Begitulah Anak: Berantem, Nangis, dan Maaf

Dua hari saya terkapar, Senin dan Selasa. Sakit. Biasalah. Dan bosan mati-matian, saya bangun pada hari Rabu dengan lompat semangat 45. Mau sekolah, nih….!!!

Tiba digerbang, disambut senyum sapa rekan-rekan. Duh, senangnyaaa!!! Lalu anak-anak yang lari mau cium tangan. Senang lagi.

Belum sampai di ruang guru, beberapa anak kelas satu menarik tangan saya. Peter nangis, katanya. Gara-gara Kakak Donny.

Peter terisak-isak duduk di depan kelasnya. Melihat saya datang, dia malah makin nangis. Saya duduk di sebelahnya, mengusap-usap punggung.

Kenapa? Kakak Donny nakal?

Dia menggeleng.

‘Aku kena tabrak Kakak Donny, tadi. Aku mau ke sana, tapi Kakak Donny mau ke sini. Trus ketabrak. Huhuhu….’

Mana Kakak Donny-nya?

’Gak tau.’

Loh, kok, gak tau? Emang Kakak Donny kabur, tadi? Gak minta maaf?

’Udah minta maaf….’

Trus, Peter masih gak bisa maafin Kakak Donny?

’Aku udah maafin Kakak Donny.’

Lalu, kenapa masih nangis?

’Soalnya masih sakit, kakikuuu…’

Oh, gitu… Ya sudah, coba ibu lihat. Ah gak luka, kok. Mungkin hanya terbentur dikit. Nanti juga baik.

’Iya, huhu… Nanti juga baik…. Tapi aku masih pengen nangis….’

Yaudah, Peter nangis aja dulu kalo memang merasa nyaman dengan nangis. Ibu disini sampai Peter selesai nangisnya, ya…

Dia nangis, beberapa saat. Kemudian berhenti, lalu main lagi.

Hihi, begitulah anak-anak.

Saya masuk ke ruang guru, menyiapkan ini itu. Lalu masuk ke perpustakaan untuk mengembalikan dan meminjam beberapa buku. Selang beberapa menit, ada keributan terjadi. Beberapa saat, saya diamkan. Karena saya melihat anak-anak ramai sekali dan nampaknya sedang mendengarkan orang bicara. Mungkin ada guru yang sudah menangani. Tapi, kenapa justru yang saya dengar malah suaranya Haidar yang terus bicara?

Keluar, dan menemukan anak-anak kelas 1A dan 1B sedang ngumpul. Dua orang nangis, Peter (lagi) dan Tomo. Lalu Haidar berceramah memarahi mereka berdua. Gak ada guru. Mungkin sedang pada sibuk di tempat lain.

Saya menerobos ke kerumunan, lalu menyeret Peter dan Tomo masuk ke kelas 1A. Pintu saya tutup.

Ada apa ini.

Peter: Tomo pukul aku, Bu… Disini…

Saya: Kenapa Tomo pukul Peter?

Tomo: Peter ngatain aku.

Saya: Ngatain apa?

Tomo: Katanya aku pacaran sama Adinda.

Saya: Emangnya, Tomo pacaran sama Adinda?

Tomo: Enggak, Bu…..

Saya: Trus, kenapa Peter ngatain Tomo pacaran sama Adinda? (Kali ini, saya bicara sama Peter)

Peter: Aku disuruh Haidar bilang-bilang kalo Tomo pacaran sama Adinda.

Saya: Emang pacaran itu apa, sih, Peter?

Peter: Gak tau.

Saya: Pacaran itu, kalo orang udah mau menikah. Memangnya Tomo mau menikah?

Peter: Enggak…

Saya: Jadi Tomo gak pacaran sama Adinda, kan?

Peter: Aku kan disuruh sama Haidar. Lagian, kan, Cuma ngeledekin ajaaaaaaaaaa, Ibuuuuuuu….

Saya: Peter, kalo teman kamu menyuruh pada kebaikan, kamu bisa menuruti. Tapi kalau menyuruh pada kejelekan, jangan diikuti, Nak. Kan, ngeledekin orang itu kejelekan. Akhirnya gini, Tomo merasa tersinggung lalu mukul Peter. Gak enak, kan?

……………………. (dua-duanya diam)

Tepat pada saat itu, Haidar masuk kelas. Tau-tau, sok nyeramahin orang gitu…

Haidar: Makanya Peter, jangan suka ngatain orang…

Lah, dia malah menggurui gitu.

Saya: Nah, ini dia. Tepat sekali. Ibu baru aja mau meminta seseorang untuk mencari Haidar dan mengundang kamu, Nak, di pertemuan terbatas kita ini.

Haidar: (Masih tanpa dosa) Ada apa, sih, Bu?

Duileeeh!!!

Saya: Menurut Peter, kamu tadi yang nyuruh Peter untuk ngatain Tomo.

Berdebatlah Peter dan Haidar.

Kamu tadi juga udah ngatain duluan..

Enggak, kamu yang nyuruh, tadi..

Tapi kamu tadi ngatain aku pacaran sama Salma.

Kamu ngatain aku pacaran sama Tomo (Nah, loh!!)

Kamu yang duluan…

Saya: HOOOIII!!! Udah! Ini berarti dua-duanya ngata-ngatain orang. Memangnya ngatain orang itu, baik, ya?

Kali ini, Haidar dan Peter kompakan: Kan Cuma main-main, Bu!!

Saya: Iya, main-main. Becanda. Tapi kalo Tomo sampai nangis dan mukul Peter, apa masih becanda? Hayooooo!!!!

…………………….. (Diam)

Di pintu kelas 1A, Bu Eni udah nongol, lalu balik lagi keluar. Menutup pintu. Yep, kalo ada suatu masalah, dan sedang ditangani oleh seorang guru, maka guru yang lain tidak akan ikut campur kalau tidak diminta.

Saya: Yaudah, udah bel masuk, nih… Sekarang, ibu mau tau, siapa yang merasa bersalah?

Peter dan Haidar tunjuk tangan.

Saya: Tomo, gak merasa salah, Nak?

Tomo: Lah, emang salah saya apa?

Saya: Kamu kan main pukul Peter. Memangnya, boleh, ya kalau masalah diselesaikan dengan mukul?

Sekarang, tomo juga tunjuk tangan.

Saya: Okey, sekarang, karena semuanya sudah mengkui kesalahan masing-masing, kita saling minta maaf dan saling memaafkan, okey. Tomo minta maaf ke Peter karena sudah memukul.

Tomo minta maaf.

Saya: Sekarang, Peter minta maaf ke Tomo karena telah mengatai Tomo.

Peter minta maaf ke Tomo.

Saya: Nah, sekarang, Haidar minta maaf ke Tomo dan Peter, karena telah menyuruh Peter ngatain Tomo, dan menyebabkan Tomo sakit hati lalu memukul Peter.

Haidar minta maaf kepada Tomo dan Peter.

Saya keluar kelas. Di pintu, menceritakan kisah baru saja terjadi dengan versi kilat dengan Bu Eni ngangguk-angguk saja. Lalu segera melesat ke lantai dua. Ke ruangan seharusnya saya berada.

Daaaan, saat istirahat, mereka bertiga sudah seru lagi main balap lari….

Huaaaah, begitulah anak-anak.

Iklan

2 pemikiran pada “Begitulah Anak: Berantem, Nangis, dan Maaf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s