Hari Pertama Sekolah I: Setiap Warga Negara Berhak Mendapatkan Pendidikan

Baru pulang hari pertama yang selalu melelahkan, langsung menghadapi berita di TV mengenai hari pertama sekolah. Beberapa mengingatkan saya akan masa lalu, pada hari pertama saya masuk SD, saat ibu saya berdesak-desakan dengan segambreng ibu-ibu lain yang juga nyeret anaknya masuk ke dalam kelas. Berebutan masuk dulu-duluan.

Loh, buat apa? T

entu saja buat rebutan kursi dengan ortu yang lain. Maklum, jumlah kursi dan meja lebih sedikit dari jumlah murid, jadi musti berebutan tuh tiap tahun. Pada tahun pertama, para ibu yang berebutan sampai kadang berantem-berantem dengan ibu-ibu yang lain. Tarik-tarikan kursi. Tahun-tahun selanjutnya, anak-anak yang berebutan. Sekarang, duapuluh tahun kemudian, kisah pada hari pertama saya sekolah itu ternyata masih berulang masih terjadi.

Senyum-senyum sendiri menyaksikan tayangan berita saat para ibu berebutan kursi agar anaknya kebagian tempat duduk. Ini kenyataan yang pahit sesungguhnya, tapi saya masih merasakan nafas lega. Mengharukan juga menyaksikan orangtua berjuang untuk pendidikan anaknya. Mungkin itu hal yang sepele. Hal yang remeh. Tapi saya harap, hari itu, hari yang penting saat kita pertama kali sekolah, akan selalu terjejak di benak anak-anak mereka. Dan mereka mengingatnya, bahwa ibunya, rela berdiri lama di depan gerbang dan berebutan kursi untuk mereka, dan mereka akan menghargai itu semua. Seperti saya juga mengingatnya sampai hari ini.

Tayangan selanjutnya, masih dalam berita yang sama membuat saya terbengong-bengong melongo. Yah, saya ingat sih pada hari pertama sekolah setelah liburan panjang, Iis, tetangga saya akan tiba di pintu saya begitu pagi. Lebih pagi dari biasanya. Lalu kami akan berlari sepanjang jalan sampai di sekolah untuk segera menempati kursi yang kami pilih. Yep, ini tetep masalah rebutan kursi. Jam 6 pagi kadang kami sudah tiba di sekolah. Tapi sekarang ternyata lebih edan lagi! Sejumlah anak SD sudah tiba di gerbang sekolah pada pukul 3 pagi! Ada yang diantar orangtuanya, ada yang bersama kawan. Duduk di gerbang menunggu penjaga sekolah. Kemudian saat sang penjaga datang dengan muka masih setengah tidur, anak-anak ini langsung berlarian bagaikan anak panah lepas dari busurnya meleset menuju kelas, duduk manis, menunggu bel masuk berbunyi.

Lah, kan, itu masih gelap diluar, ya?

Tayangan ketiga bikin cengar-cengir, tentang keriweuhan hari pertama sekolah yang kalo diinget lagi emang selalu menyunggingkan senyum tapi saat menghadapinya bikin pengen nangis guru dan orangtua, hiks…. Berbagai kisah kecil tentang kebingungan anak-anak pada hari pertama masuk sekolah TK ataupun SD. Dari yang diam seribu bahasa sampai yang gak mau lepas mencengkram pinggiran baju orangtuanya. Dari yang Cuma lowa-lowe sedih sampai ngambek awut-awutan di lantai. Ada tayangan saat anak-anak begtu semangatnya sampai gak mau masuk kelas dan ngotot masih main diluar. Ada yang ngamuk saat upacara pertama kali karena nyariin botol susunya. Kemudian, sekeping kisah yang biasa saya lihat saat anak baru tiba-tiba ngacir gitu aja kabur dari kelasnya nyariin orangtuanya.

Hey, hari ini pun hari pertama masuk sekolah di tempat saya mengajar. Bagaimana kisahnya?

Sejujurnya, mengenai anak-anak baru kelas 1, saya belum begitu tahu. Kami begitu lelahnya sampai tidak sempat bertukar kisah sementara saya pun lebih banyak mengkhawatirkan kelas saya sendiri. Memang sih, kelas saya adalah kelas lima. Tapi tahun ini, lebih banyak kekhawatiran menyergap benak saya. Ini tentu masalah terdapatnya ABK di kelas.

Tahun ini, pertama kalinya saya menghadapi ABK di dalam kelas. Dan dia akan berada di dalam kelas secara reguler. Kondisinya lebih berat kepada fisik yang membuatnya rentan terhadap benturan. Memang sih, akan ada shadow teacher yang mendampinginya setiap saat, tapi itu tidak membuat saya lebih ringan khawatirnya. Tidak dengan angkatan ini.

Kelas lima tahun ini adalah anak-anak yang jauh lebih aktif, lebih pecicilan, lebih usil, dan lebih suka bermain dibanding kelas lima yang lalu. Well, ingat kelas 1C tahun yang lalu yang heboh itu? Sampai saat ini, dan semua guru lama setuju, bahwa kelas 1C tahun kemarin lebih kalem dibanding kelas satu angkatan ke-3. Nah, bayangkan itu! Saya sendiri juga gak ngerti kenapa bisa ada satu angkatan, satu kelas, muridnya petakilan semua. Kalo di setiap kelas ada satu sampai lima anak petakilan sih wajar. Ini duapuluh empat anak duapuluh empatnya petakilan! Weh!!!

