Pada tanggal 22 Juni 2002, Muchtaran Bibi dijatuhi hukuman oleh Dewan Adat di desanya. Dia dipegangi oleh empat orang laki-laki, ditelanjangi dan kemudian diperkosa ramai-ramai. Lalu, ia diperintahkan untuk berjalan pulang dalam keadaan nyaris telanjang di hadapan 300-an orang. Dengan cara dipertontonkan dan dipermalukan di depan umum, Ia harus melakukan itu demi ‘membayar’ kejahatan yang tanpa bukti, yang dituduhkan kepada adik laki-lakinya.

Muchtaran Bibi adalah seorang perempuan Pakistan yang buta huruf, namun beliau adalah seorang guru. Mengajarkan al Qur’an kepada anak-anak di desanya tanpa sepeser bayaranpun dia terima. Baginya, pekerjaan menjadi guru adalah kehormatan. Muchtaran Bibi tidak memiliki apa-apa selain kehormatan dirinya sendiri. Ia adalah perempuan desa yang miskin. Setelah bercerai dengan suaminya, menjadi guru adalah satu-satunya kehormatan yang tersisa bagi dirinya. Sumber kekuatannya.

Pada suatu hari, adik laki-laki Muchtaran Bibi, Shakur, yang baru berusia 13 tahun ditangkap oleh satu keluarga yang kastanya lebih tinggi dari kasta keluarga Muchtaran Bibbi, disekap dan dipukuli tanpa ampun. Disodomi beramai-ramai. Alasannya banyak dan semuanya simpang siur. Ada yang mengatakan Shakur telah menjalin affair dengan Salma, seorang perempuan berusia 28 tahun, anggota keluarga Mastoi yang berkuasa. Ada yang mengatakan bahwa Shakur telah memperkosa Salma. Ada pula yang mengatakan bahwa Shakur telah mencuri di ladang milik keluarga Mastoi. Di Pakistan, selain hukum negara dan hukum agama, hukum adat masih mendominasi masyarakat, dan kasus Shakur telah sampai ke Dewan Jirga, otoritas hukum adat di desa Muchtaran Bibi. Dua keluarga telah dipertemukan. Dan sekali lagi, kabar mengenai kesepakatan pun terdengar simpang siur.

Pertama katanya, Dewan Jirga mengusulkan bahwa Shakur harus menikah dengan Salma sementara kakak perempuan Shakur, yaitu Muchtaran Bibi harus dinikahkan dengan salah seorang anggota keluarga Mastoi. Ini dilakukan untuk menjalinkan hubungan antara dua keluarga yang bertikai. Namun akhirnya bahwa Muchtaran Bibbi harus datang kepada keluarga Mastoi untuk memohon pengampunan adiknya. Pada saat Muchtaran Bibi tiba, keputusan dewan Jirga telah berubah, untuk menyamakan kedudukan maka Muchtaran Bibi harus diperkosa oleh anggota keluarga Mastoi.

Bagi masyarakat Pakistan yang masih berpegang pada adat, seorang perempuan yang berzina (diperkosa dianggap berzina) adalah tidak lagi memiliki kehormatan. Maka Muchtaran Bibi harus kehilangan statusnya sebagai guru. Bagi masyarakatnya, satu-satunya hal yang masuk akal dilakukannya seharusnya adalah bunuh diri. Tidak ada jalan lain.

Diawali dari seorang Abdul Razzaq, imam setempat yang merasa resah dan mengutuk keluarga Mastoi pada khutbah Jum’atnya, skandal Muchtaran Bibi menyebar ke media sampai jadi pembicaraan Internasional. Ini menciptakan tekanan baru bagi dewan adat dan kepolisian setempat. Muchtaran Bibi di panggil ke kantor polisi dan mulailah babak baru kehidupan keluarga Muchtaran Bibi yang penuh tekanan dan intimidasi. Muchtaran Bibi dipaksa untuk membuat pernyataan bahwa semua skandal itu tidak benar, bahwa dia tidak pernah diperkosa ramai-ramai, dan seterusnya. Namun Muchtaran Bibi telah bertekad untuk terus melawan. Akhirnya pembelaan bagi dirinya datang juga. Seorang hakim yang fair tertarik dan mencoba menyelidiki kasus memalukan tersebut. Kemudian datang seorang perempuan yang memberikan cek senilai 500 ribu ruppe, setara dengan 8 ribu dolar! Insting Muchtaran Bibi segera meremas-remas cek tersebut dan membuangnya, perempuan yang memberikan kaget.

