Anak SD Masturbasi?

Saat pertama kali menjadi guru, saya tidak pernah menyangka akan mendapati permasalah-permasalahan..bisa dibilang aneh. Yah, tentu saja, saya katakan aneh karena saya tidak pernah mendengarnya sebelumnya, tidak pernah saya baca atau dengar atau diungkapkan sebelumnya. Mengenai apakah hal-hal seperti itu memang sempat diulas di ruang perkuliahannya calon guru khususnya pendidikan usia dini, saya agak angkat tangan. Saya gak pernah sekolah guru soalnya, hihi.. Saya kan jadi guru cuman modal nekad aja.

Kali ini, kasus yang rada mendelikan mata itu mengenai mansturbasinya anak-anak.

Sebelumnya saya pernah membaca sebuah tulisan blog yang mengisahkan bahwa si penulis berdiskusi dengan istrinya yang seorang guru SD di sebuah negara di eropa sana. Sang istri menceritakan kalau salah satu anak didiknya yang kelas 2 SD kedapatan melakukan mansturbasi di kelas. Dan kejadian itu terjadi tidak pada saat kelas sedang sepi. Itu terjadi pada hari-hari yang biasa. Yah, begitulah yang seingat saya, ya, hehe.. Rada kesusahan juga mencari lagi tulisan tersebut.

Pertama kali membacanya, mungkin terpengaruh dengan kisah-kisah di blog tersebut yang menurut saya rada luar biasa tapi masih dalam kategori mungkin (mengernyitkan mata tapi mungkin-mungkin aja sih) jadi pada awalnya saya gak gitu memperhatikan lebih jauh. Lagipula, toh orang kan selalu menganggap seluruh dunia ini sewajar apa yang selama ini dia temukan sehari-hari. Dan dalam keseharian saya, atau seluruh kehidupan saya yang muter disitu-situ aja itu sama orang yang modelnya gitu-gitu aja juga, mansturbasi adalah hal yang aneh dan takterpikirkan. Saya tahu apa itu dan itu terjadi, hanya gak tahu bahwa itu dekat. Lagian, kayaknya di lingkungan kita yang sangat timur ini, emangnya ada perempuan yang bicara blak-blakan mengenai itu?

Sebelumnya, kami sempat menemui kasus di kelas mengani salah satu siswa kelas 4 SD autis yang suka onani termasuk di sekolah di dalam kelasnya pada saat pelajaran berlangsung. Dan bagi kami para guru itu sudah sungguh mengejutkan. Tapi setelah banyak bertukar pendapat dengan orang-orang yang memang memiliki kapasitas untuk itu, kami jadi mengerti bahwa hal itu memang terjadi bahkan dengan kenyataan bahwa si anak adalah penyandang autis, persoalan yang dihadapi oleh kami adalah persoalan yang sangat biasa.

Semua sekolah inklusi menghadapinya pada suatu ketika. Dan akan mungkin akan terjadi lagi. Itu persoalan yang sama biasanya dengan menghadapi siswa buang air besar di celana di dalam kelas atau anak tantrum yang ngamuk ruwet di sekolah. Mungkin ribetnya adalah bagaimana kita bisa menyimpan ini dari semua anak lain yang bisa saja menyaksikan.

Doh, kenapa sih di SD di negara kita ini gak ada yang namanya guru BK? Di sekolah saya sih ada. Kebayang banget kan di sekolah-sekolah yang lain yang kebanyakan gimana kalau menghadapi permasalahan seperti ini?

Jadi kali ini, salah satu guru kelas satu menceritakan tentang salah satu siswinya (ini kasus tahun lalu) yang sering mansturbasi di dalam kelas. Saya katakan sering karena hal ini tidak hanya terjadi satu atau dua kali, tapi berkali-kali. Dan, dengan sebelumnya bertanya-tanya dengan berbagai pihak bukan hanya berkaitan dengan psikologi tapi juga ustadz, yang kami lakukan selama ini adalah mencoba untuk mengalihkan perhatian si anak kepada hal-hal yang lain. Jadi rada kesian juga emang tuh anak selalu dapet tugas yang lebih banyak dari temen-temennya sebagai upaya bikin dia selalu punya apa yang harus dikerjakan.

Hanya saat ini yang sedang kami khawatirkan adalah bagaimana jika prilaku ini terus berlanjut atau terjadi lagi di dalam kelas pada suatu hari. Karena semakin besar anak, maka itu kan berarti semakin besar anak-anak yang lain yang nantinya mereka akan mengerti. Khawatirnya si anak akan dijauhi oleh teman-temannya. Tapi mudah-mudahan, dan seperti kebanyakan kasus, semakin besar nanti dia akan semakin punya kesibukan sendiri yang menurutnya lebih seru sehingga tidak berlanjut sampai mungkin nanti saat mulai remaja saat keinginan untuk itu akan timbul kembali. Tapi tentu saja saat remaja nanti dia akan sudah lebih mengerti pengalamannya sendiri.

