Guruku Tukang Bubur

Pada suatu tempat dimana saya pernah tinggal, ada seorang tukang ojek yang dipanggil oleh ibu-ibu sekitar dengan sebutan ‘pak guru’. Beberapa saat kemudian, baru saya tahu bahwa sang tukang ojek itu memang seorang guru SD yang juga berprofesi sebagai tukang ojek motor.

Pagi selepas subuh, bapak itu berangkat dari rumah menuju gang depan rumahnya untuk standby. Menunggu tumpangan. Pada pukul tujuh kurang 10 menit, beliau mendatangi beberapa rumah yang telah menjadi langganan tetap untuk menjemput beberapa anak yang semuanya naik motor bersama-sama, sudah rapih berseragam, dan tiba di sekolah bersamanya. Kemudian Pak Guru mengajar sepert biasa. Selepas bel pulang, selepas mengantarkan anak-anak langganannya kembali ke rumah, beliau pergi ke pasar untuk standby lagi. Menunggu tumpangan.

Ada tukang ojek yang dipanggil ‘pak guru’ oleh ibu-ibu setempat, dan itu karena dia memang seorang guru juga selain adalah tukang ojek motor. Masyarakat sekitar sudah begitu terbiasa dan begitu juga saya akhirnya menyikapinya. Biasa saja. Maka itu hanya kisah dari puluhan kisah yang terus bergulir di sekitar saya.

Hari ini, saya memaknai kisah tersebut lebih dalam ketika saya duduk makan bubur ayam sebagai sarapan pagi ini bersama dua orang rekan kerja. Salah satunya, adalah si tukang bubur itu.

Pagi ini, saya harus berada di sekolah. Mengecek persiapan terakhir ruangan yang akan menjadi kelas saya tahun ajaran ini. Rada sial dikit sebab ruangan saya adalah ruangan yang sedang di renovasi jadilah belum bisa diapa-apain. Saya mendapatkan janji bahwa ruangan siap pada hari Sabtu. Ruangan siap itu artinya ruangan sudah rapih bersih tanpa barang apapun. Tanpa bangku, meja, papan tulis,dan apalagi lemari. Maka hari Minggu yang saya kira adalah hari terakhir liburan, menjadi hari kerja buat saya.

Saya dan Eni menyempatkan dulu sarapan bubur di depan gang sekolah. Seperti biasa jika bukan jam sekolah yang melayani pembeli adalah Firda yang sekaligus adalah rekan kami juga. Tokoh yang saya tuliskan sebagai Walikelas 1C. Dan itu adalah kenyataan yang tidak pernah saya apresiasi sebelumnya. Kami sudah begitu terbiasaya sampai tidak pernah memikirkan kenyataan tersebut. Kemudian ketika sebuah mobil menepi dan turun seorang anak yang merupakan salah satu murid Firda dengan penuh senyum memesan bubur kepadanya, barulah saya kemudian teringat dengan suatu kenyataan yang cukup besar:

Orang ini berjualan bubur tepat di depan sekolah tempat dia mengajar.

Tentang kisah Firda sendiri, saya sudah tahu sejak lama. Usaha ayahnya jatuh hingga harus terlibat hutang yang bertumpuk-tumpuk maka Firda yang saat itu sedang menempuh pendidikan pasca sarjana harus berhenti karena kehabisan biaya. Beberapa saat kemudian, sang ayah yang nampaknya sudah tidak tahan lagi pun kabur dari rumah meninggalkan Firda dan ibunya diteror dan dikejar-kejar orang yang menagih haknya. Sempat terseret-seret tangan hukum juga sampai akhirnya, keadaan membaik. Maksudnya, ketenangan pun datang. Firda dan sang ibu yang tinggal tanpa punya satu barangpun kecuali beberapa ratus ribu rupiah di kantong tiba di tempat ini, mengontrak di sebuah rumah petak tiga. Menyewa sebuah gerobak untuk mulai membuka usaha berjualan bubur di depan sebuah sekolah dasar. Beberapa saat kemudian, Firda melamar menjadi guru di sekolah tersebut, dan diterima. Begitulah sampai sekarang.

