Ini terinspirasi dari postingannya Om NH .

Masalah akte kelahiran itu biasa kami hadapi. Tiap tahun. Macam-macam aja problemnya. Paling sering adalah mendapatkan anak yang tidak memiliki akte kelahiran. Ini beberapa yang saya ingat:

1.    Mungkin paling ‘biasa’ adalah masalah salah ketik baik nama maupun tanggal. Kalo masih SD rada gampang urusannya. Sang ortu tinggal milih apakah ridho aja gitu nama atau tanggalnya berubah (dan musti cepet juga keputusannya jangan sampai udah ijazah keluar duluan baru pengen rubah) atau di rubah lagi. Tapi kayaknya sih, buat bikin akte baru yang musti pula main uang. Atau ikut program akte berbarengan dari kelurahan yang akhir-akhir ini cukup sering apalagi di tempat saya yang masih desa.

2.    Gak ruwet tapi bikin kita keliyengan itu pernah ada seorang Ibu yang ngotot mengambil kembali akte kelahiran anaknya dan kerena pengen rubah nama bapak si anak. Soalnya pada saat anak ini kelas 3 SD, sang ibu bercerai dengan suaminya (bapak anaknya) dan entah juga mungkin karena begitu perih pengalamannya sampai-sampai gak mau banget nyantumin nama bapak si anak di akte. Kalo dari sudut pandang agama, kita coba nasihatin kalo itu tidak boleh dilakukan. Tapi, yah, keputusan akhirnya, kita mesti menghormati juga dong. Masa sih jadi masalah gara-gara itu? Pokoknya apapun resikonya toh dia yang tanggung sendiri. Terakhir untuk ini, akhirnya kita minta si ibu bikin surat kenal lahir aja yang hanya mesti tercantum nama ibu saja.

3.    Lucunya, masalah nama bapak yang beda, itu adalah kisah yang berulang. Beberapa kali, tiap kelas ada saja, anak yang baru ngeh kalo laki-laki yang dipanggil ayah selama ini ternyata bukan bapak kandung si anak. Soalnya pas ngurusin ijazah kelas enam ini, yang anaknya musti ikut ngurusin sebagai bagian dari pendidikan untuk si anak juga, mereka barulah tahu kalau nama yang tercantum di akte sebagai ‘ayah’ itu nama yang berbeda dari laki-laki yang selama ini dipanggil ‘ayah’. Biasanya sih karena terjadi perceraian (kalau ayah sudah meninggal semuda apapun si anak pasti tahu tapi kalau bercerai kadang anak gak tau) pada saat anak itu masih kecil. Atau pernah juga ada anak yang rada ‘tertampar’ saat kelas enam itu baru tahu kalau dia bukan anak kandung ayah dan ibunya. Sebab nama yang tercantum bukan nama kedua orangtuanya yang setahu dia. Karena itu saya sarankan, jika memang anak Anda bukan anak kandung Anda, ada baiknya diberitahu sebelum mulai mengurus Ijazah ini. Jadi Anda punya waktu lebih luang untuk menjelaskan duduk permasalahannya. Karena memang benar, gak masalah dia anak kandung siapa toh dia tetap anak Anda, tapi kan bukan hanya Anda yang membutuhkan waktu untuk  menerima itu semua. Si anak juga butuh waktu untuk mengerti dan menerimanya.

4.    Paling ribet minta ampun saat ada anak yang gak punya akte dan gak punya ibu. Jadi anak ini diangkat anak oleh dua orang laki-laki yang salah satu ayah angkatnya pun memang WNA. Tapi kemudian si ayah yang WNA ini pulang kembali ke negaranya gak pernah balik lagi. Anak ini gak pernah punya akte sementara bikin surat kenal lahir rada ribet lah ini kan malah gak ada ibunya bukan gak ada ayahnya. Permasalahan ini diselesaikan dengan curang, hehe.. Si anak dibuatkan surat kenal lahir terdaftar sebagai anak dari saudara perempuan ayahnya. Ribet bukan?

5.    Ada anak yang aktenya bikin pusing. Masalahnya ini anak berayah WNA Belanda ibunya aseli Ciamis. Masalahnya ini anak lahir di Thailand, maka akte kelahirannya dari Thailand. Bikin ribet karena, beda dengan negara berbahasa asing lain, yang paling gampang Inggris dan Malaysia, ini Thailand kan punya huruf meringkel-ringkel udah kayak ulet gitu, ya.. Kebayang dong kita musti garuk-garuk kepala saat menerimanya. Lah, ini pagimane ceritanya? Tapi sang ortu kemudian membuatkan akte baru Indonesia berbahasa Indonesia dengan perbedaannya adalah tempat lahir nyang tadinya di Bangkok  jadi Bogor. Mayan lah beda dikit. Sekali lagi, uang yang maha kuasa menunjukkan kekuasaannya nampaknya 

6.    Ada anak yang gak ketahuan ayahnya siapa. Ini karena ibunya yang kurang waras dan ngegelandang itu emang gak pernah tau (dan gak bisa mengkomunikasikan juga) siapa aja yang ikutan memperkosanya. Tapi karena masalah ini semua warga kampung tahu, dan ikut prihatin serta ikut merasa bertanggung jawab, jadinya gampang deh. Tau-tau keluarlah surat kenal lahir dari desa setempat diantar langsung sama Pak Kepala Desa dengan dia bilang,’Anggaplah ini sedikit apa yang kita bisa lakukan untuk anak itu. Kalau butuh apapun, segera hubungi kami, ya..’ Hiks.. Mengharukan, ya.. Kemanusiaan itu masih ada, kawan.

7.    Terakhir adalah saat ada pasangan yang baru ngeh kalo mereka butuh surat-surat untuk anak angkatnya. Jadi si anak ini adalah gelandangan yang kabur dari panti asuhan tempat dia tumbuh, lalu hidup di jalan selama beberapa waktu. Nah, ini anak pada suatu hari pengen nyuri di sebuah rumah kediaman pasangan yang sudah tua dan pensiun. Ketahuan. Pasangan ini bukannya nyerahin ke polisi, malah berusaha mengasuh. Tapi mengangkat anak dengan keadaan seperti itu tentu saja gak mudah. Ini anak udah terbiasa hidup di ‘belantara’ di mana yang paling kuat dia yang bisa bertahan tau-tau musti hidup dalam suatu kostruksi sosial dalam rumah tangga. Butuh dedikasi dan kesabaran yang hampir gak berbatas tentunya. Dan itu semua meluputkan si ortu angkat dari ngurus surat. Tapi karena ini anak masih kelas 4 SD, maka kami akan menunggu sampai masalah pengangkatan secara legal ini selesai.

About these ads