Perbaikan dan Proses

Misalnya begini, ada anak yang selalu membantah. Tidak mau mendengarkan. Setiap hari, kerjanya hanya bikin kesal saja. Kalau dihitung, misalnya, dalam satu minggu, anak itu mendapat peringatan sampai 20 kali. Anak itu dapat dikatakan tidak patuh. Lalu Anda menasihati, memberi hukuman, atau apapun yang Anda anggap perlu.. Pada minggu selanjutnya, ternyata anak itu mendapat peringatan sebanyak 15 kali. Nah, bagaimana itu?

Anak itu masih dapat dikatakan tidak patuh. Jika dibandingkan dengan anak lain. Itu jika kita melihatnya secara keseluruhan.

Namun, kita musti ingat, bahwa prilaku tidak patuh anak ini toh sudah menurun. Ini perlu dapat perhatian. Dan ini salah satu yang susah sekali saya berikan pengertiannya kepada orangtua siswa.

Bahwa setiap perbaikan, itu sebaiknya diberi ganjaran. Dengan kata lain, janganlah melihat hanya pada hasilnya, tapi lebih memberi perhatian pada proses.

Di kelas saya adalah seorang anak laki-laki. Mari kita sebut namanya adalah Randy.

Datang di sekolah ini pada awal tahun ajaran lalu. Sejak awal dia merupakan salah satu anak yang langsung mendapat perhatian lebih. Dia memang agak spesial. Dari curhat awal sang ibu, anak ini memang lambat sekali. Dan ini diperparah lagi oleh sikap guru-guru di sekolahnya yang lalu yang nampaknya tidak mau mengerti kondisi si anak. Konon Randy harus mengalami bentakan dan teriakan setiap hari selama bertahun-tahun. Ditambah pula dengan potongan kapur dan penghapus papan tulis yang melayang kepadanya terus menerus. Sampai suatu hari, dia tidak mau lagi sekolah. Kemudian tibalah di sekolah ini.

Menghadapi Randy memang agak susah. Jika kita lembek, dia main terus. Tidak mau memperhatikan. Mengganggu kawan-kawannya sampai bikin kesel satu kelas. Tapi jika kita streng, dia bengong sepanjang hari. Nah, bengongnya itu bikin guru merasa bersalah! Belum lagi dengan sikapnya yang over pesimis bahwa apa-apa, dia sudah yakin pasti gak bisa. Jadi kalau giliran di beri pertanyaan, maka dengan segera dia akan jawab:

Gak tau.

Setelah beberapa kali ’gak tau’, pada suatu hari, saat guru memberi pertanyaan dan dia jawab ’gak tau’, yang geregetan bukan Cuma guru, tapi 23 anak lain di kelasnya juga.

’Randyyyyyy… ya ampuuun!!’ teriak Nouval. ’Mikir dulu kek!’

’Iya Randy, kamu tuh harus berusaha dulu, tau!’

Berbusa-busa sudah guru-guru mengingatkan bahwa jika kita menjawab dan salah, itu tandanya kita belajar. Kita perpikir. Tapi kalau kita jawab gak tau, itu sama saja tidak melakukan apa-apa.

Teman-teman sekelasnya jadi males juga jika harus bekerja sama dengannya. Bisa dikatakan, dia adalah anak yang selalu tersisa terakhir saat pembagian kelompok. Gak ada yang mau satu kelompok dengannya. Bukan karena nilainya yang buruk, bukan… Tapi karena pesimisnya itu membuat semuanya susah. Tentu susah kalau kita harus berkompetisi saat salah satu rekan kita sendiri belum apa-apa udah langsung merasa kalah. Tidak semangat. Akhirnya, kerjanya asal aja. Pokoknya yang penting selesai. Tanpa mau berusaha lebih baik lagi.

Naik kelas 5, berdasarkan perkembangannya di kelas 4 lalu, kami menemukan bahwa Randy ternyata cukup baik di pelajaran eksakta khususnya Matematika. Kelemahan dia yang terbesar memang pada pelajaran ilmu-ilmu sosial. Saya mencoba menjadikan itu sebagai alat untuk menaikan percaya dirinya. Sepanjang kelas 5, Bu Lyn terus-terusan memberikan pujian kepada Randy atas kerjanya yang sebaik rekan-rekannya di kelas Matematika. Dan nampaknya, ini berhasil. Tidak hanya guru, segenap kelas 5 pun mendukung usaha ini. Setiap kali Randy diminta mengerjakan soal di papan tulis, yang ternyata benar, semua anak kelas 5 akan bertepuk tangan. Berteriak. Bersorak.

