Apa yang Terjadi di Rumah

Salah satu hal yang gak pernah saya sangka saat pertama kali menjadi guru adalah betapa saya menjadi begitu terlibat dengan kehidupan anak-anak saya dan ternyata setiap tahun, ada saja anak yang kemudian menjadi bahan pemikiran lebih. Bukan hanya masalah prestasi di sekolah, tapi juga masalah-masalah pribadi di rumah. Kenyataan pahit yang saya temui di lapangan adalah, bahwa setiap tahun, ada saja anak didik saya yang ternyata sedang mengalami masalah rumah tangga yang cukup berat. Dan bahkan, setiap tahun pula, saya bertemu dengan anak-anak yang (nampaknya) mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Awal tahun ajaran ini, saya masih meraba kehidupan setiap anak didik saya. Mereka pernah menjadi anak saya beberapa tahun yang lalu, hingga saya cukup banyak mengenal kebanyakan dari mereka. Tapi beberapa orang diantara mereka adalah wajah-wajah baru yang saya temui.

Saat ini, pikiran saya sedang tertuju dengan salah seorang anak laki-laki. Mari kita sebut saja namanya Febri.

Febri itu mamanya galak. Itu yang saya pahami saat dia menjadi anak saya beberapa tahun yang lalu. Galaknya mama Febri ini bukan cuma ke anaknya yang suka dia bentak-bentak di sekolah, tapi juga kepada guru suka ngebentak-bentak pula. Sewaktu kelas 2, memang pelajaran sekolah masih mudah, Febri dan semua anak lain nilainya selalu bagus-bagus. Tapi menginjak kelas 3 kan sudah mulai tuh pelajaran susah, mulai kelihatan bener-bener mana anak yang standar nilainya bisa tinggi atau yang ngos-ngosan di jalan. Febri termasuk yang terseok-seok. Nah, saat menerima rapot bayangan pertama, hebohlah ruang kelas tiga karena mamanya Febri berdiri membentak-bentak sang guru yang menurutnya gak becus ngajar. Kemudian sepanjang kelas 3 dan 4 sering datang ngomel minta guru datang ke rumah sebab mamanya Febri gak sanggup ngajarin Febri di rumah.

‘Saya mendingan bayarin orang buat ngajarin anak saya. Ndablek sih dia itu!’

Masalahnya, guru juga ogah ada yang mau datang lah orang mamanya Febri juga gak mau ngerti tentang proses sih! Maunya begitu dikasih les privat, nilainya langsung bagus. Kalo gak, gurunya dibentak-bentak.

Yaaa, mana ada yang mau kalo gitu caranyaaa!!!

Selama kelas 4, Pak Husein berusaha meraih Febri-nya. Menasihati untuk bisa lebih sabar dan tekun. Atau paling tidak, jadilah anak didik yang baik. Yang tidak sering bikin masalah atau bikin sebel guru. Jangan terlalu sering becanda dan kurangi hobi-nya suka bikin temen-temennya marah lalu berkelahi. Jadi guru-guru juga sayang sama dia. Percaya deh, guru itu lebih suka sama anak yang biasa-biasa aja, tapi baik. Daripada sama anak yang pintar tapi membangkang melulu. Nasihat itu diambil Febri, dia mulai banyak berubah sikap. Dan akhirnya memang, kalaupun nilai Febri jelek, guru merasa ringan aja untuk manggil dia ngasih tambahan belajar atau memberi kesempatan HER terus.

Pada akhir tahun ajaran kemarin, mulai ada masalah yang nampaknya dari keluarga yang kemudian agak mempengaruhi Febri. Dia mulai terlihat kusut gak terurus. Bayaran sekolahnya nunggak hampir satu tahun. Ups, kami gak permasalahkan itu. Itu urusan orangtua Febri dan yayasan. Tapi masalahnya adalah, Pak Husein mulai ditanya yayasan mengenai ada apa di keluarga Febri karena beberapa kali panggilan, orangtuanya gak pernah datang. Biasaya kalau memang sedang ada kesulitan keuangan, yayasan akan mau diajak berdialog dan bahkan menangguhkan pembayaran sampai pemotongan uang bayaran kalau memang dirasa perlu. Satu dua kasus malah sampai digratiskan biaya makan siang dan antar jemputnya untuk selamanya. Tapi kalau gak ada kabar begini kan bingung juga. Mau ditegasin, takut emang lagi ada masalah keuangan. Mau dibiarin, lah mau sampai kapan?

