Detektif Detektif

Ini adalah daftar 7 detektif paling keren dalam buku. Menurut versi saya, loh, ya.. Gak berdasarkan penelitian apapun. Cuma iseng aja

Kalo diurut-urut, detektif pertama dalam cerita ternyata ada di kesusastraan arab, yaitu Ja’far ibn Yahya dalam kisah Seribu Satu Malam. Dikisahkan disana bahwa seorang nelayan menemukan locker berat terkunci yang ia jual ke the one and only Khalifah Harun al Rasyid. Begitu dibuka, jreng-jreng!!!! Isinya mayat seorang perempuan dalam keadaan yang mengenaskan. Tubuhnya terpotong-potong. Sang khalifah kemudian menyuruh penasihatnya, Ja’far ibn Yahya, untuk memecahkan kasus tersebut.

Kisah Seribu Satu Malam sendiri adalah kisah berbingkai-bingkai-bingkai yang ribet sekali dan kudu kosentrasi membacanya. Belum pernah saya menemukan sebuah kisah yang terdapat banyak sekali tokoh dan banyak sekali bingkai seperti ini. Sebenernya, sudah banyak lupa sih sebab baca kisah ini waktu SMP dulu dan ogah baca lagi walaupun pengen, heheheh.. Pokoknya intinya dikisahkan bahwa seorang Raja Persia, Syahyar, patah hati setelah istrinya berselingkuh dengan salah satu pelayan istana. Saking terpukulnya membuat dia percaya bahwa semua perempuan itu adalah penghianat. Syahyar tetap menikah lagi, hanya untuk satu malam. Karena besok paginya, dia akan membunuh istrinya tersebut. Itu terjadi berulang-ulang sampai begitu banyak korban yang berjatuhan.

Hal ini membuat khawatir sang penasihat raja, Dunyazad. Dia bertekad untuk menyadarkan sang raja. Caranya? Dengan menikahkan adik perempuannya, Syahrazad kepada raja yang ngaco itu. Jelas rencana gila-gilaan yang penuh resiko. Nah kisah pun berjalan saat Syahrazad, pada malam pertamanya, bercerita kepada sang raja. Cerita ini bersambung. Tentu sang raja gak bisa bunuh istrinya soalnya dia kan penasaran kelanjutan ceritanya. Maka ditundalah eksekusi itu. Besok malamnya, seperti kemarin, di tempat tidur, Syahrazad melanjutkan cerita yang bersambung juga. Dan besok malamnya dan seterusnya dan seterusnya sampai total seribu satu malam. Cerita berbingkai-bingkainya Syahrazad ini cukup banyak selain kasus pembunuhan perepuan tersebut, beberapa yang terkenal lain adalah Abu Nawas, Simbad, dan Alladin.

1. Sherlock Holmes (Sir Athur Conan Doyle)

The worst tenant in London…[he] keeps his cigars in the coal-scuttle, his tobacco in the toe end of a Persian slipper, and his unanswered correspondence transfixed by a jack-knife into the very centre of his wooden mantelpiece… He had a horror of destroying documents…Thus month after month his papers accumulated, until every corner of the room was stacked with bundles of manuscript which were on no account to be burned, and which could not be put away save by their owner.

Dr. John Watson

Sherlock Holmes adalah tokoh fiksi yang berada pada akhir abad 18 karangan Sir Athur Conan Doyle, seorang penulis yang juga adalah ahli fisika berkebangsaan Inggris. Holmes sangat terkenal karena kepintarannya dan metode penyelidikan berdasarkan observasi dan logika deduktif yang pada masa itu, belum banyak dikenal.

Arthur Conan Doyle sepanjang hidupnya menulis empat buah novel dan limapuluh enam cerita pendek yang menokohkan Sherlock Holmes di dalamnya. Hampir semua dinarasikan oleh Dr. John H. Watson, sahabat karib yang tinggal bersama Holmes. Hubungan lain adalah tokoh Mycroft Holmes, saudara kandung yang bekerja di pemerintahan. Mycroft ini memiliki posisi yang sangat unik di pemerintahan Inggris yaitu seakan dia dan departemen yang dipimpinnya adalah sebuah database yang menyimpan seluruh informasi mengenai apa saja yang telah dan sedang dilakukan oleh Kerajaan.

