Alternate Ending

Semalam, kabar datang bahwa Dani (nama samaran), sepupu laki-laki saya dalam keadaan koma di RS. Radang paru-paru. Atau paling tidak, itu yang terungkap disela gaung-gaung tidak jelas anggota keluarga. Hari ini, selepas Dzuhur, kabar sudah dperbaharui. Dia meninggal dunia. Saya bahkan belum sempat menjenguknya.

Innalillahi wainna ilaihi rojiun.

Dia hanya setahun atau dua tahun diatas saya. Duapuluh delapan atau duapuluh sembilan itu berarti masih sangat muda. Dan pada saat ini, yang terlintas di benak saya adalah pada suatu siang, saat kami duduk bale-bale di depan rumah nenek kami di sebuah desa di Jawa Barat sana. Berbagi kisah dan tawa. Kebanyakan, menertawakan kisah hidupnya. Masa-masa ribet saat dia berstatus narapidana kasus narkoba dulu. Bagaimana malam pertamanya di sel dia menangis sepanjang malam, lalu tiga kali sehari musti merasakan tendangan bertubi-tubi dari sepatu berat sipir bagai dosis obat saja.

‘Tiap ditendangin, gua seneng. Abis itu dikasih makan.’

Hidupnya, tipikal anak jalanan. Setelah ayah kandungnya meninggal dunia, keluarganya berubah acak-acakan. Himpitan ekonomi membuat kediaman keluarga kecil yang tadinya bahagia tentram ini menjadi ajang perang. Tambah buruk saat sang ibu kawin lagi kepada seorang pria yang tidak mampu memberikan apa-apa selain tambahan beberapa anak, dan lebam-lebam di tubuh anak-anak tirinya. Tiga dari lima anak pamanku ini memilih kabur dari rumah. Termasuk salah satu dari tiga orang ini adalah Dani. Beberapa tahun kemudian, kami menerima kabar bahwa Dani berada dalam tahanan polisi. Tertangkap tangan saat sedang mengedarkan narkoba. Umurnya belum 15 tahun saat dia pertama kali berstatus narapidana.

Hari itu, saat kami duduk berbincang, dia sempat berandai-andai. Bagaimana jika dulu dia bersedia menjadi anak angkat ayahku? Mungkin, dia menerawang sedih. Mungkin saja saat ini dia sedang hidup baik. Bukan orang yang luntang lantung gak jelas menelantarkan anak dan istri.

Saat ayahnya meninggal dulu, dia memang sempat ingin diangkat anak oleh ayah saya. Sebab ayah saya ingin sekali punya anak laki-laki. Tapi saat itu, ibunya menentang. Dan Dani memilih tetap bersama ibunya. Kemudian keadaan menjadi buruk.

Selepas penjara, keadaan Dani naik dan turun. Dari yang dikenal sebagai pengedar kemudian dijuluki tukang mabok, kemudian pengedar lagi. Dipenjara lagi. Keluarga mencoba untuk membantunya sebisa mungkin. Mencarikan pekerjaan walaupun kecil hasilnya, tapi halal. Jadi dia bisa hidup dengan tentram. Selayaknya anak-anak muda yang kehilangan sepertinya, dia menikah dengan cepat. Usianya belum menginjak duapuluh. Kami kira, detak liar hidupnya sudah mulai stabil sekarang. Biar bagaimanapun, ada nyawa-nyawa yang bergantung kepadanya sekarang.

Kami salah. Keadaan justru bertambah buruk.

Berita bahwa Dani menjual anaknya sendiri begitu mengagetkan kami. Ya, dia memberikan anaknya yang baru lahir kepada seseorang yang memberinya uang. Tiga anak yang lain, tidak jelas juga. Dua anak nampaknya diambil oleh keluarga dari istri. Saya tidak tahu lagi bagaimana kisah-kisah hidup Dani, tapi saudara-saudara kadungnya sering bilang, bahwa sungguh susah bagi mereka untuk menaruh kasihan kepada Dani.

Hari ini, dia meninggal dunia. Dan saya ingat pada masa kecil dahulu, saat dia masih bisa dinasehati masih bisa diraih dengan kasih sayang. Pada hari lebaran itu di rumah nenek, ayah saya bicara kepadanya dari hati ke hati, tentang tetap sekolah. Jangan terus bolos. Nanti mungkin, ibunya akan berubah pikiran dan dia akan tinggal bersama kami. Ayah berjanji akan mengajaknya ke jalan-jalan, tapi dia harus bisa memberikan rapot yang bersih dari catatan bolos.

Seandainya, ibunya memang berubah pikiran. Seandainya Dani benar-benar tinggal bersama kami. Mungkin, akhir kisah hidupnya tidak begini. Mungkin….

Saya membayangkan hari ini Dani datang mengetuk pintu menjenguk saya yang sedang tersuruk karena flu berat. Badannya yang gempal terlihat gagah dengan seragam polisi, cita-cita masa kecilnya dulu. Atau mungkin berbalut kemeja ala kantoran. Entahlah, yang pasti, matanya akan jernih tidak mengisyaratkan pengaruh bahan adiktif. Mungkin sedikit keruh karena rokok, tapi itu sudah yang terburuk. Dan dengan senyum yang khas, dia berseloroh:

’Dari bayi gak bosen sakit melulu, lo!’

Lalu kami akan bertukar cerita sambil minum air jahe hangat. Saya bercerita tentang anak-anak saya, tentang kekasih saya, tentang ibu dan adik-adik. Dia akan bercerita tentang pekerjaannya, tentang kekasihnya, dan mungkin juga, tentang anak-anaknya yang dia akan pamerkan fotonya dengan kebanggaan khas seorang ayah. Lalu, dia pamit pergi setelah sebelumnya kami menaruh janji, untuk menentukan hari saat kami kembali ke rumah nenek untuk menghabiskan liburan, bersama orang-orang yang kami kasihi.

Iklan

Satu pemikiran pada “Alternate Ending

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s