Kelas Satu Hari Ini: Mau Pilih Mana?

Anak-anak itu ahli manipulasi. Sumpah! Lihatlah wajah-wajah manis tak berdosa itu. Hmmm…hmmm… nampak melumerkan hati, ya… Sangat polos sangat tak bernoda. Udah? Nah, sekarang lihat anak-anak di acara TV The Nanny atau Nanny 911. Gosh, kok, bisa gila-gilaan gitu, yah? Gak usah heran, itulah akibatnya kalau sang orangtua sudah hancur habis-habisan dimanipulasi anak-anak.

Siapa yang gak lumer saat anak memohon ini itu dengan wajah memelas? Atau siapa yang gak menyerah saat anak mengamuk tak terkendali di tempat umum? Makhluk kecil mungil ini belajar, loh! Tiap detik hidupnya. Jadi, kalau dengan cara merajuk atau mengamuk dia mendapatkan keinginannya, jangan kaget kalau selanjutnya trick ini akan terus dipakainya. Waktu kecil, mungkin jadinya imut dan lucu. Tapi udah gak lucu lagi nanti saat anak beranjak besar, yang terbiasa semua keinginannya dipenuhi. Kalau udah begitu susah. Apalagi nanti, saat usia SMP ketika EGO-nya lagi guade banget…nget.. Apa-apa tentang dirinya. Beuh!

Salah satu trick yang saya pelajari saat pertama-tama menghadapi anak-anak dulu adalah dengan memberikan pilihan yang terbatas kepada mereka. Mungkin terakhirlah saat udah mati gaya baru kita pake jurus POKOKNYA yang artinya anak harus patuh, titik! Sebelum itu, jangan dulu, please. Jurus POKOKNYA itu kan menyebalkan bagi anak, yang mungkin akan membuat marah lalu anak akan berpendapat bahwa kita otoriter banget! BETE deh, iiiiih!!

Pilihan pertama adalah ngajak bicara baik-baik. Anak kecil juga bisa kok diajak duduk bersama orangtua menghadapi rapat terbatas. Saat inilah ortu, atau guru, menjelaskan sebisa-bisanya kenapa si anak harus begini dan begitu. Well, keputusan kita atau larangan kita itu kan pastilah ada alasannya, bukan? Yaaa, itu artinya kita harus siap dulu untuk pegel mulut menjelaskan dan siap super sabar saat anak gamautaupokoknyamaunyabeginititik!!!

Kalo saat genting gak punya waktu banyak, maka jurus kedua adalah pilihan terbatas. Saya kira, orang tua yang sudah berpengalaman tau dengan jurus pilihan terbatas ini. Saat anak seakan diberikan kekuasaan untuk memutuskan tentang dirinya sendiri padahal gak juga. Sebab, pilihan itu sudah dielemenir sama kita, huahaha…

Selama dua hari, Senin dan Selasa, saya menggantikan Bu Eni yang sedang sakit untuk mengisi kelas-kelas TIK (Teknologi Informasi dan Telekomunikasi) di kelas 1 SD.  Titipan Bu Eni adalah kegiatan asik menonton film Aku Anak Jenius. Isinya adalah beragam fakta seperti mengapa unta bisa tahan tidak minum berhari-hari atau yang seperti itulah. Dikemas menyenangkan berbentuk film kartun. Pada kelas 1A, 1B, dan 1D, berlangsung lancar. Anak-anak hepi aja nonton. Tenaaaaaaang semuanya melongo nonton. Masalah muncul di kelas 1C.

Kelas 1C ini adalah kumpulan anak-anak cerdas gak bisa diem. Kebayang, kaaan? Banyak deh cerita seru dari kelas 1C betapa guru-guru disana sering mati gaya gara-gara anak-anaknya jumpalitan semua! Gak ada yang bisa duduk. Karakternya juga unik-unik. Ada yang perasa banget apa-apa tersinggung, ada yang tukang ikut campur selalu harus bicara dan susah dihentikan nyerocos terus dengan volume yang aduhai seakan di tengah terminal saja tu anak ngomongnya. Kuping sampai berdenging nyeri. Ada yang tiap hari tantrum gak bisa orang lain salah dikit aja, dia ngoamuk bisa sampai seharian. Ada juga yang gak bisa berhenti lari-larian. Pusing banget bahkan di kelas aja, tuh anak masih juga lari-larian keliling-liling.

Kebayang dong, menghadapi prospek bahwa ruang komputer mungkin jadi rusuh seakan ditabrak angin tornado, dari pagi saya udah wanti-wanti kepada sang wali kelas.

Saya belum pernah loh masuk kelas 1C (maksudnya ngajar), jadi masih belum tau sela-selanya. Ibu kondisikan dulu, ya, pleasee…. (memohon)

Tenang aja, kata Bu Firda. Saya nasihatin pajang lebar dulu sebelum masuk TIK.

Anak-anak 1C masuk ruang komputer satu-satu. Duh, sholeh banget, deh! Datang ketuk pintu, mengucap salam, cium tangan, lalu duduk tenang diatas karpet. Dua puluh anak jadi dua puluh kali saya menjawab salam dan berseru silahkan masuk, Nak. Liat muka-muka manis imut-imut yang tenang menatap penasaran ini memang menghanyutkan, hihi… Tapi saya udah belajar untuk tidak percaya masa tenang sebelum badai datang ini. Kalo denger kisah-kisahnya para guru yang mengajar kelas 1C.

