Anak ini, Gilang, adalah adalah siswa kelas 3. Usianya masih 8 tahun. Kawan lama saya. Bukan saya loh yang menyatakan bahwa saya dan dia adalah kawan lama, tapi si Gilang yang memploklamirkan hal itu kepada saya.

Pada suatu hari, beberapa bulan yang lalu. Dia masih kelas 2 SD. Sedang duduk sendirian bermuka sedih. Saya yang selalu jahil, seru saja duduk disebelahnya, lalu usil mencolek pipinya:

Saya: Ciee… Cowo ganteng. Duduk bermuram durja. Kenapa? Kangen sama Bu Alifia, ya?

Gilang: Gak (Gubrak!!)

Saya: Lalu kenapa sedih saja?

Gilang: Aku gak sedih. Aku capek.

Saya: Mau cerita ke ibu, gak? Kita kan teman. Mmm, apa kita masih teman?

Gilang: Ya iyalaaah.. Kita kan teman lama, bu.. (Gubrak lagi!!!)

Iya, iyaaa… Dia salah satu anak pertama saya. Siswa TK B yang dulu pernah saya ajar. Dan dia juga yang pada suatu hari, ngembek gak mau nulis. Lalu guling-guling di lantai sambil bilang:

‘Pokoknya, aku gak mau nulis!! Ibu aja yang nulisin.’

Saat saya menolak, dia berteriak:

IBU KAN TEMAN AKU BUUUU!!!! TEMAN ITU MEMBANTU TEMANNYA SAAT DALAM KESULITAN!!

Kisah selanjutnya mengenai itu, silahkan baca disini.

Nampaknya, tahun ajaran ini dimulai dengan berbagai macam kehilangan. Setelah saya kehilangan jarak dengan sahabat saya, lalu kawan kecil saya Farhan, sekarang Gilang pun kehilangan. Berhari-hari, dia duduk sendirian. Sedih..

Saya: Kenapa sih?

Gilang: Sekarang, Ara udah benci sama aku.

Saya: Kenapa gitu?

Gilang: Soalnya, Ara gak mau lagi main bola sama aku.

Saya: Mungkin Ara lagi gak pengen main bola.

Gilang: Enggak! Ara sekarang mainnya sama anak perempuan. Kata Ara, dia udah gak suka main bola. Dia udah gak suka main perang-perangan.

Oooo… Gitu. Saya paham.

Ara, adalah anak perempuan yang tomboy. Sumpah, saat pertama kali datang, saya benar-benar menyangka dia anak laki. Potongan fisik dan gayanya, laki banget da, ah! Tapi ada sesuatu dalam diri Ara yang membuat semua rekannya, laki maupun perempuan, suka. Ara secara sederhana bisa dikatakan..cool. Tapi walaupun anak-anak perempuan selalu menarik-narik, bagi Ara, teman adalah anak-anak laki. Dia main perang-perangan, lari-larian tidak berhenti mengejar bola, manjat mushalla, dan berkelahi. Gilang, dari awal adalah soulmatenya. Berdua selalu bersama. Ngobrol dan bertengkar. Huahhh! Kalau Gilang dan Ara sudah berkelahi, ampun dah! Tidak ada yang bisa saya katakan selain adalah menjadi perkelahian seimbang yang seru.

Saya ingat saat pentas seni kami yang pertama, Ara dengan tegas menolak tampil menari payung bersama anak-anak perempuan. POKOKNYA dia gak mau menari payung, TITIK. Hiiiiiy, jijay!!!

’Jadi, Ara maunya gimana, nak?’

‘Aku mau nari, tapi nari kuda lumping. Kayak anak-anak cowo..’

Akhirnya, jadilah dia menari kuda lumping bersama anak-anak cowo yang, dapat terduga, bersorak girang menyambutnya masuk ke dalam tim.

Beberapa orang sih berkenyit kening mengenai keputusan itu. Masa anak perempuan menarinya lompat-lompat nendang-nendang dan bukan kemayu? Saya sendiri berpendapat, bahwa sikap mengkotak-kotakkan seperti itu yang membuat anak akan mengalami krisis nantinya. Biarlah dia menjadi dirinya sendiri. Dia suka main perang-perangan, dan hanya atas dasar itu kita  mengatakan dia lebih cocok jadi laki? Kenapa tidak biarkan dia main perang-perangan dan tetap memandangnya sebagai anak perempuan. Kalo dipandang aneh, nanti dia jadi merasa dirinya aneh.

Sebenarnya, bagi Gilang sendiri, sekeren apapun, Ara tetap anak perempuan. Suatu kali, beberapa tahun yang lalu, dua sahabat ini pernah bertengkar hebat. Saya bilang hebat karena mereka tidak berbantah-bantahan atau dorong-dorongan, tapi saling berdiaman. Ara bilang, dia gak mau diatur-atur. Gilang dengan emosi bercerita:

’Lagian si Ara pake bajunya kayak preman! Kerahnya dikeatasin. Gak bagus!! Aku gak suka kalau anak perempuan kayak gitu. Preman!! Huh!!’

Hehehe.. Geli, yaa…

Pertengkaran ini berakhir saat pulang sekolah, Gilang mendadak mendekati Ara. Dengan lembut, dia merapihkan kerah baju Ara yang berdiri ke atas, lalu senyum.

’Lebih bagus begini..’

Bergandengan tangan mereka berdua menuju mobil jemputan. Huahh, so sweet..

Sekarang, mereka sudah kelas 3. Ara nampaknya sudah mulai beranjak tumbuh. Mulai merasa lebih nyaman bersama dengan anak-anak perempuan. Meninggalkan Gilang yang kehilangan.

Menurut Ibu, Ara gak benci kok sama Gilang. Cuma sekarang, Ara lagi senengnya main sama anak perempuan. Kan, Gilang juga gak selalu bisa bersama Ara. Kalau shalat, Ara duduknya sama anak perempuan bukan disamping Gilang. Kalau berenang juga Ara di kelompok anak perempuan, kan? Biasanya juga gitu. Pas berenang, Gilang bareng sama anak laki. Pisah sama Ara. Mungkin sekarang, pisah sama Aranya lebih lama aja. Kalo pulang, masih bareng Ara?

Gilang mengangguk.

’Tapi udah gak main sama aku..’

Gilang kan bisa main sama anak yang lain.

‘Tapi gak ada yang sekeren Ara.’

Iya, ibu tau.. Ara emang paling keren. Tapi, kan, ada juga dong anak yang keren? Raka misalnya. Teman Gilang juga, kan?

’Tapi Raka gak sekeren Ara.’

Yang namanya berteman itu gak dipaksa. Iya kan? Bisa gak Gilang dipaksa berteman dengan Kak Endrie misalnya? Dan berteman itu, bukan berarti bermain bersama terus. Kayak sama ibu. Gilang kan bilang kita berteman. Teman lama. Tapi kita kan gak selalu bersama-sama. Kadang-kadang, ibu sama sekali gak ketemu Gilang seharian. Tapi kita tetap teman.

Gilang masih cemberut.

Saya tahu, ini saat yang berat bagi Gilang. Tapi ini adalah bagian dari hidup. Selalu ada sedih dan sakit, tapi saya yakin, dia akan dapat melampauinya juga..

Sabar ya nak..

About these ads