Hari Pertama Sekolah III: Kaget

Minggu pertama sekolah bener-bener melelahkan. Teler. Saking capeknya, setiap hari pulang sekolah saya langsung tertidur lelap dan bangun beberapa saat sebelum isya. Itupun susah payah dibangunin Eni nyuruh shalat maghrib dan isya yang kemudian, gak bisa tidur lagi. Sebab masih banyak pekerjaan menanti. Sudahlah walhasil, minggu ini merupakan saat-saat angin puting beliung saya, dan juga rekan-rekan saya. Maka Jum’at yang udah sejak pagi merasakan tenggorokan perih pun diakhiri dengan saya tergeletak demam dan batuk-batuk.

Saya kira, ini cuma kaget aja. Kaget setelah 2 minggu liburan yang bagi saya, nampaknya bener-bener gak berguna. Gak ngapa-ngapain selain leha-leha aja. Tau-tau langsung full kerja dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore ngurusin anak-anak.

Hari-hari pertama memang selalu sibuk. Dua hari pertama, adalah hari paling keliyengan buat para walikelas karena pelajaran belum dimulai. Jalannya kelas masih merupakan persiapan, perkenalan, serta kontrak-kontrak belajar yang artinya full walikelas dan anak-anak mereka. Ups, ini bukan mengeluh atau apa. Kami hepi-hepi aja, seneng-seneng aja. Tapi tentu saja menghabiskan energi banget. Pertama, masuk kelas terus-terusan dari sore minus istirahat gimana gak bikin kelenger! Ini SD kawan, artinya sepanjang waktu di kelas, nyaris gak duduk sama sekali. Berdiri dan keliling. Banyak ngomong pula. Dari mulai menerangkan, menimpali dan memandu diskusi, memperingatkan, mengomeli, cerita (jadi guru SD gak bisa ngedongeng bisa kabur anak-anaknya), membujuk anak yang rewel, sampe ngelawak. Dua hari ini penting banget untuk kelangsungan setahun. Kalau dua hari ini walikelas udah jadi orang yang gak disukai, atau gampang dimanipulasi dan gak tegas, wah gawat! Berat kerja sepanjang tahun nanti.

Kaget ini bukan hanya dialami saya, namun juga anak-anak. Khususnya adik-adik kelas 3 yang biasanya udah pulang jam setengah dua, sekarang musti di kelas sampai jam 3 juga. Sudahlah selepas dzuhur, semuanya terkantuk-kantuk. Tapi mereka semangaaaat banget untuk tetap menjalani sampai akhir walaupun sambil ngantuk berat. Soalnya, tahun ini mereka udah besar, heheh… Udah masuk kategori kelas besar. Artinya, setiap kegiatan akan digabungkan dengan kakak-kakak kelas 4, 5, dan 6. Jadi,hepi-hepi aja tuh. Cuma rada ribet karena jam saya di kelas tiga semuanya adalah jam-jam terakhir. Alasannya, kelas-kelas saya selalu aktif banyak gerak banyak game.

Hekkk!!!

Beratnya itu justru penyesuaian anak-anak kami pindahan dari SD Negeri. Kalau SD Swasta dan khususnya SD Islam mah udah biasa dengan panjang jam belajar. Di Kelas kecil, pada uring-uringan. Di kelas besar, paling ngantuk aja karena kelelahan. Sementara anak-anak lama, malah hepi boanget jam sekolah kita tambah panjang. Kegirangan mereka pas tahu. Heran!! Yah, paling tidak, cukup membuat bangga hati juga. Anak-anak malah girang waktu sekolah tambah panjang itu artinya kita kan udah berhasil bikin sekolah menjadi tempat yang menyenangkan buat mereka. Bukan tempat yang menyeramkan.

Di kelas saya, kaget ini bentuknya lain. Bukan masalah panjangnya jam belajar, tapi kenyataan bahwa mereka harus lebih peduli dengan rekannya sendiri.

Sejak awal, saya udah bingung bagaimana menjelaskan mengenai ABK (anak berkebutuhan khusus) di kelas. Ini tahun pertama, maka masih rada gagap semuanya. Enaknya memang, saya ada waktu menjelaskan dan mengkondisikan anak-anak dulu. Tapi ternyata, sejak awal, sang ABK dan shadow teacher (semacam maid yang mendampingi ABK di kelas), sudah masuk kelas. Maka saya bingung sendiri. The Shadow Teacher kelas lima menyarankan untuk menyerahkan saja langsung pada Bu Eni untuk menerangkannya. Sekalian nanti jika anak-anak mau tanya-tanya, bisa langsung kepada yang bertanggung jawab. Saya setuju. Maka sampai setengah hari, anak-anak gak ngeh sama sekali. Agak bingung dikit dengan salah satu anak baru yang keliatannya gak nyambung, tapi hanya berupa kerutan-kerutan di dahi aja. Mereka tidak terlalu mempersoalkan, atau melakukan tindakan yang gak enak. Pertanyaan justru mengenai sang shadow teacher.

