Tinggalkan Kami di Penjara Suci I
Penjara suci adalah sebutan para santri untuk menyebut pondok pesantren tempatnya menetap dan menimba ilmu. Saya tidak tahu kapan dan santri dari pondok mana yang pertama kali menyebut pondoknya dengan sebutan ‘penjara suci’, namun istilah ini nampaknya dipakai secara umum.
Minimal ada tiga hal yang membuat saat ini saya terkenang dengan kental masa-masa nyantri dulu. Pertama, bulan Ramadhan. Bulan ketika saya mendadak melankolis meleleh-leleh menikmati aroma manis pulang. Kedua, novel Negeri 5 Menara yang sedang saya baca. Sebenarnya saya ingiiiiiin sekali membaca ulang Road to Mecca tulisan Muhammad Assad. Cuma gara-gara tulisannya Uda Vizon dan komentar-komentar yang saya baca-baca bikin tertarik. Dan yang ketiga adalah, Edo. Teman kecil yang baru saja pergi pada awal tahun ajaran ini.
Edo emang pernah sih cerita kalau nanti sesudah dia lulus SD, mau sekolah di Gontor. Ayah dan Bunda angkatnya agak keberatan, tapi Edo benar-benar ingin pergi ke sana. Katanya, dia pernah membaca suatu artikel mengenai pondok pesantren tersebut. Kalau tidak salah, tepat pada bulan Ramadhan yang lalu kami mengobrol panjang mengenai hidup di pesantren. Tau-tau, beberapa hari yang lalu, tu anak nongol di sekolah bikin Bu Lulu nangis-nangis bombay. Saya juga meleleh-leleh air mata menyaksikannya. Yah, ibu mana sih yang gak nangis kalau menghadapi anak yang paling tukang bikin marah, ngajak berantem, dan dihukum tiap hari, cium tangan dan berkata:
’Bu Lulu, maafin aku, ya, bu. Aku sering nyakitin ibu. Aku sering bentak ibu. Aku sering ngata-ngatain ibu. Aku tau, ibu marahin aku karena ibu care sama aku. Ibu ingin aku jadi anak yang sholeh. Tapi aku malah ngelawan ibu terus. Maafin aku, ya, buuu…’
Huaaa… Bu Lulu nangis bombay. Saya dan bundanya Edo meleleh-leleh air mata. Bahkan ayahnya Edo juga meleleh air mata. Edo?
Edo mah cengar-cengir heheh…
Saya ke bundanya Edo: Edo sekarang sekolah dimana, bunda?
Bunda Edo: Dia mondok, bu. Di pesantren xxxx
Saya: Oh, yang di xxxx itu? Saya tidak tahu kalau ada SDnya..
Bunda Edo: Oh, ada. Sudah lama, kok, ada.
Saya: Iya, tapi setahu saya dulu untuk SD belum mondok. Kebetulan saya dulu mondok di sana, bunda..
Bunda Edo: Oh, ibu alumni sana, ya?
