Beranda > Kisah, Pendidikan, Sekolah, kelas lima > Iri dan Dengki

Iri dan Dengki

Jauhilah oleh kamu sekalian sikap hasad (dengki), karena sesungguhnya sikap hasad itu memakan (menghabiskan) kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan (menghabiskan) kayu bakar“. (HR. Abu Daud -Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Saya tidak senang tembok kelas yang bersih. Maksudnya kosong melompong gitu. Makanya kelas saya setiap tahun selalu dikeluhkan yayasan karena musti dan musti lagi di cat ulang. Karena cat temboknya pada rontok bekas tempelan double tape dan lakban. Kelas lain juga pada rontok sih, tapi kelas saya selalu paling parah. Sebab 4 sisinya dari atas sampai bawah rusak semuanya. Masalahnya, saya suka norak. Setiap menemukan hal baru yang menarik dari mana-mana, dan apalagi itu memang berkaitan dengan pelajaran, maka akan saya print, lalu saya tempel.

Saya berkeyakinan, pastilah apapun yang tertempel di tembok kelas, itu dibaca.

Kemarin, saat istirahat, saya menempel beberapa buah kotak kecil yang berisi hadist-hadist pendek mengenai prilaku dan sikap yang baik. Sengaja saya bekerja dalam diam. Sibuk sendiri.

Ini fotonya:

PICT0289-1

Selesai, saya duduk di meja saya dan mulai mengerjakan sesuatu. Sampai bel masuk berbunyi. Terdiam. Agak sedih juga karena sejak saya menempel kota-kotak itu, sampai setengah jam kemudian, tidak ada satupun anak saya yang nampaknya tertarik. Tidak ada yang terlihat membacanya. Cuek beibeh aja!

Haduh…. Apa saya salah, ya.. Lalu, apakah segala rupa tempelan di tembok itu gak mereka baca?

Karena pelajaran selanjutnya adalah matematika dan saya harus berada di kelas 6, maka saya tinggalkan kelas.

Dua jam kemudian, saat baru saja duduk di meja makan untuk makan siang, tau-tau beberapa anak menghampiri saya.

‘Bu, ituloh bu.. Tentang iri dan dengki.’

Tentang iri dan dengki?

’Iya, yang hadist iri dan dengki itu. Kata Rasulullah kan rasa dengki itu akan menghapuskan kebaikan seperti api menghabiskan kayu..’

Ooo..

’Tapi, bu.. kayaknya aku sering iri deh, bu..’

’Iya, bu…’

Irinya gimana?

’Ya kan misalnya temen aku diajak jalan-jalan. Aku enggak. Jadi aku suka iri, bu.. Gimana ya bu biar gak iri?’

Oh, kalo gitu, kamu inget-inget aja temen yang sedang kesusahan lebih dari kita. Misalnya, temen-temen yang harus putus sekolah karena gak ada biaya dan musti kerja di jalanan. Atau temen-temen kita yang terpaksa belajar di tenda karena sekolahnya rubuh setelah gempa.

Diam… Diam…

’Iya, ya bu… Aku jadi sedih, bu..’

’Aku juga…’

’Jadi, bu.. Kalau kita lagi iri, kita ingat aja sama yang lebih kasihan dari kita, ya, bu?’

Ya, menurut ibu, itu bisa sedikit membantu.

Hehehe.. Bener kan. Pasti deh dibaca..

  1. soyjoy76
    30 Oktober 2009 pukul 4:42 PM | #1

    Hmm… saya kasih komen ya, Bu Al… biar Bu Al tau tulisannya yang ini udah dibaca, hehehe…

    Cara yang baik untuk mengajarkan kebaikan Bu.. Lanjutkan :-D

  2. 3 November 2009 pukul 5:22 PM | #2

    Hadits lain belum ada yang komentar ya Bu Al? Postingan berikutnya lah…

  1. Belum ada trackback.