Anak Baru Namanya Itik

Senin adalah hari tenang untuk kakak-kakak kelas 6, tapi buat adik-adik kelas 1 sampai dengan kelas 5, itu adalah hari kejepit banget! Bayangin aja, sabtu minggu libur, senin masuk setengah hari hanya sampai Dzuhur, lalu libur lagi sampai senin depannya.

Eh, salah! Bukan libur ding, tapi sekolah di rumah. Homeschooling.

Beda dong, yaa.. Kalo liburan kan gak masuk dengan tanpa kegiatan apapun, kalo sekolah di rumah artinya mereka tetap melaksanakan kegiatan belajar. Bukan di fasilitasi oleh guru sekolah, tapi walimurid masing-masing. Nah, OTW rada bingung tuh pertamanya. Tapi tenang, kita sudah siapkan kok kegiatannya yaitu serangkaian tugas yang tentu saja disesuaikan tingkat kesulitannya dengan kelas masing-masing. Jadi praktisnya, OTW hanya tinggal mengawasi saja.

Anak-anak tentu saja bete. Liburan kok banyak kerjaan gini!

Lah, daripada gak ada kerjaan, hayooo….

Iya, siiiih!! Kata anak-anak.

Anak kelas lima justru kesenengan. Sebab hampir semua tugasnya mengharuskan mereka nyari-nyari informasi dulu. Tentu saja senang sebab itu artinya kan ada alasan untuk berselancar di dunia maya, heheh. Ya, ya.. Walaupun hampir seluruh anak saya memiliki akses internet di rumah, bukan berarti mereka bebas OL kapan saja mereka mau. Dan untuk kelas lima, saya udah main mata tuh sama para OTW. Modem baru dikeluarkan saat mereka bisa menunjukkan kepada OTW-nya selembar kertas berisi catatan tugas lengkap dengan tanda tangan dari gurunya AKA saya. Teteup!!

Hari Senin, dari pagi saya udah mendapat kejutan yang lucu dan menyenangkan.

Seperti biasa, saya sudah di kelas sebelum  bel masuk berdering. Baris di depan kelas, anak-anak saya masuk satu persatu. Biasanya, mereka masuk sambil mengucap salam kepada saya, tapi kali ini ditambah senyum-senyum simpul penuh misteri. Saya mengernyit, tapi diam saja.

Mereka duduk dengan tenang.

Biasanya kelas akan dimulai dengan doa dipimpin oleh saya, tapi kali ini, saya sudah dipotong duluan. Oleh Salsa sang ketua kelas. Dia berteriak.

BERDIRI!

Semuanya berdiri.

Saya bengong sepersekian detik. Jadi ingat tahun kemarin. Kelas lima tahun kemarin punya kebiasaan saat saya masuk, semuanya berdiri.Lalu kompakan berteriak:

Assalamualaikum, Bu..

Sebelum habis kilasan tahun kemarin yang membuat saya tersenyum, tau-tau anak-anak saya sudah berteriak. Sesuatu yang membuat saya ngakak.

SELAMAT PAGI CEKGU

Huhahahahaha….

Bener-bener mirip sama serial favorit kita semua Ipin dan Upin.

Hehehe.. Kalian ngapain?

Iseng aja, Bu, kata mereka.

Permulaan hari yang mengukir senyuman bukankah?

Lalu, beberapa saat kemudia saat sedang absen pagi, anak-anak dengan antusias berkata:

Ibu, ibu… Kita kan punya temen baru.

Iya, Bu. Ada anak baru disini.

Saya mengernyit. Masa sih? Ibu gak tau.

Itu, Buu…

Anak-anak menunjuk ke pintu lemari guru.

Mana? Duuh, jangan bikin takut ibu, deh.. Gak ada siapa-siapa..

Ituuuu, Buuuu…. Di absen kantong.

Itik, Buuuuuu….

Saya melongo ke pintu lemari guru yang kebetulan depan pintunya ditempeli absen kantung. Nah, apa itu absent kantong. Hanya karton dengan kantong-kantong kecil tempat kartu absent anak kelas lima. Kartu biasa dari karton biasa yang digunting dan ditempeli foto lalu dilaminaing. Tiap kartu ditempeli foto seseorang sedang nyengir lebar bolak balik tulisan hadir dan absen. Jadi anak-anak tinggal bolak-balik kartu itu tiap masuk atau pulang sekolah.

Ada kartu tambahan, entah dari mana. Bergambar itik bertuliskan ITIK besar-besar. Hmm, sepertinya itu kartu-kartu mainannya anak-anak kelas 1 SD.

Murid baru, Buuu… Kata anak-anak.

Saya kembali nyengir lebar. Oh, ya.. Ibu lupa memberi tahu. Memang ada anak baru di kelas ini. Namanya Muhammad Itik Nurhasanah. Ayo silahkan sapa teman baru kalian.

Saya pura-pura memperkenalkan seseorang di depan kelas, dan anak-anak semangat sapa-sapa tokoh kasat mata tersebut.

Hai Itik, kamu cewe apa cowo, sih? Kok namanya begitu?

Itik kamu tadinya sekolah dimana?

Itik kamu suka main apa?

Itik kamu jangan malu, kita baik semua kok. Gak ada yang nakal…

Saya jadi geli sendiri. Hahahah…. Soalnya ini kan kelas lima. Hal-hal semacam ini sudah langka, loh!

Cuma masalahnya, kata saya. Ibu lupa meminta bangku tambahan untuk teman baru kita.

’Gak apa-apa, Bu. Itik bisa duduk sama saya…’ kata Rani. Dia lalu belagak menggeser duduknya, dan seakan mempersilahkan seorang duduk di sebelahnya.

Kamu nyaman?

Hihihi….

Dan sampai akhir hari, anak-anak masih terus bermain-main seakan bahwa memang ada yang namanya Itik di dalam kelas.

Iklan

7 pemikiran pada “Anak Baru Namanya Itik

  1. Huahahaha… benar-benar kreatif guru dan muridnya nih… suka sekali saya membacanya. Eh, lain kali jangan sampai ada permainan “guru baru bernama vizon” ya… bisa gawat nanti..! 😀

    • Wiiih, ide bagus Uda Ustadz… Nanti senin depan kita main guru baru di kelas namanya Pak Hardi. Ya, ya, yaaaaa…… :p

  2. hmm, hampir sependapat sm mizstync ..
    yaa..kalo sandiwara punya teman imajiner ini cm sehari gpp lah yaa..
    idenya siapa sih ini? unik dan lucuu bgt..hahaa..
    biasanya yg aku tau, bermain sm teman imajiner itu sifatnya individual, jd cm seorang anak dgn teman imajinernya,,tp kali ini kejadiannya sekelas?! (plus ibu gurunya =p)..ini sih namanya sandiwara aja gituu..hehee

    *bu al,,,aku ngakak bgt nih ngeliat gambar itiknya goyang2…ahahahahaha*

    • Ide siapa, gak tau tuh… Keluar gitu aja. Da kebayang juga kalo berlanjut besoknya, saya pasti udah mikir ini ada masalah, heheh…

      Lucuyaa Itik ituuu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s