’Wah, Randy hebat!’

’Tuh, kan Randy, aku udah tau kamu tuh pinter…’

Randy akan senyum malu-malu duduk lagi di bangkunya.

Haduh, jadi terharu, hiks.. Anak-anakku baik, ya, kan…

Padahal kami gak pernah loh minta anak-anak melakukan itu semua.

Percaya dirinya di kelas Matematika tentu saja dengan segera menular ke kelas-kelas lain. Randy mulai bersikap positif. Sudah mulai jarang bilang ’gak tau’. Mulai serius dan bersungguh-sungguh memperhatikan tidak lagi banyak main dan mengganggu teman. Pokoknya, semua rekannya bilang:

’Randy udah tobat, loh, Bu..’

Heheheh…

Bagaimana dengan hasil UTS Randy?

Sebanyak 5 mata pelajaran berada di bawah KKM. Dia masih memegang rekor anak paling banyak mendapat nilai di bawah KKM di angkatannya. Saya tahu, ini tentu membuatnya shok. Maka saya memanggilnya untuk bicara.

Saya katakan padanya, bahwa saya senang karena dia telah banyak berubah. Semua guru yang mengajar kelas 5 memberi pujian atas perubahan sikap Randy. Saya pun memperlihatkan kepadanya rapor UTS semester 1 di kelas 4. Tepat satu tahun yang lalu. Ketika hampir seluruh nilainya berada di bawah KKM. Jika dibandingkan dengan itu, nilainya yang sekarang sudah lebih baik. Bahkan jika mau lebih teliti, sebenernya seluruh nilainya memang naik. Walaupun masih sedikit. Nilai IPSnya yang tadinya 30, sekarang 50. Nah, sudah naik bukan?

Saya mengatakan padanya, ini rapor pertama dari 4 rapor sepanjang satu tahun ajaran yang akan dia terima. Dan saya yakin, di rapor selanjutnya, nilainya akan segera naik. Sebab dia sudah banyak berubah dan pasti dapat mengejar. Jadi dia jangan terlalu khawatir. Tetap pertahankan sikap yang sekarang, dan tingkatkan lagi. Dia akan baik-baik saja.

Beberapa jam kemudian, selepas bel pulang sekolah berdering, saya dikejutkan dengan suara marah-marah seorang perempuan di depan perpustakaan. Saya turun dan melihat Randy sedang dimarahi oleh ibunya, di depan anak-anak yang lain. Melihat saya datang, sang ibu langsung mendatangi seraya menyeret anaknya, lalu berkata dengan penuh emosi:

’Ibu, gimana sih! Nilai Randy semuanya jelek! Memangnya dia main melulu, ya? Dasar nih anak gak bisa dibilangin! Marahin aja napa, Bu! Ibu nih, gak pernah marah sih!’

Saya katakan padanya bahwa Randy sudah banyak berubah di kelas.

‘Lah, kalau udah berubah, harusnya nilainya tambah bagus, kan?’

Nilainya Randy memang meningkat, loh, Bu.. Misalnya Matematika.

‘Matematika kan emang udah bagus. Masa jadi jelek.’

Pelajaran PKN yang tadinya selalu di bawah KKM sekarang sudah lumayan. Begitu juga Bahasa Indonesia.

’Ibu ini gimana, sih! Masa nilai 6 aja dibilang lumayan. Dimana lumayannya!’

Saya mencoba mengingatkan mengenai nilai Randy sebelumnya. Dan bahwa, perubahan itu kan gak bisa cepat. Tapi butuh proses. Saya kira, Randy sudah mulai berjalan ke arah yang benar.

’Ibu kok malah ngebandingin sama yang lebih jelek? Kalau ngebandingin sama yang lebih bagus, dong. Sama Rani, gitu. Gak malu, Rani aja bisa 9 semua nilainya. Hah, dasar emang anaknya goblok. Gak mau belajar. Maen terus. Awas nanti kalau bapaknya tau, di bentak-bentak kamu! Udah, pokoknya kamu dihukum gak boleh nonton TV gak boleh main PS. Sekalian aja Psnya dibuang. Hah! Ngerti, gak? Gak naik kelas, tau, kamu! Gak naik kelas!’