Masalah-masalah seperti ini memang kudu wajib komunikasi dengan orangtua si anak, benar. Permasalahannya adalah orangtua si anak ini yang justru sampai saat ini masih rada ribet. Yah, karena kita tahu bahwa jika ada 30 anak di kelas, berarti kita menghadapi 30 tipe keluarga yang caranya memandang sesuatu berbeda-beda. Di sekolah saya yang berbasis agama, kebanyakan orangtuanya memang sangat saklek sekali memandang persoalan-persoalan seperti ini. Tentu bukan berarti tidak ada orangtua yang terbuka, hanya jumlahnya sangat sedikit. Maka kami tidak begitu heran pada saat sang wali membicarakan masalah ini—lebih menekankan bahwa si anak selalu asik sendiri melakukan itu di belakang kelas sehingga tugas-tugasnya agak terbengkalai—sang orangtua menunjukkan bahwa dia kaget setengah mati, berusaha untuk menutup pembicaraan sampai saat itu. Bahkan sampai mengatakan bahwa dia malu sekali.

Sebenernya tidak ada alasan mengapa dia merasa malu, ya, kan?

Eniwei, kenapa saya menuliskan permasalahan ini yang kami pun masih meraba-raba untuk menanganinya adalah kenyataan bahwa hal-hal seperti ini mungkin tidak pernah dibahas di ruang kuliahnya guru. Yah, paling tidak dari semua guru yang saya temui termasuk adik saya yang seorang guru BK, kasus kayak gini gak pernah di bahas. Dan dia pun kaget saat mengetahui bahwa ada cerita-cerita seperti ini di lingkungan sekolah dasar. Kata dia sih, mungkin dosennya ngeri kali kalo ngangkat kasus kayak gini di ruang kelas nanti mahasiswanya pada nanya-nanya, hehe..

*gabruk

Lah, namanya guru musti siap ditanya, ya, kan?

Jadi inget waktu sekolah di pesantren dulu guru IPA saya yang kebetulan laki-laki ngajar di kelas perempuan gak pernah masuk pada bab mengenai reproduksi dan Cuma nyuruh kita baca sendiri bukunya tau-tau ulangan, hehe..

Dan sebaliknya pun, guru tidak pernah atau jarang sekali membahas mengenai hal-hal seperti ini baik itu sesama guru maupun dalam tulisan. Mungkin menganggap bahwa kalauppun ada kasus seperti ini di kelasnya, tidak seharusnya dibicarakan (tapi beneran deh emang kadang guru itu juga gak bisa ngebedain antara membicarakan untuk bertukar pikiran atau membicarakan sebagai gosip). Karena itu tabu. Atau merasa bahwa bukan kapasitasnya membicarakan mengenai hal itu. Atau, yang paling parah, saking abainya sampai gak merhatiin atau menganggap itu masalah yang gampang: bentak anak suruh berhenti.

Jadi saya menuliskan mengenai ini untuk mengatakan bahwa hal seperti itu bisa terjadi. Dan jika Anda sebagai guru mengalaminya atau sebagai orangtua mendengar atau melihat anak Anda atau teman anak Anda di kelas melakukannya, maka hal itu dianggap suatu masalah yang, mungkin jarang, tapi masih dalam batas wajar. Anak itu gak gila, ya, hehe.. Dan tidak ada masalah yang aneh-aneh pada anak itu ataupun keluarganya. Jangan berpikir bahwa orangtua si anak aneh. Konsultasikan saja pada pihak sekolah, jika Anda menilai pihak sekolah cukup terbuka mengenai masalah ini. Jika tidak, mungkin bisa juga dikonsultasikan pada pihak yang lebih mumpuni seperti psikolog anak misalnya. Karena seperti yang saya tuliskan, nampaknya hal-hal seperti ini dianggap terlalu tabu untuk dibicarakan di ruang kuliah guru. Apalagi kalau gurunya ambil sarjana pendidikan melalui akta 4 atau kuliah lagi sambil ngajar.

Beberapa artikel yang mungkin bisa dijadikan bahan bacaan:

http://ruangpsikologi.com/anak-masturbasi-apa-yang-harus-saya-lakukan

http://female.kompas.com/read/2010/07/16/17103524/Masih.Kecil.Kok.Masturbasi.

http://www.unikaja.com/2011/08/jika-melihat-balita-melakukan.html

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s