Adegan Inspiratif dari Guru di Film dan Buku I: Anna and The King, Dead Poet Society, dan Goodbye Mr. Chip

Ini adalah adegan-adegan dan kisah yang menginpirasi dan atau memberi pelajaran bagi saya sebagai guru. Tidak diberi peringkat karena bagi saya, sungguh susah untuk menyatakan mana pelajaran yang lebih dalam atau bukan.

Anna and The King

Ini adalah salah satu film yang tidak pernah habis saya saksikan. Bukan gak tamat-tamat, tapi gak bosen-bosen untuk menonton terus menerus. Entahlah apakah karena film ini ada hubungannya dengan sejarah, walaupun memicu kontroversi akan keabsahannya, budaya yang sungguh kental, jalan ceritanya, dialog-dialog yang inspiratif, dan kenyataan bahwa pemeran utama film ini adalah Jodie Foster, salah satu aktris fave saya dari dulu sampai sekarang.

Semuanya adalah alasan yang kuat kenapa saya gak pernah bosen menontonnya.

Banyak saya belajar untuk bagaimana menyelenggarakan kelas dari film ini. Dan tentu, ini adalah benar-benar kelas impian. Bayangin, berada di tengah udara terbuka dengan luasnya lahan untuk dieksplorasi. Sementara itu, ketegasan seorang guru yang jelas-jelas mengajar anak-anak dari orang nomer satu di negeri tersebut yang mempunyai kekuasaan absolut. Dari semuanya, mungkin saya hanya menulis satu cuplikan yang memberi pelajaran.

Suatu kisah ketika Anna memberi buku kepada Sang Putera Mahkota yang saat itu sedang resah mengetahui bahwa ada manusia-manusia yang disebut budak, yang dia saksikan sendiri, kurang dimanusiakan di sekitarnya. Buku yang diberikan Anna itu adalah Uncle Tom’s Cabin. Sebuah buku karangan perempuan, tentang perbudakan. Buku itu nampaknya membuat Sang Putra Mahkota semakin resah, dan mulai menggrecoki ayahnya dengan pertanyaan-pertanyaan. Sang raja kemudian menegur Anna karena itu.

Cara menegur sang raja itu yang sungguh keren.

Raja menawarkan Louis, anaknya Anna untuk merokok. Anna melarang, kemudian mengatakan bahwa raja tidak dapat mengajarkan anaknya untuk merokok. Raja kemudian mengatakan bahwa Anna tidak dapat menyuruh anaknya untuk membaca buku Uncle Tom’s Cabin. Kemudian raja memberikan alas an bahwa bukannya dia melarang, tapi menurutnya, apa-apa itu ada prosesnya. Anna gak bisa memberikan sesuatu yang bertabrakan dengan tradisi yang dianut dengan begitu saja. Raja setuju, bahwa ada banyak hal yang musti dirubah, tapi toh gak akan ada yang bisa merubah satu kerajaan dalam waktu satu malam. Jadi lain kali, sebelum ngasih sesuatu pada anaknya, Anna sebaiknya menginformasikan dulu kepada raja. Jadi nanti sang bapak siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan anaknya.

Itu pelajara yang bagus sekali menurut saya. Kita sebagai guru, terlebih sebagai guru muda, punya banyak ide dan mungkin kita anggap progresif. Kalau perlu, tendang segala aturan. Namun apakah itu memang baik untuk peserta didik kita? Maka bagaimanapun, setiap kita memberikan sesuatu, atau tindakan kita, haruslah dipikirkan secara dalam mengenai dampaknya.

Dan komunikasi kepada orangtua itu jangan pernah disepelekan. Penting sekali!!

Dead Poet Sociaty


Ini film yang banyak dipuja, inspiratif, namun menurut pendapat saya adalah salah satu contoh kegagalan. Bukan karena pada akhirnya Pak Keating itu musti kalah dan meninggalkan sekolah, namun karena ketidak mampuannya membangun komunikasi yang baik kepada sekolah dan orangtua murid. Saya sendiri berpendapat bahwa, untuk mengubah dunia, gak perlu selalu menjadi pemberontak. Buat apa memberontak tapi akhirnya musti dipaksa diam. Beradaptasilah dengan lingkungan, kemudian memberikan ide untuk melakukan perubahan. Pertama, tentu kau harus membuktikan dulu bahwa kau bisa meraih sesuatu dengan itu. Maka bagi saya, gak heran sekolah kemudian memecat Pak Keating, masalah caranya yang curang lain lagi. Tapi sekarang gini, bagi pihak sekolah, nampaknya Pak Keating hanya memberi pengaruh yang buruk. Membuat anak-anak melanggar peraturan dan semakin tak terkendali. Sementara itu, apa hasilnya yang perlu dibanggakan? Sampai titik Pak Keating keluar, nol. Hanya sekedar bahwa Pak Keating itu menjadi guru yang disukai dan memberi inspirasi anak-anaknya untuk lebih menghargai hidup.

