Bicara Baik Baik

Hari Senin, pagi-pagi saya sudah dimarahi orangtua. Bukan orangtua anak-anak saya, tapi orangtua anak kelas 2 SD. Sang Bapak tau-tau aja menyongsong saya yang baru tiba, lalu ngomel-ngomel:

‘Ibu walikelas lima, yah? Ibu tau gak? Anak-anak ibu tuh yang namanya Alice dan Rayna sok preman di mobil jemputan. Anak saya diancam-ancam. Diatur-atur harus duduk di belakang. Anak saya sampai ketakutan ke sekolah, Bu. Tolong dong dididik anak-anaknya. Ibu bisa gak sih jadi guru?!’

Saya: Bengong.

Ini hari pertama saya kembali ke sekolah setelah absent lagi cukup lama dan yang pertama kali saya hadapi adalah kemarahan orang. Wadow, mimpi apa yah saya semalam?

Maka saya hanya memberikan senyum, dan meminta maaf. Saya akan cari tahu dan akan membereskan masalah ini secepatnya.

Sebenernya, saya menyayangkan kejadian seperti ini terjadi. Sang Bapak tau-tau datang ngomel-ngomel. Rasanya seperti ada di sinetron saja. Kalau begini caranya, saya pun jadi gak jelas sebenernya apa yag terjadi. Jika dikatakan aksi premanisme seperti yang bapak itu katakan, maka sampai sejauh mana? Apakah terjadi kekerasan? Pemukulan? Penghinaan? Ancaman seperti apakah yang telah dikeluarkan oleh dua anak perempuan berusia 10 tahun yang sampai sebegitu hebatnya membuat bapak itu ngamuk begitu rupa?

Kenapa dia bisa begitu, ya? Padahal bisa ya, bicara baik-baik seperti ini:

’Bu, anak saya kemarin cerita kalau dia diancam oleh dua anak ibu. Namanya si ini dan si itu. Kejadianya begini begitu. Anak saya sekarang takut. Gak mau naik mobil jemputan. Saya harap, kejadian ini gak terulang lagi.’

Bisa kan, ya?

Tapi tentu saja, saya tidak mau nanti anak-anak saya berperilaku seperti bapak itu barusan karena itu saya tidak akan mencontohkannya. Maka alih-alih langsung memarahi dan menghukum, saya panggil dua anak bermasalah itu ke kantor saya. Mereka berdua, seperti biasa, cengengesan duduk di depan saya. Dengan ringan tanpa perasaan bersalah. Bertanya ada apa.

Ibu dapet cerita dari salah seorang walimuridnya adik kalian yang satu jemputan dengan kalian.

‘Oh, aku tau!’ kata Rayna. ’Pasti dari papanya Faqih, ya, Bu?’

Saya mengernyit.

Ada apa dengan papanya Faqih memangnya?

’Tadi pagi kita berdua dibentak sama papanya Faqih, Bu. Sampe gemeteran saya.’

Oh, gitu. Emang kalian bikin salah apa sama papanya Faqih?

’Papanya Faqih marah soalnya kita nakal sama Faqih. Tapi itu Cuma becanda aja, Bu. Kita lagi main galak-galakan. Faqihnya juga gak kenapa-napa, kok. Trus papanya Faqih marah-marah.’

Gak mungkin dong kalo kalian gak nakalin Faqih, papanya sampe marah besar.

’Iya, sih, Bu. Aku tau. Tapi aku gak tau sebenernya aku salah apa.’

Trus, apa yang akan kalian lakukan selanjutnya.

’Gak usah ngajak Faqih main lagi aja, deh. Takut salah..’

’Iya, takut dimarahin lagi, ya..’

………

Kalian tau gak, apa yang Ibu dengar?

’Apa, Bu?’

Begini, ibu mendapat laporan kalian sudah melakukan tindakan yang tidak baik di mobil jemputan. Kalian mengancam adik kelas. Kalian sok jadi bos di mobil jemputan.

’Hah? Kita gak gitu, Bu…’

’Iya. Orang Cuma becanda, Bu. Itu mainan. Kita main galak-galakan.’

Yaa, terserah kalau kalian anggap itu main. Tapi kenyataannya, permainan kalian itu bikin adik kalian takut sama kalian.

……. (diam)

Ibu gak tau, ya, permainan macam apa sih yang kalian mainkan itu. Tapi yang jelas, laporan menyebutkan secara spesifik nama Rayna dan Alice. Kalian berdua. Itu artinya, kalian berdua sudah dikenal orangtua adik kalian sebagai anak yang bermasalah.

…………. (Rayna dan Alice melongo. Mukanya kaget.)

Sekarang, gimana perasaan kalian?

………..

Gini aja, deh, ya. Ibu bisa aja berusaha membela kalian dengan cara mengatakan pada para orangtua adik-adik kalian bahwa kalian itu bukan anak yang nakal. Bisa. Tapi itu gak akan banyak membantu. Gak akan membantu kalau kalian sendiri gak memperbaiki diri kalian sendiri. Coba rubah prilaku kalian. Semakin tinggi kelas itu harus semakin sabar. Harus bisa ngalah. Bukan semakin sok kuasa. Nah, coba kalian ingat-ingat, apakah selama ini kalian mau menang sendiri? Gak memberi kesempatan orang lain untuk duduk di depan. Adik-adik mungkin gak protes di depan kalian. Mereka gak berani. Tapi bukan berarti mereka gak kesal, kan?

’Iya, Bu..’

’Tapi, masa kita harus terus duduk di belakang, sih, Bu. Adik-adik itu maunya duduk di depan terus. Sekalinya disuruh duduk di belakang, malah ngadu..’

Loh, bukan berarti nyuruh-nyuruh dan ngancam, kan? Coba pikir, ada gak cara lain yang lebih baik, hayo?

’Apa, ya? Ngng..’

Gini, kalian kan bisa bikin perjanjian. Tapi jangan sambil marah-marah. Baik-baik aja ngomongnya. Misalnya, kalau pagi adik-adik di depan, kalau sore kalian yang di depan. Atau gantian hari. Ngomong baik-baik, orang lain akan lebih bisa menerima.

’Okeh, Bu…’

Jangan terulang lagi, ya.. Ini peringatan pertama sekaligus terakhir, loh, ya..

’Siap, Bu…’

PS: Kejadian serupa juga terjadi pada tahun ajaran yang lalu. Salah seorang anak kelas 2 SD minta duduk di depan. Si anak kelas 4 yang memang duluan duduk di kursi rebutan itu ketawa dan bilang: kalo mau, bayar dulu, dong. Itu cuma becanda saja. Tidak bener-bener minta duit dan cuma sekali-kalinya terjadi. Tapi besoknya paginya, orangtua si anak memarahi anak kelas 4 itu dengan mengatakan bahwa si anak adalah tukang palak. Si anak kelas 4 yang tersinggung mengadu ke ayahnya yang langsung sewot gak terima anaknya dituduh macem-macem. Dan bertengkarlah dua orangtua murid itu atas masalah kecil anak-anak. *sigh*

Iklan

2 pemikiran pada “Bicara Baik Baik

  1. Jadi inget di sekolah kami juga ada ortu macam ini…tp anaknya juga ngeselin banget…emang suka ngadu2 gitu…ngadunya ga bener pula…

    Ga cuma ke guru si ortu ‘ngelabrak’ tp ke anak n ortu lain juga…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s