Saya kemudian teringat suatu ketika saat Firda datang ke rumah dan kami menawarkan dia menginap dia bilang tidak bisa. Dia harus sudah bangun pukul tiga pagi, merebus ayam dan menyiapkan sambal. Saya membayangkan hari-harinya yang begitu pagi selepas subuh datang harus sudah berada di jalan untuk mendorong gerobak, lalu sibuk melayani pembeli hingga setengah jam sebelum bel berbunyi saat dia segera masuk ke sekolah, mandi dan mengganti baju, lalu sibuk mengajar. Pulang sekolah, dia menggantikan sang ibu untuk berjualan sampai malam tiba, yang kemudian pun sibuklah dia mendorong-dorong gerobak ke rumahnya. Saya selalu membayangkan sibuknya, sekarang saya membayangkan perasaannya. Bagaimana rasanya melayani pembeli yang terkadang adalah anak-anak didik sendiri?

Tidak semua orang sanggup menghadapi itu.

Ingat dengan Pak Mahmud sang kepala sekolah pemulung? Beberapa saat yang lalu saya sempat mendengar selentingan kabar bahwa Pak Mahmud sudah tidak menjadi kepala sekolah karena pekerjaan sampingannya tersebut jadi masalah. Saya tidak tahu apakah itu gossip ataukah kenyataan. Namun saat mencari informasi mengenai itu, saya tertegun dengan adanya seorang guru yang mengatakan bahwa Pak Mahmud itu melecehkan martabat guru sebab seorang guru nyambi sebagai pemulung itu kurang pantas. Mengherankan sekali pendapat ibu guru itu karena jelas-jelas bahwa pekerjaan sambilan Pak Mahmud toh bukan pekerjaan yang hina. Dia mencari uang dengan cara yang halal dan tidak melanggar hokum. Dan catatan yang perlu diperhatikan, Pak Mahmud tadinya nyambi sebagai guru privat namun berhenti karena jadwalnya bentrok dengan jadwal sekolah. Dia tidak mau menelantarkan anak-anaknya.

Ada suatu kisah kecil pada suatu kali saat saya sedang mengikuti penataran, salah seorang bapak diknas membahas mengenai plang-plang di jalan yang bertuliskan ‘guru dipanggil ke rumah’. Di bawah tulisan itu, ada nomor telpon. Kita tahu bahwa itu adalah iklan seorang, mungkin beberapa orang guru yang bersedia menjadi guru privat yang dipanggil ke rumah. Si bapak meminta plang tersebut kalau bisa gak ada lagi, sebab itu memalukan. Masa guru dipanggil ke rumah, kata sang bapak. Mana harga diri kita sebagai guru?

Saya suka pusing jika ada guru yang nyebut-nyebut harga diri pada hal-hal yang menurut saya gak ada hubungannya.

Salah seorang rekan saya sempat membicarakan mengenai harga diri tersebut saat salah seorang OTW mempertanyakan kepadanya mengapa kamar mandi di kelasnya kotor. Saya tidak tahu bagaimana rekan saya itu menghadapi sang OTW tapi di ruang guru, dia panjang lebar mengomel. Memangnya saya ini pembantu, katanya. Memangnya saya ini baby sitter? Saya juga punya pembantu di rumah. Saya itu sarjana S1! Gak mandang apa!

Kebetulan, saya memang gak gitu nyambung dengan sang rekan jadi diam saja. Kebanyakan dari kita diam saja menanggapinya. Namun menurut saya, seharusnya dia tidak perlu marah. OTW wajar mempertanyakan itu kepada dirinya kan dia yang memegang ruangan itu dan bukan juga berarti dia jadi, yang dia sebut itu, pembantu. Toh OTW Cuma nanya kenapa kamar mandi di kelasnya kotor, itu aja. Gak nyuruh juga ngebersihin. Kan bisa dengan menjawab baik-baik bahwa dia terima komplen sang OTW, nanti akan dia bicarakan dengan petugas cleaning service. Kalau saya jadi dia, itu menjadi masukan bagi saya untuk lebih mengawasi regu piket kebersihan kelas saya sendiri. Kenapa dia jadi marah-marah? Kenapa dia jadi merasa terhina? Kita jadi guru (swasta) kan memang mau tidak mau jadi tempat komplen OTW sana-sini. Lagian juga saya mah seneng tuh kalo OTW komplen sama saya. Itu lebih baik. Daripada rame di belakang membicarakan dengan OTW yang lain atau ngadu-ngadu ke yayasan, hayoooo!!