Ahahaha.. Selama beberapa waktu saya bertanya-tanya Edo sekolah dimana. Ternyata masuk pesantren tempat saya mondok dulu. Wah, Edo, nanti kalau reuni bareng yaaa… hihi…
Saya jadi teringat saat dalam perjalanan menuju kelas 5, di depan kelas 4, Edo guling-gulingan di lantai sendiri. Marah-marah. Dia baru saja kena time out, harus keluar kelas. Saya menyodorkan buku yang sedang saya bawa hari itu, 100 Tokoh Berpengaruh. Edo langsung merebutnya dari tangan saya, sibuk membuka-buka halamannya, lalu setengah berteriak terlonjak nyerocos kepada saya:
‘Nah, ini bu.. Thomas Alva E-DI-SON. Penemu lampu, buuu.. Lampu ini yang kita pakai, loh. Gak sih sebenernya lampu yang kuning itu, bukan yang kayak gini, tapi dia penemu lampu bu. Dan penemuannya banyyyaaaaaaak banget. Waktu masih kecil bikin koran sendiri dia yang cari berita terus jualan juga kalo iniiiiii… ini penemu kertas, tapi mukanya gak tau BU! Ternyata william shakespeare itu bukan dia.. Ternyata orang lain yang pakai nama dia jadi bukan dia ibu pernahgakbacabukunya william shakespeare? Aku belum pernah. Tapi dia pengarang yang paling terkenal, tapi aku belom bernah baca bukunya tante (waktu itu dia masih panggil bunda angkatnya tante) gak punya bukunya sih..yang ini penemu hukum GRA-VI-TA-SI. Ibu tau gak gravitasi itu apa? Nah gravitasi itu artinya semua benda jatuh ke bumi soalnya bumi itu punya gaya gravitasi yaitu gaya yang menarik benda biar jatuh ke bumi dan bikin pasang surut juga. Soalnya kan gini ya bu, ini nih yaaa (dia mengepalkan dua tangannya) misalnya yang ini bumi yang ini bulan nah bulan muterin bumi soalnya ditarik gravitasibumi tapiiiiii bulan juga punya gravitasi yang narik air laut ke bulan makanya kalau malam itu terjadi pasang, GITUUUU BUUUUU…. Ibu ngerti, kan?’
Saya mengangguk-angguk. Ngerti.. Anak ini emang rakus informasi, dan hobi juga ngasih tau orang-orang.
Mungkin suatu hari nanti, kamu akan jadi seorang guru, Do..
’Gak, bu.. Aku mau jadi ustadz. Kata tante gak papa. Ntar aku lulus dari sini mau sekolah di pesantren. Kalau udah kata tante, aku juga boleh kalau bener-bener mau pergi ke Mesir. Ke Al Azhar. Itu universitas tertua di dunia.’
Tidak seperti Alif di Negeri 5 Menara yang masuk pesantren terpaksa, saya sih….terpaksa juga heheh.. Tapi itu gara-gara saya sendiri.
Kelas 6 SD, walikelas saya bertanya siapa diantara kami yang gak akan melanjutkan di SMP Negeri. Salah seorang rekan saya menunjuk tangannya. Dia berkata bahwa dia akan masuk pesantren. Maka pulang sekolah saat sore, bertanyalah saya kepada orang tua saya
Saya: Ibu, pesantren itu, SMP juga?
Ibu: Iya.
Saya: Temen AL ada yang mau masuk pesantren
Ibu: Oh, jadi kamu mau masuk pesatren juga (memandang penuh bahagia)
Saya: Ngng..
Ibu: Ayah. Ayaaaahhh, ini AL mau masuk pesantren.
Ayah: Bener?
Saya: Ngng..
Ibu: BENER!!!
Ayah: Alhamdulillahhh, ayah bangga banget.
Saya: (Dalam hati: Apa-apaan ini!)
Karena harus melalui seleksi yang cukup ketat dan jumlah peminatnya sampai…yah, banyak bangetlah! Satu lapangan basket waktu kita baris pertama kali. Itu cuma calon santriwati, yang santriwan tempatnya terpisah. Mana saya itung berapa banyak. Maka saya berdoa dengan tulus agar saya tidak diterima. Tapi, yah namanya refleks juga kali ya, atau tertantang malu kalau nilainya jelek, teteup aja pas tes tertulis saya berusaha agar hasilnya baik. Begitu juga saat wawancara. Walaupun sebenarnya, saya punya juga kesempatan agar tidak diterima tanpa menjatuhkan harga diri saya.
Seseorang, anaknya kawan ayah saya, adalah santri kelas 6 di sana. Dan dia memberi saya satu rahasia kecil.
’Nanti, pertanyaan pertama dari Ustadzahnya itu adalah siapa yang menyuruh kamu masuk pesantren? Kalau jawabannya disuruh orang tua, ditanya lagi, sebenernya mau masuk pesantren apa gak? Kalau jawabannya enggak, nanti namanya langsung dicoret.’