Saat saya mengumumkan bahwa kali ini kita akan menonton film, anak-anak kompakan melonjak dan berseru hore. Film saya mulai, dan semua anak duduk tenang menonton.

Beneran, nih? Tenang? Cihuy, saya bisa duduk di meja guru dong ya dan seru sendirian browsing, hihi…

Tentu saja gak. Selain gak bisa, tentu gak senonoh juga, lah, ya.. Karena jangankan browsing, HP aja mati kalo masuk kelas. Yang punya kerabat guru mungkin tau banget dah bahwa seorang guru gak bakalan bisa dihubungin selama yang bersangkutan ada kelas.

Baru aja 2 menit, udah rese semuanya. Beberapa anak lari ke meja guru dan langsung aja mengobrak-abrik rak tempat koleksi film kami. Duileeeh..

Ini mau apa?

Filmnya gak seru! Gak enak! Udah pernah!

Iyaaaa, udah pernah..!!!

Iya niiiiih.. Ini kan udah pernah, tau!

Sekejap, saya kebingungan. Dan mengecek lagi. Gak, ini memang film yang disiapkan oleh Bu Eni. Judulnya, serinya, volumenya. Memang yang ini yang diperuntukkan untuk kelas 1C.

Sedang saya kebingungan begitu, tau-tau beberapa anak langsung aja slonong boy mengeluarkan film yang sedang di setel dan menggantinya dengan film Wall-E.

Ya ampun, beneran emang kalo menghadapi kelas 1C harus jadi The Flash bertangan banyak yang bisa melar sampai panjang.

Tapi saya punya senjata super yaitu remote control, heheh… Langsung saya matikan film-nya. Anak-anak tereak semuanya protes.

Wall-E ajaaaaaaa!!! Wall-E ajaaaaa!!!

Kita kan belum pernah nonton Wall-E!!

Lah, kalo belum pernah kok tau film itu?

Di rumah pernah tapi belum pernah nonton di sekolah.

Aku belum pernah! Aku belum..

Begini, kata Bu Eni film untuk kelas 1C film aku anak jenius volume xx.

Ah, itu udah pernah.

Bu Eni lupa kali, Buuuu….

Iya, iyaaaaaaaaaa!!!

Udaaaah, Wall-E ajaaaaa!!!

Oh, sudah pernah, ya?

Iyaaaa….

Sungguh sudah pernah?

Iyaaa, beneran, deh!

Sanggup mengambil resiko nanti kalau ibu tanya Bu Eni apakah sudah pernah atau belum?

Sangguuup… Sangguuuup…

Baiklah, kalau begitu, kita mungkin tidak jadi menonton film jika memang sudah pernah.

Yeeeeeyyyyy!

Sorakannya itu meni menggetarkan ruangan, bok…. Dengan tangan terancung keatas.

Yesss!!! Yesss!!!

Wall-E.. Wall-E… Wall-E!!!

Baiklah, karena semuanya bilang sudah pernah, ibu sih senang aja. Berarti tugas ibu terlampaui tanpa kendala. Kaliannya udah pernah nonton, berarti udah tau, doong. Ya kan? Udah ngerti kan isinya apa?

Udaaaah….

Kali ini sudah tidak begitu kompak lagi karena beberapa anak nampaknya sudah paham arah bicara saya ini mau kemana.

Kalau sudah, berarti kita bisa melakukan kegiatan lanjutan. Sekarang, ada tiga pilihan. Kalian mau menonton filmnya sekali lagi, dengan tertib, tanpa protes, tanpa tidak sopan mengobrak-abrik barang-barang gak izin dulu? Atau kalian mau mengerjakan soal yang berkaitan dengan film tersebut? Gak banyak kok, kebetulan ini soalnya sudah disiapkan oleh Bu Eni hanya 20 soal tapi soalnya didikte, yah. Atau pilihan yang ketiga adalah kalian menulis sepanjang sepuluh baris yang menceritakan kembali tentang film tersebut?

Anak-anak 1C bengong.

Maka, saya pasang tampang manis senyum dan bertanya.

Kalian mau pilih yang mana?

Nonton Wall-E..

Pilihannya cuma tiga itu.

Nonton yang lain deh. How to Train Your Dragon aja… (mukanya ituuuu… Duh, gak tahan deh..)

Iya.. Iyaa… Itu aja. (Sekarang semuanya menatap dengan pandangan memohon.)

Pilihannya cuma tiga itu aja, Nak… Maaf, yaa… Kalian cuma bisa memilih salah satu dari 3 pilihan itu.

…….

Diam.. diam…

Yaudah deh, nonton lagi aja…

Iya, nonton lagi aja…

Jadi pilih nonton lagi, nih?

Iyaaaa…. Bu Guru..

Tapi syaratnya harus tertib, yah…

Iya Bu Guru…

Hihihi…

Iklan

2 pemikiran pada “Kelas Satu Hari Ini: Mau Pilih Mana?

  1. bravo Bu Al!..
    kira-kira kalo nanti Ibu nge-handle anak sendiri gimana yak?
    menghadapi anak orang aja hampir ‘nyerah’
    hehe
    iya tuh kalo nonton Nanny 911, suka guemeeesss!..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s