Belajar Menghadapi UASBN

Kelas 5 mulai semester ini, sudah tidak lagi mengikuti pelajaran Menari. Waktunya digunakan untuk belajar menghadapi UASBN. Nah, terlalu cepat rasanya. Tapi tulah penggambaran yang paling mudah mengenai betapa khawatirnya orangtua menghadapai UASBN. Karena semuanya kompakan meminta, akhirnya sekolah meluluskan. Saya masih berpendapat, terlalu cepat. Kasihan anak-anak baru kelas 5 sudah dibuat setres dengan UASBN.

Kemudian saya berubah pendapat.

Nampaknya memang perlu. Bukan pelajarannya justru menurut saya, tapi lebih ada tata tertib mengerjakannya. Akhir-akhir ini, saya malah mulai khawatir sekali.

Anak-anak saya, tidak memiliki kebiasaan menyontek. Bisa dikatakan, yang namanya menyontek di sekolah kami ini adalah hal yang nyaris tidak terjadi. Walaupun ada, itu jarang sekali terjadi. Saya sendiri agak terpesona dengan kenyataan ini. Mungkin karena memang sudah jarang, jadi kemungkinan anak belajar menyontek—yang biasanya karena terbawa-bawa kawan—itu otomatis juga jadi jarang. Orang contohnya juga tidak ada. Mungkin karena sejak kelas-kelas kecil, guru sering menceritakan bahwa yang namanya nyontek itu berbahaya.

Loh, kenapa berbahaya?

Sebab, guru-guru menceritakan, bahwa kalau ulangan itu sebenarnya guru-guru ingin tahu sampai sejauh mana anak-anak sudah menguasai materi. Jadi, kalau siswa menyontek, dan karena itu hasilnya bagus, guru jadi menyangka anak itu sudah menguasai bahan. Padahal kan tidak. Tentu itu berbahaya bagaimana nanti saat Ulum dan tidak dapat menyontek, siswa itu malah tidak bisa karena tidak mengerti. Lalu tidak naik kelas.

Anak-anak selalu manggut-manggut mengerti. Jadi, saat ulangan, yaaa.. kalau tidak bisa ya mereka tinggal saja. Kadang ada yang menulis catatan: saya masih belum ngerti yang ini, bu guru…

Tapi masalahnya adalah:

Satu, mengerjakan dengan segala gaya.

Anak-anak saya tidak terbiasa mengerjakan soal dengan duduk rapih dalam waktu yang lama. Kami biasanya membebaskan anak-anak mengerjakan dengan terserah mereka sendiri mau pakai gaya apa. Gaya duduk manis, gaya jongkok dengan mengerjakan diatas bangku, berdiri menghadap dinding, tengkurap di lantai….terserah. Asal tidak mengganggu anak lain, dan tidak berperilaku yang kurang pantas.

Dua, berisik.

Sebenarnya hampir sama dengan yang pertama, anak-anak saat mengerjakan soal bisa dan sering sambil nyanyi-nyanyi kecil, ketawa-tawa sendiri, dan kadang untuk beberapa anak, sambil bertegur sapa dengan anak lain saling bercerita film.

Ketiga, tukang kritik.

Mereka itu kalau soal salah cetak atau tanda baca salah, protes. Kenapa ini hurufnya kecil? Kan harusnya huruf kapital. Yang itu kurang huruf satu, masa ‘makan’ ditulis ‘maka’? Ada soal begini: Diantara hewan reptil dibawah ini, mana yang merupakan hewan khas Indonesia. A. Katak B. Komodo C. Cicak D. Ular Kobra

‘Loh, kok, ada pilihan Katak? Katak kan amphibi, bukan reptil. Gimana sih pak guru? Ini soalnya salah ya?’

Keempat: Sok Akrab Sama Guru

Mungkin karena mereka terbiasa guru-gurunya akrab dengan murid dan tidak ada yang menakutkan, walaupun Ulum, tetap saja itu sambil mengerjakan ngajakin guru yang ngobrol. Gak perduli itu guru memasang muka serem-tegang-jangan-ajak-ngobrol-saya.

