Jangan Sekata Kata!

Suatu hari, beberapa tahun yang lalu, saya terkesiap kaget saat mendengar salah seorang sepupu ngomelin anaknya. Bukan masalah ngomelnya tentu saja. Ibu saya, beuh! Ibu saya adalah orang paling tukang ngomel sedunia kepada saya. Yaiyalaah, masa ibunya tetangga yang ngomel sama saya, hihi.. Tapi, yah, walaupun ibu tetangga juga sering ngomel sama saya dan temen-temen sepermainan saya waktu kecil dulu. Tapi gak sebanyak ibu saya sendiri tentu saja.

Bukan masalah ngomelnya, tapi kata-kata yang dipilihnya ini, loh!
Mengenai kata, ibu saya emang cukup selektif memilih kata apa buat ngedamprat anaknya. Apalagi ayah saya yang omelannya cukup dengan desisan di mulut aja itu tapi udah cukup bikin kita kapok. Soalnya kalo gak kapok dan kita teteup badung, nanti ayah saya sakit. Nah, sakitnya ayah saya itu rasanya udah sebanding sama sejuta omelan, dah!

Ibu saya sering bilang, jangan sekata kata sama anakmu! Ini termasuk juga sama anak didikmu. Soalnya Ibu dan Ayah saya sangat percaya kalo kata-kata orang tua, khususnya ibu, itu adalah doa. Maka kalo kita ngedamprat anak kita dengan sebutan ‘sapi’ anak kita pun akan jadi sapi. Tentu saja bukan menjelma menjadi sapi. Tapi sifat-sifatnya itu akan seperti sapi: moales.

Jadi sepupu saya ini memarahi anak perempuannya yang masih balita dengan segambreng perkataan jorok dan kotor yang saya bahkan gak tega menuliskannya di sini. Saya yang pada saat itu sedang dalam perjalanan pulang ke kota Kembang sampai terhenti dan terkesima. Tapi, yah, namanya juga anak kan ngikutin orangtuanya, ya.. Saya ingat waktu kami masih kecil, sepupu saya ini gak kecil-kecil amat, kalo paman dan bibi saya yang ini mulai ngomelin anaknya sampe semua anak yang lain jadi ngibrit pulang. Padahal anak lain gak diomelin. Parahnya, itu suara kerasnya sampe masup ke rumah saya yang pada akhirnya menjadi salah satu penyebab kenapa Ayah saya memutuskan untuk memutar pintu depan rumah 180 derajat. Pindah posisi gitu maksudnya.

Maka gak heran pada saatnya dia ngomelin anaknya, maka kata yang dipilihnya persis sama dengan kata-kata yang dipilih ibunya dulu waktu ngomelin dia. Lanjut membaca

Sir Boast-a-Lot

Baca dulu ini kalo mau nyambung.

Tulisan ini sebenernya telah dibuat pada tanggal 24 Januari 2012 dan terlupakan, hehe… Tapi emang rencananya mau di post belakangan untuk menunggu waktu biar gak spoiler. Tapi ini memang spoiler.

Hallo. Are You ready for the story? This is the story of Sir Boast-a-Lot. Sir Boast-a-Lot was the bravest and cleverest knight at the round table. But soon the other knights began to grow tired of his stories about how brave he was and how many dragon he’d slain. And soon they began to wonder, ‘Are Si Boast-a-Lot’s stories even true?’.

So All the knights went to King Arthur and said, ‘I dont believe Si Bost-a-Lot’s stories. He just a big old liar who make things up to make himself look good.’
And then, even the King began to wonder.

But that wasnt the end of Si Boast-a-Lot problem. No. That wasnt the final problem.


Lanjut Baca

Kalo Guru Kena Tilang II: Photo-Photo!

Hari Sabtu kami ini ngurusin acara untuk anak berkebutuhan khusus di Jakarta. Bukan kisah tentang acara sih, tapi kisah tentang perjalanan pergi dan pulang.

