Kelas Satu Tahun Ini II: Uang Jajan

Kelas 1B bisa dibilang adalah kelas yang paling tidak saya kenal anak-anaknya. Mereka jarang main di luar kelas, dan nampaknya memang tidak terlalu aktif. Senang meneduh di dalam ruangan dengan buku dan crayon. Menurut para guru yang mengajar disana, memang kelas 1B selalu aman terkendali. Pokoknya begitu guru masuk, semuanya duduk manis tenang buka buku siap untuk menerima pelajaran.

Tadi saya masuk kelas 1B. Bukan untuk mengajar, tapi mengasisteni Bu Eni mengawasi ujian TIK di kelas 1 SD. Materi mereka semester dua ini adalah Paint. Maka tugas prakteknya adalah menggambar. Tema yang ditentukan adalah pengalaman pribadi. Ujian ini berlangsung sepanjang dua hari.

Kelas 1A dan 1C seperti biasa, banyak gaya. Apalagi kelas 1C, ugh! Bising minta ampun! Mereka menggambar sambil berceloteh cerita-cerita sendiri. Kelas 1A juga begitu. Tapi gak seaktif anak-anak kelas 1C yang sekali masuk 9 orang aja rasanya kayak 90 orang masuk kelas sama-sama.

Kelas 1B, tenang. Semuanya duduk di PC masing-masing, menggambar. Selesai, dan pergi. Setelah menhadapi dua kelas yang rusuh, maka kelas 1B menjadi oase yang menyenangkan juga, hihi….

Saat mengerjakan, hanya satu anak yang tau-tau berceloteh sendiri. Namanya Faiz. Dan dia mengejutkan kita semua karena ditengah suasana hening kelas 1B, mendadak buka suara.

’Aku heran sama diriku sendiri,’ katanya. ’Kok aku gak bisa ketawa, yah?’

Anak-anak 1B yang lain hanya menengok sebentar, lalu angkat bahu. Kembali mengerjakan tugas mereka. Beberapa anak menempelkan jari di mulut dan menegur:

’Hai Faiz, jangan berisik.’

Saya tentu saja jadinya iseng dan mulai keluar usilnya. Mendekati Faiz dari belakang, dan mengelitiki pinggangnya.

Hayooo…. Hihihi…

Tapi dia gak ketawa. Hanya senyum saja.

Ibu gak percaya Faiz gak bisa ketawa. Pasti Faiz bisa ketawa.

Saya masih terus menggelitiki Faiz yang hanya menanggapi dengan senyum. Dan rasanya tidak terganggu sama sekali.

Ya ampun! Tu anak emang gak ketawa!

Yah, walaupun gak banyak kisah di kelas 1B, bukan berarti gak ada juga. Seperti hari ini, saat Bu Rita, walikelas 1B, bercerita bahwa semua anak kelas 1B datang ke sekolah memakai sweeter. Padahal hari sedang panas sejak pagi.

Apakah semua anak kelas 1B sedang sakit?

Ternyata tidak.

Selidik punya selidik, anak kelas 1B tau-tau kepikiran aja untuk kompakan pakai sweeter hari ini. Entah siapa yang punya ide pada awalnya. Dan mereka benar-benar pakai sweeter itu sejak pagi sampai sore, pada saatnya pulang sekolah.

Pada tengah hari, Bu Rita memita anak-anak membuka sweeter itu. Sebab hari ini panas. Dan anak-anak juga berkeringat semua. Nanti sore saat pulang, boleh pakai lagi. Tapi gak ada yang mau, tuh! Jadinya kita, guru-guru, Cuma geleng-geleng kepala aja melihat anak-anak kelas 1B pada tengah hari yang gerah ber-sweeter ria!

Beberapa saat yang lalu, pun ada kisah dari kelas 1B. Salah satu anak diketahui berjualan di kelas.

Bukan masalah jualannya. Kita gak bisa alergi sama anak sekolah jualan. Mungkin ada alasan di balik itu semua. Salah satunya, ikut serta membantu perekonomian keluarga. Dan sepanjang tidak mengganggu sekolah, saya kira, itu hal yang wajar. Kita pun harus mengerti kondisi di negeri ini. Bahkan mungkin, untuk beberapa keadaan, salut dengan anak yang ak malu berjualan di sekolah, ya, tidak.

Itu secara umum. Nah, bagaimana dengan di sekolah tempat saya bekerja ini? Bagaimana dengan kasus anak jualan di kelas 1B ini?

Setiap sekolah, punya peraturan dan pengaturan yang berbeda-beda. Di tempat saya ini, anak-anak gak jajan. Memang karena tidak ada kantin maupun diperbolehkan penjual penganan masuk ke dalam sekolah. Lalu, bagaimana dengan makanan dan minuman untuk anak-anak?

Pada pukul setengah sepuluh pagi, ada snack time. Ini saatnya anak-anak membuka bekal makanan ringan dari rumah. Kalau anak-anak kelas kecil, ya, isinya jajanan juga. Namun tentu lebih terkendali karena telah disiapkan dari rumah masing-masing. Jadi seperti anak TK saja, bawa tempat kue. Untuk anak-anak kelas besar, saya memperhatikan, snack yang mereka bawa dari rumah lebih berat sedikit. Tidak lagi snack ringan, tapi roti isi, mie, kadang nasi loh! Well, mereka sendiri nampaknya paham seberapa asupan yang mereka butuhkan sendiri. Sedangkan makan siang, sudah disediakan oleh katering sekolah. Jadi yakinlah bahwa tanpa kantin ataupun tukang dagang, kita bisa survive.