Holmes adalah seorang laki-laki kaya yang eksentrik dan anti sosial. Selain kegemarannya yang paling terkenal adalah mengisap pipa, dia juga seorang pengguna narkoba. Heroine, opium, dan morphin yang ketiga-tiganya saat itu masih legal di London. Tidak pernah menikah, namun berkali-kali terlibat hubungan—seakan—spesial dengan perempuan. Diakuinya pada Watson bahwa dirinya sendiri tidak mencintai, namun kalaupun dia mendekati perempuan, itu berarti ada maksud apakah mengejar atau mencari informasi mengenai sesuatu. Namun, di sisi lain, ada seorang Irene Adler yang muncul berkali-kali dalam kisah Holmes yang nampaknya menjad satu-satunya perempuan yang, paling tidak, berhasil membuat Holmes terkesan.

2. Hercule Poirot (Agatha Christie)

He was hardly more than five feet four inches but carried himself with great dignity. His head was exactly the shape of an egg, and he always perched it a little on one side. His moustache was very stiff and military. Even if everything on his face was covered, the tips of moustache and the pink-tipped nose would be visible.

The neatness of his attire was almost incredible; I believe a speck of dust would have caused him more pain than a bullet wound. Yet this quaint dandified little man who, I was sorry to see, now limped badly, had been in his time one of the most celebrated members of the Belgian police.

Arthur Hastings.

Hercule Poirot adalah mantan polisi berkebangsaan Belgia yang menjadi pengungsi di Inggris pada masa perang dunia I, bekerja sebagai deteektif swasta, dan kemudian bermukim di sana selamanya. Sama seperti Holmes, dia pun digambarkan sebagai seorang yang eksentrik yang hidup sendiri tanpa pernah menikah. Dan tidak pernah juga dikisahkan tertarik dengan perempuan, apalagi menjalin hubungan cinta. Satu-satunya perempuan yang nampaknya cukup dekat dengan Poirot adalah Adrianne Oliver, seorang penulis novel detektif yang nyaris sama eksentriknya dengan Poirot.

Berkebalikan dengan Holmes yang hidup secara bohemian, Poirot justru adalah seorang laki-laki yang senang kemewahan dan keteraturan. Beuh!! Ada debu atau melihat dasi orang lain miring dikit aja dia akan gelisah geregetan yang kepengennya segera membetulkan. Segala-galanya adalah keteraturan yang kalau bisa simetris. Seorang pesolek sejati yang bahkan di tengah padang pasir pun nekat bertahan dengan stelan resmi jas putih. Sering disangka sebagai seorang penata rambut dibandingkan detektif yang kenyataan ini sering membuat Poirot tersinggung berat. Oh, ya.. secara fisik, seperti yang digambarkan oleh Kapten Arthur Hastings, sahabatnya, Poirot bertumbuh pendek, kecil, memiliki bentuk kepala bulat telur dan kumis yang, menurutnya, indah. Jangan main-main dengan kumis ini sebab Poirot sangat bangga sekali dengan—menurutnyaaaa…..!!!—keindahan dan kerapihannya yang tak tertandingi oleh siapapun.

Tidak seperti Holmes yang sibuk nyari sidik jari dan ngukur jejak kaki, Poirot menggunakan sisi-sisi psikologis untuk menemukan apa yang sebetulnya terjadi. Intinya, bagaimana membuat orang bicara. Maka dia akan berkeliaran ke sana ke mari, seringnya tidak memperdulikan jejak-jejak yang tertinggal, lalu ngobrol panjang lebar dengan setiap orang yang berada di sekitar perstiwa. Dari obrolan-obrolan inilah Poirot dapat melihat watak yang pada akhirnya akan membuat semacam profil dari kasus tersebut.

