Tulisan Anak Hari Ini: Tentang Agnostik (Kelas 6 SD)

Awalnya baca blog salah satu anak kelas enam. Yah, namanya anak remaja awal tau sendirilah. Kalo gak niat baca, mendingan jangan. Pegel mata liatin tulisan yang bablas melaggar semua ketentuan EYD. Walaupun saat menulis untuk tugas okeh, tapi kalo blog sih ternyata semaugueajalah! Pemilihan warna bikin sakit mata, fontnya jumpalitan gede bener lalu tiba-tiba keciiiiil bener. Tambah singkatan-singkatan sinting gak jelas.

Itu baru bentuk dan struktur tulisan. Isinya lebih bikin puyeng lagi. Kadang remeeeeh banget, kadang daleeeem banget, kadang bingung ini sebenernya kita sama mereka beda planet, apa, yaaa?

Nah, itu baru masalah tulisan, belum aksesoris blog yang ampun-ampuuuun, ribet. Lagu yang menghentak-hentak disetel otomatis nyala tiap kali ngeklik, tulisan mencilak-cilak, gambar lompat-lompat, dan selaluuuuuu aja, buka blog anak-anak itu ngeselinnya karena bikin hang kebanyakan iklan, hihi…

Tapi pagi hari ini, saya tercenung dengan satu tulisan yang baru saja diposting tadi malam itu. Isinya bercerita tentang dua anak kelas enam saya yang menginap di rumah salah satunya. Niatnya, belajar bareng. Tapi diselingi berbagai macam hal, pastinya, yang salah satunya adalah chatting omegle.

Di sekolah, omegle sudah dilarang. Sudah sering pun saya berkoar-koar agar hati-hat menggunakannya. Tapi ternyata, terbukti dalam kisah itu, anak-anak tetep masih seneng chatting omegle di rumah. Hmmm…. Susah, yaaa…

Kembali ke postingan blog. Mereka berdua, menurut kisah yang mereka tuliskan sendiri, chatting dengan seseorang di London. Entah benar entah enggak. Dan terlibat pembicaraan yang nampaknya cukup asik mengenai agnostik.

Heh? APAAAA!!!!

Iya, agnostik…

Sampai disitu, saya bingung sendiri. Ini pembicaraan anak kelas enam? Anak remaja tanggung berusia 11-12 tahun?

Dan saya sering ketawa ngakak baca blog orang dewasa isinya betapa kerennya film Twilight. Huahaha, rasanya dunia terbolak balik. Saatnya anak-anak bicara berat dan orang dewasa jadi dangkal.

Enihei, ternyata dua anak perempuan saya itu chatting, seperti biasa, iseng. Dan sesuai pesan dari semua orang, mereka gak pakai identitas asli melainkan bohong belaka. Bicara ke sana kemari, sampai masalah agama dan keyakinan. TheLondonGuy ini yang, menurut pengakuan, adalah seorang mahasiswa humaniora berkata bahwa dia penganut monoteisme tanpa memeluk suatu agama.

Anak-anak saya ini menyangka si LondonGuy adalah atheis. Namun bukan, LondonGuy mengatakan bahwa dia agnostic. Maka terlibatlah mereka percakapan yang nampakya cukup seru mengenai apa dan bagaimana agnostic itu.

Saya membacanya rada kebingungan juga.

Sebagian, terpana. Duileh anak-anak saya itu kok keren banget, yah? Seumur mereka, kalo chatting ngomogin apaan sih? Artis, film, atau gaya. Ini kok filosofis? Haduh..haduh… Okeh, okeh, mundur lagi. Mereka bisa chatting dan gomong serius dengan seorang mahasiswa (yang kemungkinannya benar) di benua lain sono aja udah keren sekali. Bisa PD walaupun saya tahu pasti, penguasaan bahasa mereka pas-pasan. Ngepas bikin orang asing pusing maksudnya.

Salut dengan teman chatting mereka juga. Saya yakin orangnya sabar.

Selain terpana, khawatir. Naluri emak-emaknya ini biasalah. Khawatir yang sama ketika menemukan salah seorang kerabat, yang masih menginjak bangku SMA terlibat cukup aktif di suatu situs perdebatan antar agama yang keras.

Saya, sama dengan banyak orang lain di muka bumi ini. Lahir dan tumbuh dengan didikan agama yang dalam mencengkram tidak lantas meniadakan fase pencarian spiritual pribadi. Dalam beberapa hal, malah menyebabkan tambah hebatnya pertanyaan. Yup, ada masanya ketika saya bertanya mengenai keyakinan saya sendiri dan mencari. Dalam hidup saya, pernah menjadi begitu konservatif, lalu bating setir ke liberal, sampai akhirnya menemukan arah. Maka, saya mah gak gitu alergi dengan hal-hal yang diluar dari apa yang saya terima kebenaran. Masalahnyaaa, ini kan anak-anak.

Hmmm…

Iklan

4 pemikiran pada “Tulisan Anak Hari Ini: Tentang Agnostik (Kelas 6 SD)

  1. Anak2 ini sekali2 perlu dibawa diskusi dengan JIL kali ye…Biar tambah seru. Hi hi…Dasar anak sama gurunya sama gilanya…..Mantap cekgu.,…

  2. anak-anak itu cerminan orang dewasa di sekelilingnya…
    support dari orang dewasa di sekelilingnya akan membentuk karakter dan pola pikir mereka. kebiasaan orang dewasa, akan menjadi kebiasaan mereka juga…

    nah, jika anak-anak cekgu seperti itu, ya gak usah heran… ha wong cekgunya juga sih yang kasi contoh… hahahaha…. gubrakkk!!! 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s