Belum apa-apa, saya udah ngebayangin yang ngeri-ngeri euy!

Saya kira, sejak awal masuk, kesan pertama yang harus sudah tertanam pada anak-anak kelas 5 tahun ini. Mereka punya kerja berat bahwa mereka, harus, mau tidak mau, belajar untuk memikirkan kesejahteraan orang lain. Belajar untuk bersikap lebih dewasa, lebih tenang, lebih terkontrol. Maka sejak awal, ruang kelas sudah saya rancang seserius mungkin. Label nama di locker adalah label resmi hitam putih bertuliskan nama lengkap yang panjang, begitupun pengaturan kursi. Kalau tahun kemarin pada hari-hari pertama, semua kursi dan meja saya singkirkan dan kita semua ngobrol ngeriung di lantai beralaskan karpet sambil makan-makan sambil ketawa-ketiwi, kali ini tidak. Ruang saya setting seakan-akan ruang rapat. Saya bahkan begitu seriusnya sampai meletakkan bendera merah putih di sisi kanan meja guru saya yang besar yang, tidak seperti biasanya, berselimutkan taplak dengan map-map tergeletak rapih di atasnya.

Hueheheheh…. Mirip mejanya kepsek lah pokoknya meja saya tahun ini.

Nak, begitu masuk ke dalam kelas harus langsung sadar yah. Hari ini, kamu bukan di kelas 4 lagi.

Dan begitulah, anak-anak langsung beradaptasi dengan ruangan. Dari suara gedubrukan diluar, begtu masuk dan melihat saya sudah duduk sibuk dengan kertas, langsung merendahkan volume suara. Mencari locker, lalu duduk tenang. Saya masih bicara beberapa saat dengan OTW anak baru yang duduk di depan meja saya. Sampai bel berdering saat kami semua turun ke lapangan untuk apel pagi. Dan saat itulah saya menemui pemandanga paling menggugah sepanjang hidup saya sebagai guru.

Saat apel tersebut, satu rombongan datang. Rombongan yang dipimpin oleh Bu Eni beserta tim, anak-anak, serta OTW mereka. Mereka tidak ikut apel melainkan langsung masuk ke dalam kelas. Dan saya melihat satu kelompok orang-orang istimewa. Ada satu anak yang berada diatas kursi roda, ada yang digendong ke dalam kelas oleh ayahnya sementara sang ibu membawakan tongkat. Beberapa anak berpadangan kosong, ada yang terjengking-jengking dipegangi yang nampaknya, dapat kapan saja lepas dan lari ke gak brenti ke ujung bumi.Lalu anak saya berada paling belakang, yang mukanya gak mengalihkan pandangan dari Bu Ani, shadow teacher-nya, yang nampaknya sedang menjelaskan beberapa hal kepadanya. Mungkin hal yang sederhana bagi kita namun baginya butuh perjuangan. Namun bagaimanapun, dia tiba di sekolah, walaupun tau bahwa tiap hari, dia akan menghadapi hari yang berat. Dia datang.

Maka yang terbayang di mata saya adalah tulisan pada akhir film Laskar Pelangi:

Setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan.

Ya, pendidikan adalah hak setiap warga negara. Bukan hak orang kaya, orang pintar, maupun orang yang sempurna saja.

4 thoughts on “Hari Pertama Sekolah I: Setiap Warga Negara Berhak Mendapatkan Pendidikan

  1. Eniwei, setelah dua tahun menuliskan hampir setiap kisah dan langkah saya sebagai walikelas lima, menjelang akhir tahun saya sudah kepikiran untuk mulai akan kehabisan bahan. Mau nulis apa lagi? Ternyata, memang benar. Menjadi guru, walaupun setiap tahun menghadapi alur yang sama, tetap adalah sebuah petualangan baru. Sebuah kelas baru buat saya juga.

    Tahun ini, saya akan lebih banyak belajar lagi…🙂

  2. iya, Bu..setuju bgt..
    Smua warga negara berhak mndapatkn pendidikan..
    Masalah yg sering aku temuin pd murid skolah yaitu ktika kluarga mrka tdk mampu scra ekonomi dn mmbuat sang anak putus skola..tp skrg aku bru sadar, slain anak yg kurang mampu,ada anak brkebutuhan khusus yg jg btuh prhatian ekstra spya mrka ttp bs skolah..
    Utk thn ajaran bru ini, smga bu Al ttp sukses mmbimbing dan mnjaga murid2 d kls ibu, khususnya pd ABK..

    Bu, aku malah ga nyangka bu Al prnah brpikir akn kehabisan ide utk brcerita d blog..
    Stiap hri yg qta jalani adlh hari yg baru,pzti qta akn trus mndpt pngalaman dn pelajaran bru..🙂
    hehe..keep writing ya,bu Al..
    Sukses terus!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s