Saya mengingat dengan warna. Dengan emosi yang tertuang. Sedangkan nama ataupun wajah, susah sekali masuk ke dalam memori. Maka tak heran, kepada orang yang berkali-kali, ataupun malah tahu, saya tidak mengenalinya. Orang itu yang menegur saya, lalu lemas melihat saya mengernyit mencoba sekuat tenaga untuk mengingat siapa dia sebenernya. Biasanya dia yang akan memberi tahu siapa dia.
Saya membalas dengan cengiran minta maaf.
Terkadang, biar sudah diberi petunjuk pun saya masih tidak ingat. Tapi tetap pura-pura ingat. Daripada nanti dia marah.
Begitu manusia, begitupun tempat.
Di sisi lain, saya mengingat cerita. Saya mengingat percakapan, kisah, dan emosi yang menebar di jalan-jalan waktu kita. Saya mengingatnya terkadang begitu detil setiap adegan setiap kata.
Jadi ketika Lily (Guru IPA yang (ter) baru) pertama kali datang, saya tidak dapat melihat persamaannya dengan Kirsan. Atau saya tidak ngeh aja. Sebab dua orang mirip bagi saya adalah warna, bukan tampilannya. Maka saya bengong juga saat kelas 5 bercerita tentang microteachingnya:
‘Bu Kirsan is back, Bu..’
‘Iya, mirip, yaa…’
Wah, emang mirip Bu Kirsan, ya?
‘Iyaaa….’
‘Tapi Bu Lily lucu. Bu Kirsan kan gak lucu.’
Begitupun guru-guru, yang semuanya komentar mirip Bu Kirsan. Bahkan Om Spiderman bercerita kalau dia benar-benar menyangka bahwa itu Bu Kirsan.
’Bu Guru yang baru itu, saya kira Bu Kirsan. Saya panggil-panggil, dia gak nengok-nengok. Saya bilang dalam hati, sombong banget! Gak taunya pas saya samperin, orangnya lain. Mirip, ya, Bu..’
Staff Yayasan juga nyangka itu Bu Kirsan:
‘Saya heran aja gitu, Bu. Kok Bu Kirsan naik ke sini dianterin sama satpam segala. Gaya amat! Gak nengok-nengok, gak negur-negur. Langsung masuk aja ke tempat bos. Eh, pas keluar baru sadar gak taunya bukan Bu Kirsan.’
Wadow! Memang sebegitu miripnya, ya?
Cuma Eni yang bilang kalau Lily itu gak mirip Kirsan.
’Gak mirip-mirip amat. Cuma sekilas aja. Soalnya mereka berdua sama-sama putih, sama-sama sipit, sama-sama pake kacamata, sama-sama akhwat.’
MAKA, pada hari Sabtu yang kita gak libur (duh, menyebalkan!) dan Bu Kirsan yang asli datang ke sekolah, tereak-tereaklah guru-guru memanggil-manggil.
’KIRSAAAANNN, ada kembarannyaaaa!!!’
Kemudian pecicilanpun menggeret-geret Kirsan dan Lily bersanding diri berdampingan. Lalu dengan norak kita duduk mengamati angguk-angguk. Nah, norak bukan? Tapi, saya senang kalau kita lagi pada norak gitu. Daripada pas lagi pada setres kelelahan kerjaan.
Kirsan senyum-senyum simpul. ‘Wah, kita mirip, yaa… ‘
Lily cengar-cengir. ‘Tak disangka,’ celetuknya. ‘Ternyata daku baru datang langsung jadi idola, heheheh..’
’Oh, tidaaak! Bu Kirsan ada Dua!’ Teriak Pak Satria.
’Gak mirip, ah!’ tereak Eni.
‘Kalo disebelahin gini emang gak mirip. Tapi emang rasanya mirip!’ Bu Lulu.
Sebagian besar guru berteriak:
MIRIP!!! YEEEEYYY!!
Kirsan lebih pendek dari Lily. Busyet, Kirsan! Lo pendek bener! Kurang gizi!
Ditimpuk Kirsan.


bu al
kok main fisik ?hehehe
salam kenal
Lam kenal juga, tweet-tweet.
Apa?
Soal Bu Kirsan pendek itu?
Yah, itu memang kenyataan sih!
Ups, awaasss! Tweeet…
*dilempar sendal sama Kirsan*
Untung saya gak kena.
*menghela nafas*
Tweeet? Tweeeeet?
Yaa, baguslah jadi kamu gak usah kangen lagi sama aku, kan, AL.
Tweet, gak usah gubris AL. Dia emang agak kurang sehat pikirannya.