’Kalau gitu,’ kata ibu saya, ’nanti jawabnya gini aja: atas keinginan saya sendiri namun didukung oleh orangtua.’
Dalam hati saya: Gak lah, ya.. Ntar kalau ditanya bakal bilang disuruh orangtua. Mau gak pesantren? Gak..
Tapiii.. Pas masuk berhadapan dengan Ustadzah yang senyum manis lalu bertanya pertanyaan penting itu, refleks saya, dengan senyum manis juga menjawab mantap.
Keinginan saya dan didukung oleh orangtua.
Detik itu, langsung sadar juga sih. Kenapa saya jawab kayak gitu, ya?
Ustadzah: Oh, gitu? Lalu, siapa yang menyiapkan jawaban itu. Bagus banget.. Tertata rapih kalimatnya.
Saya: (dengan polos) Ibu saya
Ustadzah: Oh.. Ibu kamu yang suruh jawab begitu?
Saya: Iya.
Ustadzah: Terus, sebenernya kamu mau gak masuk pesantren?
Saya: (bayangkan anak perempuan 11 tahun duduk rapih menjawab dengan polos) Mau..
Ustadzah: Bener? Nanti gak bebas loh.. Gak boleh pulang kecuali liburan sekolah, gak bisa main ke mall, gak ada TV, bangun jam 4 pagi. Kalau emang benar ingin sih gak masalah, tapi kalau dipaksa bilang aja. Gak akan dibilang ke ibunya nanti.
Saya: Iya.
Semua jawaban itu keluar begitu saja dari mulut saya tanpa bisa dicegah. Dulu, saya mengutuki diri sendiri. Namun, beberapa saat kemudian, saya sadar, mungkin memang jauh dalam hati saya, saya memang benar-benar ingin mondok di pesantren sesungguhnya.
Nah, masuklah saya. Tanpa saya bisa membayangkan bagaimana harus menghabiskan minimal waktu 3 tahun di tempat ini.
Hari pertama yang berbeda dengan sekolah pada umumnya. Dimulai pada maghrib!
Kami datang sekitar pukul dua siang dan perut saya rasanya dibalik. Pengen pingsan. Adik saya duduk di sisi lain mobil jeep kami melirik ngeri ke arah saya. Mungkin bertanya-tanya bagaimana ceritanya sampai saya bisa terjebak dalam teror ini. Begitu masuk gerbang depan dan mobil menyelusuri wilayah putra, saya benar-benar merasa teriris-iris. Dan gerbang kasat mata itu. Masuk ke wilayah putri… Ya ampun!
Anaknya sahabat ayah saya yang kelas 6 itu sudah menyambut penuh senyum mengantar kami mendaftar masuk asrama. Ternyata kami termasuk yang datang cepat. Terbukti saya dapat kamar nomor 2 di asrama G. Asrama pertama dari 2 asrama yang dikhususkan untuk santri baru. G untuk santri baru tsanawiyah dan A untuk santri baru aliyah. Ngobrol, beberes, yang saya mendadak silent gak bisa ngomong apa-apa. Beberapa saat sebelum pengajian dimulai sebelum Maghrib, suara pengumuman mengingatkan para ortu santri baru agar…secara kasarnya disuruh pulang. Tinggalin anak-anaknya. Ayah pergi dengan senyum yang aneh sekali, adik saya masih diam seribu satu bahasa, ibu saya nangis-nangis bombay berurai-urai air mata gak berhenti menciumi saya sampai ayah menyeret-nyeret pergi.
Maghrib, saya dengan membawa sebilah bambu yang menyilet-nyilet dada bersiap shalat di masjid. Dan di tempat ini, saya, anak perempuan berusia 12 tahun yang tidak pernah jauh dari ortu, tertinggalkan sendirian tanpa ada satupun yang saya kenal.
