Gosip Ruang Guru: Pertanyaan Pertanyaan

Tulisan ini, isinya adalah pertanyaan, bukan solusi. Hanya meuliskan apa yang sedang dipikirkan saya saja.

Tadi, kami membaca suatu artikel yang meresahkan kita semua. Bahwa disinyalir, sebanyak 65% anak-anak SD pernah mengakses materi pornografi. Data yang diambil berdasarkan penelitian pada beberapa sekolah dan yang menjadi respondennya adalah anak-anak SD kelas 4, 5, dan 6.

Berdasarkan penelitian tersebut terungkap bahwa akses terhadap pornografi kepada anak-anak SD ini terbesar adalah dari komik, kemudian internet, film, dan gambar. Well, karena ini anak-anak SD, maka yang menjadi pertanyaan adalah, apa sih yang dimaksud pornografi ini bagi anak-anak?

Jawabannya terbanyak adalah adegan yang seharusnya belum dilihat (seperti orang ciuman), gambar aurat terbuka, gambar orang minim berpakaian atau telanjang, dan yang terakhir adalah adegan mesum.

Kami sebagai guru tentu saja resah, walaupun menyadari juga dan melihatnya setiap hari bahwa anak-anak SD jaman sekarang berbeda dengan anak-anak SD jaman kita. Dulu saya mengalami haid pertama kali adalah akhir kelas dua SMP, dan merupakan waktu yang saat itu dianggap wajar. Saya tinggal diasrama saat itu, maka saya tahu pasti, bahwa orang-orang seumur saya, memang baru mengalami haid pertama kali kebanyakan pada kelas dua SMP. Sekarang? Anak-anak kelas 5 sudah mulai haid dan kelas 6 belum kunjung dapat haid, seorang anak saya sudah resah setengah mati. Betapapun walikelas yang diajaknya bicara menyatakan bahwa itu wajar, teteup aja tu anak resah. Bagaimana tidak? Lah wong semua temen yang dia kenal sudah haid, kok, ya..

Kita juga gak memungkiri bahwa, pada masa-masa puber ini, ada keingin tahuan yang besar mengenai seksualitas. Dan terkadang, materi seksual bisa datang tanpa kita memang menginginkan untuk itu.

Pertama kali saya melihat gambar porno adalah saat kelas 3 atau kelas 4 SD. Saat itu saya tidak tahu apa-apa. Materi itu datang kepada saya melalui tangan seorang laki-laki yang tidak saya kenal yang secara kurang ajar mengeksposnya di depan saya. Entah apa maksudnya. Saat itu saya dan beberapa kawan sedang dalam perjalanan pulang sekolah dan laki-laki itu memanggil kami. Dia membawa buku, lalu memperlihatkan kepada kami gambar-gambar dari adegan seks eksplisit. Karena kami cuma anak kecil, ya cuma bengong aja. Jauh hari kemudian, saya baru mengerti apa maksud gambar tersebut. Maka secara tidak sengaja, dalam usia yang sangat muda, saya pun sudah terpapar materi pornografi.

Pada usia SMP, orang mulai menyembunyikan materi pornografi. Tentu dengan berbagai maksud. Paling besar mungkin keingintahuan belaka. Dan saya kira, orantua secara bijak seharusnya bisa menanganinya dengan lebih baik. Sebab terlalu panik atau keras, mungkin malah mengakibatkan dampak yang lebih besar kepada anak-anak.

Saya ingat suatu kali saya membaca tentang suatu kisah yang dituturkan seorang laki-laki saat mengingat masa pubernya. Seperti anak-anak lain, dia mulai meoleksi majalah porno, dan menyembunyikannya di bawah kasur. Suatu kali, dia sadar bahwa koleksinya tidak seperti yang seharusnya. Tetap ada, tapi berganti judul. Seseorang telah menukar koleksi pornonya itu dengan koleksi lain, yang tetep berisi gambar-gambar cewek seksi, hanya sudah berpakaian walau minim. Kemudian koleksinya itu hilang lagi dan berganti dengan majalah cewek seksi, yang berpakaian lebih baik lagi. Terselip juga beberapa majalah kesehatan. Laki-laki itu tidak pernah berani tanya-tanya orang di rumahnya siapa yang menukar majalahnya, juga tidak pernah ada yang mengungkitnya. Bertahun-tahun kemudian, dia benuturkan kisah bahwa dia sungguh berterimakasih kepada orangtuanya, yang telah menghadapi masa-masa pubernya dengan, menurutnya, bijaksana. Tidak memusuhi, namun sekalius mengajari. Memberikan fasilitas ke arah yang lebih baik.

Saya sendiri tidak menganjurkan, atau melarang untuk orang mencontoh kisah diatas. Hanya sekedar kisah saja.

Mengenai kasus yang beredar belakangan ini, saya merasa miris bahwa di TV begitu heboh dan rasanya tidak berhenti. Saya tidak bermaksud acara gosip aja, tapi juga acara-acara dialog dan lain-lain. Bagaimana orang mengatakan hal-hal yang seharusnya, para ahli diajak bicara, namun tau gak, justru mereka juga bikin orang, termasuk anak-anak, tambah pengen tahu.

