Secarik Laporan

Misalnya begini, anak bikin ulah. Ibu kesal. Kata-kata yang keluar adalah:

’Awas nanti ayah pulang, diomelin kamu…’

Nah, itu kan hal biasa dilakukan, bukan? Ibu saya dulu sering banget bilang kayak gitu kalo saya badung. Namun tentu, bukan contoh yang baik. Kata-kata seperti itu seharusnya dihindari. Karena itu sama aja kita melimpahkan tanggung jawab ke pihak lain, juga kita membuat diri kita sendiri menjadi tokoh yang, dalam beberapa hal, gak usahlah perlu dipatuhi. Jangan heran kalo anak akhirnya kurang nurut sama ibu. Belum lagi kalau ternyata, sang ayah yang mendengar kisah kenakalan tadi siang malah tertawa dan menganggapnya lucu. Maka kalau mau marah, marahlah. Gak usah tunggu ayah.

Di dunia sekolah, hal yang mirip seperti kisah diatas juga terjadi. Adalah biasa kalau anak-anak itu paling takut sama walikelasnya. Jadi kalau mereka berbuat onar, denger suara sepatu walikelasnya aja udah bikin mereka ngacir atau ngumpet, tapi kalau guru yang lain. Beuh! Sampe serak juga kadang tidak di dengarkan. Makanya, guru bidang study yang sudah mati gaya suka kelepasan ngomong:

’Ntar ibu/bapak bilang sama walikelas kalian, yah…’

Anak-anak saya tahun ini adalah anak-anak yang terbiasa mendapat kata-kata seperti itu. Mungkin karena guru-guru yang ngajar sering mati gaya kali, ya, menghadapi mereka semua. Memang sih, mereka dibilang begitu patuh. Tapi patuhnya kan dibawah ancaman akan dilaporkan. Bukan karena memang atas kesadaran mereka sendiri untuk mencoba menghargai dan menghormati gurunya.

Tahun ajaran ini, sejak awal saya udah bilang-bilang ke semua guru yang mengajar kelas lima, jangan sampai keluar kata-kata seperti itu lagi. Kalau mereka memang mau memperingati, peringatilah! Sementara saya yang akan setiap hari mengingatkan mereka untuk menghormati semua guru yang masuk ke dalam kelas. Gak beda-bedain mana walikelas atau bukan.

Seminggu lebih koar-koar tiap hari mengenai hal tersebut, saya agak senang mendengar laporan dari bapak dan ibu guru bahwa kelas saya sudah mulai dapat terkondisikan dengan baik. Mereka gak lagi secara sukarela kabur kalau pelajarannya menurut mereka gak menarik, atau ngobrol sendiri, dan bermain. Tertib.

Alhamdulillah… Tak disangka, ternyata lebih cepat daripada yang saya duga.

Benarkah?

Ternyata, gak juga….

Bu Tafsir yang berkisah bahwa ternyata, sekarang kalau ada satu atau beberapa anak yang mulai usil di kelas, sang ketua kelas melemparkan secarik kertas kepada mereka. Tulisannya singkat saja. Isinya begini:

Awas nanti aku laporin ke Bu Alifia.

*menghela nafas*

Iklan

6 pemikiran pada “Secarik Laporan

  1. haiyaaa mengingatkan dosaku neeehhh

    Meski dah ikut pelatihan bolak-balik…tetep aja susah…

    Mengancam…meski dengan kata2 seperti itu…

    Tapi ya itu tadi bagaikan P4, mendarahdaging bu…

    Hiks…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s