‘Pak, kemaren nonton berita gak Pak? Itu tentang anak sekolah mukulin temennya?’

‘Lagi ulangan, kerjakan dulu soalnya..’

‘Ibu, kok hari ini pake bajunya gak matching sih?’

Saya diam saja, menempelkan telunjuk di depan bibir. Membuka buku…membaca. Mencoba agar tidak terpancing menjawab obrolan.

‘Lagi baca buku apa Bu?’

‘Seru ya Bu, bukunya?’

‘Lagi baca buku apa sih Bu?’

‘Ibu kan lagi ngajar, gak boleh baca novel loh Bu.. Masa sih, guru baca novel di kelas.’

Saya memberdirikan buku sehingga judulnya bisa terbaca anak-anak.

‘Habis Gelap Terbitlah Terang. Ih, itu kan bukunya RA Kartini. Boleh pinjem kan Bu? Rame gak Bu?’

Hallah-hallah…

Nah..nah..nah.., bagaimana itu jika mengerjakan UASBN? Gurunya kan dari luar. Maukah mereka mengerti anak-anak kondisinya seperti itu? Emang sih, setiap Ulum kami berusaha untuk mengkondisikan jalannya ujian selayaknya ujian beneran: musti duduk di bangku dengan nomor urut. Tapi tetep saja, anak-anaknya tidak bisa serapih itu. Mereka duduk 10 menit, lalu mulai jalan-jalan, celingak celinguk ngajakin ngobrol, tertawa, nyanyi-nyanyi sendirian, gambar-gambar sambil mengkhayal. Diperingati, lalu begitu lagi.

Jadi dengan streng, sekarang saya membagikan soal dengan seperangkat aturan:

  1. Waktunya 2 jam. Tidak boleh dikumpulkan sampai waktu habis.
  2. Tidak bicara dengan rekan ataupun guru, kecuali jika ada yang ingin ditanyakan yang berkenaan dengan soal.
  3. Kertas jawaban harus bersih dan rapih. Tidak lecek. Tidak boleh gambar-gambar. Tidak ada kertas lain selain lembar soal dan jawaban.

Nah, baru tiga peraturan itu saja sudah siksaan untuk anak-anak saya. Setelah 30 menit, resah semuanya. Garuk-garuk kepala, meringis-ringis, menggigit-gigit pinggiran meja. Tidak sabar melihat ke arah jam, lalu mendesah. 20 menit kemudian, akhirnya, semua membuat pemberontakan terhadap saya dengan cara ramai-ramai mendadak ngobrol.

Haduh..haduh…

Hey, kalian! Ini kalau UASBN beneran, nanti kalian semua bisa-bisa dilaporkan nyontek loh…

Lalu, celetukan Uni membuat saya terhenyak. Dia tertawa kecil.

‘Ah, ibu mah terlalu serius sih. Ini kan midtest bu, bukan UASBN. Kalo UASBN nanti, kita bisa kok kayak tertib..’

‘Iya, Bu. Percaya deh sama kita. Kita kan gak mau bikin malu sekolah.’

Tertegun, lalu tertawa..

Iya, Ibu terlalu khawatir yaa…

Tulisan diatas tersebut saya tulis pada bulan maret tahun 2009, namun hanya tersimpan di sebuah sudut laptop dan terlupakan. Baru saja saya temukan kembali tanpa sengaja.

Well, gak terasa UASBN yang pertama kali kami hadapi ini sudah terlampaui. Dan, memang benar, saat itu saya terlalu khawatir. Karena kenyataannya, anak-anak saya tertib sekali mengikutinya. Bahkan, hasil ngobrol dengan Ibu Pengawas tadi, beliau mengaku sedikit kaget. Tahun ini, kelas ini, adalah kelas paling teratur dan tertib sepanjang beliau mengawas UASBN selama ini. Kedisiplinannya jempolan, Bu, katanya.

Saya nyengir.

Iklan

Satu pemikiran pada “Belajar Menghadapi UASBN

  1. Ping balik: Tweets that mention Belajar Menghadapi UASBN « Teacher's Notebook -- Topsy.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s