Hari ini, kelas 6 masuk sekolah. Ini udah limited edition mereka di sekolah tentu saja. Sekarang pun acara mereka hanya ngobrol-ngobrol bersama guru. Maka Bu Lynn menanyakan, apa saja yang mereka lakukan selama libur panjang ini.

Nonton TV, kata mereka.

Berita apa yang lagi hangat?

Ariel… Semuanya berkata.

Bu Lynn iseng Tanya, kalian gak liat kan video itu?

Semuanya diam. Nah loh???

Kemudian, pada perjalanan pulang sekolah, Bu Lynn mengajak saya menepi. Dia ingin bicara. Tentang sesuatu, dari pembicaraan antara dia dan anak-anak yang baginya meresahkan. Ini tentang seorang anak laki-laki di kelas 6.

Bu Lynn bertanya apakah saya punya semacam feeling tertentu tentang anak itu? Saya tidak mengerti apa maksud Bu Lynn saat itu. Kemudian Bu Lynn berkisah bahwa tidak hanya dia, beberapa guru merasakan sesuatu yang lain terhadap anak yang bersangkutan. Kejadian tadi, membuatnya semakin memikirkannya.

Sebuah dialog tentang menjadi orangtua. Pembicaraan biasa bahwa kita semua nanti akan menjadi orangtua. Lalu seorang anak laki-laki ngotot bahwa, mungkin dia gak akan jadi orangtua.

Kenapa kamu mungkin gak akan jadi orangtua?

Karena, emang gak semua orang bakal punya anak.

Itu betul juga, kata Bu Lynn. Tapi anak itu nampaknya rada ngotot ini menyatakan maksudnya.

Gak semua orang pengen menikah. Maksud saya Bu Guru, kalo saya laki tapi gak suka sama perempuan, gimana? Misalnya nih, ya. Saya sukanya sama laki juga, kan saya gak mungkin punya anak.

Nampaknya dialog ini jadi perdebatan yang cukup sengit diantara Bu Lynn dengan anak itu yang diakhiri denan sang anak tertawa, lalu berkata:

Cuma becanda Bu Guru. Saya cuma becanda aja, kok.

Mungkin dia cuma curious, kata saya. Anak-anak umur segitu kan lagi heboh-hebohnya pengen tahu. Kelas lima juga lagi heboh-hebohnya pengen tahu segala seluk beluk mengenai haid.

Kamu gak merasa tentang anak itu? Saya bukan satu-satunya yang merasakan, loh. Dan itu udah cukup lama. Dari cara dia memandang anak laki-laki lain.

Saya menggeleng.

Sepanjang dia kelas lima, setiap hari ngeliat dia, saya sama sekali gak melihat ada yang beda. Well, mungkin dia belum puber juga waktu kelas lima. Mungkin baru kelas enam baru..tapi itu juga mungkin. Ada kemunginan lain.

Apa?

Mungkin gak ada apa-apa.

Hening sejenak.

Saya bingung tentang ini. Apa saya musti bicara sama orangtuanya, tanya Bu Lynn.

Apa? Mengenai hal ini?

Ya..

Itupun harus dipikirin dulu. Kita harus lihat dulu bagaimana orangtuanya. Kalo orangtuanya panik, gimana? Kasihan loh tu anak nanti. Dan kamu udah siap belum? Soalnya, orantua pasti akan tanya kita bagaimana menghandelnya.

Yaa, emang harus dipikirin dulu.

Seperti yang saya tulis sebelumnya, ini hanya pertanyaan-pertanyaan. Bukan jawaban. Hal-hal yang masih kami pikirkan bagaimana penanggulangannya. Demi menghindari pornografi kepada anak-anak, bisa browsing. Saya kira, banyak sekali tulisan mengenai hal itu di dunia maya. Tapi yang menjadi pertanyaan bagi saya, bukan sebatas itu. Saya sendiri agak merasa bahwa mengunci dari akses, bukan hal yang bisa kita lakukan terus menerus. Tidak pada usia-usia yang saya hadapi ini. Susah kalau sudah berhadapan dengan hormon, dengan naluri manusia, dengan pubertas.

Pertanyaan sesungguhnya, dan mungkin yang berat untuk dilakukan adalah, bagaimana menjadi orangtua yang bijak untuk mendampingi anak-anak kita dalam menghadapi ini semua. Itu yang susah.

Iklan

Satu pemikiran pada “Gosip Ruang Guru: Pertanyaan Pertanyaan

  1. soal trio yang lagi heboh itu yah?
    Namanya juga mereka entertainer, mungkin mereka mencari jalan “berbeda” untuk untuk meng- entertain publik kayak kita2 ini, buat selingan nonton sinetron :mrgreen:
    Kalau anak kecil sih suruh aja mereka nonton videoklip Peterpan diselingi iklan sabun lux 😈

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s