolah, kelas lima > Pertemuan Guru dan Walimurid

Pertemuan Guru dan Walimurid

Sabtu adalah pertemuan guru dengan walimurid untuk pertama kalinya tahun ajaran ini. Biasanya, mulai pukul delapan langsung bisa dimulai. Namun tahun ini, pertemuan baru bisa terlaksana sekitar pukul 10 pagi. Gara-garanya, pada sesi pertama yaitu bincang-bincang dengan psikolog mengenai hasil psikotest anak-anak, orangtua gak brenti-brenti tanya. Kasihan psikolognya yang kebetulan hanya satu orang yang bisa datang, musti menghadapi curhat ibu-ibu dan bapak-bapak selama 3 jam!

Tapi toh kami senang. Orangtua tahun ini antusias. Catatan lagi, bapak-bapaknya hampir semua datang. Syukurlah. Biasanya, hanya ibu-ibu saja yang datang. Padahal, bapak harusnya juga perduli dengan pendidikan anaknya ya, dan bukan merasa udah kasih uang ya udah. Kalau nilanya jelek atau dapet laporan ada masalah dari sekolah, baru ngomelin emaknya anak-anak.

Pertemuan saya dengan ortu kelas 5 berlangsung cepat. Pertama, ortunya udah pada mabok setelah sesi pertama yang rasanya gak selesai-selesai. Kedua, perjalanan masih panjang. Setelah berhadapan dengan saya, mereka masih harus ke gedung sebelah guna mengantri ambil buku teks pelajaran, tas sekolah, alat tulis, dan seragam (bagi yang beli lagi). Ketiga, kami sebagian besar sudah saling kenal dan saling paham. Ya, iyalaaah.. Dua tahun yang lalu, kan walikelas anak-anak mereka saya juga. Jadi, gitu deh.. Langsung akrab-akrab.

‘Wah, sama Bu Alifia lagi. Oke deh! Kayak dulu lagi, bu.. Saya akan sering telpon-telpon. Jangan bosen, yaa…’

Mungkin, yang paling bikin saya geli adalah papanya Salman A.K.A papanya Arif. Dia baru nongol dipintu saja sudah cengar-cengir duluan. Selesai pertemuan, saya sempat bicara-bicara pribadi dengan beberapa ortu. Papanya Salman ini, yang terakhir menemui saya. Senyum lebar, dan berseloroh.

‘Ibu pasti kepikiran ya ampun, bapak ini lagi. Keganggu deh tidur saya..’

Saya ketawa, lalu menjawab: emang..

Bapak ini memiliki 3 orang anak yang tiga-tiganya sekolah disini. Pada tahun ajaran 2006-2007, saya adalah walikelas anaknya Salman, lalu tahun 2007-2008, saya walikelas putrinya Dilla, tahun kemarin, putera sulungnya Arif adalah anak kelas saya. Tahun ini, anaknya Salman kembali jadi anak saya. Ampun deh, 4 tahun ketemu bapak ini. Dan dia punya kebiasaan yang rada bikin ruwet yaitu, kalo ada perlu, selalu menelpon pagi-pagi. Maksud saya, bener-bener pagi. Sekitar pukul setengah lima pagi. Sering, telpon darinya membangunkan saya.

Paling menarik adalah ortu salah satu anak baru yang datang-datang langsung bicara serius sekali. Saya sampai khawatir anaknya ada apa-apa. Ternyata..

Orangtua anak baru: Gini, bu.. Anak saya, cita-citanya jadi artis sinetron..

Saya: Oooo (Melongo..)

Orangtua anak baru: Saya rela deh bu ngeluarin biaya berapapun, asal cita-citanya anak saya ini tersalurkan. Kita kan sebagai orangtua musti mendukung anaknya, kan, bu?

Saya: (Masih setengah sadar. Senyum..)

Saya: Iya, deh, pak.. Nanti, bila ada informasi lomba, fashion show, atau casting, saya hubungi bapak..

Jadi guru emang gak pernah bosen. Ada-ada saja kisah tiap hari..

  1. 13 Juli 2009 pukul 8:34 AM | #1

    BU, gimana ya caranya bilang ke guru anak saya kalo saya lebih ingin anak saya berakhlak baik, nyaman sekolah, cinta belajar…jangan jadi korban target kurikulum…???

    • AL
      17 Juli 2009 pukul 8:59 PM | #2

      Wah, bilang saja kepada beliau. Saya kira, guru semuanya pengennya begitu. Tapi begitu membaca Standar Isi dari Diknas, kepalanya mulai muter-muter kebingungan. Hmm, gimana ya caranya menanamkan kepribadian yang baik dan kokoh sambil menuntaskan kurikulum yang diharuskan oleh diknas sehingga anak-anak nantinya dapat lulus UASBN.

  2. 17 Juli 2009 pukul 5:28 PM | #3

    hakhakhak… kalau bisa jadi artis cuman modal pesan sama guru doang sih beta juga mau…

    yang bangunin bu al saban pagi adalah ayahnya salman? ck, ck, ck… ternyata..

    • AL
      17 Juli 2009 pukul 9:11 PM | #4

      Selalu mengejutkan memang jadi guru, huehehe.. Kalo gak anak-anaknya, kadang ortunya bikin melongo..
      Hey jangan begitu kau dengan papanya Salman, sebab dialah laki-laki yang setia membangunkanku hampir tiap hari selama 3 tahun ini.

  1. Belum ada trackback.