Karena gak bayaran, maka Febri gak pernah ambil rapotnya. Memang sih, peraturannya kalau nunggak bayaran lebih dari dua bulan, rapot tidak bisa dibawa pulang. Tapi bukan berarti tidak bisa dilihat. Para ortu yang menunggak bayaran tetep dateng kok dan tetep diperlihatkan rapot, tanda tangan, dan bicara dengan walikelas. Cuma gak bisa dibawa pulang aja. Ini ortunya Febri sama sekali gak pernah ambil rapot baik itu bayangan maupun rapot beneran. Akhirnya Pak Husein mempelihatkan rapot kepada Febri saja.

Sedih juga pas liburan saya dapet telpon dari Febri tanya-tanya apakah dia naik kelas 5 atau tidak. Saat ngobrol dengannya waktu itu, dia sedikit curhat kalau ayah dan ibunya saling lempar soal siapa yang musti datang ke sekolah yang berujung, dua-duanya gak ada yang mau datang. Ibunya bilang tanggungjawab ayahnya masalah biaya sekolah. Ayahnya, yah, gak taulah gimana..

Menanggapi kisah itu, saya cuma meringis sedih. Febri itu anak satu-satunya. Ibunya pengusaha bapaknya pegawai BUMN yang sudah punya jabatan. Masa sih cuma satu anak aja musti terlantar begitu?

Tahun ajaran ini, Febri selalu kebingungan karena gak punya buku. Kata Febri, bapaknya janji mau bayar buku hari ini. Tapi janji tinggalah janji. Saya pun sudah bosan denger janji-janji palsu ini dan apalagi Febri. Maka saya memberikan surat kepada perpustakaan untuk meminjamkan sejumlah buku teks pelajaran sepanjang satu tahun untuk Febri atas tanggungjawab saya. Masalahnya, LKS tidak tersedia. Maka kemudian saya meminta guru-guru untuk memfotokopi bahan LKS yang musti jadi PR anak-anak. Biar gak jadi masalah di yayasan, maka saya minta para guru untuk memfotokopikan tidak sekaligus satu buku. Tapi hanya bahan yang buat PR saja. Alhamdulillah, para guru mau bekerja sama.

Lah iya dong! Kita mah guru bukan urusan deh masalah udah bayar buku atau belum. Yang penting, gimana caranya anak didik kita bisa belajar dengan baik. Itu saja.

Tapi, ini bukan semua masalahnya Febri.

Pada pertengahan semester kedua tahun kemarin, Pak Husein menemukan Febri sedang meringkuk sendirian. Saat bajunya dibuka, tampaklah di dadanya merah-merah lecet seperti bekas dilecut orang. Saat Pak Husein tanya perihal itu, dia diam saja.

Pak Husein: Kamu lecet ini di sekolah?

Febri: (menggeleng)

Pak Husein: Di rumah?

Febri: (mengangguk)

Pak Husein: Seseorang bikin kamu begini?

Febri: (diam)

Permasalahan itu membuat kami semua bertanya-tanya.

Sudah lama Febri kalau pulang ke rumah selalu terlambat. Katanya, ibunya baru bisa jemput nanti sore. Tahun ini saya baru ngeh kalo pulangnya Febri itu bukan hanya sore, tapi sudah senja. Menjelang maghrib. Bahkan sering selepas maghrib baru pulang. Dan selama itu, dia keliling aja seputar sekolahan menemani cleaning service yang lagi bersih-bersih. Saya kemudian meminta Febri untuk menunggu di post satpam saja. Jangan kemana-mana. Dia nurut. Kalau sudah begitu sore dan sekolahan sepi, dia langsung menuju pos satpam yang kebetulan memang berupa rumah kecil. Hingga ada ruangan untuk dia tidur dan menonton TV. Tapi seringnya sih, Febri ngebantuin Pak Satpam ngunci-ngunci sekolah dan sebagainya. Saya gak pernah bisa meraih mamanya Febri lewat telpon selain agak takut juga, hehe… Abis dia orangnya galak, sih!