Well, karena ini acara kita gak bawa-bawa nama sekolah (karena emang ini kita (kebanyakan) walaupun kerjanya gak jauh-jauh dari ngurusin anak-anak tapi gak bekerja di tempat yang sama) maka kita pun gak pake fasilitas lembaga apapun ke sana. Dari awal juga ngurusin ini sendiri-sendiri atau barengan naik busway ke sono. Gak usah tanya kenapa yayasan menolak proposal kita ikutan, ya.. Pokoknya udah tarik urat syaraf segala, dah! Tapi gimanapun, kita teteup memutuskan untuk ikut nimbrung aja, hehe..

*suebel

Lanjut membaca

Semua Siswa Lain

Minggu kemarin ada sedikit insiden di gerbang depan kompleks sekolah. Salah seorang walimurid menonjok salah satu supir sekolah. Dan hari ini, sang walikelas kembali curhat-curhat bombay mengenai sang otu murid.

Yah, beneran dah. Akhir-akhir ini jadi rasanya kok saya tukang mengeluh tentang orangtua murid kami. Kayaknya jadi musuhan banget. Well, ini (walaupun sekedar pembelaan ini), tapi ini memang mungkin akibat dari saya yang udah bukan walikelas lagi hingga kurang banyak bergaul dengan anak-anak dan permasalahan mereka kecuali yang nampe ke meja saya aja. Dan tentu saja bukan mengeneralisir bahwa para walimurid kami seperti yang saya ceritakan atau apakah kami memang ada masalah dengan forum ortu murid. Ini hanya kasus dan cerita. Tidak mencerminkan sebagian besar. Mudah-mudahan, Anda yang membaca bisa mengerti dan memaklumi. Lanjut membaca

Untung Bahagia

Saya ingat beberapa saat yang lalu, seorang sobat semasa kuliah mengatakan bahwa pasti saat ini saya sangat bahagia karena saya menjalani hidup tepat seperti yang saya harapkan selama ini. Dan karena itu saya sangat beruntung. Saya agak melongo saat dia mengatakan itu. Lah, memangnya apa sih pengharapan saya akan hidup? Lagian, kalaupun saya mempersetankan itu semua sebelumnya (Karena rasanya tidak, tuh! Saya kira hidup saya mengalir gitu aja) memangnya saya pernah mendiskusikannya kepada dia? Well, ini teman kan hanya teman satu kost saya selama beberapa tahun kuliah. Saya tidak terlalu banyak bersosialisasi dengannya apalagi berkesempatan untuk membagi filosofi hidup saya yang, sekali lagi, kalau emang saya pernah memfilosofikan hidup saya, hehe. Kita tidak satu fakultas dan bahkan tidak berada pada angkatan yang sama, pun tidak banyak ikut serta pada kegiatan yang sama. Kenapa dia pikir dia tahu banyak hal mengenai saya?

Tentu saja saya tidak mengatakan hal itu kepadanya. Yah, kita ini kan makhluk yang selalu menjaga tenggang rasa. Kalau dia pikir dia tahu banyak tentang saya, maka biarlah begitu. Toh orang lain selalu menilai kita berdasarkan pendapatnya sendiri. Satu-satunya pikiran dan keprihatinan saya pada saat mendengar dia mengatakan itu adalah bahwa dia nampaknya sangat tidak bahagia dengan hidupnya. Dan saya punya alasan yang kuat untuk merasakan bahwa dia tidak bahagia.

Sekali lagi, kita melihat orang lain sebagaimana kita ingin melihat mereka.

Kebahagiaan saya kira itu memang ada benarnya, sekaligus tidak. Tapi saya selalu berpendapat bahwa kita semua terjebak diantara bahagia dan tidak. Dan ketidakbahagiaan itulah yang membuat kita terus ingin melangkah maju, selalu ada yang salah dan adanya pengharapan.

Mengenai beruntung? Ngng..? Apakah kita musti bahagia untuk merasa beruntung? Atau kita beruntung jika kita bahagia? Sebenernya, sejauh mana sih keterikatan antara bahagia dan untung ini? Lanjut membaca

Black Mirrors

If technology is a drug – and it does feel like a drug – then what, precisely, are the side-effects? This area – between delight and discomfort – is where Black Mirror, my new drama series, is set. The “black mirror” of the title is the one you’ll find on every wall, on every desk, in the palm of every hand: the cold, shiny screen of a TV, a monitor, a smartphone.

Charlie Brooker

Lanjut baca..

