Guru dalam Buku dan Film: LouAnne Johnson, Clement Mathieu, Erin Gruwell, dan Joe Clark (Guru di Sekolah Yang Keras)

Beberapa hari yang lalu, saya mencoba untuk membuat daftar guru terbaik dalam kisah menurut versi saya sendiri, dan menemukan bahwa itu bukan hal yang mudah. Karena walaupun hanya secara subjektif, terserah saya, dan gak gitu serius (biar bagaimanapun ini cuma blog pribadi), namun ternyata gak sesimpel itu.

Pada awalnya, saya ingin memasukkan guru dengan metode-metode inovatif dengan nomor urut paling atas. Saya kira, penting untuk menunjukkan bahwa menjadi guru, atau seorang guru yang ideal, bukan hanya sekedar miskin dan bekerja di daerah terpencil aja. Penggambaran yang nampaknya begitu dominan dalam benak orang. Bahwa menjadi guru, itu artinya seperti Bu Muslimah. Atau menjadi guru yang keren itu adalah berontak pada institusi. Well, pikiran muda kita (saya) memang lebih menyenangi pemberontakan. Tapi kemudian, saya menyadari bahwa ada banyak hal lain yang bisa menjadi pertimbangan atas banyak hal.

Guru bukanlah suatu profesi yang bisa dinilai secara gampang. Misalnya saja, Annie Sulivan terkenal dalam mengasuh dan mendidik satu orang saja, Helen Keller, tapi apakah itu artinya dia guru yang menurut penilaian kita lebih rendah dibandingkan Bu Ema yang mengajar SLB dekat rumah orangtua saya yang notabene telah mendidik puluhan anak tuna netra sepanjang karirnya? Dalam serial Harry Potter, ada Prof. Lupin yang mengajar dengan metode yang bisa dikatakan cukup inovatif, namun apakah itu berarti dia adalah guru yang lebih hebat daripada Prof. McGonagall yang notabene mengajar dengan metode yang klasik dan usang terus begitu selama puluhan tahun karirnya di Hogwarts? Siapa yang lebih keren? Bu Muslimah yang mengajar 10 anak miskin di pulau kecil dengan nyaris tanpa bayaran atau Bu Suci yang mengajar 100 anak di kota Semarang sambil berputar dengan kewajibannya sebagai seorang istri, seorang ibu yang salah satu anaknya sedang sakit cukup parah? Bu Muslimah berangkat sekolah dengan sepeda sementara itu Bu Suci terbirit-birit lari bolak-balik antara rumah sakit dan dua kelas yang menjadi tanggungjawabnya. Well, mereka berdua sama-sama tokoh yang benar-benar nyata. Hidup dan bernafas. Dan saya yakin, dua-duanya sama sekali gak pernah menyangka bahwa pada suatu ketika, ada orang yang mengisahkan hidupnya melalui sebuah novel.

Jadi, bukan sesuatu yang gampang bukan?

Saat menonton Dangerous Minds lagi beberapa hari yang lalu, saya langsung menyadari bahwa LouAnne Johnson adalah seorang guru yang menghadapi masalah yang sama dengan Joe Clark, Clement Mathieu, dan Erin Gruwell. Yep, mereka berempat mendapat kehormatan untuk mengajar di sekolah yang keras, dengan murid-murid yang berasal dari kaum yang terpinggirkan dan terlupakan. Dari empat figur guru ini, tiga orang menggunakan pendekatan yang sama sementara satu orang lebih memilih untuk melawan kekerasan dengan kekerasan juga. Dalam batas yang masih dapat diterima tentu saja.

a href=”http://alifiaonline.files.wordpress.com/2010/01/1101880201_400.jpg”> Joe Clark dalam film Lean On Me, memilih untuk bersikap keras dan keras kepala sejak hari pertama dia tiba di sekolah, dan dia benar-benar bersungguh-sungguh untuk itu. Bukan hanya kepada siswa, namun juga kepada guru, penjaga sekolah, dan bahkan pengurus kantin, yang justru menjadi salah satu hal pertama yang mendapat perhatian sang kepala sekolah baru yang percaya, jika kita memberi makan anak-anak kita dengan sampah, maka mereka akan tumbuh menjadi sampah juga.

Kedatangan Joe Clark seperti seorang raksasa yang ribut memukul-mukul gong membangunkan semua orang yang sedang tertidur nyenyak dan terlena. 300 pengedar narkoba dan pelaku tindak criminal lain berupa kekerasan baik fisik maupun seksual yang bebas berkeliaran di sekolah, dicabut statusnya sebaga siswa dan dilempar keluar gedung sekolah. Guna mencegah 300 orang ini masuk lagi sekaligus melindung 2700 siswa lain, Joe Clark melakukan tindakan yang kemudian akan menyeretnya ke dalam penjara, yaitu merantai dan menggembok seluruh pintu dan gerbang sekolah. Ini adalah pelanggaran terhadap UU yang berlaku di kotanya, tapi ancaman penjara tidak membuatnya mundur. Dia memilih untuk melakukan itu. Joe Clark tahu, tidak indah sungguh seorang guru berkeliling sekolah dengan megaphone dan pemukul baseball sepanjang hari berteriak-teriak dan membenta-bentak. Namun saat itu, itulah yang dapat dilakukannya. Dia harus mengambil alih sebuah institusi yang sudah jatuh ke tangan criminal kelas teri, dan dia harus melakukannya dengan secepat mungkin.

