Perempuan Paling Hebat

Hari ini, ibuku ulang tahun. Tidak ada kue, tidak ada pesta. Hanya ucapan dan ciuman di pipi. Seperti biasanya. Seperti kebiasaannya, di keluarga kami.

Saya kira, setiap keluarga punya tradisi masing-masing dalam perayaan. Pada keluargaku, tidak banyak. Sebab saya tumbuh pada rumah yang menyatakan cinta tidak dengan kata-kata yang mesra. Pernyataan cinta ada dalam canda, ledekan, dan obrolan di sela-sela waktu kita semua mengelosor di lantai ruang tengah. Khusus mengenai ulang tahun, saya tidak punya banyak kenangan terhadap itu.

Bagi saya sendiri, ulang tahun dan perayaannya sudah merupakan siksaan. Saya ingat pada usia 4 tahun, saat ulang tahun saya dirayakan, adalah hari terburuk yang saya ingat. Jika nanti saya harus menulis moment terburuk di hidup saya, mungkin hari ulang tahun saya yang ke-4 akan saya tuliskan.

Bagaimana tidak buruk? Saya ingat ketika saya dihadapkan pada cermin untuk didandani. Di beri bedak dan lipstick. Lalu gaun berwarna cokelat itu. Dan beberapa ibu mencium pipi saya.

Jangan salah mengerti, gaun dan lipstik hanyalah pengalaman yang tidak enak. Buruk bagi saya adalah bahwa saya harus menjadi pusat perhatian orang.

Tapi ini bukan ulang tahun saya. Hari ini, ibu saya yang merayakan hari jadinya.

Pertama kali saya memberikan kado untuk ibu dan ayah saya pada hari ulangtahun mereka, adalah saat saya masih SD. Mungkin kelas 2 SD. Dan saya agak kesal dengan kenyataan bahwa ayah dan ibu saya lahir pada tanggal yang sama, bulan yang sama, terpaut 10 tahun usia mereka. Maka saya membuat rencana yang licik. Saya meminta uang kepada ayah, dengan dalih untuk membeli kado ulang tahun ibu. Saya meminta uang ibu, dengan dalih membeli kado ulang tahun ayah. Lalu saya katakan pada keduanya, jangan bilang-bilang.

Saya ingat kado saya untuk ayah saat itu adalah pisau cukur, dan untuk ibu adalah bedak MBK. Beberapa tahun kemudian saya mengingatnya dengan malu. Bodoh sekali saya. Sedangkal itukah daya imajinasi saya waktu itu? Tapi hari-hari ini, saya malah mengingatnya sebagai sesuatu yang manis.

Tentu tidak manis saat saya mengalaminya bahwa saya meletakkan kado tersebut didepan pntu kamar orangtua saya pada tengah malam. Dan ibu saya menciumi pipi saya yang pura-pura tidur.

Memalukan….

Sebagaimana orang lain, ada masanya ketika saya bermusuhan dengan ibu saya. Menganggap beliau adalah RatuYangMahaPengenNgaturSegalanya. Saya kira, sampai beberapa tahun belakangan, saya masih memperlakukan ibu saya sebagai musuh besar saya. Dan kemudian saya menyakiti hati beliau berkali-kali kemudian. Saya masih mengingatnya secara jelas, dan berharap tidak akan melupakannya. Sehingga saya akan selalu merasa berhutang besar, atas maaf yang tidak pernah berbatas yang diberikan beliau kepada saya.

Ibu saya, hanya terpaut 18 tahun dengan saya. Beliau menikah pada usia yang sangat muda. Belum lepas SMA. Maka ijazah terakhirnya adalah SMP. Ketika memasuki peran domestic dalam rumah tangga, beliau meninggalkan masa mudanya untuk kami yang segera datang. Tapi masa indah tenang baginya hanya sekejap, karena ayah saya segera pergi meninggalkan dunia ini. Meninggalkan ibu yang masih begitu muda, dengan anak-anak, dan nyaris tanpa penghasilan. Maka air mata dan bantingan tulang beliaulah yang mengantarkan kami bisa survive, dan berperan. Tidak menjadi makhluk bolong melongo tanpa karya.

