POKOKNYA

Dicky adalah anak yang bertipe pokoknya-gua-bisa-yang-ini-kalo-itu-gak-bisa-yaudah-ngapain-gua-pikirin. Bagi Dicky hal-hal mengenai estetika seperti menulis bagus dan berprakarya adalah bukan wilayahnya. Gak penting sama sekali. Maka dia tidak mau berusaha untuk melakukannya lebih baik. Sungguh, walaupun anak ini cemerlang dalam menghafal fakta dan cukup luas untuk ukuran usianya, tapi saya benar-benar miris melihat tulisannya yang setaraf dengan adik-adik kelas 3 SD. Bahkan, kalau dibandingkan dengan beberapa anak perempuan kelas 3 SD, tulisannya lebih buruk. Tambah khawatir saat saya mulai menemukan jawaban aneh-aneh yang dia tuliskan di lembar ulangan pada pertanyaan isian misalnya:

Sebutkan faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya Kogres Pemuda!

Jawaban Dicky: Banyak.

Astaghfirullah!!

Saya gak akan istighfar jika saya tahu bahwa Dicky gak tau jawabannya. Tapi saya tahu benar, Dicky bukan tidak tahu, tapi malas menulis. Dia tahu bahwa dia tidak bisa dan tidak suka menulis, maka dia tidak mau berusaha untuk itu. Dan bayangkan sendiri sajalah, jika disuruh nyebutin aja jawabannya begitu, bagaimana jika dia harus ‘menjelaskan’, ‘menyimpulkan’, ‘membandingkan’, dan seterusnya. Betapa kacau balaunya dan betapa geregetannya saya kepadanya.

Dia anak yang cerdas, haus pengetahuan, senang membaca, dan banyak tahu.

Saya merasa ini salah satu kegagalan saya juga. Saya sudah melihat masalah ini ketika dia kelas dua SD, namun saat itu ( 3 tahun yang lalu) saya selalu menepikan pelajaran menulis. Bukan menulis kreatif yang saya tepikan, tapi menulis dengan bagus. Dulu waktu kita kecil, ingat kan bahwa kita disuruh menulis berlembar-lembar sampai sakit tangan. Ah, hal itu tidak pernah saya anggap penting karena toh, sudah ada computer ini. Memangnya apa pentingnya si tulisan tangan? Maka saya biarkan saja anak-anak menulis besar-besar pakai spidol warna-warni atau bagaimanalah!

Yang penting toh isi tulisannya, pikiran saya saat itu. Nulis itu menyebalkan, bikin sakit tangan, dan saya gak mau hal itu jadi halangan anak-anak untuk menuangkan sebebas-bebasnya apa yang ada dalam pikiran mereka. Menulislah, Nak. Siapa yang peduli dengan indahnya.

Saya salah, saudara.

Menulis bukan hanya masalah bagus atau tidak atau apakah masih berguna di zaman globalisasi ini, namun penuangan pikiran. Saya melihatnya benar-benar pada diri Dicky yang kemudian berkembang kea rah yang memburuk.

Awalnya, dia bisa menaruh dalam kalimat hanya malas menuliskannya. Karena tidak pernah dipaksa untuk menghadapi apa yang ditakutinya ini, maka dia mengalihkan perhatian dengan hal-hal yang lain yang dia anggap lebih gampang. Kemudian, dia semakin bingung merangkai kalimat. Tidak hanya tulisan, kemudian secara lisan pun dia kesulitan. Pertanyaan fakta dapat dia ganyang habis, tapi ketika harus mengungkapkan pendapat, dia melongo bagaikan sayur yang kelamaan digodok.

Ngobrol dengan Dicky kadang seperti mengobrol dengan salah satu tokoh nerd di The Big Bang Theory. Saya suka bingung sendiri apalagi kalau dia mulai mengutip kata-kata para tokoh. Gak yakin apakah yang dikutipnya adalah tokoh penemu, tokoh politik, atau bahkan pelawak. Saya pernah kebingungan saat dia mengutip suatu pendapat yang saya gak punya clue ini siapa dan akhirnya tahu beberapa saat kemudian bahwa dia mengutip Sule dengan nama aslinya beliau ini.

Tapi tentu beda bicara santai dengan bicara yang musti terstruktur rapih. Saat itulah Dicky mendadak seakan jadi orang paling dungu di kelas.

Saya mencoba untuk mengurai ini dari awal semampu saya dengan memberi Dicky PR menulis tiap hari.

