Novel Pertemuan Dua Hati karya NH Dini adalah sebuah kisah nyata yang menceritakan tentang seorang bernama Bu Suci.

Dia adalah seorang guru SD biasa yang sederhana. Orang seperti Bu Suci tidak langka berseliweran di segala ruang di negeri ini. Bu Suci mungkin sedang duduk disebelah Anda di suatu angkot pada suatu hari, atau dialah figur yang Anda lihat sedang berdiri di pintu pada pagi berhadapan dengan serombongan anak berseragam yang ngantri cium tangan sebelum masuk kelas. Mungkin dialah orang yang Anda beri klakson keras-keras tidak sabar ketika dia melintas menyebrang jalan di depan Anda. Atau siapa tahu dia adalah perempuan yang menandatangani rapor buah hati Anda. Orang biasa yang bersahaja, seperti cara kisahnya dituturkan oleh NH Dini.

Kisah dimulai dengan hadirnya seorang guru baru bernama Suci di suatu SD di Semarang. Beliau baru saja pindah ke kota itu mengikuti suaminya yang pindah tugas. Di sekolah baru ini Bu Suci harus mengajar di dua kelas tiga sekaligus dalam satu waktu, yang diantaranya dipisahkan dengan pintu. Jadi beliau harus mondar mandir. Satu kelas muridnya ada 50 orang, maka total anak yang menjadi tanggung jawabnya tahun itu adalah 100 orang. Pun langsung menghadapi persoalan. Salah satu anaknya sudah akan dikeluarkan oleh sekolah. Waskito namanya.

Waskito adalah anak sering membuat onar. Dia senang mengamuk memukuli anak lain, membolos dan membangkang. Bagi anak-anak lain, Waskito Cuma tukang bikin masalah yang sebaiknya cepat-cepat pergi saja, bagi guru-guru Waskito adalah anak nakal yang sudah tidak dapat diperbaiki lagi prilakunya.

Bu Suci benar-benar menggunakan berbagai macam cara untuk mendekati Waskito. Dengan kasih sayang dia tidak hanya berusaha menasihati di kelas, Bu Suci menyurati keluarga dan mendatangi rumah Waskito. Mengundang anak itu untuk datang ke rumahnya dan mengajak bicara dari hati ke hati.

Saat pertama kali membaca novel ini ketika SMA, di mata saya, Bu Suci adalah seorang guru yang luarbiasa. Sekeren Pak Keating di Dead Poet Society atau The Carzy Joe Clark di Lean on Me. Setelah membaca ulang beberapa minggu yang lalu, saya sadar bahwa Bu Suci adalah seorang guru biasa-biasa saja. Ups! Bukannya saya mengecilkan, namun justru itulah pointnya. Ditengah hujatan kepada guru di negeri ini, apa yang menjadikan perbedaan antara Bu Suci dengan guru sekolah di depan gang rumah Anda? Bahwa Bu Suci, atau Bu Muslimah, dicatat dalam bentuk tulisan pikiran dan perbuatannya. Seseorang mengisahkan hari-harinya.

Makanya guru ngeblog, dong!  Kalo gak ada yang nulis tentang kita, kita aja nulis tentang diri sendiri, hehehe… Lagian, siapa yang bisa memperbaiki nama guru kalau bukan guru itu sendiri, ya, gak? Masa sih kisah tentang guru di negeri ini musti ditulis sama media massa melulu yang gak pernah mingser dari cerita guru tukang pukul, tukang cabul, dan ngasih contekan pas UN. Penuh dengan itu, seakan-akan jadi semua guru seperti itu.

Hal yang dilakukan dan dipikirkan oleh Bu Suci memang keseharian dari guru dimana-mana. Beberapa jujur menyuarakan isi hati saya, dan menyatakan keluhan, yang tak pernah berani saya kemukakan:

Kalau dia keluar dari sekolah kami, persoalan akan selesai. Itu lebih mudah. Tapi dia masih terdaftar dalam kelas yang menjadi tanggung jawabku (hal. 35)

Yep, ada kalanya saat menghadapi murid sukar, dalam hati saya mengharapkan si anak keluar saja. Capek, lelah, dan berpikir untuk apa susah toh bukan anak sendiri bukan kerabat. Tapi, seperti yang dikemukakan oleh Bu Suci, anak ini berada di kelas yang menjadi tanggungjawab saya.

Terkadang, membantu murid sukar pun musti terbentur pada orang, yang seharusnya paling mendukung perbaikan.

Semua itu membutuhkan tenaga pikiran kami kaum pengajar. Baik untuk membuat mereka dapat mencernakan pelajaran maupun tegak tanpa bantuan, menjadi manusia yang bertanggungjawab. Adakalanya keadaan menjadi kritis, sifat lemah si murid mendorong dia ke arah gerakan kekerasan atau kejahatan kepada sesama anak, penunggakan kelas, membolos berhari-hari. Dalam hal demikian, kami harus berunding dengan orangtua murid. Disinipun guru tidak selalu berhasil, karena ada bermacam-macam orangtua. Kalau orangtua bersifat terbuka, bersama guru akan segera ditemukan jalan bagaimana menolong si murid. Sayang sekali tidak semua orangtua demikian. Mereka sukar berterusterang, sehingga tidak membantu melancarkan pertumbuhan anak ke arah perkembangan yang diharapkan. Mereka khawatir atau malu terhadap guru yang dianggapnya orang luar. Padahal maksud kami tidak hendak membongkar rahasia keluarga. Kami hanya ingin menolong anak didik kami.

Seperti berjuta-juta ibu pekerja lainnya, ada saatnya dia tiba pada suatu titik dimana dia harus memilih antara pekerjaan dan keluarganya. Ketika sang anak kandung divonis terkena epilepsi, Bu Suci termangu dan menghadapkan dirinya pada suatu pilihan mana yang harus didahulukannya. Anaknya sendiri, atau anak-anak didiknya.

Anak dan murid. Bukan anak atau murid. Ya, akhirnya itulah yang harus kupilih: kedua-duanya. Aku ingin, dan aku minta kepada Tuhan agar diberi kesempatan mencoba mencakup tugasku di dua bidang: sebagai ibu dan sebagai guru. Dengan pertolongan-Nya, pastilah aku akan berhasil. Karena Dia mahabisa dalam segala-galanya. (hal.46)

Tentu jadinya sulit. Bu Suci harus lari-lari dari rumah sakit menemani anaknya yang harus menjalani pemeriksaan ini itu menuju sekolah untuk dapat menengok kelasnya sekedar tahu, bahwa kelasnya tentram dan anak-anak didiknya baik-baik saja.

Saya kira, novel ini bagus dibaca berbagai kalangan. Sebagai pengingat atas jasa orang lain pada kita atau mengingatkan atas idealisme, yang mungkin sudah agak luntur.

About these ads