Oh, ya.. Air minum juga disediakan dispenser dengan air mineral yang selalu ada di setiap lantai. Jadi gak usah khawatir anak-anak kehausan juga.

Karena tidak ada kantin, maka anak-anak tidak diberi uang jajan untuk sekolah. Uang yang dibawa anak-anak hanyalah uang ongkos mereka-mereka yang naik kendaraan umum dan biasanya diberi orangtuanya ngepas, atau uang untuk infaq dan tabungan. Maka praktis, uang benar-benar tidak dimiliki anak-anak pada kelas-kelas tertentu seperti kelas satu, yang tidak ada yang naik kendaraan umum sendirian ke sekolah.

Suatu hari, Bu Rita menemukan anak-anaknya makan snack yang sama. Lalu ada yang bilang seperti ini:

‘Hei, aku jadi ngutang sama kamu, ya…’

Ngutang? Ngutang apa?

’Anak-anak, kok pada makan cokelat yang sama? Belinya janjian, yah?’ Bu Rita.

‘Gak, Bu. Kita jajan sama Dio.’

‘Maksudnya?’

‘Kan Dio jualan, Bu. Jualan chicki, cokelat, wafer.. Kita beli sama Dio.’

‘Loh, uangnya dari mana?’

’Uang tabungan..’

Ya Allah….

’Siapa aja yang beli sama Dio?’

Hampir semua tunjuk tangan.

’Siapa aja yang beli sama Dio dan memakai uang tabungan?’

Beberapa anak yang tunjuk tangan tadi menurunkan tangannya.

’Kamu gak beli pakai uang tabungan? Jadi, kamu beli pakai uang apa.’

’Aku ngutang dulu…’ kata salah satu anak.

’Kalau aku, pake uang bayaran dulu…’

Astaghfirullah…

Bingung lah itu Bu Rita. Dia lalu ajak bicara Dio.

‘Dio jualan? Apa aja yang Dio jual, Nak…’

‘Jajanan…’ kata Dio. ’Miss Rita mau beli?’

’Dio jualan ini mama tau?’

Dio menggeleng.

’Dio jualan ini untuk apa?’

’Aku pengen punya uang jajan, Bu..’

Setelah Bu Rita ngobrol sama mamanya Dio, maka barulah cerita utuhnya terbuka.

Dio gak pernah diberi uang jajan. Bukan apa-apa, mamanya berpendapat itu lebih baik. Daripada dikasih duit jajannya yang gak terjamin kebersihannya. Maka uang jajan itu diganti dengan langsung dibelikan snack-nya.

Masalahnya, orangtuanya Dio ini kan sibuk kerja. Gak punya waktu seperti mama-mama kita waktu kecil tiap hari bawa kita ke warung untuk beli bekal snack yang dibawa ke sekolah. Snack untuk Dio ini, dibelikan oleh sang mama berbarengan dengan belanja bulanan dan langsung dalam jumlah yang banyak. Memang Dio dibawa saat belanja, dan diperbolehkan memilih snack apa yang dia mau. Tapi kalo sebulan gitu-gitu aja, kebayang juga rasanya, jek!

Sebenernya, Dio sering merasa agak iri dengan teman-temannya yang bawa snack beda-beda tiap hari. Apalagi kalo ada snack yang lagi tren, dia gak bisa ngerasain. Dan anak-anak itu sungguh luarbiasa kadang-kadang. Dio gak menyampaikan keluhannya secara langsung. Dia tahu mamanya gak punya waktu bawa dia ke minimarket tiap hari. Jadi suatu hari, dia ajak bicara sang mama.

’Ma, aku uang jajannya snack yang mama beliin itu, ya?’

Iya..

’Emang harganya berapa, ma?’

Sang mama sungguh gak sadar bahwa anaknya punya rencana yang, menurut saya, brilian. Sungguh cerdik untuk anak seusianya.

Disangka sang mama, ada tugas di sekolah mengenai harga-harga. Entahlah, mungkin matematika atau apa. Jadi sang mama memberi tahu saja.

Potato chip harga satu bungkusnya segini, cokelat segitu, wafer segono, gula-gula kapas segitu, dan seterusnya… Diam-diam, Dio mengingatnya. Lalu di sekolah, dia menjualnya ke teman-temannya. Katanya nanti, uangnya dia bisa belikan jajanan lain di warung dekat rumahnya.

Pas tahu bahwa Dio jualan, dan telah membuat teman-temannya memakai uang tabungan dan uang bayaran untuk itu, sang mama jadi merasa agak bersalah. Dio tidak dihukum tentu saja. Hanya diberi tahu bahwa peraturan di sekolah ini, gak boleh ada yang jualan tanpa izin dahulu pada pihak sekolah. Sang mama juga berkata bahwa gak akan lagi beli makanan dalam jumlah terlalu banyak. Sebab setiap hari, mama akan mengajak Dio untuk ke warung atau minimarket. Itu untuk sementara. Kalau Dio sudah kelas 3 SD nanti, mama janji akan memberi Dio uang saku hingga Dio akan bisa mengaturnya sendiri. Sebab saat itu, memang sudah saatnya.

Iklan

Satu pemikiran pada “Kelas Satu Tahun Ini II: Uang Jajan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s