Apakah Anda pernah melihat ibu Anda menangis diam-diam karena tidak mampu membeli beras untuk makan anak-anaknya? Saya pernah. Berkali-kali. Sepanjang bertahun-tahun. Apakah Ada pernah melihat ibu Anda makan nasi yang basi berlendir dengan bau yang tidak enak? Itupun saya pernah. Berkali-kali. Dan sebagai remaja, saya hanya mampu tercenung. Ibu meletakkan jari telunjuknya di bibirnya. Jangan bilang siapa-siapa, bisiknya. Jangan bilang yang lain tentang ini. Itu adalah tahun-tahun penuh rintihan, ketika krisis moneter mencekik leher semakin menghempitkan dada. Tapi ibu saya hanya pernah memohon pertolongan ketika jalanan semakin keras dengan kerusuhan dan demonstrasi dimana-mana. Khawatir akan anak-anaknya yang masih berada di jalan.

Saya ingat ketika TV menayangkan kerusuhan yang parah. Saya harus pulang jalan kaki karena tidak ada lagi mobil yang lewat sedangkan sekolah ditutup. Semua kendaraan guru penuh mengantarkan anak-anak etnis tertentu yang sedang teracam nyawanya. Sementara saya, bukan berasal dari etnis tersebut. Maka dianggap relatif aman untuk pulang tanpa pengawalan guru. Jalan kaki kami pulang, diantara seruan marah dan lemparan benda. Sampai di rumah, ibu saya setengah menangis memohon kepada almarhum paman saya untuk menjemputkan adik saya, yang dijawab dengan sedikit kata:

Aduh, capek nih. Males jauh banget.

Ibu saya menangis diam-diam, dan berjanji tidak akan minta pertolongan siapapun lagi.

Bertahun-tahun, dengan gemetar tangan ibu saya merajut masa depan anak-anaknya. Apapun yang terjadi, menolak untuk memupus impian setiap buah hatinya. Tidak peduli betapapun semua orang berkata bahwa anaknya yang pertama lulus SMA bekerja saja, dan betapapun beliau sesungguhnya mengharapkan itu, tidak pernah mengatakannya. Beliau tersenyum, walau bertahun kemudian menyatakan bahwa saat itu, belau tidak tahu harus kemana untuk mencari jalan. Tapi tangannya mengajarkan saya untuk pergi ke kantor kelurahan dan menurus surat-surat, memperlihatkan bagaimana untuk berusaha, mencari pertolongan pada keberlangsungan pendidikannya sendiri. Pada suatu kata bernama beasiswa.

Sampai hari ini, setiap hari, ibu saya masih berjuang demi anak-anaknya. Keadaan tidak terlalu buruk lagi, tapi bukan berarti beliau tidak putar otak. Dalam banyak hal, saya, mungkin usia juga pada akhirnya, membuat semakin mengerti atas apapun yang beliau putuskan. Pada hari-hari ketika kami merasa tidak sepaham.

Ibu saya pernah berkata suatu hari, jika waktu bisa berputar kembali, ibu harap itu gak terjadi. Ibu gak mau waktu berputar kembali. Dan melalui masa sulit itu lagi. Saya sungguh-sungguh ibu, jika waktu dapat berputar kembali, saya ingin menjadi orang yang lebih kuat, lebih dewasa, lebih dapat diandalkan, lebih berjuang di banding sebelumnya. Karena saya adalah anak sulungmu. Semestinyalah saya yang berdiri membantumu. Sehingga segala-galanya akan lebih ringan untuk ibu.

Selamat ulang tahun. Ibu adalah perempuan paling hebat yang saya tahu

Iklan

6 pemikiran pada “Perempuan Paling Hebat

  1. Selamat Ulang Tahun untuk Ibu ya Al.. semoga diberi kesehatan dan kebahagiaan selalu, dan bentar lagi bisa lihat anaknya duduk di pelaminan. Amin.

    Ibu Ultah bareng Bung Karno ya 🙂

    • Amin Bundo… Ibu saya pasti senang didoakan oleh Bundo. Dan tenang aja, dikit lagi kok ibu saya melihat anaknya di pelaminan. Insya Allah bulan November.
      Adik saya akan menikah :p

  2. Saya yakin, perlu seorang ibu seperti ibunya AL untuk menjadikan seorang AL seperti AL yang saya kenal :).
    Salam hangat untuk ibunya AL, semoga senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan untuk beliau. amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s