Kartini dan Batik

Pada tahun-tahun yang lalu, peringatan Hari Kartini selalu kami rayakan dengan acara-acara seremoni yang seperti kebiasaannya. Semua anak datang

memakai pakaian daerah masing-masing, puisi dan lagu, fashion show, dan potrat-potret. Selama dua tahun saya adalah orang yang selalu menentang acara seperti itu. Apa intinya? Apa hubungannya? Apa maknanya?

Tahun ini kami merayakan Hari Kartini dengan berkunjung ke Museum Tekstil dan belajar membatik.

Kartini, seperti yang kita tahu, bukanlah seorang tokoh perempuan yang melulu hanya berbicara tentang sekolah untuk perempuan. Bukan seseorang yang terus mengeluh mengenai emansipasi. Beliau adalah seorang seniman, penulis, pelukis—walaupun beliau bukan seorang profesional dalam bidang ini. Beliau adalah orang yang mencoba untuk berbicara sekeras-kerasnya, dengan media yang dia bisa, untuk memperkenalkan jati diri bangsanya kepada pihak lain.

Jadi memang merayakannya dengan berpakaian daerah pun tidak terlalu salah, hanya karena jadi semacam seremoni belaka, maka terkesan cetek.

Mengapa batik?

Seni Batik adalah salah satu bidang yang nampaknya cukup serius pendapat perhatian Kartini. Ya, sebagai perempuan Jawa, beliau berpakaian batik dan belajar membantik sejak usia 12 tahun. Dalam Panggil Aku Kartini saja dikatakan bahwa Kartini menghadiahkan sebuah kain sarung batik buatannya sendiri kepada istri Direktur Departemen Pengajaran dan Ibadah. Sarung ini sempat dipotret dan direproduksi di Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Namun sayang ternyata hasil reproduksi ini kurang baik kualitasnya.

Tapi apa yang dilakukan Kartini tentu tidak hanya menghadiahkan Batik kepada relasi asingnya.

Pada tahun 1898, saat Kartini berusia 19 tahun, di Den Haag diadakan Pameran Nasional untuk Karya Wanita. Ibu suri kerajaan sempat berhenti pada stand bernama Jawa dan tertarik pada suatu naskah yang berjudul Handchrift Japara. Naskah tersebut mendapat pujian. Karena Jepara telah disebutkan, maka satu rujukan nama menuju ke satu arah. Namun kepastiannya baru datang satu tahun selanjutnya:

Sebuah karangan tentang batik, yang tahun lalu kutulis buat Pameran Karya Wanita, dan sejak itu tidak terdengar kabar beritanya, akan diterbitkan dalam karya-standar tentang batik, yang akan segera terbit (Surat Kartini kepada Estelle Zeehandelaar 6 November 1899)

Karya standar yang disebut Kartini dalam surat kepada sahabatnya ini adalah De Battikuns in Ned. Indie en hare Geschiendenis tulisan G. P. Roufer dan Dr. H. H. Juynboll. Dalam kata pengantar buku tersebut disebutkan bahwa:

Tulisan Raden Ajeng Kartini merupakan Bagian Penting dari Bagian Pertama (Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja)

Kartini tidak pernah menyangka bahwa tulisannya tentang batik telah mendapat perhatian yang besar, namun beliau bersorak ketika pemerintah Belanda akhirnya memberti perhatian yang yang cukup kepada keseian Rakyat Hindia yang tentu, khususnya seni batik.

Perhatian orang Holland bangkit terhadap kesenian Hindia dengan berhasilnya pameran itu. Sedang diluar negeri kesenian Hindia, termasuk di dalamnya seni batik, mulai menjadi terkenal (Surat kepada Estelle Zeehandelaar, 11 Oktober 1901)

Untuk apa beliau bersorak? Beliau percaya bahwa:

Seni Rakyat adalah salah satu alat untuk mencapai kemakmuran rakyat (Surat kepada Nelly van Kol, Agustus 1901)

Inilah yang selalu bergaung-gaung dalam tulisan Kartini. Bahwa sesungguhnya, apa yang beliau keluhkan, tuliskan, dan lakukan adalah untuk berdiri demi rakyatnya. Bahkan dalam bidang pendidikan.

Pemerintah tiada akan sanggup menyediakan nasi di piring bagi segala orang Jawa, akan dimakannya, tapi pemerintah dapat memberikan daya upaya, supaya orang Jawa itu dapat mencapai tempat makanan itu ada. Daya upaya itu adalah pengajaran (Surat kepada Zeehandelaar, 12 Januari 1900)

Lalu kenapa beliau ngotot untuk membuka pintu ilmu kepada perempuan?

Bila dengan sebenarnya hendak memajukan peradaban, maka haruslah kecerdasan pikiran dan kecerdasan budi sama-sama dimajukan.

Dan siapakah yang lebih banyak dapat berusaha memajukan kecerdasan budi manusia?—ialah perempuan, ibu, karena pada haribaannya si ibu itulah manusia itu mendapat didikannya yang mula-mulanya sekali, oleh karena disanalah pangkal anak itu belajar merasa, berpikir, dan berkata. Dan didikan yang pertama-tama sekali, pastilah amat berpengaruh pada kehidupan seseorang (Surat kepada Nyonya Ovink-Soer, 1900)

Anyway, bagaimana perjalanan kami ke museum tekstil.