‘Bu, kita kan udah kelas lima, kok walikelasnya ada dua?’

‘Iya, Bu. Kita kan udah gede, bukan kelas kecil lagi.’

Huehehe, sang shadow teacher disangka walikelas kedua di kelas lima.

Selepas istirahat, Bu Eni masuk kelas lima. Menerangkan tentang keberadaan Lani, sang ABK di kelas lima, dan kesulitannya. Bu Eni menerangkan dengan lugas dan langsung mengenai hydrocepalus yang diderita Lani, juga mengenai kelainan tulang punggung yang dideritanya. Anak-anak hening ternganga menerima penjelasan dari Bu Eni. Muka mereka berubah yang tadinya cengengesan selalu, jadi serius, sedih, ngeri, dan beberapa anak berkaca-kaca. Apalagi saat Bu Eni menceritakan tentang operasi untuk memasukan selang yang bertujuan mengalirkan cairan dari kepala menuju perut, beuh!! Berkaca-kaca!!!

Terakhir, Bu Eni minta kerjasama anak-anak kelas lima untuk membantu Lani. Semuanya setuju! Bahkan para cowok bertekad akan menjaga Lani. Gak boleh ada yang nyakitin Lani, gak boleh ada yang ganggu!! Awas nanti berani ngapa-ngapain Lani, siap-siap aja berhadapan dengan seluruh kelas lima!!

Ngeriii!!!

Itu hari pertama, hari kedua, shock kedua datang. Juga mengenai rekan sekelas kami.

Selepas istirahat, saya masuk langsung membagikan jadwal pelajaran. Tau-tau anak-anak lari memeluk saya sambil tereak-tereak:

’Bu Guruuuuu…..Andra kesurupaannn!!’ (Wah, anak kelas lima tahun ini masih kecil)

Saya minta anak tenang. Karena takut, semuanya bergerombol meringkuk di depan kelas. Saya dan The Shadow Teacher bergegas ke belakang menemukan Andra duduk di lantai dengan mata mendelik dan tidak bergerak sama sekali. Lani ngejerit-jerit hingga Bu Ani, pergi meninggalkan saya yang mulai ketakutan setengah mati. Bingung.

Saya raih Andra, panggil-panggil, saya rengkuh ke pelukan saya masih juga begitu. Maka saya panggil beberapa anak laki untuk panggil Ustadz Syarif ke kelas. Beberapa saat kemudian, Ustadz Syarif ke dalam kelas dan langsung menggendong Andra ke UKS. Anak-anak kelas lima yang ogah di dalam kelas karena takut bahwa salah satu rekan mereka memang kesurupan, akhirnya memilih untuk berdiam sementara di masjid ditemani oleh Ustadz Fiqh.

Sampai di UKS, begitu dibaringkan, Andra langsung kejang-kejang. Bu Dokter langsung lari untuk mengambil mobil. Andra kami larikan ke rumah sakit terdekat.

Saya hanya sebentar di RS, lalu kembali ke sekolah. Ada 24 anak yang panik ketakutan dan butuh penjelasan secepatnya. Maka saya jelaskan sebatas kemampuan saya, dan juga sebatas penerimaan mereka dahulu. Bahwa Andra bukan kesurupan, namun ada latar belakang catatan kesehatan. Pernah cedera di kepalanya hingga dia tidak dapat terlalu lelah. Anak-anak agak bingung, namun saya membandingkan dengan beberapa anak yang suka mimisan saat kelelahan, atau gampang pingsannya orang yang punya darah rendah. Tapi tidak perlu risau, kita doakan sama-sama aja bahwa Andra gak kenapa-napa.

Diam… Diam.. Hening…

Itu artinya, tugas kita tambah lagi, nih. Kita juga harus bisa ngejagain Andra.

Anak-anak mengangguk.. Sedih…

Kalau Andra kelelahan, kalian mengingatkannya. Kalau kejadian kayak tadi lagi, kalian jangan malah panic. Langsung hubungi guru, ya, Nak. Ibu khawatir kejadian nanti pas saat istirahat diluar kelas. Kalian pun harus bantu mengendalikan suasana. Kalau-kalau kelas kecil nanti, yang gak tau, kayak kalian. Tereak-tereak kesurupan. Itu bukan kesurupan. Dan kasian Andra nantinya.

Mengangguk.. Sedih…

Diam.. Diam.. Hening..

’Bu, alhamdulillah, ya, kita gak dikasih cobaan seberat itu… Kalau aku, mungkin gak tahan, Bu..’

’Iya, aku juga… Andra hebat, yaa…’

’Lani juga…’

’Iya….’

Kalian juga hebat, Nak..

Weh!! Tahun ini rame, jek! Baru cerita dua hari sekolah aja udah banyak bener!!!

2 thoughts on “Hari Pertama Sekolah III: Kaget

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s