Percakapan Ambil Rapot: Saya Jangan Pelit Nilai

Sejak awal mengajar, pertanyaan bahwa saya sebenernya bekerja untuk siapa tidak terlintas. Saya hanyalah menjalani hari demi hari mencoba menyatukan tiga hal yang menurut saya penting. Pertama, bagaimana caranya agar anak-anak saya bisa menguasai pelajaran. Bukan hanya sekedar tahu, tapi memahami itu. Dan tentunya hasil akhir yang didapatkan bahwa mereka semua bisa mendapatkan nilai yang baik dan naik kelas. Kedua, bagaimana agar anak-anak yang dipasrahkan untuk saya asuh ini bisa berkembang menjadi lebih baik, dan nyaman dibawah asuhan saya. Ketiga, bagaimana agar dua hal tersebut bisa berjalan dengan baik tanpa merusak kehidupan pribadi saya. Menyeimbangkan semua itu kadang rada pelik juga. Pada kelas lima ini, saya mulai merasakan adanya tekanan dari kepentingan.

Dulu, pada kelas kecil, seluruh perhatian tumpah pada perkembangan kepribadian anak. Salah satu faktornya tentu saja karena saya bekerja di sebuah sekolah dengan strata pertengahan secara ekonomi. Anak-anak saya bukan berasal dari keluarga sangat mampu, namun juga bukan dari keluarga tidak mampu. Beberapa berjuang jungkir balik demi memberi kesempatan sang buah hati pada pilihan yang dirasa lebih baik. Atau paling tidak, mendapat perhatian jauh lebih banyak daripada harus dijejalkan pada kelas-kelas dengan diatas 40 siswa di dalamnya. Maka tak pelak, para orangtua yang tergabung adalah orang-orang yang telah mengerti bahwa angka diatas kertas, bukanlah hasil satu-satunya alasan anak sekolah. Maka ketika ambil rapot, angka adalah selalu menjadi nomor ke sekian yang ditanyakan. Yah, kecuali memang si anak benar-benar tertinggal dalam hal pelajaran barulah itu jadi pembicaraan serius.

Di kelas lima, dimulai masa-masa ketika fokus bergeser kepada nilai. Gak heran tentunya dan wajar juga kalau mau dilihat dari sisi manapun. Saya ini kan guru sekolah, bukan guru gaji, maka ujung-ujungnya pertanyaan adalah apakah anak-anak saya dapat menguasai pelajarannya dengan baik. Tapi terkadang saya merasa jadi kurang siap sendiri.

Bukan, bukan karena target nilai tidak tercapai. Sebaliknya malahan, untuk kuartal pertama semester ini, diatas kertas, anak-anak saya melonjak secara signifikan. Kerja keras loh kita semua dan saya senang karena anak-anak saya bisa diajak kerjasama dengan baik.

Beberapa OTW hepi-hepi aja liat nilai anak-anaknya melonjak. Ya iyalaah, siapa yang gak hepi? Beberapa OTW menyatakan senang karena semangat beajar anak-anak nampaknya bertambah berkali lipat. Saya mengembalikan apakah anak-anak tertekan dengan itu? Saya bisa PD dengan menyatakan bahwa anak-anak pun tidak tertekan. Okeh, sekarang priorotasnya memang terbalik. Pertama nilai dulu, baru kemudian mengenai perkembangan prilaku. Nyaris semuanya begitu kecuali Bundanya Salsa yang pertama kali kalimatnya ketika menghadapi saya adalah:

‘Yang saya perhatikan Bu Alifia, dan saya senang sekali karena, adalah Salsa sekarang memiliki antusisme dan dorongan untuk maju dari dalam dirinya sendiri. Dia tidak peduli lagi apa kata temannya atau apakah saya menyuruhnya atau tidak. Dia melakukannya atas kesadaran tan tanggungjawabnya sendiri. Bahwa dia butuh ini, dia ingin melakukannya, dan dia tahu bahwa itu baik untuknya dan untuk masa depannya. Saya senang dia merasa senang melakukannya. Dan saya kira itu adalah progress yang berarti sepanjang 3 bulan ini.’

Speechless.

Itu speeshless yang pertama. Speechles yang kedua tidak kasus yang sama. Malah bisa dikatakan berkebalikan. Saat beberapa OTW yang mulai rada protes enapa utuk mendapat nilai diatas 70 saja kita musti kerja keras. Karena menurutnya, saya terlampau idealis. Selalu memberi soal yang susah untuk anak-anak. Nilai bagus kan gampang, kasih aja soal yang mudah, anak-anak nantinya dapat nilai yang bagus.

‘Saya itu udah liat-liat soal dari sekolah di sekitar kita ini yang ibu bikin itu paling susah. Buat apa, sih, Bu? Bikin soal susah-susah. Sekarang itu SMP Negeri yang bagus minta fotokopi rapot dari kelas 4. Kan rugi kita kalau nilainya pada biasa-biasa aja, Bu gara-gara soalnya susah gurunya pelit nilai.’

Haaaahhh… Kembalikan saya ke kelas kecil aja doooong, please!!!

Iklan

2 pemikiran pada “Percakapan Ambil Rapot: Saya Jangan Pelit Nilai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s