Main Bola Lagi, Yuk!

Kelas satu kalo main bola masih belum terpola. Nendang-nendang bola aja sambil lari-larian. Tapi mulai kelas 2, nampaknya sudah mulai ikut aturan. Dan bola adalah permainan yang nampaknya gak pernah dibosenin untuk dimainkan oleh anak-anak.

Tahun kemarin, ada Nouval yang gak pernah absent berada di lapangan bola. Tahun ini, semua anak laki saya hobi main bola. Begitu bel istirahat bunyi, langsung deh rusuh lari keluar kelas buat main bola sampai bel masuk berdering. Balik ke dalam kelas dengan badan basah kuyup keringat.

I like it!

Beneran, saya senang melihatnya. Seperti juga saya senang gak kepalang saat baca angket yang ditulis anak-anak beberapa hari yang lalu. Tahun kemarin, pada kolom hobi, hampir seluruh anak menulis main PS dan nonton TV. Tahun ini, kolom itu diisi dengan jawaban hampir seragam: main bola. Cuma dua anak yang menulis main PS sebagai hobinya.

Jangan salah, yang cewek juga sama. Kan saya sudah bilang, kelas 5 tahun ini adalah kelas cowok. Bahkan, anak-anak perempuan saya sempat protes secara resmi kepada sekolah dan mempertanyakan kenapa eskul futsal hanya terbatas kepada siswa laki aja. Anak-anak perempuan saya juga mau ikut soalnya. Tapi, yah, karena terbatas tenaga pengajar dan terlampau banyak yang berminat, untuk regu futsal putri belum dapat dibuka tahun ini.

Penonton kecewa!!

Saya suka terheran-heran dengan kegigihan anak-anak dalam ngotot main bola.

Beberapa hari yang lalu, semua bola di sekolah dikunci di lemari. Ini gara-gara pada hari sebelumnya, semua bola yang keluar ditinggalkan begitu saja di lapangan. Gak ada yang mau bertanggungjawab mengembalikan. Akhirnya, Pak Satria marah. Dikuncilah lemari olah raga. Dan mulai saat itu, tau-tau, banyaklah bola bertebaran dimana-mana. Dari bola plastik murahan sampai bola yang benar-benar bagus. Itu punya anak-anak, mereka bawa sendiri-sendiri dari rumah.

Banyaknya jumlah bola ini teryata malah menimbulkan kesulitan baru. Lah iya kan jadinya tambah rebutan itu lapangan. Sempet bikin lieur pas istirahat berseliweran anak-anak dan bola-bola dimana-mana. Penonton pusing! Ini berapa tim yang main sebenernya? Tapi beberapa menit kemudian, entah siapa yang mulai, berubahlah permainan bola yang tadinya klasik jadi lomba melambungkan bola tinggi-tinggi.

Permainan baru ini punya rule yang gampang saja. Setiap orang coba menendang bola ke vertical ke atas sekuat tenaganya. Bola akan melambung begitu tinggi hingga turun kembali, atau nangkring di lantai dua dan tiga sekolah. Anak-anak yang berada di lantai dua akan menangkap bola tersebut, lalu melemparkan kembali ke bawah. Yah, beberapa bola ternyata gak turun lagi karena nyangsang di genteng sekolah, atau masuk ke ruang-ruang di lantai 4 yang masih kosong setengah jadi.

Kemarin diumumkan, mulai besok , dan seterusnya, anak-anak gak boleh main bola pada hari Jum’at. Paling tidak, pada saat istirahat tidak boleh main bola.

Loh kenapa?

Sebab hari Jum’at seragam kita baju muslim putih-putih. Anak laki-laki berarti seragamnya baju koko putih, celana putih, dan peci putih juga. Terbayang kan selepas main bola itu seragam gimana bentuknya? Berubah jadi cokelat. Padahal, hari Jum’at anak-anak laki harus ke masjid di luar sekolah untuk menunaikan ibadah shalat Jum’at. Selama ini, selalu tuh mearik perhatian orang anak-anak kita itu.

‘Itu anak sekolah mana sih, bajunya kotor boanget!’

Masalah kotor sih gak ngaruh apa-apa, tapi itu kan najis. Kita selayaknya shalat memakai baju yang bersih.

Jadi karena itu anak-anak gak boleh main bola?

Iya, karena itu. Dan ini sudah melalui perdebatan yang cukup panjang di ruang guru. Beberapa orang guru, termasuk saya salah satunya yang paling keras, menganggap bahwa pelarangan main bola pada hari Jum’at ini absurd. Bisa gak sih cari jalan lain? Misalnya, nyuruh anak-anak mandi dan pakai baju ganti saat mau shalat Jum’at. Saya merasa lebih enak begitu. Daripada melarang anak melakukan hal yang positif. Bermain itu hak anak, dan bermain bola jauh lebih bermanfaat daripada main kartu atau ngobrol-ngobrol gak karuan.

Tapi kemudian, ini yang diputuskan. Tidak boleh main bola, atau main di kebon, pada hari Jum’at sebelum shalat Jum’at.

*heh!!*

Dan kebayang dwong, anak-anakku betapa lesunya saat pengumuman itu dibacakan tadi pagi. Bengong mereka. Gak boleh main bola? Oh tidaaaaak!!

Jadi, jadi, tadi saat istirahat, anak-anakku main apa?

Yaaa, main bola.

Pertama, mereka teteup nekad main bole beneran dan saat diperingati guru, beralasan lupa, hehehe… Kemudian karena bosan di peringati terus, diambil terus bolanya, akhirnya mereka main bola di dalam kelas di atas meja.

Main bola kertas.

Kayak ipin dan upin serta teman-temannya main bola itu, tuuuh. Kayak di gambar yang saya letakkan itu… Tapi itu bukan anak-anak saya, loh, ya.. Dapet nyedot dari internet aja.

Melihatnya, saya jadi tergeli-geli aja sendiri. Gak bisa main bola di lapangan, di atas meja pun jadi!!!

Iklan

7 pemikiran pada “Main Bola Lagi, Yuk!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s