Gosip Ruang Guru: Gak Ada Tau Gak

‘Bu, Andrea gak ada.’

Itu sederet kata yang sempet bikin saya kalang kabut. Gimana enggak, Cuma segitulah pesan dari salah seorang rekan kepada saya pada suatu sore dan saya kebingungan dengan apa yang dimaksud dengan ‘gak ada’. Berkas-berkasnyakah gak ada? Di jaman Ujian Nasional gini yang pertama kali ada di dalam pikiran saya adalah bahwa nama si Andrea tidak terdaftar dalam peserta ujian.

*panikberat! Lanjut membaca

Minat dan Penghargaan

Setiap kali hari ambil rapot tiba dan saya berkesempatan untuk bertemu dengan walimurid mendiskusikan masalah pelajaran, hampir selalu yang dikeluhkan adalah mengenai minat baca yang rendah. Tentu saja, sebab pelajaran yang saya pegang semuanya berkaitan dengan kuat-kuatan baca, sih. Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu Pengetahuan Sosial, Bahasa Indonesia, dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jelas banget, kan? Nilai tertinggi selalu diraih oleh anak-anak yang, bukan hanya rajin, tapi emang doyan baca. Rajin akan memberikan mereka nilai yang cukup, tapi anak yang doyan baca, nilainya akan istimewa.

Yaa, karena toh sekarang ukurannya bukan hanya urusan hafal ngelotok isi buku teks pelajaran. Kalo itu dowang mah cemen! Saya yang malu banget nanti sama diri saya sendiri kalo anak-anak saya dapet nilai sembilan puluh atau seratus hanya karena mereka hafal isi buku teks pelajaran dowang tapi lumpuh saat diajak berpendapat mengenai apa yang sedang menjadi topik si kelas kami.

Selama beberapa hari ini kami kedatangan tamu dari salah satu penerbit yang sudah cukup punya nama. Penerbit ini punya program, yang saya kira merekalah yang pertama, yaitu mengajak anak-anak kecil berusia delapan tahun ke atas untuk ikut aktif menulis buku maupun komik, dan menerbitkannya. Tentu pangsa pasar dari buku-buku yang ditulis anak-ana ini adalah para pembaaca pemula juga. Anak-anak itu sendiri.

Tim penerbit ini juga aktif mendatangi sekolah-sekolah dasar untuk mengajarkan dan mengajak anak-anak menulis buku yang kalau nanti bagus hasilnya, akan mereka terbitkan juga.

Saya senang dengan cara kakak-kakak tim bicara dan menjelaskan kepada anak-anak, dengan tanpa banyak teori yang ribet banget, bahwa membuat buku itu mudah. Apalagi memang dengan dituliskannya usia sang penulis di buku yang telah jadi tentu membuat semua orang maklum dan bahkan salut sekali bahwa buku ini memang sederhana, tapi liat tuh yang nulis kan emang masih anak-anak, loh. Lanjut membaca

Guru dalam Buku dan Film: Monsieur Bashir Lazhar (Monsieur Lazhar)

The last things she did was kick her chair to make it fall over. Sometimes i wonder if she wasn’t sending a violent message. When we violent we get a detention. But we can’t give Martine Lachanche a detention, because she’s dead.

Martine Lachanche menggantung dirinya sendiri di kelas dan siswanyalah yang menemukan jenazahnya pada pagi yang dingin beberapa detik sebelum bel tanda masuk hari itu berdering. Dan itu yang mengawali kisah kali ini.

Tentu bikin gak habis pikir kenapa ada orang yang membunuh dirinya sendiri di sekolah tempatnya bekerja, di kelasnya sendiri, pada pagi saat hari akan segera dimulai. Kenapa? Well, namun ‘kenapa’ itu bukan sesuatu yang harus dijawab oleh Bashir Lazhar sang guru pengganti. Bahkan sebaliknya, dia tidak diperkenankan untuk membahas atau bahkan menyenggol masalah itu di kelas. Tugasnya hanya menggantikan tugas Mrs. Lachanche sampai, harusnya, akhir tahun ajaran.