Kasus pertama yang ditangani oleh Poirot adalah The Misterious Affair at Styles dimana Hercule Poirot sebagai pengungsi perang dan bertemu dengan Kapten Hastings, sahabatnya sampai akhir hayat. Kasus terakhir Poirot yang membawanya pada kematian adalah Curtain, yang uniknya, kembali bertempat di lokasi yang sama saat pertama kali mengawali karirnya yaitu puri Styles. Dalam Curtain, sejak awalnya Poirot sudah tahu bahwa ini akan menjadi kasus terakhir sebab dia sudah menyatakan bahwa di tempat ini dia dan Hastings memulainya, di tempat ini juga akan menjadi akhir dari petualangan mereka, hiks…

3. Mr. dan Mrs. Beresford (Agatha Christie)

Tommy Beresford dan Tuppence Cowley adalah sahabat seumur hidup. Dari kecil, sampai tua. Saat pertama kali muncul dalam The Secret Advesary, Tommy digambarkan sebagai anak muda yang biasa-biasa aja, namun menyenangkan. Tenang tidak macam-macam. Sementara Tuppence adalah anak perempuan rada preman susah diatur yang punya cita-cita kawin sama orang kaya. Sama-sama cerdas dan pengangguran (yang pastinya iseng heheh), mereka punya ide untuk mendirikan perusahaan bersama yang intinya adalah, mereka bersedia melakukan apapun, ke manapun, tanpa banyak pertanyaan. Paling tidak, seperti itulah bunyi iklannya di koran. Nah, iklan ini kemudian menyeret mereka terlibat ke dalam kasus internal intelejen inggris.

Setelah segala kehebohan selesai, Tommy dan Tuppence kemudian menikah, membesarkan 3 anak, hidup tenang sampai tua bersama. Hepi-efer-apter. Yah, itu yang terlihat dari luar. Tommy sesungguhnya adalah seorang agen pemerintah Inggris yang sepanjang masa hidupnya, diselingi dengan petualangan saat harus mengungkap jati diri mata-mata yang mempenetrasi kerajaan inggris diam-diam. Walaupun diatas kertas Tommy bekerja sendiri, namun pada kenyataannya, dia sering bekerjasama dengan Tuppence.

Tidak seperti kisah detektif klasik yang lain, Tommy dan Tuppence adalah benar-benar partner. Bukan satu orang sementara yang satu hanya sidekick pelengkap gak ngapa-ngapain kecuali bikin kesimpulan yang salah. Hal yang unik, dan membuat saya jatuh cinta pada mereka berdua, adalah mereka sesungguhnya dua detektif yang mandiri. Tidak selalu sejalan, yang seringnya malah berbeda pendapat. Dalam banyak kasus, mereka melihat hal-hal yang berbeda dan berjalan ke arah yang berbeda, namun selalu dapat memecahkannya. Terkadang dua arah ini sampai pada satu muara kesimpulan yang sama, terkadang tidak. Tommy tidak selalu benar, begitu juga Tuppence.

Tuppence setia pada penggambaran awalnya yang selalu lebih aktif. Bahkan sampai tuanya dia masih jejingkrakan. Yah, gak gitu juga sih maafkan daya khayal saya ini. Tapi di suatu kisah Tuppence tua dengan berani melompati lubang di loteng. Bukan melangkahi, tapi melompati. Kalu udah nenek-nenek gitu gimana mudanya kan! Pokoknya dia mah aksi duluan yang kadang-kadang udah bergerak tanpa ngasih tau Tommy, lalu ketangkep mata-mata musuh dan disandera. Hallah! Jadilah Tommy, yang selalu penuh perhitungan dan memikirkan panjang-panjang segala sesuatu, musti menyelamatkannya. Di sisi lain, Tuppence yang grasak-grusuk sehingga sering terlihat lebih pinter (hanya karena Tommy selalu menyimpan semuanya di kepala sampai benar-benar yakin), selalu bisa diandalkan saat harus membuat keputusan kilat yang mendesak. Nungguin Tommy mah kelamaan.

