Teacher's Notebook

Sampai Nanti Sampai Mati

Posted by: AL on: 16 November 2009

Akhir-akhir ini, saya kalau nasihatin anak-anak selalu ngungkit masa depan.

Misalnya, ulangan harian math mereka yang (masih) ambruk. Membahasnya, di kelas, saya bawa-bawa masa depan. Anak-anak bete banget dah!

Tadi, saya pun ngoceh mengenai masa depan.

Awalnya, hal yang wajar sih. Anak-anak mainin dobeltip. Nah, biasa kan? Namanya juga anak-anak, apa juga dimainin. Saya menegur. Tentu, walaupun saya setuju ini adalah ulah yang wajar, dan diam-diam menikmati kelucuannya saat anak-anak menyulap dobeltip jadi macem-macem benda, tapi saya harus menegur. Itu tugas saya. Memberi tahu mana yang sebaiknya dilakukan dan yang sebaiknya tidak dilakukan. Yang bikin adegan ini jadi panjang, adalah jawaban anak-anak.

‘Ah, itu kan Cuma dobeltip, Bu.. Harganya berapa, sih. Nanti kita patungan deh beli 5 biji!’

Saya duduk diam. Menatap mereka dengan dingin.

Anak-anak saya sudah kenal baik saya. Mereka tahu, jawaban itu membuat saya marah. Maka mereka duduk terdiam.

Baik… Terserah kalian. Kalau bagi kalian ini bukan masalah yang perlu untuk dibahas. Emang gampang. Dobeltip doang. Harganya berapa, sih? Kalian masing-masing bisa beli satu-satu, ya, gak?

Mereka makin terdiam. Nada suara saya dingin.

Ya, kan?

…………….. (hening)

Silahkan kalian bawa dobeltip masing-masing satu besok hari. Terserah! Tapi jangan salahin siapa-siapa kalau di masa yang akan datang nanti, kalian masuk TV diseret KPK.

……………. (Hening. Saling memandang masing-masing)

Kalian pikir koruptor yang mencuri uang milyar-milyar itu mulainya dari mana? Dari sikap persis seperti yang kalian tunjukkan hari ini. Gak apa-apa, dobeltip ini. Emang sih punya kelas. Harusnya gak boleh buat main. Tapi toh Cuma dobeltip. Harganya berapa, sih? Nanti kalau Bu Alifia tau, tinggal ganti aja. Oh, ini uang kantor. Gak apa-apa dipake dulu. Nanti bisa ganti. Eh, gak ada yang tau, gak usah diganti deh.

Begitu. Lama-lama makin besar dan besar. Gak sadar kamu udah jadi koruptor.

…………(Hening)

’Iya, Bu.. Maaf. Kita gak lagi-lagi deh mainin dobeltip.’

Bukan masalah dobeltipnya, nak. Bukan Cuma dobeltip juga. Tapi, kalian kan tau kalau dobeltip ini, dan selotip, dan paku payung, dan lain-lain barang-barang kelas ini disediakan untuk kepentingan pembelajaraa. Untuk kepentingan kalian sendiri pada akhirnya. Bukan buat main.

‘Tapi ibu jangan ngomongin masa depan melulu, kek.. Kan takut, Bu..’

‘Iya, pake ngomongin korupsi segala lagi.’

Lah, emang kenapa kalau ibu ngomongin korupsi.

’Takuuut..’ teriak beberapa orang.

Kalian takut korupsi?

Heran…

’Iyaaa…, Buuu…’

Baguslah kalau gitu. Ibu senang mendengarnya. Ibu doakan agar kalian terus takut korupsi sampai saat kalian dewasa. Jadi apapun nantinya kalian. Sampai nanti. Sampai mati. Amin…

Anak-anakku: bengong…

4 Tanggapan ke "Sampai Nanti Sampai Mati"

waduh, salut bu al,

anak murid gw suka jawab gini, jadi terinspirasi thanks ya jeng

Sama-sama, kawan… Lama gak ketemu. Senang juga baca blog, mu.. Salam buat Khal, yaa…

Mantap nih Bu Al.
Pasti omongan tentang korupsi di masa depan itu akan membekas di hati murid-muridmu.

Tinggalkan Balasan

Kategori

Arsip

 

November 2009
M S S R K J S
« Okt   Des »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930