Tiba-tiba sang ibu menoleh kepada saya.

‘Maaf, ya, Bu. Saya minta diri dulu, ya, Bu..’

Sebelum saya menjawab, sang ibu sudah menyeret anaknya pergi.

Kejadian itu tidak hanya membuat anak-anak yang kebetulan ada di sekitar itu, dan terpaksa menonton jadi melongo. Tapi saya pun ikut melongo.

‘Wah, mamanya Randy goalak..’

‘Iya, Kasihan Randy, ya..’

‘Iya…’

Duduk di perpustakaan, saya jadi..meleleh air mata. Rentetan omelan sang ibu yang baru beberapa menit itu sudah mematikan  motivasi yang telah saya berikan beberapa saat yang lalu kepada Randy.

Setiap perbaikan, sudah selayaknya loh mendapat ganjaran yang positif. Kalau melihat dari keseluruhan, nilai Randy itu memang jelek. Sang ibu pun benar, bahwa dengan nilai seperti itu, Randy gak akan naik kelas. Tapi lihatlah dari sisi yang lain. Lihatlah prosesnya. Bukankah ini masih terlalu dini untuk memvonis?

Selama 3 bulan terakhir, Randy sudah berusaha sekuat tenaga untuk berubah. Saya setuju, berdasarkan pengamatan dan berdasarkan laporan dari psikotesnya bahwa Randy itu memang anak yang lambat. Tidak ada masalah yang berarti, hanya lebih lambat dari rata-rata anak yang lain. Daya tangkapnya lemah. Susah berkosentrasi untuk waktu yang lama. Melihat perubahan yang walaupun lambat itu namun menyeluruh di setiap mata pelajaran, termasuk mata pelajaran yang paling berat untuknya, saya yakin, bahwa dia memang sudah berusaha dengan sangat keras. Dan ternyata itu malah membuahkan hukuman.

Coba deh kita posisikan sebagai Randy, betapa bingungnya dia sekarang. Mungkin dia tidak mengerti kenapa dihukum. Kita jangan memperlakukan orang lain, dan apalagi anak-anak, dengan bertolak ukur kita sendiri. Jangan menyamakan benak seorang dewasa dengan benak seorang anak 10 tahun. Mungkin saja, yang terekam dalam benak Randy sekarang adalah, bahwa kerja kerasnya yang selama 3 bulan ini yang membuatnya patut dihukum.

  1. 24 Oktober 2009 pukul 4:29 PM | #1

    setuju banget, bu. perbaikan itu kan butuh proses, dan tidak ada yang sim salabim, berubah seperti membalik telapak tangan.

    kasihan ya randy. tapi mungkin orang tuanya yang menghadapi di rumah sudah rada fed up, karena mereka hanya tahu dari hasil akhir, bukan proses.

    • AL
      24 Oktober 2009 pukul 8:59 PM | #2

      HO-OH..
      Mungkin komunikasi saya dengan walimuridnya selama ini masih kurang.

  2. 24 Oktober 2009 pukul 9:29 PM | #3

    Orang tua sering nggak sabar ya Bu Al.Pengennya anaknya pintar seperti anak2 lain. Kayaknya orangtua harus sering dipanggil ke sekolah untuk diberikan pemahaman agar strategi menghadapi anak berkebutuhan khusus ini bisa sama. Jangan sampai, yang satu memberi motivasi, eh yang lain malah mendemotivasi.

    • AL
      25 Oktober 2009 pukul 8:33 PM | #4

      Sip!
      Oki-doki.. :)

  3. mamaray
    26 Oktober 2009 pukul 9:56 AM | #5

    Saya sedih membayangkan Ibunya Randy, gak ada syukur-syukurnya sama Tuhan. Punya anak ‘normal’ tapi diperlakukan seperti itu. Mungkin dia tahu akan berharganya sebuah proses jika pernah mengasuh anak ‘berkebutuhan khusus’. Dia mematikan potensi anaknya sendiri. Saya sedih sekali.

    Bu Al, mungkin perlu diadakan acara sharing dengan orang tua…

  1. Belum ada trackback.