Sebelum membaca tulisan ini, sebaiknya anda membaca ini dulu. Jika ada waktu, baca juga ini.
Dan kisah ini berlanjut.
Beberapa bulan sebelumnya, ada insiden kecil. Menyangkut Aldi. Gak enak banget lama-lama nyebut xxx, Aldi ajalah nama samarannya, yaa.. Jangan tanya saya kenapa milih nama Aldi.
Sekarang Aldi kelas 2 SD. Ini berarti, sudah wajib ikut eskul. Minimal satu. Mengenai eskul ini, memang Bu Kirsan udah sering curhat. Ibunya tidak memperbolehkannya ikut. Apapun. Termasuk berenang dan Pramuka yang dihitung kegiatan wajib dan bukan eskul.
Pokoknya bagi ibunya Aldi, sekolah itu artinya belajar di kelas. Selain itu, dia selalu mengatakan main. Karena sekolah ini semi sekolah alam, dan banyak pembelajarannya di luar kelas. Di kebon, atau lapangan. Seringnya games. Yang anak-anaknya sering terlihat ngacak-ngacak ngegerombol ngobrol padahal sesungguhnya mereka sedang asik mengamati, atau membuat sesuatu itu selalu dituduh sebagai:
KENAPA SIH SEKOLAH INI SELALU MAIN MELULU!
Aldi sesungguhnya ingin ikut eskul, tapi setiap bel pulang berdering, sang ibu datang dan menyuruhnya pulang.
’Padahal Dia pengen Aldi jadi anak yang kreatif, tapi ikut kegiatan gak boleh. Disuruh belajar aja, ngitung melulu. Ngerjain soal melulu. Trus ngebentak-bentak nyuruh anaknya kreatif. Mana ada orang kreatif karena disuruh. Anak-anakmu juga tau itu.’
Pada satu hari, di tahun ajaran yang lalu. Depan kelas 1 Fatahillah. Tokoh-tokohnya: Bu Kirsan, Aldi, Salya, mamanya Salya, dan ibunya Aldi sedang berjalan datang.
Bu Kirsan: Aldi, suka Taekwondo, gak?
Aldi: Suka.
Bu Kirsan: Mau ikut Taekwondo, gak?
Aldi: Mau.
Bu Kirsan: Kalo Drumband, suka gak?
Aldi: Suka. Aku mau.
Bu Kirsan: Kalau menari?
Aldi: Gak suka.
Bu Kirsan: Suka melukis, gak?
Aldi: Suka.
Bu Kirsan: Kalo basket?
Aldi: Gak suka.
Bu Kirsan: Aldi bilang aja sama ibu. Aldi suka. Aldi mau.
Harap di ingat, di sekolah tempat saya bekerja ini, tidak ada biaya tambahan untuk eskul. Tiap anak boleh saja ikut semua eskul jika dia mampu tanpa ada biaya tambahan. Sudah termasuk dalam paket uang kegiatan pertahun soalnya. Jadi kalau dipikir-pikir sih, justru kalau gak ikut eskul itu malah rugi.
Ibunya Aldi datang. Langsung nimbrung.
Ibu Aldi: Gak usah eskul-eskulan. Buang-buang waktu lah!
Mamanya Salya: Ibu, kalau anak mau aktif kegiatan sekolah, gak usah dilarang. Toh dari sekolah ini. Guru-gurunya pasti taulah sampai dimana, gak akan mengganggu sekolah. Kalau saya mah, pengen banget anak saya aktif. Tapi anak saya gak mampu.
Salya sakit berat yang membuatnya harus berbagi tinggal di antara rumah dan Rumah Sakit. Maka keadaannya begitu miris ketika seorang ibu yang rindu melihat anaknya berlari-lari, lompat, memakai baju Taekwondo atau Pramuka. Melambaikan tangan dengan tas ransel gede kecantel-cantel segala macam dari botol air minum, kompas, sampai panci, pamit untuk kemping beberapa hari. Duduk di pinggir lapangan menonton buah hati tercinta berbaris bermain drum atau pianika. Namun dia tahu, dia mungkin takkan punya kesempatan menyicipi kebahagian itu. Sementara di sebelahnya ada seorang anak yang sehat, kuat, mampu, dan lebih penting, mau tapi dilarang-larang untuk ikut kegiatan sekolah oleh ibunya.
Inilah curhatnya Bu Kirsan yang sering diulang-ulang:
Kalo sore, Aldi telpon. Nangis-nangis. Sebab barangnya ada yang ketinggalan. Pensil, penggaris, atau botol air minum. Dan atas keteledoran yang biasa dilakukan berjuta-juta anak di seluruh dunia ini, Aldi disuruh nelpon guru. Bertanya mengenai barang tersebut. Sambil nangis-nangis. Dibelakangnya, sang ibu memarahinya tak berhenti.
Kadang Aldi menelpon untuk minta diberi tahu apa yang dilakukannya hari itu. Bicara tergagap-gagap. Sebab sang ibu menyuruhnya menceritakan kembali, secara urut, dan detil mengenai apa saja yang dilakukannya, apa saja kejadian yang dialaminya, hari itu, dari berangkat sampai pulang sekolah. Tentu Aldi belum bisa melakukannya. Dan sang ibu akan marah, menyuruhnya untuk menelpon guru, minta di ingatkan apa saja yang dilakukan mereka.
Ya Allah, dia baru kelas 1 SD.
Dia di bentak-bentak jika barangnya ada yang ketinggalan. Disuruh jadi orang yang BERTANGGUNGJAWAB. Sementara, setiap hari, seluruh hidupnya diatur. Segala-galanya keputusan sang ibu. Disiapkan sang ibu. Dia hanya boleh melaksanakan.
Di suruh untuk kreatif, tapi gak boleh main. Gak boleh ikut kegiatan apapun.
Di suruh menghormati orang lain sementara sang ibu dengan seenaknya masuk kelas tanpa izin, atau datang di tengah hari membawa pergi anaknya tanpa memberi tahu guru yang kebingungan mencari-cari kemana-mana. Tidak mau ikut peraturan. Membentak-bentak guru di hadapan anaknya, dan seluruh warga sekolah.
Pendidikan itu tidak datang dari ocehan atau koar-koar panjang lebar mulut, tapi dari seluruh gerak-gerik sang pendidik. Anak belajar dari apa yang dia dengar, lihat, dan rasakan. Apapun di serapnya, direkamnya, dan ditirunya. Dari cara orang kita bicara, berperilaku, memperlakukannya, memperlakukan orang lain, dan memperlakukan dunia.
Bersambung….


al ga seru!! udh bikin orang emosi, ceritanya pake bersambung!! huuuu.. *lempar al pake bakwan*
Ambil bakwannya, makan..
Ada ya ibu2 kayak gitu. Terusin ceritanya. Asyik…
Yep… Nantilah, masih rame di sekolah dengan kejadian selanjutnya..
hmmm… cerita sedih ya…?
Iya, nih, Mama..
menyuruh (dg bicara) nilai 1
memberi contoh nilai 3
itu dulu saya diberi perumpamaan saat training… training apa yah lupa… bentar aku ingat2 dulu yah …. kira2 7hari 7 malam
Training apa yang 7 hari 7 malam?
Masih panas, al. Tahan dulu deh. Nanti aja keluarinnya.
I Know…