Kritik Lagu

Tau kan lagu Balonku Ada Lima? Ini sering jadi joke. Sebenernya, agak sedih juga karena justru yang ngejoke itu yang kena tipu sebenernya.

Saya juga termasuk kena tipu.

Suatu kali, dapet dari seorang kawan. Lalu saya seru aja kasih tau rekan-rekan di mess.

Balonku ada lima. Rupa-rupa warnanya

Merah, kuning, kelabu, merah muda dan biru

Meletus balon hijau, dor!! Hatiku sangat kacau

Balonku tinggal empat. Kupegang erat-erat.

Tau gak, lagunya salah itu. Harusnya balonnya tetep lima. Kan yang meletus balon hijau. Emang ada balon warna hijau?

Kirsan dan Eni meletus ketawa ngakak lama bener saat saya dengan PD-nya ngerocos. Lalu kata Eni, saya jangan pernah cerita tentang itu lagi, karena sayalah yang kena tipu.

Kenapa?

Karena liriknya itu salah. Lirik yang sebenernya adalah, begini:

Balonku ada lima. Rupa-rupa warnanya

Hijau, kuning, kelabu, merah muda dan biru

Jadi memang ada balon warna hijau.

Bener juga, sih. Si penulis lagu gak mungkin jugalah ya nulis menulis dua balon warnanya merah. Walaupun yang satu merah yang satu merah muda, tetap saja pasti akan membingungkan anak kecil karena jadinya belibet. Lagian kurang kreatip amat warna diperkenalkan ke anak-anak itu-itu aja.

Nampaknya, ada seseorang yang ngejoke dengan mengganti lirik lagu itu, lalu tau-tau jadi paten liriknya jadi berubah, hihi… Kita gampang kena tipu, yaa…

Tapi, kalo dibilang lagu Balonku Ada Lima itu rada meresahkan, mungkin benar juga. Tapi bukan pada warna balon, namun di lirik yang ini:

Meletus balon hijau, dor

Hatiku sangat kacau.

Di lirik yang itulah yang agak meresahkan. Sebab, anak kecil dikisahkan bahwa hanya gara-gara satu balon meletus aja hatinya bisa jadi sangat kacau. Bukan kacau saja, tapi sangat kacau. Gimana kalau yang meletus tiga? Bisa depresi tuh pemilik lima balon, yaaa….

Lalu selanjutnya:

Balonku tinggal empat. Kupegang erat-erat

Mungkin itu pelajaran yang baik balonnya dipegang erat-erat jangan sampai kehilangan lagi. Tapi kemudian, kemarin, seorang anak kelas 1 SD bilang kepada saya:

’Ibu, kenapa balon yang empat itu dipegang erat-erat? Emang bisa megang empat balon kan banyak banget. Tangannya must panjaaaaaang banget. Lagian, kalo dipegang erat-erat kan balonnya malah meletus, Bu..’

Wedeh… Lah, iya, yaa… Bagi anak kecil, memegang erat empat balon sekaligu sangat tidak mungkin.

Lalu, menurutmu, sebaiknya gimana, Nak?

Balonnya ditaro aja, Bu. Di tempatnya. Kalo enggak, dikasih tali.

Jadi liriknya berubah, ya? Jadi gini:

Balonku tinggal empat kujaga baik-baik.

Anak itu diam. Saya juga diam.

Gak enak, Bu…

Iyalah, gak berima.

Balonku tinggal empat kujaga dengan tepat, begitu?

Nah, jadinya itu lagu musti dijelaskan lebih lanjut, ya, gak?

Maka saya dan beberapa anak kelas 1 SD jadilah terlibat pembicaraan yang seru dan, mereka mungkin gak sadar, bahwa pembicaraan kita ini cukup berat.

Mengenai hati yang kacau itu. Menurut saya, gak harus begitu. Kan biasa saja kehilagan sesuatu. Lagian, kita masih punya empat.

Tapi kalo balon yang meletus itu yang paling kita sayangi kan sedih, Bu..

Iya, ya… Tapi, kita harus ingat kalau ada loh orang yang gak punya balon. Kita harus bersyukur bahwa kita masih punya balon lagi. Empat. Maka benar, tuh, harus dijaga dengan baik.

Trus lagunya jadi gimana, yah?

Meletus balon hijau, dor. Aku sangat terkejut.

Diam…

Gak enak, Bu….

Iya, iyaaaaa… Gak cocok rimanya. Harus yang sama dengan hijau.. au…

Yang meletus yang lain aja, Bu..

Bisa juga.

Meletus balon kuning, hatiku sangat…..

Apa yang serima dengan ning?

Meletus balon biru, sangat terkejut aku

Diam…

Masih gak enak, Bu…

Hihi…

Yaudah deh, liriknya tetep aja. Tapi inget aja, yaa.. Jangan sampai kacau kalau kehilangan sesuatu. Kan kita masih punya yang lain. Harus inget juga kalo ada loh yang gak punya.

Berarti ibu harus ngejelasin kayak gitu sama adik-adik TK yang baru belajar lagu itu, Bu…

Iya, yaa…

*sigh*

Masih tentang lagu, ternyata anak-anak cukup kritis juga loh menyikapinya.

