Gosip ruang guru kemarin adalah tentang kelas lima yang tergila-gila cerdas cernat. Iya, loh! Anak-anak saya itu bener-bener gila-gilaan cerdas cermat. Dari pagi sampai sore cerdas cermat pun mereka hepi. Hepi banget! Sampe guru-guru udah pada kebingungan bikin soal untuk cerdas cermat itu.
Sebenernya, mereka senang ngumpulin poin.
Kelas 5 saya bagi 6 kelompok yang berlaku sepanjang satu semester. Setiap kelompok masing-masing punya wilayah tembok masing-masing untuk ditempeli kertas bulat kecil tertuliskan poin. Nah, Cuma itu aja deh pancingannya selanjutnya, mereka sendiri yang terobsesi berlomba-lomba memenuhi dinding wilayah masing-masing itu.
Memudahkan guru, sungguh!
Bu Lyn cerita, saat masuk kelas 5, dia hanya berkata bahwa siapa yang memperhatikan dengan baik, pasti akan bisa mengerjakan soal yang akan diberikan di akhir pelajaran nanti. Yang dapat mengerjakannya, akan diberi 3000 poin. Udah segitu doang. Dan sepanjang pelajaran matematika, niscaya anak-anak tenang memperhatikan sungguh-sungguh. 3000 poin untuk setiap soal yang benar, siapa yang tidak tergiur?
Dan karena rewardnya bersifat kolektif juga, maka kadang guru gak kebagian mengingatkan siswa. Udah keburu diomelin temen sekelompoknya yang gondok. Lah, iya.. mengerjakan PR itu artinya sudah dapet poin 100. Kalau rekan kelompoknya ada yang tidak mengerjakan PR, berarti tidak dapat poin, kan? Malahan dapet 50 poin minus. Maka, sebelum guru nanya, udah kena semprot duluan sama temennya, heheh…
Ini berarti, mereka jadi lebih perduli dengan kawannya.
Ada yang tidak masuk, gak usah diingatkan pastilah salah satu kawan kelompoknya, atau semuanya, akan ramai menelpon untuk memberi tahu bahwa besok ada PR anu halaman sekian. Awas jangan lupa, yaaa…
Tidak tertib? Melawan guru? Bertengkar? Melanggar kesepakatan? Sebelum guru ngoceh, udah diocehin rekan sekelompoknya duluan. Lah, iya… Hal-hal diatas akan membuat mereka mendapat point minus yang tentu saja, tidak diharapkan.
Nilai ulangan harian, UTS, dan UAS pun akan diberi poin juga loh. Ditambahin satu nol lagi malahan. Kalau dapet nilai 85, maka itu berarti tambahan poin 850. Seru bukan? Maka gak heran kalau anak-anak saya sekarang tambah perduli lagi sama rekannya yang susah mudeng. Kalau dia nilainya jelek, poinnya jadi sedikit, sih.
’Haduh, Robby. Kamu itu nilainya jelek, sih. Kita jadi dikit nih! Mana sih yang masih gak ngerti? Sini aku ajarin! Jangan main mulu dong!’
Nah, guru-guru pada nanya sama saya, sebetulnya poin-poin itu buat apaan sih? Kalau udah banyak, nanti mereka dapet apa?
Gak ada.
Sebenarnya, saya gak pernah menjanjikan memberi sesuatu kepada yang mendapat poin terbanyak kecuali pada akhir semester nanti, kelompok yang menang akan dinobatkan menjadi kelompok terbaik semester ini. Udah, itu doang.
Lihat, kan? Reward itu bukan artinya kita harus merogoh kantong dalam untuk repot tiap hari ngasih penganan dan pernak-pernik pada anak yang bertingkah laku baik atau dapat menjawab pertanyaan. Modal kertas, spidol, dan doble tip pun udah cukup. Masalahnya adalah, pada dasarnya semua orang itu butuh pengakuan. Butuh dorongan yang positif ke depan. Sederet kata pujian, memang nampaknya sudah cukup. Tapi bagi anak-anak, mungkin terlalu abstrak. Mereka butuh sesuatu yang kongkrit, sebuah simbol yang dapat menjadi sesuatu yang dibanggakan. Dipamerkan. Dan itu tak perlu sesuatu yang mahal.
.


ah.. ibu selalu punya ide.. keren bu!
bener-bener Bu Guru yang satu ini.
Praktek se-praktek-prakteknya semua pembelajaran PAIKEM.
Salut deh buat Bu Al dan kawan2 Guru di sana.