Selasa, ba’da ashar. Saya ngobrol santai-santai dengan anak-anak kelas 5 yang belum pulang di perpustakaan.

Waduh itu yang namanya perpustakaan di SD saya, mungkin bakalan bikin shok pustakawan perpusnas, kali, yee.. Lah, orang gak pernah tenang. Rame aja gitu ya anak-anaknya pada baca dengan segala gaya dan bacanya itu keras-keras (anak kelas 1 kan belum ahli baca dalam hati). Saling berkomentar dan berdiskusi mengenai bacaan yang mereka sedang baca. Belum lagi guru-gurunya juga yang ikutan baca sama anak-anak jadilah berkoar-koar ngejelasin lebih lanjut. Hah! Benar-benar gak mencerminkan perpustakaan sejati! Perpustakaan itu kan harusnya tenang dan sepi, yaa.. Hihi… Harusnya jadi tempat yang ogah dimasukin siswa.

Okey, kembali lagi.

Saya sedang ngobrol santai-santai dengan anak-anak kelas 5 di perpustakaan. Kami bicara-bicara mengenai film 2012. Sebenarnya, saya belum nonton. Heboh bener, sih! Jadi males. Dengerin anak-anak aja cerita adegan-adegan yang dahsyat! Amir cerita sangat seru sampai jingkrak-jingkrakan.

Lalu, Eni masuk. Duduk senyum-senyum.

’Eh, tau gak..’ kata Eni. ’Bu Eni kan punya video Amir lagi nangis…’ Ya.. Ya… Walaupun tidak mengajar di kelas 5, tapi Eni memang dekat dengan anak-anak saya.

Anak-anak hebohlah mau lihat. Amirnya sih, cengar-cengir aja. Lalu menoleh ke saya.

’Lah, orang saya lagi nangis aja tetep ganteng, ya, Bu?’

Huahahaha…

Sebenernya, kejadian Amir nangis itu bukan sesuatu yang memalukan. Justru, dalam beberapa hal, membanggakan juga. Itulah kenapa Eni dengan santai memperlihatkan video itu kepada anak-anak kelas 5. Eni tau, bahwa Amir tahu, kalau video itu tidak menjatuhkan harga dirinya dihadapan rekan-rekannya.

Kejadiannya saat kejuaraan Taekwondo. Kami semua terkejut saat mengetahui lawan terakhir yang harus dihadapi Amir adalah anak yang bertubuh raksasa. Okeh, raksasa itu lebay. Pokoknya dia itu jauh lebih tinggi dan lebih besar daripada Amir. Gentar dong si Amirnya.

Melihat Amir ketakut, saya pun mendorong sambil berusaha agar si Amirnya gak merasa terpaksa. Saya bilang, terserah Amir. Mau tetep maju, atau tidak. Kalau mundur, berarti dia hanya mendapat medali perak. Cuma kok sayang banget, yaa… Saya katakan bahwa saya percaya dia bisa. Toh dia berhasil masuk final. Kalau maju, dia punya kesempatan menyumbang satu lagi medali emas untuk sekolah.

Amir memutuskan untuk maju. Walaupun sempat memberi isyarat dengan membuat garis horizontal di lehernya dengan telunjuknya. Artinya kira-kira: Matilah gue!!

Pertandingannya tidak bisa disangkal, seru sekali! Tentu saja ini kan final!! Biar kalah bobot, Amir terus aja maju. Menendang. Sempat terbanting-banting. Bertahan sampai akhir. Dan tidak disangka, Amir menang.

Kami bersorak, yeeeeyyyyy!!! Amir keren!!!

Semuanya bersorak.

Amir lari ke pelukan saya, lalu nangis meraung-raung. Bukannya nangis terharu dia dapet medali emas tentu saja, tapi nangis karena kesakitan. Badannya memar dimana-mana.

Saya menenangkannya. Tapi dia nangis cukup lama. Sempat terekam oleh Eni yang memang sedang merekam jalannya pertandingan final dengan handycam.

Anak-anak saya tertawa-tawa, memekik, berteriak, dan berseru menonton pertandingan Amir VS Raksasa itu bersama Eni. Amirnya senyum-senyum duduk di sebelah Eni yang merangkulnya dan beberapa kali mengusap-usap kepalanya. Laluuu, adegan itu. Saat pertandingan dinyatakan berakhir dengan kemenangan Amir. Dia lari terbirit-birit dari lapangan, memeluk saya, menangis meraung-raung.

Ketawa ngakak!!

Amir dengan cuek berseru:

’Tuh, kan! Bener! Aku lagi nangis aja ganteng, kok!’

Iyaaaa….! Amir ganteng! Yailah!

Tapi semua anak perempuan mengangguk setuju. Biar nangis, Amir emang ganteng. Bener!!

Eniwei, kejuaraan Taekwondo kali ini, kita dapet 3 emas, 3 perak, dan 4 perunggu. Horray!!!

About these ads