‘Aku tidak membutuhkan cek,’ katanya. ‘Aku membutuhkan gedung sekolah.’

‘Gedung sekolah?’

‘Ya, sebuah gedung sekolah untuk anak-anak perempuan di desaku. Kami tidak memilikinya. Jika Anda benar-benar berniat memberikan sesuatu, maka perkenankan aku mengatakan ini: Aku tidak membutuhkan cek, tapi yang aku butuhkan adalah sebuah gedung sekolah untuk anak-anak perempuan di desaku.’

Kejadian yang menimpa dirinya telah membuka mata Muchtaran Bibi bahwa perempuan selalu bernasib paling naas di masyarakatnya adalah semata-mata karena perempuan selalu menjadi makhluk yang bodoh dan buta hukum.

Pada tanggal 31 Agustus 2002, pengadilan menyampaikan keputusannya dalam sesi khusus pada tengah

Para pemerkosa Michtaran Bibi

malam. Enam orang dijatuhi hukuman mati dan diharuskan membayar 50 ribu rupee; empat diantaranya karena memperkosa, dua karena telah menyarankan hukuman pemerkosaan dan delapan orang lainnya dibebaskan. Keluarga Mastoi langsung menyatakan naik banding, sementara Muchtaran Bibi, langsung sibuk mendirikan sebuah sekolah gratis di desanya dan sambil berusaha keras untuk belajar membaca.

Ini tidak mudah, Muchtaran Bibi harus mengetuk pintu rumah satu demi satu demi membujuk para orangtua agar mengizinkan anak perempuannya sekolah dan berhadapan dengan para ayah yang bersikeras bahwa perempuan hanya boleh memasak dan mencuci baju. Serta mengurus anak. Jangankan anak perempuan, anak laki-laki pun yang bersekolah masih jarang. Lagipula siapa sih dia? Hanya seorang perempuan yang telah berzina.

Muchtaran Bibi menghabiskan cek senilai 500 ribu rupee itu untuk membangun sekolah darurat, membayar guru dan membuat kandang ternak sebagai penghasilan tetap untuk sekolah. Dan agar orang-orang mau menyekolahkan anak perempuannya, dia menjanjikan hadiah berupa seekor kambing kepada anak perempuan yang bersekolah dan jarang absen.

Pada tahun 2005, sekolah gratis Muchtaran Bibi (sekarang dikenal dengan Muchtar Mai) telah memiliki 160 siswa laki-laki dan lebih dari 200 siswa perempuan, dia menang! Namun masih terus berjuang agar sekolah yang susah payah didirikannya ini masih dapat berjalan.

Pertama kali saya mengetahui kasus Muchtaran Bibi ini adalah lewat lima tahun yang lalu. Saat itu saya dan seorang kawan sedang asik menghabiskan waktu jeda antara dua mata kuliah dengan membaca di perpustakaan. Dia ber-huh keras, lalu meletakkan lembar koran yang dibacanya itu di depan hidung saya.

Baca ini, katanya. Menunjuk sebuah kolom kecil di sudut berita internasional.

Saya membaca. Informasi yang saya dapatkan dari berita singkat tersebut adalah, bahwa di Pakistan, ada seorang perempuan bernama Muchtaran Bibi harus mendapatkan hukuman berupa diperkosa ramai-ramai. Menurut berita itu juga, MB dihukum setelah pembelaannya di pengadilan terhadap adik laki-lakinya dinyatakan gagal.

Berita yang bikin miris gak, sih?

Tak disangka, beberapa tahun kemudian, kisah yang lebih utuh datang kepada saya dalam wujud sebuah buku. In the Name of Honor: A Memoar adalah cerita yang diucapkan oleh Muchtaran Bibi mengisahkan apa yang sebetulnya terjadi, pada masa-masa paling menyengsarakan dalam hidupnya tersebut, dan apa yang terjadi kemudian. Maka sebuah berita miris berubah menjadi sebuah kisah yang mengagumkan dan, bagi saya, inspiratif. Karena sebuah kepahitan bisa terjadi pada siapa saja, tapi kemampuan untuk bangkit kembali setelah dihancurkan sebegitu rupa yang istimewa. Itulah yang diajarkan perempuan desa yang sederhana ini. Dia telah tersakiti, kemudian punya kesempatan untuk membalas dendam, atau pergi ke tempat yang lebih ramah baginya yang tidak satupun diambilnya. Namun justru dia berusaha, dengan seluruh kemampuan yang dia punya, untuk memberikan kebaikan bagi dunia di sekelilingnya. Dunia yang telah, dan masih, menyakitinya.

About these ads