Seperti biasa, saat tahu bahwa tempat yang kami tuju ada di tengah kota Jakarta, anak-anak langsung khawatir. Apalagi kalau bukan macet.

‘Capek deh bu, Jakarta itu udah macet, panas pula..’

‘Kenapa sih Batik bu? Kenapa gak mengunjungi pusat seni ukir Jepara.’ Seno. Kelas lima sudah tahu, dan kami pernah membahasnya, bahwa selain Batki, kerajinan yang mendapat perhatian besar dari Kartini adalah seni ukir.

Anak-anakku sekalian, sesungguhnya ibu pun ingin sekali mengajak kalian ke Jepara untuk kita benar-benar mengunjungi dunia tempat Kartini hidup dan bernafas. Tapi apalah daya, kita tidak punya dana untuk itu saat ini.

Karena Bu Lyn sakit, maka saya kebagian tugas menggantikan Bu Lyn berada di mobil kelas 3. Untuk kelas lima, saya yakin kalau mereka sudah cukup besar untuk diberi kepercayaan berada dalam mobil tanpa diawasi walikelas mereka. Kata saya kepada anak-anak saya kelas 5. Mereka nyengir lebar saling melirik yang membuat saya jadi curiga. Jadilah saya mendelik dan mendesis:

Awas nanti kalau ada laporan dari pak supir kalian macam-macam, kalian akan menyesal hari ini masuk sekolah!

Hihi..

Kelas 3, seperti biasa, selalu bersemangat. Berteriak-teriak, nyanyi, tertawa, dan bahkan joget-joget dalam mobil. Tapi ternyata kegembiraan ini berlangsung hanya sebentar karena dua anak mendadak muntah-muntah hebat. Dan itu berlangsung sepanjang jalan. Akhirnya, semua setres. Saya pun tidak dapat melihat orang muntah, maka saya juga muntah-muntah. Makin setres lah anak-anak saat melihat bu gurunya juga muntah.

Akhir perjalanan, jumlah pemuntah bertambah satu orang secara seru. Anak yang duduk di sebelah saya yang sepajang jalan memakan banyak permen untuk menahan enegnya, mendadak muntah banyak tepat di kaki saya. Ampun, kaki dan sepatu saya berkubang muntah!!

Keluar dari mobil, rasanya dunia jungkir balik. Semua anak ditangani oleh Bu Lulu sementara saya dan beberapa anak langsung ngacir nyari toilet. Keluar toilet, nampaknya masih belum bagus perasaan saya, namun terpesona saat melihat gedung museum Tekstil yang berupa bangunan kuno jaman Belanda.

Anak-anak juga memandang penuh pesona.

‘Bagus ya, bu.. Sayang, kelihatan gak terurus.’ Salman.

Iya, ini kan bangunan Belanda. Mungkin pemiliknya dulu orang Belanda. Sepertinya sih begitu. Mungkin ini dulu adalah rumah pejabat atau pengusaha Belanda.

‘Bukan bu,’ celetuk Arif tiba-tiba. ‘Ini sebenarnya punya orang Perancis, terus pernah dipake jadi markas BKR. Terus jadi panti jompo deh. Tapi sebetulnya ini sih punya orang Turki.’

Turki? Bangunannya Belanda kok.

Kami masuk ke aula depan untuk pengarahan. Anak-anak duduk. Sang pengarah adalah seorang laki-laki muda yang manis dan ramah.

‘Anak-anak,’ serunya. ‘Apakah kalian tahu ini tadinya tempat apa? Ada yang tahu gak?’

Saya yang duduk bersandar mencoba menghirup udara nyeletuk pelan: rumah orang Belanda?

Tau-tau, anak-anak rame jawab:

RUMAH ORANG BELANDAAAAA..

Yeee…

Arif: Bukan ah, Perancis.

Anak-anak: Belanda…

Arif: Aku semalem browsing di internet. Ini rumah orang Perancis.

Anak-anak: Tapi kata Bu Alifia ini rumah orang Belanda, tau..

‘Oke-oke,’ Bapak Pengarah. ‘Ini tadinya rumah seseorang berkebangsaan Perancis yang kemudian dijual kepada konsulat Turki di Hindia.’

Arif: Tuh, kan!

Anak-anak: Oooo..

Pelajaran yang bagus nak, jangan seratus persen percaya dengan informasi yang diberikan gurumu. Karena dia bisa salah. Hehehe…

Tapi Arif mencuri-curi pandang kepada saya dengan takut, saya mengancungkan dua jempol kepadanya. Dia nyengir. Saya tidak sepicik itu, nak… Kalau saya salah, saya akan mengakuinya bahwa saya salah.

Seharusnya saya mencari info dulu mengenai tempat yang akan kami kunjungi.