Beberapa hari sebelumnya, Salsa, seorang anak saya yang agak protes. Pasalnya, waktu TK dulu, dia pernah dapet lagu yang liriknya begini:

Padamu Allah kami berjanji

Padamu Allah kami berbakti

Padamu Allah kami mengabdi

Bagimu Allah jiwa raga kami

Nah, Salsa ternyata merasa gak enak dengan lagu yang didapatnya waktu TK itu. Sebab itu lagu nasional. Jadi dia merasa gak suka aja Bagimu Negeri jadi Bagimu Allah.

Saya rada bingung.

Pertama, saya malah baru tau lagu Bagimu Allah itu. Kedua, saya juga merasa gak enak yang berpangkat dua. Rasanya memang gimana gitu deh lagu perjuangan bisa dirubah. Tapi kalau dari segi liriknya, sih, nampaknya gak masalah juga. Sebab kita berjanji, berbakti, mengabdi, dan menyerahkan jiwa raga kita kepada Allah. Sebagai seorang muslim, saya membenarkan itu.

Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah.

Nah, akhirnya saya jadi tenggelam sama pikiran saya sendiri, kan?

Karena liriknya gak masalah. Malahan, saya mengakui sebagai kebenaran karena toh seharusnya, pengabdian kita kepada Tuhan lebih tinggi dari pengabdian kita kepada negara.

athii’ulloha wa athii’urrosula wa ulil amri minkum

Tapi mengapa nyanyi lagu Bagimu Negeri yang berubah jadi Bagimu Allah rasanya gak enak, yaa… Ada yang salah. Ada sesuatu yang salah.

Anak saya yang memberi tahu apa yang salah.

Liriknya gak enak, loh, Bu.. Soalnya itu kan Allah…

Jadi gini, beberapa saat yang lalu ketika kami menulis surat ke China itu, saya kan membedah isi surat yang ditulis anak-anak. Salah satunya mengenai pemilihan kata. Misalnya mengenai aku dan saya. Dua-duanya santun, tapi, untuk kepada seseorang yang dihormati, apalagi itu kepada orang yang tidak dikenal, lebih baik jika memilih kata saya. Sebab nilai rasanya lebih tinggi. Sementara aku, itu menujukkan ke ego-an diri. Lalu kemudian panggilan kamu atau mu, walaupun santun, namun lebih baik kepada orang yang tidak dikenal dan dihormati itu Anda atau namanya. Maksudnya, lebih baik jika kita menulis ’Bu Wei Minzi, bagaimana kabar Ibu?’ daripada ’Bu Wei Minzi, bagaimana kabarmu?’

Ternyata masalah lagu itu gak enak menurut Salsa disitu.

Padamu Allah kami berjanji

Kata yang dipakai itu ‘mu’. Kan walaupun santun, tapi kurang, ya, Bu?

Duileeeeeh!! Bikin lagu anak-anak itu suse, yaa… Mungkin awalnya keliatan gampang, tapi susah nanti sebab dipikirin sama anak.

Satu kisah lagi, anak saya juga, ini mengenai lagu satu dua tiga. Keliatannya gak ada masalah, kan?

Satu satu aku sayang ibu

Dua dua juga sayang ayah

Tiga tiga sayang adik kakak

Satu dua tiga sayang semuanya

Nah, yang itu gak kena kritik. Yang kena kritik adalah versi englishnya. Ternyata terjadi bentrok antara dua anak.

Salah satunya adalah Dicky, yang waktu TK dapet versi english begini

One one one i love my mother

Two two two I love my father

Three three three I love brother sister

One two three I love my family

Si Dicky bentrok sama sebagian besar anak yang dapet versi yang serupa namun tak sama dari rekan saya Mrs. Dian. Versinya Mrs. Dian begini

Number one and one and one, I always love my mom

Number two and two and two, I also love my dad

Number three and three and three, brother sister I love

Number one and two and three, I love my family

Dulu, anak-anak akhirnya menerima toh sama aja maksudnya. Tapi sekarang, anak-anak mulai ngebandingin.

‘Lagu yang Dicky itu sederhana banget, ya, Bu..’

‘Bener sih, tapi kurang enak. Ngng, apa, yah..’

‘Kaku, yaa..’

‘Iya, kaku, yaa..’

‘Iya. Kayaknya bu gurunya Dicky waktu TK itu bahasa inggrisnya gak gitu bagus…’

‘Ya iyalah kan Mrs. Dian guru bahasa inggris kalo gurunya Dicky kan guru TK, ya, kan, Bu?’

Saya: bengong… Ini saya masih di SD, kan?

Iklan

4 pemikiran pada “Kritik Lagu

  1. mm.. kacau yang dimaksud pengarang lagu ‘balonku ada lima’
    mungkin terkejut karena dengar suara letusannya trus dag dig dug gitu bu
    irama jantungnya kacau
    bisa jadi kan?
    aku baru tau lirik lagu yang bener gitu toh
    oalaa

  2. Anak-anak yang cerdas!
    Bicara tentang lagu anak memang harus benar-benar dipilih syair yang cocok
    Saya juga punya pengalaman mengganti syair lagu yang dikenal anak dengan syair yang dapat mendukung materi belajar seperti contoh lagu I love my family. Tujuannya agar anak lebih mudah ‘klik’ terhadap pelajaran karena anak-anak suka bernyayi.
    Silahkan mampir kalau ada waktu di teknik menghafal lewat lagu

  3. elu salah nyanyiinnya,,, Bukan “Merah, kuning, kelabu, merah muda dan biru”
    tapi Hijau!… ELO TKNYA DI BAWAH POHON CIMPEDAK!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s