Saya jadi teringat sebuah bagian dari tulisannya Nicollo Machiavelli di Il Principe yang yang membahas, well, sebenernya sih, mengenai tipe-tipe penguasa. Eniwei, dalam tulisannya, Machiavelli menjelaskan kenapa dalam mitos, tokoh guru adalah centaurus, makhluk setengah manusia setengah binatang. Menurut Machiavelli, karena guru tidak hanya harus siap mengajarkan murid menjadi sosok baik, namun juga harus mempersiapkan murid untuk mengenali sosok buruk. Dan terkadang, jika keadaan mengharuskan, pun menjadi sosok buruk itu. Manusia tidak akan survive jika hanya bersandar pada satu sosok saja. Ras manusia tidak akan survive jika hanya ada orang-orang baik saja, ataupun hanya ada orang-orang buruk saja. Well, kalau saya sih cenderung tidak setuju dengan pendapat Machavelli itu, walaupun mengerti dalam beberapa hal. Saya percaya, dan agama saya mengajarkan bahwa, kita harus berjuang untuk kebaikan, dan memperjuangkan itupun harus dengan cara yang baik juga. Tapi kadang, itu hal yang sungguh menjepit nafas, bukan? Maka saya kira, bagaimanapun sulitnya, sesungguhnya ada pilihan. Dan terkadang, mungkin, kita hanya harus dapat mengerti dan menghormati pilihan orang lain dengan catatan, tujuannya.

Berbeda dengan rekannya, tiga figur lain memilih untuk mengambil jalur yang berbeda. Mereka memilih untuk membuat hubungan special, dengan siswa-siswanya.

Clement Mathieu dalam Les Choristes, sama dengan tiga koleganya ini, menghadapi hari pertama yang keras dan mengejutkan. Bagaimana tidak, laki-laki setengah baya dengan anugerah berupa wajah yang mirip orang idiot dan pembawaan kikuk ini mendapat kehormatan untuk mengajar di sekolah anak-anak nakal yang menganut sistem yang sungguh keras kepada siswanya. Bahkan sesungguhnya, sudah cenderung tidak pantas. Namun diperlakukan sebagai bulan-bulanan anak-anak ternyata tidak membuatnya jadi membenci ataupun melakukan tindakan balas dendam. Well, inilah yang disebut ada keadilan di dunia ini, dalam perspektif yang rada miris, mungkin. Seorang laki-laki yang berwajah idiot berpembawaan kikuk, punya sifat sabar diatas rata-rata. Dia meraih dengan menjadikan dirinya sebagai figur ayah yang melindungi putera-puteranya yang kedinginan dan haus kasih sayang, yang pada akhirnya meneduhkan keliaran anak-anak yang dipasrahkan kepadanya. Anak-anak yang dalam banyak hal, nampaknya sudah tidak lagi mengenali tentang apa sesungguhnya arti mereka ada dan masih hidup diatas bumi ini. Clement Mathieu memberi arti, menghubungkannya dengan musik dan lagu.

Erin Gruwell

Pada Freedom Writers, kita dipertemukan dengan Erin Gruwell, seorang guru muda yang antusias, dan harus berhadapan dengan, tidak hanya anak-anak yang hidup dengan keras sebagai kaum terpinggirkan, namun pertikaian antar etnik dan ras. Situasi yang sama dengan yang dihadapi LouAne Johnson, seorang pensiunan US Marinir yang banting setir menjadi guru di Dangerous Minds. Dua-duanya tidak menghadapi kelas, namun orang-orang berstatus murid yang nampaknya dalam keadaan kocar-kacir gak jelas. Orang-orang yang menyimpan kemarahan dan kepahitan dalam hidup, yang, entah bagaimana, nampaknya tetap melangkahkan kakinya ke sekolah tiap hari. Goyah mungkin, namun kenyataan bahwa anak-anak ini, bagaimanapun, toh tetap memilih untuk masuk bus kuning dan tiba di sekolah akhirnya menjadi pegangan bagi Erin Gruwell maupun LouAnne Johnson.

LouAnne Johnson

Baik LouAnne Johnson maupun Erin Gruwell ditantang harus menaklukan kelasnya masing-masing, namun untuk itu, mereka harus berjuang dahulu agar diterima di dalam kelasnya. Mereka harus membuktikan, bahwa mereka benar-benar peduli, dan mengerti keadaan murid-muridnya. Johnson memilih untuk merubah dadanannya. Blazer ditanggalkan dan diganti dengan jaket kulit, celana jeans, dan sepatu boot. Rada menggelikan bahwa dia berusaha setengah mati untuk terlihat urakan dengan mengangkat kaki ke meja dan bicara dengan kata-kata yang kasar. Sementara itu Erin Gruwell membuktikan bahwa dirinya sungguh-sungguh bersedia mendengarkan kisah-kisah berat yang menimpa anak-anaknya ini, dengan media tulisan. Pada akhirnya, baik LouAnne Johnson, maupun Erin Gruwell, berhasil menyatukan kelasnya. Melalui permainan maju-mundur dan karangan bagi Gruwell, dan puisi bagi Johnson, mereka berhasil, membuat masing-masing individu terhubung, dan mengerti bahwa mereka masing-masing adalah sama.

Catatan: Joe Clark, Erin Gruwell, dan LouAnne Johnson adalah tokoh-tokoh nyata yang diangkat menjadi kisah.

Download Lean On Me disini.

Download Les Choristes disini.

Download Freedom Writers disini.

Download Dangerous Minds disini.

2 Responses to Guru dalam Buku dan Film: LouAnne Johnson, Clement Mathieu, Erin Gruwell, dan Joe Clark (Guru di Sekolah Yang Keras)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s