Nampaknya mereka berdua tidak memiliki metode khusus dalam penyelidikannya. Pernah juga dalam kisah Partner in Crimes, mereka melakukan semacam ujicoba meniru-niru gaya berbagai detective fiksi yang terkenal. Beberapa niat banget sampai Tommy yang sedang meniru Sherlock Holmes, segala mengeluarkan biola dan memainkannya di depan klien yang segera sesudah sang klient pergi, Tuppence merampas si biola lalu menguncinya di lemari sambil mengancam Tommy kalau dia berani menyentuh biola itu lagi. Saking ancurnya permainan Tommy. Dia juga mencoba melakukan deduksi, tapi semuanya salah.

Saya meletakkan mereka dalam satu nomor bukan berarti nilainya setengah, tapi memang mereka berdua kayaknya emang musti partner dan gak bisa terpisah.

4. Master Keaton (Naoki Urusawa)

Taichi Hiraga Keaton adalah seorang detektif swasta, seorang dosen, arkeolog, dan seorang pensiunan pasukan elit kerajaan Inggris. Ayahnya Taihei Hiraga adalah seorang zooligis asal jepang yang menikah dengan seorang perempuan Inggris bernama Patricia Keaton.

Saya kira, yang membuat saya senang kisah Master Keaton adalah alasan sejarah dan arkeologi yang selalu terseret-seret masuk ke dalam kasus. Selain latar belakang pendidikan, dan juga profesi lainnya sebagai dosen sejarah, memang Keaton bekerja sebagai penyelidik di perusahaan asuransi yang tentu, kadang berkutat mengenai keaslian barang-barang seni dan purbakala. Tapi sayang sekali, komik Master Keaton ini berhenti di tengah jalan tanpa dilanjutkan lagi penerbitannya di Indonesia, hiks… Mari kita salahkan Gramedia untuk ini!

5. Jane Marple (Agatha Christie)

Sebenernya ni orang bukan detektif, tapi seorang perawan tua yang hobi ikut campur urusan orang. Cerdas itu jelas, dan hobi merajut. Muncul di 11 buku Agatha Christie ketika kasus-kasus terjadi di sekitarnya. Berbeda dengan tokoh Agataha Christie yang lain, dan khususnya pasangan Beresford yang terus berkembang sejalan waktu, Miss Marple nampaknya tetap di tempatnya. Dalam The Murder at the Vicarage tahun 1930, ni orang udah jadi perawan tua, pun dalam Nemesis dan Sleeping Murder yang terbit pada tahun 70-an. Teteup tua. Ya, iyaaa.. Masa jadi muda? Yah, maksudnya sih, kok kayaknya tuanya sama aja.

Cirinya buku yang bertokoh Miss Marple itu biasanya tebel, sebab perempuan ini senang bicara. Senang sekali berbicara. Kadang berlembar-lembar ocehannya. Tapi saya senang. Biasanya bahan ocehan nyinyirnya itu benar-benar menyiratkannya sebagai orang yang sudah banyak makan asam garam kehidupan—menakjubkan saat tahun 30an yang nulis kan masih muda yaa? Dan pengalaman hidupnya inilah yang akan menjadi dasar memecahkan kasus.

Jangan macem-macem lo sama nenek-nenek!!!

Kenzo Tenma

6. Dr. Kenzo Tenma (Naoki Urusawa)

And I saw a beast rise up out of the sea, having seven heads and ten horns, and upon his horns ten crowns, and upon his heads, the names of blasphemy. And they worshipped the dragon which gave power unto the beast: and they worshipped the beast, saying, “Who is like unto the beast? Who is able to make war with him?”

Sebenernya seorang dokter bedah yang terpaksa jadi detektif yang berbeda dari detektif lain, keinginannya hanya satu, yaitu membunuh Johan Liebert, seorang monster yang dia selamatkan.