Hari Jum’at yang lalu, saya sampai sore berada di sekolahan. Main catur sama Febri. Kami ngobrol tentang dia pulang sore. Kemudian saya tahu, bahwa Febri sebenernya gak dijemput pulang. Dia bilang, jangan bilang siapa-siapa yah Bu, hehe…

Jadi, kamu pulang sendirian? Naik angkot?

’Iya..’

Ya itu kan gak masalah, Nak.. Anak kelas 5 kan banyak yang naik angkot pulangnya. Itu gak melanggar peraturan, kok. Kalau kamu memang udah bisa naik angkot sendiri, silahkan. Walikelas hanya minta surat keterangan dari orangtua kamu yang menjelaskan bahwa kamu memang sudah dipercaya mereka untuk naik kendaraan umum sendiri. Itu saja.

’Ah, ibu.. Orang uang buku aja gak bayar-bayar, gimana caranya aku minta surat izin?’

…………………. (termenung)

Tapi kalau pulang naik angkot, kenapa kamu musti nunggu sore banget buat pulang? Macet?

’Gak. Saya lebih seneng disini, Bu. Di rumah gak enak.’

Saat itulah bahu saya rasanya merosot. Sering saya memandangi anak-anak jalanan dan bertanya-tanya mengenai apa sebenernya yang terjadi di rumah hingga anak-anak ini merasa lebih betah di jalanan. Seorang anak kan punya alasan untuk pergi dari rumahnya sendiri. Kemudian, satu anak ternyata tepat berada di depan saya. Hari ini, dia masih berusia 10 tahun. Baginya, sekolahan adalah tempat yang lebih membuatnya betah tinggal. Dan dia beruntung, berkesempatan sekolah di tempat yang ramah untuknya didampingi orang-orang baik yang tidak keberatan digrecoki olehnya. Bagaimana nanti? Bagaimana jadinya anak ini saat semakin besar? Apakah dia akan menjadi anak yang mencari keluarganya di tempat-tempat yang salah?

Maka saya mengatakan hal yang sungguh saya ingin katakan kepada sepupu saya yang baru saja meninggal minggu lalu saat dia masih kecil:

Apapun yang nanti terjadi, kamu jangan pernah kepikiran untuk tidak sekolah atau pergi dari rumah. Sabarlah dulu. Mungkin akan membaik. Jangan coba yang macem-macem. Kalau kamu sedih, kamu bisa bicara sama ibu ataupun siapapun guru disini. Pasti mau ngedengerin kamu. Pasti mereka akan memegang rahasia kamu jadi gak usah khawatir. Dan begitu juga nanti di SMP atau di SMA. Mereka orangtua kamu juga dan pasti mau membantu jika kamu mau terbuka sama mereka. Kamu harus ingat ini terus, ya…

Iklan

10 pemikiran pada “Apa yang Terjadi di Rumah

  1. miris bgt mendengar ada anak yg ga diperhatiin sm orangtua nya.
    pengen bgt ngebantu merubah keadaan si anak, misalnya mencoba dateng ke rmhnya trus berbicara sm ortunya, tp nanti kita malah dituduh terlalu ikut campur, mana si Mama galak tuh..
    tp klo ga segera di intervensi, takutnya perkembangan emosi Febri jd bermasalah..
    huh, gemes deh sm ortu yg kyk begini..

  2. spechless bu Al, saya sampe gak bisa ngomong apa2, cuma bisa nangis, mudah2an febri dapat tegar menghadapi hidupnya, dan Allah SWT senantiasa membuka pintu hati orang tua febri dan orang tua 2 laen yang juga bersikap sama seperti mereka, agar lebih menyayangi anak2nya, anak adalah masa depan keluarga, dan juga bangsa kan bu… 😦 😦

    • Amin, mbak… Mudah-mudahan diberi pintu kemudahan bagi keluarga Febri untuk menyelesaikan apapun masalahnya, dengan cara yang baik dan bijak..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s