Anak-anak, hanya akan rese kalau mereka bosan karena pelajaran yang disampaikan tidak menarik, atau tidak baru. Karena kali ini semua hal yang disampaikan itu baru, maka semuanya duduk tenang memperhatikan dengan super serius ternganga-nganga. Saya dan Bu Lulu sampai terperangah sekali dan sampai musti saling mengingatkan bahwa ini memang anak-anak kami. Duduk bersila di lantai dan dengan sukarela mencatat penjelasan yang diberikan dengan tertib dan hening.

Tentang sejarah musium batik.

Tentang peralatan untuk membatik.

Tentang cara membatik.

Tentang bahan-bahan pewarna alami.

Tentang jenis-jenis dan simbol-simbol pada batik.

Masuk ke dalam museum dan mengamati, bertanya, berkomentar, senang-senang. Kami pun sempat melihat-lihat tumbuhan dan pohon-pohon yang dipergunakan sebagai bahan pewarna alami. Saya sudah khawatir anak-anak bakalan nakal dan memanjat pohon, habis biasanya begitu maklumlah anak kebon, tapi tidak terjadi. Mereka sopan mengamati selayaknya orang dewasa saja. Sesekali mengangguk-angguk menanggapi penjelasan Bapak Pengarah. Kalau bertanya pun, dengan tertib dan santun.

Sumpah? Apa ini anak-anak kami? Beneran? Gak rebutan tanya-tanya? Gak pecicilan? Tidak ada kejadian seperti saat kami berkunjung ke Museum Gajah saat ada anak nekad memanjat patung Ganesha dan lompat-lompat masuk ke dalam perahu yang dipamerkan lalu berteriak-teriak lari-larian saat melihat boneka Jelangkung?

Well, mereka tumbuh.

Acara selanjutnya yang kita tunggu-tunggu, belajar membatik.

Nampaknya kami sempat mengejutkan pekerja dan beberapa orang yang sedang kursus batik saat masuk ruangan, mereka menoleh dan agak mendelik. Tapi anak-anak bisa langsung tertib kembali. Dengan segera mereka duduk berkelompok-kelompok mengelilingi beberapa kompor kecil. Kain yang sudah diberi pola diberikan, juga canting. Penjelasan tambahan sedikit, lalu anak-anak mulai mengerjakan pola dengan serius.

Ternyata ada kru TV datang dan kami masuk TV lagi. Surprise-surprise! Lagi-lagi TVRI.

‘Kita jodohnya sama TVRI, bu..’ keluh Safira.

Salah satu anak kami diwawancara:

Kru TV: Kamu suka batik?

Anak kami: Enggak.

Kru TV: Apa pendapat kamu setelah belajar membatik?

Anak kami: Susah.

Bu Lulu kepada saya: Yaelaah! Jujur amat sih!

Saya kepada Bu Lulu: Yang penting masuk TV. Ayo kita senyum manis.

Saya dan Bu Lulu: (Senyum simpul saat disorot kamera)

Selesai membubuhkan malam, kain dikumpulkan untuk diberi pewarna. Anak-anak agak kecewa karena ternyata kain batik kita diwarnai oleh pewarna kimia dan bukan pewarna alami.

‘Kalian maunya kain ini diberi pewarna alami?’ kata Pak Guru Batik.

‘Iyaaa…’

‘Kalau begitu, kalian musti menginap disini selama 30 hari. Dan selama itu kalian harus mencelup kain, menjemur, mencelup lagi, menjemur lagi. Begitu terus selama 30 hari tidak berhenti.’

‘Yah, gak jadi deh.’

‘Iya. Hari Sabtu nanti aku kan mau jalan-jalan ke Jogja.’

‘Lagian besok kita kan ulangan.’

Ngelesnya bisa aja sih..

‘Ibu Kartini dulu berarti mencelup kain selama 30 hari bu?’

‘Loh, ini kan Hari Kartini..’ Seru Ibu Kru TV tiba-tiba. ‘Kok kalian gak pakai kebaya?’

‘Lah, ini kan kita belajar membatik bu..’ seru Afifah.

‘Loh, jadi kalian ini belajar batik karena memperingati Hari Kartini?’

‘Iyaaa…’

‘Wah, kalau gitu, wawancaranya ulang lagi deh. Tadi tidak tahu saya ini ada hubungannya dengan Hari Kartini.’ Ibu Kru TV.

Iklan

4 pemikiran pada “Kartini dan Batik

  1. hahahaaa…
    lucu banget deh ceritanya, seperti biasa.
    lagi ada aja tuh kru tv. wawancara nggak jeli, nggak kritis.
    tapi lumayanlah, bisa nongol di tv.
    cuman… haregene siapa lagi yang nonton tvri ya? hiks…

  2. waah asiknya merayakan hari kartini dengan berjkunjung ke museum..
    ditambah lagi bisa masuk tipi..makin semangat deh..
    btw, sepatu bu Al apa kabar? gak bisa ngebayangin deh bu Al make sepatu itu pas di Museum..hihii..

    bu al, artikel ini kyk esai aja, abisnya ada kutipan-kutipan dan sumber kutipannya sih..hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s