Ini bukan film bertema pendidikan yang biasa. Kali ini penonton tidak lagi diajak untuk menyimak bagaimana perjuangan guru ngeberesin anak-anak degil ogah peduli masa depannya atau, kalau di kita, melulu berkutat dengan masalah ekonomi. Kali ini yang musti dihadapi oleh Monsieur Lazhar adalah beban psikologis yang diderita oleh kelasnya, dan ternyata, oleh dirinya sendiri juga. Lanjut membaca

Family Value

Pada awalnya The Addams Family adalah semacam satir dari kisah-kisah keluarga ideal Amerika yang pada zamannya sedang digandrungi. Yep, ini juga kisah keluarga yang sesungguhnya manis sekali walaupun bagi orang lain dianggap aneh dan menyeramkan. Tapi bagi kita, tentu saja kisah yang sudah melegenda di tanah kelahirannya ini adalah kisah yang gak berhenti bikin ketawa. Ups, maksud saya, dua seri pertama dari ini.

Jadi keluarga Addams ini dikisahkan sebagai keluarga yang kaya raya dan eksentrik. Rumahnya sangat besar, untuk ukuran pada saat kisah ini mulai dibuat. Kalo dibandingin jaman sekarang sih jadi biasa aja kayak Home Alone. Tapi berbeda dengan rumah orang kaya pada umumnya, atau yang kita bayangkan, rumahnya keluarga Addams ini sangat gelap dan seram dengan jaring laba-laba dan perlengkapan penyiksaan dan hukuman mati zaman kegelapan di mana-mana yang bahkan merupakan mainan fave anak-anak mereka. Dominasi warna hitam dan abu-abu. Warna kesukaan keluarga ini. Dan jangan bayangkan taman indah atau bahkan kolam renang. Berada di pekarangan rumah keluarga gila ini adalah rawa-rawa, dengan segala makhuk misteriusnya, serta kuburan yang ternyata adalah tempat fave keluarga ini untuk bermain, bersantai, dan bagi Sang Orangtua, untuk bermesraan di bawah awan hitam kalut atau badai yang menurut mereka adalah cuaca yang sungguh cerah.

lanjut baca..

Pelecehan?

Hari ini hampir setengahnya saya habiskan di UKS yang membuat saya teringat kejadian beberapa hari yang lalu saat Bu Kelas Dua kepuyengan dengan sms bombardir dari salah satu ortu murid.

Awalnya pada istirahat, salah satu anak perempuan kelas 2 ditemukan terkapar di lapangan futsal  pada jam istirahat. Anak-anak heboh, dong.. Soalnya kan ya jarang juga kejadian ada anak pingsan di sekolah. Setelah kami telusuri, ini anak terkapar gara-gara dia iseng nerobos masuk ke dalam lapangan futsal, yang diselubungi jaring pengaman, entah mau ngapain dan tepat pada saat itulah, apa yang kami takutkan dan asal muasal kenapa jaring itu dipasang terjadi: bola melayang keras tepat mengenai kepala si anak. Dia terkapar. Lanjut membaca

Try Not To Be Yourself!

Mr.D: Apa kau mabuk?

Ms. Mason: Haha.. Tidak, aku tidak mabuk. Hari ini.. yah, hanya saja aku kira anak-anak akan senang.. karena aku sudah menyiapkan segalanya dan aku benar-benar ingin membantu mereka memahami pelajaran. Aku menghabiskan waktu banyak untuk bekerja keras membuat tabel dan menyempurnakan lesson plan tapi..mereka membenciku.

Mr.D: Kau terlalu bertindak mengikuti buku kau terlalu serius. Santailah.. bersenang-senang.. Salah sekali-kali. Lihat apa yang kulakukan tadi kepada anak yang baru melewati kita? Aku memukul pantatnya.

Ms. Mason: Tapi..tapi itulah aku. Aku guru dan yang aku tahu mengajar. Aku tak bisa melakukan yang lain diluar apa yang sudah kupelajari.

Mr.D: Try not to be yourself!

Mr.D, Ms. Lisa Mason, dan Dr. Simon Hunt

Try not to be yourself! Itulah sebagian dari nasihat-nasihatnya Mr. Duncan alias Mr. D, sang guru pengganti yang bekerja di Xavier Academy. Eits, jangan salah. Ini sekolah gak ada urusannya dengan Xavier Academy yang sekolah para mutan di seri X-Men, ya.. Lanjut membaca