Malam pertama adalah malam yang aneh. Saya bingung mau apa akhirnya duduk di tempat tidur membuka-buka buku. Geblek juga sih lah orang bukunya pakai bahasa arab semua. Waktu itu, belum dapet buku pelajaran yang umum, baru buku pelajaran pondok. Mana saya ngerti ini. Balik-balik, lalu sibuk ngeberesin lemari lagi. Akhirnya naik ke ranjang siap tidur. Yah gak bisa tidur, lah…
Lucunya, ada 11 orang lain di kamar ini, semuanya sama. Usia, jenis kelamin, dan mengalami kebingungan yang sama. Sibuk dengan diri masing-masing. Sama seperti saya, semuanya mungkin juga sedang merasakan dicabik-cabik dadanya. Tentu sakit, kami, pada usia yang terlalu muda, musti dicerabut dari rumah yang nyaman. Dari keluarga, dari budaya. Di sana sini terdengar suara isak tangis. Anak perempuan di sebelah saya sudah dari pulang shalat isya menelungkup saja di kasur, menangis tersedu-sedu.
Detik… menit… jam… Sampai semua sepi dan hening, saya masih juga gak bisa tidur. Mata sudah lelah. Melirik jam dinding, sudah lewat tengah malam saat saya akhirnya menarik selimut menutupi seluruh tubuh. Sendirian dalam gelap, akhirnya, air mata saya meleleh. Saya menangis. Lama sekali. Dan sungguh, beban berat di dada saya itu lepas juga.
Akhirnya bisa bernafas.
Dan tertidur.


lulusan pondok juga ternyata, masalah makan gimana bu dulu???, pengalaman nganter ponakan ke pesantren (dia masuk smp juga), klo nengokin tiap minggu bawain lauk, kasian lauknya kadang mengenaskan
Yah, begitulah.. Tapi saya, dan nampaknya keponakan Za, beruntung mondok di pesantren yang memasakkan makanannya. Banyak pesantren, kebanyakan di daerah, tidak ikut campur soal makan alias cari dan masak sendiri. Kawan saya mengalami mondok di pesantren seperti ini. Kadang makan pakai ikan asin, tapi seringnya apa yang ada termasuk kalau benar-benar habis mereka mencari daun-daun yang bisa direbus dan dimakan. Tapi itulah tantangannya, Za.. Menuntut ilmu itu perjuangan. Tidak di pesantren, atau di luar negeri.
Simpan baik tulisan ini AL. Suatu saat nanti, kalau Edo bener-bener pergi ke Al Azhar, kamu kirim ke dia.
Iya, ya.. Gak tulsan inilah Kir. Aku unya yan tulisan dia asli menuliskan impian ke Al Azhar ini. Kusimpan baik-baik, ah! Ntar kalau dia bener-bener ke sana, kirim. Gimana ya?
ternyata dari dulu udah cengeng…
Trimakasih, Bidadari.
Apapun yang kau katakan adalah pujian.
I love U Full…
kata orang, kalo mondok dan belum kena penyakit kulit (gatal-gatal), belum afdhol tuh ilmunya…
btw, salut buat Bu Al, mampu menaklukkan tantangan, dari lingkungan dan dari dalam diri Bu Al sendiri!
Ohya, kadang kita sebagai “orang tua” salah juga ngasih gambaran pesantren ke anak-anak, kesan pesantren adalah tempat anak-anak nakal dan susah diatur.
Jadi, dulu Bu Al nakal ya???
Gatal-gatal, terus kutu-an. Wedeh, perasaan kesannya jorok banget! Yah kebayanglah, anak-anak ABG dusuruh hidup lepas dari ortu. Gitu deh. Ada loh bu, kawan saya dulu, gak mandi-mandi karena males. Gila, bau banget.. Mana bajunya gak dicuci-cuci lagi…
Saya bandel? Gak, saya mah anak yang manis kok…
penjara suci? hehehe… istilah itu dulu selalu dikumandangkan oleh kawan-kawan. ada-ada aja tuh istilah…
dirimu bukan terpaksa AL, tapi tepatnya gak bisa beragumentasi dengan ortu, hehe
Saya kira itu istilah di kalangan santriwati saja, Uda. Ternyata santriwan juga, ya? Dari mana ya awalnya? Di tempat saya sampai ada lagunya tuh.. Biasa, santri pada kurang kerjaan meleset-melesetin lagu yang lagi pop…
beberapa santri -di tempatku- yg awalnya rewel gak betah dan sakit-sakitan, pada akhirnya dia meraih prestasi yang terbaik disekolah.