Memang apa sih yang disebut harga diri seorang guru itu? Bagaimana bisa dikatakan melecehkan profesi guru. Apakah seorang guru nyambi jadi pemulung itu merendahkan profesinya sendiri? Saya kira tidak. Kalau seorang guru melakukan tindak pidana itu baru memalukan.

Seorang guru mempunya pekerjaan sampingan itu adalah hal-hal yang sungguh lumrah di negeri ini. Ada guru yang juga adalah seorang penjahit, tukang ojek, ataupun pedagang. Tentu saja ini urusannya dengan kebutuhan. Apa lagi? Karena jelas menjadi guru, sampai saat ini, apapun yang anda dengar, itu tidak selalu dapat memenuhi kebutuhan. Lalu mau apa? Korupsi? Lebih terhormat jualan nilai siswa, gitu? Dan jangan pernah berpikir bahwa karena seorang guru punya pekerjaan sampingan maka artinya dia tidak menjadi guru yang baik.

Teman serumah saya adalah seorang ’guru dipanggil ke rumah’. Dia mengajar privat hampir setiap malam kecuali malam sabtu dan malam minggu. Saya tahu persis pendapatannya sebagai guru privat yang hanya beberapa jam sehari itu lebih besar dari pendapatannya sebagai guru tetap di sekolah. Namun, apakah itu berarti dia menepikan murid-muridnya di sekolah. Sama sekali tidak. Dia mendidik dan peduli dengan murid-muridnya. Jika ada muridnya yang kesulitan dengan pelajaran dan tidak dapat dikejar di kelas, dia memberikan waktu setiap pulang sekolah untuk memberikan pelajaran tambahan tanpa sekalipun pernah mengungkit tentang tambahan waktu mengajarnya itu. Dan begtupun Bu Firda, dia adalah seorang guru yang baik, yang perhatian kepada anak-anaknya.

Apakah orang-orang yang mengatakan bahwa profesi guru dilecehkan itu bisa melakukan hal itu? Apakah mereka sesungguhnya guru yang baik? Yaa, mungkin juga. Sudah husnudzon saja pada orang lain.

Mari kita kembali pada pagi, ketika saya menyantap bubur di depan sekolah itu. Sang murid menghampiri Firda, lalu mencium tangannya, kemudian menghampiri saya dan Eni dan mencium tangan kami juga. Sang OTW pun turun menyalami Firda, saya, dan Eni. Bicara-bicara, mengambil pesanan, dan membayar dengan mengucapkan terimakasih serta anggukan hormat kepada Firda sebelum kembali ke mobil lalu berangkat pergi.

Iklan

2 pemikiran pada “Guruku Tukang Bubur

  1. Saya punya paman, adik ayah, yang seorang guru SD. Dia PNS dan mengajar PAI di sekolah negeri tempat saya bersekolah sejak kelas 4. Paman ini punya pekerjaan sampingan yang unik, yakni tukang becak dan tukang. Jika ada order dari kontraktor untuk membangun rumah, dia tidak narik becak. Tapi kalau lagi tidak ada order, maka dia pun menarik becak. Memang tidak gampang menjadi guru sekaligus penarik becak. Paman mengupayakan agar tidak bertemu dengan murid atau rekan guru lainnya. Rute2 menuju sekolah tidak dilayaninya. Sekarang dia sudah pensiun dan sudah naik haji. Sebagian berkat anak2nya yang sukses menjadi TKI di Malaysia. Dulu, paman ini kemana2 naik sepeda mini, sekarang lumayanlah, dia kemana2 naik motor.

  2. masih melihat jiwa2 guru bukan sekedar pengajar…
    semangat bpk ibu,

    *OOT bu, mungkin mata saya y kurang jelas ya.. jadi baca byk2 agak pusing krn warna huruf n latar belakang agak mirip cuma beda muda n tua…
    klo ada warna y biar nyaman dibaca boleh lah bu…
    tapi jika cuma saya aja yaa abaikan aja, makasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s