Jadi Anak Yatim Dulu

Postingan ini terinspirasi dari postingannya Om NH yang ini. Om-om yang satu ini tulisannya pendek, sederhana, tapi sering menginspirasi orang buat nulis sesuatu.

Postingan yang pendek itu menggelitik hati. Pertama bacanya, sedih, euy! Yaa, sebagai guru swasta, ini yang sering ada di benak kami. Saya dan rekan-rekan. Mengingat bahwa kita semua berusaha memberikan yang lebih kepada anak didik kita tapi, bagaimana dengan anak kita sendiri? Well, yakin aja, deh! Kalo diitung secara logika, kayaknya untuk bayar uang bayaran perbulan aja masih garuk-garuk kepala. Apalagi kalo ngeliat dari uang muka yang rasanya gak terjangkau banget!

Tapi, yah, orang bilang dalam hidup segala yang kalkulator merk apapun ngitung gak logis bisa tau-tau jadi logis. Gak taulah gimana caranya. Paling tidak, saya sudah banyak mendengar dan melihat kisah nyata di sekitar saya.

Lalu, saya jadi teringat suatu kisah yang pernah diceritakan oleh ibu saya. Ini terjadi saat saya masih berada di asrama. Kejadiannya di rumah, maka saya gak menemuinya. Hanya kisah sebagai kenangan.

Hari itu, ayah saya datang membawa banyak barang. Bukan untuk kami, tapi ini berkaitan dengan pekerjaannya. Karena untuk alasan praktis saja, ayah menitipkannya di rumah kami. Tapi itu biasa terjadi saat itu. Kadang bungkusan itu tidak hanya diletakkan, tapi juga dibuka. Kami anggota keluarganya akan membantu membungkus lagi berdasarkan petunjuk ayah.

Kali itu, isi bungkusan yang memenuhi ruang tengah rumah adalah tas sekolah, seragam sekolah, sepatu, dan peralatan belajar. Ibu dan adik-adik saya membantu membongkar, lalu mengemas lagi, untuk selanjutnyaa akan disalurkan ke beberapa lembaga sosial atau langsung pada orang-orang yang berhak untuk menerimanya. Itulah salah satu bagian dari pekerjaan ayah saya.

Adik saya, tertarik dengan tas sekolah itu. Menurut adik saya, tas itu keren banget! Lalu sebagaimana seorang anak kepada orangtuanya, dia meminta. Ayah saya tidak memberikan. Ini untuk anak yatim, kata ayah. Dan begitulah ayah saya, orangnya gak banyak bicara. Sedikit, tapi tanpa tedeng aling-aling. Padat singkat jelas.

Tidak.

Adik saya memohon, merengek, menangis, merajuk, dan ngambek. Bilang bahwa ayah gak sayang sama dia.

Ayah saya jawab tidak. Itu bukan untukmu. Itu untuk anak yatim.

Ibu saya membujuk adik. Bilang bahwa dia punya tas banyak. Lebih bagus dari ini. Ini kan kualitasnya gak jelas.

Tapi bagi adik saya, tas itu keren sekali! Dan dia pengen itu.

Ngambek!!!!

Ibu saya mulai merayu dayu ayah. Ayolah, tuker aja tasnya dengan yang lebih bagus. Anak yang dapet pasti seneng, kok! Orang dituker yang lebih bagus.

Tapi ayah saya adalah salah satu orang paling keras yang saya tahu. Jika beliau bilang tidak, maka tidak itu adalah untuk sekarang, besok, tahun depan, dan selamanya. Beliau juga orang paling konsisten yang saya tahu. Begitu aturan di rumah beliau buat, maka aturan itu akan bertahan sungguh lama. Begitu lamanya sehingga bertahun-tahun setelah beliau meninggal dunia, aturannya tetap hidup di rumah. Misalnya, TV tidak nyala sejak maghrib sampai isya. Misalnya lagi, seluruh anggota keluarga selalu shalat maghrib berjama’ah di mushalla. Sungguhpun ibu saya gak pernah menyuruh hal yang sama, namun aturan itu bertahan jauh lama walaupun sang pembuat aturannya sudah tidak ada lagi. Menjejakkan kebiasaan.

Sampai sekarang saya otomatis aja gitu kalo gak nemu tempat sampah, maka sampah akan saya pegang sampai ketemu tempatnya. Walaupun semua orang di sekitar saya membuang dengan enak udel di jalanan.

Ayah saya menggeleng, tidak! Ini hak anak yatim.

HUH! Dengus ibu saya. Sebagai seorang ibu, kadang jengkel pula menghadapi krisis rumah tangga kecil-kecilan kayak gini. Anak yang ngamuk karena keinginannya tak terpenuhi, sementara yang satu bener-bener deh gak mau sedikiiiiit aja mingser dari keputusannya.

Terserah! Kata ibu. Itu anakmu gimana? Kamu ajalah yang nanganin dia!

Ayah saya pergi ke dapur, lalu duduk di sebelah adik saya.

Kamu mau tas itu? Tanya ayah.

Adik saya mengangguk.

Kalau begitu, ini, pegang pisau ini. Kamu bunuh ayah, baru nanti kamu bisa dapetin tas itu.

Adik saya bengong.

Tas itu untuk anak yatim, kata ayah dengan lirih. Kalau kamu mau, bisa, tapi kamu harus jadi anak yatim dulu.

Iklan

4 pemikiran pada “Jadi Anak Yatim Dulu

  1. Ini juga postingan yang menyentuh Bu Guru Alifia …

    Memang pertamanya terasa berat sekali …
    namun saya yakin akan berakhir manis …
    ada banyak muatan pelajaran disana …

    dan itu nilainya jaaauuhhh lebih keren dari tas ransel tersebut …

    Salam saya

    (senang rasanya bisa kut menginspirasi tulisan bagus ini )

  2. Ping balik: Tweets that mention Jadi Anak Yatim Dulu « Teacher's Notebook -- Topsy.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s