Awalnya emang rewel dulu kali, ya, pak.. Atau mungkin saya cewe bareng sama cewe-cewe, jadi kerjaannya pas bulan pertama nangis melulu. Apalagi kalo denger lagu yang ada kata-kata ‘ibu’ atau ‘ayah’ deh, langsung nangis berjama’ah.
aku jg mondok di pesantren yg sama loh al.. walopun cuma 3 hari (waktu test ajah):D pas lulus, malah nangis2 ga mau.. padahal awalnya aku yg kekeuh sumekeuh mo masuk pesantren. alesannya??? takut disuruh makan. aku kan ga bisa makan al, selain ikan/ ayam goreng kering
tapi sumpah, nyesel banget skrng. lulusan disana rata2 pada sukses smua, termasuk kamu al.. dah jd kepsek skrng
Loh. bukannya teteh kabur pas liat kamar mandi?
Iya, banyak kenangannya dan merasanya sih, dari segambreng pendidikan yang pernah di jalani, di pesantren ini yang bener-bener membentuk diri.
Saya juga nyesel pas sekarnag. Nyesel dulu cuma 3 tahun dan memutuskan untuk melanjutkan SMA.
SMA suck!!
hehee.. itu jg.. toiletnya ga ada pintunya..
hah, lulusan ma’had ya bu.. aku dulu pernah pengen banget masuk pesantren setelah tamat SD, tapi sayang,, hikss,,, saat itu orang tua ku belum punya rejeki cukup buat sekolahin anaknya ke pesantren.. tetapi, memang ya rejeki cuma Tuhan yang atur, karena 2 tahun berselang, adik laki-laki ku beruntung bisa disekolahin di pesantren.. jadilah, aku uring-uringan terus terusan.
”Kok, pas adek ada rejekinya? Pas aku, kok Tuhan gak kasih rejeki sama Ibu-Bapak biar bisa sekolahin aku ke pesantren??”
Bertahun sesudahnya, aku baru bisa berpikir dengan sedikit dewasa. Mungkin emang rencananya Tuhan seperti ini.. Ada sesuatu yang ingin dikatakan Tuhan kepadaku, melalui cara-cara Nya yang sulit dimengerti pada awalnya.. Dan akupun, baru mengerti sekarang..
Ah, jadi terkenang nih baca tulisannya AL..
Maaf, kok jadi curhat ya?? hehehhe…
Seneng kok bacanya Arie.. Apa yang terjadi pada masa lampau kita bisa melihatnya lebih jernih beberapa waktu kemudian.
xixixix nam dah di tutupi pake “xxxxx”
ehh dikomen pada nongol..
seru nih ceritanya..nunggu sambungannya ah…
wah, terbukti bahwa lulusan pesantren pun bisa sukses di bidang lain, tidak hanya untuk berdakwah..
adek ku jg lulusan pesantren, sebenarnya ia ingin melanjutkan SMA di pesantren, tapi trnyata takdir nya msk SMA negeri..
Istilah penjara suci ini sudah lama Bu Al…
Waktu teman saya setemat SD masuk ke sana (1984), istilah ini sudah ada. Saya sendiri masuk ke sana tahun 1987 setelah tamat SMP. Saya juga 3 tahun di sana. Pas naik kelas 6 saya aladdawaam. Mungkin karena jenuh juga ya…Mirip pergolakan batin Alif Fikri di N5M. Untungnya, dia bisa tamat karena ayahnya datang berkunjung dan memotivasinya.