Sekolah dan ortu butuh sesuatu yang kongkret, bung! Beda jalannya jika anak-anaknya Pak Keating kemudian mendapatkan penghargaan terhadap sesuatu misalnya.

Itu pelajaran yang saya dapatkan. Jadi pemberontak memang keren, tapi apakah itu bermanfaat lain lagi ceritanya.

Waduh, dua film aja udah bikin kesan saya jadi guru yang manut gak mau bereksperimen sepertinya, ya, hmm… Tapi menurut saya, beda loh antara kreatif dan inspiratif, dengan pemberontak. Karena saya yakin kok, sebenernya, baik sekolah, yayasan, atau ortu pengen yang terbaik. Cuma butuh waktu, alasan, serta sedikit pembuktian untuk kemudian menerima cara yang asing bagi mereka.

Tapi tetep ini film yang bagus sekali. Adegan paling inspiratif bagi saya adalah pada hari Pak Keating pertama masuk kelas, saat dia menunjukkan foto para senior kepada anak-anaknya. Mengingatkan bahwa suatu hari mereka akan mati dan gak akan ada yang mengingat mereka, kecuali jika mereka meninggalkan jejak di dunia ini.

Carpe Diem!!

Goodbye Mr. Chip


Ini film yang sama sekali susah bagi saya untuk dinikmati. Jadul pisan. Mana hitam putih, suaranya cempreng. Ampun dah! Tapi kisahnya cukup menarik.

Mr, Chip meninggal dunia. Kepala sekolah yang dicintai anak-anaknya ini pergi pada suatu malam, dalam usia yang sangat tua. Kemudian kisah bergulir sejak saat dia tiba pertama kali sebagai guru.

Pada hari pertamanya mengajar, Mr. Chip langsung jadi bulan-bulanan kenakalan anak-anaknya. Ini membuatnya memutuskan untuk menjadi guru yang galak. Berhasil, anak-anak takut padanya. Dan begitulah selama bertahun-tahun sampai pada suatu hari, pada usia yang sudah tidak muda lagi, beliau mulai merasakan pahitnya kesepian. Dia tidak seperti guru lain yang selalu dikelilingi anak-anak, mendapatkan penghormatan dan sayang dari anak-anak. Dia bukan siapa-siapa, hanya seorang guru killer yang dibenci dan dihindari muridnya. Itu membuatnya sedih. Maka dia mulai merubah dirinya. Dan waktu terus bergulir sampai pada hari kematiannya, dia bukan lagi seorang guru yang ditakuti, tapi sangat dicintai anak-anaknya sekaligus disegani oleh rekan-rekannya.

Saya kira, pelajaran yang penting disini adalah, bahwa panjangnya pengalaman, dan usia tua tidak boleh menghalangi kita untuk kembali belajar. Karena mungkin, bahwa apa yang kita percayai selama ini, adalah sesuatu yang salah.

Duh, sungguh kadang saya pengen banget nyuruh guru-guru yang sudah berumur untuk nonton film tersebut. Memang gak semuanya sih, tapi sering saya temui, guru-guru yang sudah senior mengatakan hal seperti ini:

’Ah, kita mah udah tua. Sudah mau pensiun. Yang muda-muda ajalah yang belajar kayak gini.’

Oh, ayolah. Masa sih kita mau dikenang sebagai guru yang gagap? Gak, kan? Walaupun tinggal satu tahun masa kita jadi guru, maka jadikanlah tahun terakhir itu menjadi tahun yang inspiratif bagi kita dan orang lain. Jadi kita akan punya sesuatu untuk dikenang.

One thought on “Adegan Inspiratif dari Guru di Film dan Buku I: Anna and The King, Dead Poet Society, dan Goodbye Mr. Chip

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s