Sebenarnya, saya mulai memperbaiki kepada seluruh kelas lima. Pelajaran menulis elok kembali saya berikan secara rutin. Satu minggu sekali, seluruh anak kelas lima saya paksa menulis dua halaman. Hanya untuk beberapa anak, termasuk salah satunya Dicky, saya memberikan tugas setiap hari.

Tidak banyak, hanya 10 baris. Tapi tiap hari. Saya hanya ingin, selama 3 bulan ini, membuat mereka terbiasa menulis. Bukan sesuatu yang kreatif, tapi yang harus dia lakukan. Alias salin sebuah kalimat 10 kali. Anak-anak bilang, inget masa kecil, ya, Bu.. Kemampuan dan ketahanan menulis kelas lima naik secara signifikan. Beberapa anak yang tulisanya paling buruk mulai beranjak baik. Semuanya. Kecuali Dicky.

Bagaimana tidak, PR itu gak pernah dikerjakannya. Sampai bosen dengan alasan dan Dicky gak peduli juga tuh mau seberapa banyak poinnya berkurang atau harus dihukum karena itu. Apapun menurutnya lebih baik daripada menulis.

Permasalahan Dicky pada menulis beratarbelakang sama dengan permasalahannya di pelajaran SBK (Seni Budaya dan Keterampilan). Merasa gak bisa yaudahlah! Di SBK dia lebih parah lagi laporan demi laporan membuat saya melongo karena Dicky ternyata gak pernah ngumpulin tugas-tugas prakaryanya. Termasuk tugas yang merupakan ulangan hariannya.

Sebenernya, saya punya jurus maut mengenai ini yaitu hubungi orangtuanya untuk memaksanya mengerjakan PR dan berprakarya yang tidak saya lakukan. Saya berpikir, ini saatnya di peduli sama dirinya sendirilah. Gak bosan saya berkoar mengingatkan masa sih gak nyampe-nyampe, ya, gak? Tentu gak akan bisa juga kalau terus saya menunggu begitu saja. Waktu yang saya berikan padanya, dan pada diri saya sendiri, adalah saat ambil rapot bayangan.

Dua minggu menjelang saat ambil rapot, saya mulai ketar-ketir. Sementara teman-temannya melonjak naik tanpa bisa dibendung, nilai Dicky merengsek turun. Bagaimana tidak jika dia menuliskan jawaban asal-asalan pada soal-soal uraian yang mendapatkan poin lebih tinggi. Walaupun seluruh soal PG-nya selalu betul semua yang tentu saja rada mengurangi beban juga untuk UASBN yang soalnya PG 100 persen.

Khusus untuk Bahasa Indonesia bener-bener going down. Bukan hanya jawaban seadanya yang sudah memberi poin buruk, pun harus dikurangi dengan struktur kalimat yang acak-acakan, penggunaan huruf kapital gak beres sama sekali, dan estetika tulisan yang gak layak untuk dikatakan sebagai anak kelas 5 SD. Berkali-kali saya kembalikan lembar jawabannya dengan kata-kata seperti ‘betulkan lagi’ atau ‘coba perhatikan kalimatnya’ atau ‘coba deh kamu baca jawabanmu sendiri, kamu bisa ngerti gak?’

Dicky, ibu tau maksud kamu itu, tapi kamu bukan kelas 2 SD lagi, Nak. Kalau kelas 2 ibu benarkan karena ibu tau maksud kamu kesitu. Tapi kalau udah kelas lima, kalimat kamu sampai tidak dengan maksudny,a itu yang berhak mendapatkan nilai.

Di SBK, lebih bikin saya gigit bibir lebih keras. Ini anak benar-benar kosong melompong nilainya baik tugas maupun ulangan harian. Gak ada satupun yang dia kumpulkan. Saya memang meminta Guru SBK untuk tidak mengejar-ngejar Dicky lagi. Biarkan dia yang mengejar gurunya. Itu kepentingannya sendiri. Saya pun sudah memanggil Dicky untuk menemui Guru SBK dengan memberi janji bahwa tidak akan dipersulit. Begitu Dicky menemui Bu Guru SBK, gak akan disalah-salahkan atau apapun itu.

Kenyataannya, sampai 3 hari sebelum ambil rapot bayangan, nilai Dicky tak kunjung ada. Bu SBK menemui saya dan curhat.

