Nanti Juga Sampai Pada Dirimu

Hari Jum’at, saya terduduk di pinggir lapangan menonton anak-anak main. Duduk sendirian saja. Yah, ada saja yang beringsut datang menomplok punggung seraya berteriak DORR atau menutup mata saya seraya berterian minta tebak siapa. Ada juga yang tau-tau duduk di sebelah saya lalu cerita ini itu tanya ini itu. Lalu yang paling menjengkelkan mungkin adalah segerombol anak kelas satu yang menubruk berteriak-teriak mengadu dikejar temannya, tapi ketika yang mengejar itu pergi, mereka malah caper kepadanya.

Huahaha, itulah permainan anak-anak kelas 1 dan 2 yang masih belum terpola atau memiliki aturan yang jelas. Kita orang dewasa hanya bisa memperhatikan yang kadang gak pernah bisa mengerti. Sebab, nampaknya, di mata kita, mereka hanya berlarian tak tentu, dorong-dorongan, silat-silatan, lalu dunia yang hanya kita bisa bayangkan setengahnya saat merka berteriak-teriak:

MONSTER NATA DE COCOOOO!!!!

Bicara soal anak kelas 1 SD, saya menemukan inilah masa paling capek kita orang dewasa meladeni mereka.Lagi upgrade besar-besaran! Seluruh jagat raya termasuk sang penciptanya adalah sebuah pertanyaan besar, dan mereka gak takut untuk menyatakannya kepada siapapun. Pertanyaan apapun yang terlintas, mereka kemukakan saat itu juga. Tanpa ada rasa bersalah seperti kita orang dewasa kadang, tanpa ada rasa ngeri akan ditertawakan. Dan, inilah masa ketika anak benar-benar, bukan hanya menyerap apa yang tersedia, namun mencarinya. Mencari dengan lahap. Lihat saja, ruang perpustakaan selalu didominasi anak-anak kelas 1 SD yang semuanya sibuk sendiri terbenam dalam buku-buku besar menutupi hampir setengah tubuh. Terkadang ribut berebut buku dengan temannya. Setiap tahun kelas, pengunjung perpustakaan akan berkurang. Mengerucut kepada yang memilih buku sebagai sobatnya. Sebagian lagi, akan menemuka tempatnya di lapangan bersama bola, atau bersama catur, atau komputer, atau yang lainnya.

Saya pun masih berpikir bahwa buku jendela ilmu, namun mulai berpikir lebih luwes mengenai itu. Mengingat bahwa betapa seringnya melihat para ortu memaksa anak mereka untuk banyak membaca. Well, jangan menyuruh, tapi berikan budaya baca itu kepada mereka. Percuma koar-koar tentang penting membaca kalo emak bapaknya gak pernah kelihatan membaca, atau tidak menunjukkan bahwa mereka mengapresiasi sebuah karya sastra.

Namun lagi, jika akhirnya anak kita memilih untuk menghabiskan waktunya di depan computer atau di lapangan basket, kita akan kurang bangga karena itu? Marilah akui bahwa pengetahuan ada di mana-mana dan tidak hanya tercatat dalam buku saja.

Seorang sobat yang adalah guru juga di sekolah internasional menulis kisah menggelisahka di blognya mengenai salah seorang anaknya yang dilarang masuk ke perpustakaan jika mamanya gak ada. Alasannya, sebab si anak, kalo sang mama gak ada, suka milih buku yang menurut sang mama gak berguna. Seperti buku tentang spiderman dan yang seperti itu. Ya, yaa, saudara, sang mama memilihkan buku untuk anaknya.

Saya sedih membacanya.

Berhadapan kelas 1, kita harus siap dengan apa yang keluar dari mulut mereka mengejutkan. Pertanyaan yang aneh yang terkadang, menantang. Saya kira, salah satu yang paling mengejutkan ditanyakan kepada saya adalah ini:

Ibu, ibu itu sebenernya laki apa perempuan, sih?

Nah, saya terdiam beberapa detik saat itu. Bukan gak tau jawabannya apa tentu saja, tapi berpikir ini anak serius gak sih?

