Tahun ini, saya tidak lagi memegang bidang study IPS dan PKN. Dua-duanya dipegang walikelas masing-masing. Pelajaran TIK pun hanya sebatas kelas 5 dan 6 saja. Maka, jadilah waktu saya terus berputar antara kelas-kelas di lantai dua, dan kantor kecil sempit itu. Banyak kehilangan. Tentu saja.

Saya kangen kawan-kawan kecil saya. Bergaulnya sama anak-anak tanggung dan orang-orang dewasa melulu sih sekarang.
Maka kemarin menjadi cukup istimewa saat saya berkesempatan bincang-bincang dengan kawan-kawan kecil yang duduk-duduk di depan masjid. Farhan and the gank! Hihi, Farhan sekarang udah gak sering sedirian lagi, tapi ikut serta ngegerombol bareng cowo-cowo mungil seangkatannya. Dan kami berbincang tentang banyak hal. Dari nilai-nilai mereka, UFO di atas Blok M, dan Sumpah Pemuda.
’Aku mau bantuin papaku,’kata Farhan. ’Papaku mau presentasi di kantornya.’
Oh, ya? Bagaimana cara Farhan membantu papa?
‘Belum tau. Tapi aku mau bantuin papaku presentasi.’
Presentasinya tentang apa?
’Ya, tentang komputer.’
Baiklah. Kalau sudah tau caranya, nanti cerita-cerita, yaaa…
Farhan mengernyit. ‘Bu Guru udah gak pernah cerita lagi..’
Saya tersenyum sedih. Iya, nih.. Saya kangen sekali sama kalian, loh, nak…
Saatnya makan siang. Beuh! Bahkan ritual ini pun sudah jarang saya nikmati lagi.
Sambil antri ambil makanan, saya dan beberapa anak kelas 5 seru ngobrol masalah tsunami. Ya, yaa.. Kita baru saja menonton film Krakatoa. Anak-anak terkejut-kejut juga menyaksikan betapa dahsyatnya letusan Krakatau tahun 1883 yang bukan hanya menurunkan hujan abu, namun juga diwarnai dengan serangkaian gempa, dan tsunami.
Ngobrol..ngobrol.. duduklah kami di meja.
Saat baru akan mulai, baru sadar kalau saya gak bawa sendok.
Lah, ibu lupa ambil sendok.
Anak-anak tertegun. Saya sudah akan berdiri saat kawan lama saya, Gilang tiba-tiba duduk di sebelah saya, dan meletakkan sendoknya di piring saya.
‘Ibu pakai sendok Gilang aja. Masih bersih.’
Wah, kamu baik sekali. Tapi kamu kan jadi gak ada sendok?
’Gak apa-apa, Bu.’ Seru Gilang seraya menggulung lengan bajunya.
’Orang Padang!’ soraknya. ‘Makan pake tangan!’ Lalu dengan lahapnya dia mulai makan pake tangan. Kontan kita semua yang mendengar Gilang bersorak jadi tertawa kecil.
‘Rasulullah juga makan pake tangan, loh, Bu..’ katanya lagi.
Tapi Rasulullah bukan orang Padang, loh, Lang.
‘Iyaa. Ibu becanda aja, nih!’
Saya jadi memandangi Gilang terus, dan terheran-heran sendiri. Dulu saya bertemu dengannya saat dia masih TK. Masih kecil. Suka nangis kalau berantem dengan Ara. Minta ditemenin saat mau buang air. Takut gelap tapi hobi main setan-setanan dan selalu ngotot mau jadi pocong.
Dulu dia uring-uringan, kalau gak ngerti. Lalu terisak-isak merajuk. ’Ibuuuu, ajarin dong. Aku gak ngerti, niiih.. Aku gak kan bisaaaa…’ Kalau nilainya jelek, meleleh-leleh air mata. Lalu bicara pelan sendiri, ’Gilang udah berusaha, tapi nilainya tetep jelek..’
Sering ngambek tengkurap di lantai. Pura-pura gak mau denger padahal dia dengar. Dia selalu dengar.
Saat kelas satu, saya sering membujuknya agar mau kembali ke kelas. Ribut melulu sama Bu Eni! Entahlah apa alasannya tapi nih anak waktu kelas satu, gak demen banget sama Bu Eni yang waktu itu mengajar English kelas 1 dan 2. Selalu melanggar kesepakatan di kelas Bahasa Inggris. Akhirnya, sebelum kena time out dan harus keluar kelas, dia duluan yang kabur lari keluar. Dikejar-kejar Bu Kirsan. Tapi lucunya, pas naik kelas dua, hubungan Eni dan Gilang berubah menjadi mesra. Beuh! Sayaaaaang banget sampai dinding kamar kami, tau-tau penuh lukisan krayon karya Gilang buat Bu Eni.
Rasanya baru saja. Dan memang baru saja kan? Si Gilang terduduk sedih karena Ara yang paling keren itu udah gak sering main lagi sama dia. Tau-tau..
Tau-tauuu…
Anak ini duduk tenang. Lahap makan sementara tangan kirinya memegang buku yang terbuka.
Serius.
Lang, kok makannya sambil baca, sih?
’Lagi seru, Bu.. ‘
Tapi dia menutup bukunya.
Kawan lama saya bukan anak kecil lagi.


tak terasa kita semakin tua….
Iya, aku juga heran. Ingat kamu saat baru datang, taunya sekarang udah kepsek..
Assalamu alaykum Wr. Wb.
Wahai saudaraku dimanapun kalian berada!
Sudah saatnya bagi kita, para pemuda, untuk memenuhi sumpah yang telah kita buat!
Sumpah suci yang telah kita ikrarkan dengan sepenuh hati!
Sumpah suci yang akan menjadi saksi kita di hadapan Sang Maha Pencipta!
“Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh!
Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh!”
“Saya bersumpah bahwa tiada Illah selain Allah!
Dan saya bersumpah bahwa Muhammad adalah Utusan Allah!”
Kami, para pemuda muslim di tanah Indonesia, dengan ini mengaku
ber-Illah yang satu, Allah SWT!
berkitab yang satu, Al Qur’anul Karim!
menjunjung tinggi hukum yang satu, Syariah Islamiah!
Wahai saudaraku dimanapun kalian berada!
Camkanlah ini dalam dadamu!
Penuhilah sumpahmu!
Kuatkanlah tekadmu!
Serta raihlah kemenanganmu!
Semoga Allah senantiasa meridhomu!
Wassalamu alaykum Wr. Wb.
_____________________________________
INDONESIA GO KHILAFAH 2010
“Begin the Revolution with Basmallah”
Bu Al udah jadi kepala sekolah sekarang ya?