’Saya itu, ya, Bu, sampai sudah rame membicarakan tentang perhitungan nilai rapot dan segalanya. Di kelas lima. Panjang lebar saya nasihatin kalo mereka merasa nilainya ada yang di bawah KKM atau ada kesulitan memahami suatu topic, segera temui saya. Minta tugas tambahan atau perbaikan. Jangan sampai saat Ulum nanti, masih gak lengkap nilainya atau tidak mengerti.’

Trus, gimana?

‘Ada 24 anak di kelas lima. Selesai saya berkoar-koar, 23 anak langsung ribut menghadap saya bertanya apa nilainya sudah lengkap atau belum. Ada yang rame tanya-tanya pelajaran. Hanya satu orang, Bu, yang nyante aja gak nongol-nongol. Dicky.’

Ampun, deh! Bener-bener itu Dicky, dari mulai dinasehatin, dimarahin, dihukum, teteup aja nyente, men!

Saya bener-bener harus serius menangani masalah ini.

Dua hari sebelum rapot bayangan, sekali lagi, saya ajak Dicky ngobrol panjang lebar.

Anak ini gak nakal, gak suka membantah. Tapi kadang, jawabannya bikin dongkol bin ngenes.

Kamu tau gak sih kalau nilai SBK mu cuma ada midtest saja? Gak ada sama sekali nilai tugas ataupun ulangan harian, loh!

’Kan Bu Guru udah bilang.’

Iya, karena itu ibu tanya, kamu udah menghadap Bu SBK belum?

’Belom’

Kenapa?

’Lupa.’

Masa lupa tiap hari.

’Abis, males.’ Ini ngomong malesnya bukan dengan muka menantang menyebalkan, namun dengan muka polos apa adanya yang bikin gemes.

Gggrrrrhhh…..

Trus, kamu kenapa kok gak ada nilai SBK sama sekali? Soalnya ibu lihat kamu masuk terus.

’Abis aku gak bawa bahan prakaryanya.’

Kenapa gak bawa?

’Lupa.’

Masa lupa tiap kali. Bu SBK udah tulis di papan pengumuman, ibu udah mengingatkan tiap kali sebelum SBK. Besok bawa ini itu. Ibu tulis di papan tulis sebelum pulang. Ibu ingatkan yang merasa sering lupa, untuk tulis di agenda sekolahnya.

’Ingetnya pagi. Udah di jalan. Yaudah…’

Ya Allah ya Robbi…. Ini kalo jaman saya sekolah dulu, bisa dibentak-bentak sama guru jawaban kayak gini.

Sehabis rapot bayangan, kamu harus mendapatkan nilai SBK. Plus memperbaiki tulisan. Gak ada menghindar-hindar lagi. Pokoknya, kamu harus melakukan itu. Ibu sudah hubungi orangtua kamu dan mereka setuju. Kalau kamu gak bawa bahan SBK, kamu harus membelinya setelah pulang sekolah, dengan uang tabunganmu sendiri. Ibu akan mengantar kamu ke pasar. Dan kamu akan mengerjakannya selepas pulang sekolah. Begitu juga menulis. Kalau gak dikerjakan PR-nya, kamu harus mengerjakan PR itu setelah pulang sekolah di sini. Selama apapun, ibu tunggu untuk kamu menulis 10 kalimat itu, dan untuk mengerjakan tugas SBK itu.

’Berarti saya pulangnya sore banget, dong, Bu.’

Ya kalau kamu gak gerjain PR dan gak bawa bahan SBK.

Sebenernya, saya sudah ketar-ketir juga itu dengan prospek akan pulang sore banget tiap hari demi nungguin si Dicky atau kebayang banget, betapa malesnya nganter ke pasar buat beli bahan SBK. Tapi ternyata, itu hanya terjadi beberapa kali. Setelah bosan pulang kesorean, tuh anak akhirnya mau ngerjain PR-nya di rumah. Seperti yang seharusnya.

Dan bawa bahan SBK juga. Daripada rugi uang tabungannya habis untuk beli bahan sendiri.

Well, saya benar-benar ingin anak-anak saya bisa lebih berjuang dengan kesadarannya sendiri. Tapi nampaknya, terkadang musti harus didorong-dorong dengan paksa juga.

Iklan

5 pemikiran pada “POKOKNYA

  1. kalau dipikir” anak zman skrng kbnyakan kayak gtu karena gak sering nulis pake tangan + males ngebikin tulisan tangan toh dah ada kompter..
    aku s7 ma Abdo-kun ungkin dia clon programer kompter.. 😉

  2. Ping balik: Saya Dipaksa « Belajar dari anak-anak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s