Saya tahu, sering disangka anak laki sekilas (anak laki, yaaa, bukan laki-laki dewasa). Anak laki yang manis kalo kata kawan-kawan saya. Tiap kali beli gula dan kopi di warung depan rumah di pinggir Jakarta, saya diingatkan si bapak tukang warung bahwa saya kalo pagi saat berangkat kerja adalah ibu guru, kalo sore duduk di beranda membaca buku adalah remaja laki yang manis. Tiap kali saya ke warung itu diingatkan, coba bayangkan?

Tapi di sekolah, pasti gak ada yang nyangka saya laki, walaupun sekilas. Pertama, saya pake jilbab. Kedua, saya dipanggil ibu. Bahkan si anak tanya saya masih memanggil ibu.

Kenapa kamu tanya kayak gitu?

’Habisnya, ibu gak suka warna pink. Ibu kok gak pernah pake rok, Bu? Ibu kok gak suka princess? Ibu kok gak suka boneka?’

Saya nyengir. Yep, anak-anak usia ini, sedang dalam upaya mengidentifikasi dirinya mencari kelompoknya. Dan mereka belajar dalam hal-hal yang sesuai dengan apa yang menyentuh mereka, dan terkadang, bersikap ekstrim mengenainya. Namun sekaligus luwes terkadang. Menghadapi pertanyaan seperti ini yang terjadi beberapa kali, pertama saya agak defensive dan menjelaskan terlalu banyak hal. Lama-lama, memilih untuk lebih santai menjelaskannya. Mereka akan memahaminya.

Anak-anak saya saat ini sudah bersama saya sejak mereka kelas 2 SD dulu. Anak perempuannya saat itu, tergila-gila princess dan Barbie. Dua hal yang sangat tidak saya sukai. Maka, saya tahu anak-anak perempuan saya sering kecewa dulu karena walikelasnya lebih memilih main bola bersama anak laki daripada main princess. Dan setelah tumbuh dari anak kecil menjadi anak tanggung, saya sering mengingatkan bahwa dulu mereka begitu terobsesi dengan princess dan mereka gak percaya. Atau sangat malu mengenai hal itu.

Tumbuh, terkadang begitu berat. Dalam teori, bagi anak perempuan, sering meyakitkan dan traumatik.  Yeah, saya sih ketawa. Namun setuju bahwa tumbuh, terkadang memberat hela nafas. Saya melihatnya tiap hari saat yang pertama itu datang kepada anak-anak saya. Atau ketika kita mencari posisi diri kita sebenarnya dimana. Setiap kali melihat wajah-wajah bersih atau mulai berjerawat satu dua ini, apa yang ada dalam balik pikiran mereka? Dalam, bisa jadi. Mungkin badai topan menggelora.

Maka saya geli jika ada yang bilang bahwa anak-anak itu enak karena hidupnya ringan gak usah mikirin apa-apa. Mereka berpikir, bertanya, merasakan, tepat seperti orang dewasa. Tak percaya, ngobrolah dengan mereka. Jangan jadi orang menyebalkan dengan mengatakan bahwa apa yang mereka pikirkan cetek. Iya, cetek bagi kita karena kita sudah melampaui itu. Namun ingat saat orang yang lebih tua bilang bahwa anak muda hidupnya ringan atau rekan yang sudah menikah sudah punya anak bilang kalau menjadi lajang itu belum merasakan susahnya hidup. Well, hal yang sama saja bukan?

Atau ketika ada yang bilang bahwa anak-anak belum mengerti apa yang kita katakan. Mikir apa? Bahkan yang di dalam perut pun konon merasakan mengenai kehadirannya diinginkan atau tidak.

’Ibu, susah gak sih jadi cewek tomboy?’ Tanya Izza suatu hari, beberapa minggu yang lalu.

Memangnya kamu merasa itu susah?

‘Gak tau… Ibu gimana?’

Pertanyaan kayak gini yang berat. Mendingan saya disuruh ngejelasin megapa begini mengapa begitu mengapa air dan minyak tidak pernah bersatu, deh…

Nggak, tuh… Orang di sekitar ibu gak masalah dengan itu.

’Aku juga enggak, Bu.’

Saya nyengir lebar. Pertanyaan itu mungkin adalah langkah pertama, dari sebuah petualangan yang panjang sampai nantinya, akan sampai pada dirinya sendiri.

Nanti juga akan sampai pada dirimu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s