Cerita dimulai pada suatu malam ketika Kenzo Tenma, seorang dokter muda asal Jepang yang bekerja di Jerman, melawan perintah atasannya untuk manangani seorang politisi dan lebih memilih menyelamatkan hidup Johan Liebert, seorang bocah berusia 10 tahun yang tertembak kepalanya demi alasan kemanusiaan. Johan selamat, sang politisi tewas. Hal ini membuat sang boss besar

Johan Liebert

Johan Liebert

marah dan menyalah-nyalahkan Tenma. Kenzo Tenma yang sebelumnya sudah terusik hatinya atas orang-orang tidak mampu yang sering ditepikan oleh RS tanpa perasaan, merasa kelelahan. Tanpa sadar dia curhat panjang lebar kepada Johan yang sedang terbaring koma. Beberapa hari kemudian, sang bos ditemukan tewas dan Johan menghilang. Sembilan tahun kemudian, terjadi pembunuhan berantai. Sang pembunuh menampakan dirinya di depan Tenma yang tiada lain adalah Johan. Johan mengakui bahwa dialah yang membunuh direktur rumah sakit 9 tahun yang lalu untuk membantu Tenma, dan ia masih terus membunuh sampai hari itu. Tenma yang merasa bersalah, mencari-cari Johan hanya untuk menemukan bahwa Johan adalah monster. Pengelanaan Tenma selanjutnya melacak keberadaan dan mengurai latar belakang kejiwaan Johan yang lebih dalam kepada eksperimen gila pemerintah Jerman Timur pada masa perang dunia II.

7. Mr. Parker Pyne (Agatha Christie)

Ini juga detektif yang unik. Hanya muncul dalam sepuluh kisah yang terangkum dalam tiga buku dari hampir 100 buku yang ditulis oleh Agatha Christie, tapi kemunculannya memberi kesan. Dia menjalankan suatu bisnis yang bernama Perusahaan Kebahagiaan. Anda tidak bahagia? Datanglah kepada kami. Begitu bunyi iklannya. Tapi jangan salah, Parker Pyne bukanlah seorang cenayang. Dia hanya detektif yang unik yang tidak seperti seumumnya detektif swasta yang menyelidiki lalu memberikan laporan apa adanya kepada klien, Parker Pyne lebih memikirkan kebahagiaan klien. Sebenernya lebih mirip konsultan tapi lebih ekstim karena dia tidak segan bertindak, untuk…… kebahagiaan kliennya.

Iklan

14 pemikiran pada “Detektif Detektif

  1. anak sulungku, suka banget dengan serial detektif conan, dan kayaknya nanti dia juga bakal suka dengan cerita seperti itu…

    kalau diriku? hehehe… nyaris tidak suka… 😀

  2. saya tau semua detektif itu! kecuali master keaton, sih. tapi mengingat dia juga tokohnya urasawa naoki, kayaknya ga perlu diragukan lagi kehebatannya..

    jadi pengen baca buku2 itu lagi, dah jarang baca detektif2an nih, palingan cuma conan yang ada di rumah aja…

    • Master Keaton itu udah lama terbitnya. Kayaknya dulu waktu saya masih SD. Dan gak berlanjut juga…
      Pokoknya khas Naoki Urusawa, cuma gak segelap Monster.

  3. cerita-cerita detektif klasik memang asyik diikuti. tapi kisahnya terlalu well-structured, sehingga sering nggak klop lagi untuk zaman sekarang. ibarat penyakit, gejalanya terlalu tipikal. padahal dunia kejahatan yang lebih realistis seringkali ill-structured. makanya kisah detektif kecintaanku adalah CSI. teteeeup!!!

    tapi salut dengan resumenya, al. keren!

  4. aku suka miss marple, suka ngobrol panjang lebar yg sepertinya ga penting tapi ternyata baru ketauan di akhir kalo semua itu dipake buat mengumpulkan informasi. nice!

    master keaton juga suka, cerita detektif asuransi yang realistis banget, bikin conan jadi berasa “lebay” dan kekanak2an ( pendapat pribadi si )

    trio detektif layak masuk, tapi tampaknya susah ya melawan pasukannya agatha christie yg banyak banget hehehe

  5. Ping balik: Detektif Detektif II: Junior | Teacher's Notebook

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s