Simbol dan Nilai

Akhir tahun kemarin, saya benar-benar dihadapkan dengan pilihan apakah akan pindah sekolah, atau tetap disini. Bukan alas an penghasilan  atau yang seperti itu, namun karena ada perubahan arah dari yayasan yang menaungi tempat saya bekerja ini. Namun pada akhirnya, sesuatu membuat saya memutuskan untuk bertahan. Mengenai perbedaan yang tidak sesuai dengan hati, maka saya memutuskan untuk mundur dari posisi yang banyak berhubungan dengan kebijakan. Dan justru memang beginilah saya bahagia. Menjadi guru. Mengajar dan mengasuh anak-anak. Itu saja.

Bahkan saya sendiri pun terkejut dengan keputusan akhir saya ini. Agak deg-deg-gan karena masih mikir bahwa ini adalah keputusan yang salah. Namun ternyata tepat, demi kepentingan saya sendiri.

Siapa yang nyangka kalau tepat pada awal tahun ajaran begini, tepat satu minggu setelah hari pertama sekolah, saya jatuh sakit yang bukannya pulih namun terus menerus memburuk. Kalau dikatakan ‘terkapar’ sih enggak, ya. Hanya saja, banyak penyulit yang datang. Paling kelihatan adalah absensi yang awut-awutan banget! Satu minggu, terkadang saya hanya  hadir 3 atau 2 hari karena musti bolak-balik RS. Belum lagi larangan ini itu dari dokter yang semuanya adalah kegiatan fisik. Walaupun sebenernya saya sendiri gak merasa segitunya, tapi namanya perintah dokter, itu kan nomer tiga dari prioritas.

Yang harus dipatuhi:

  1. Allah dan Rasul-Nya.
  2. Orangtua (Ibu, Ibu, Ibu. Dan Ayah)
  3. Dokter.

Gak boleh naik-naik tangga (padahal kelas saya di lantai 3).

Gak boleh lari-larian (tahun ini saya megang pelajaran olahraga untuk kelas saya seharusnya).

Gak boleh olahraga (Nah, loh!)

Gak boleh terlalu panjang waktu kerja (Di sekolah swasta kan banyak acara jadi sering jadi panitia ini itu).

dan sebagainya…

Tapi karena keadaan saya, sering gak masuk, dimaklumi. Kelas saya dipindah ke lantai dasar dan saya dibebaskan dari semua kepanitiaan, serta untuk olahraga kelas 5, diambil alih Pak Kepsek, heuheu….

Nah, kebayang kan kalau saat ini saya berada di tempat yang baru? Apa kabarnya, tuh!

Yaaa, itulah hikmahnya.

Tapi toh kita bukan hidup di dunia yang segalanya sempurna. Masalah hati ini masih juga memukul perasaan saya terkadang. Dan saya sedih, ketika peristiwa yang berkaitan dengan ini, justru terpampang di depan saya pada saat yang seharusnya menjadi moment khusus kami semua.

Kita beragama, saya percaya, haruslah seimbang. Bukan hanya cetakan dan aturan yang harus ditaati, namun juga nilai-nilai keberislaman kita.

Iklan

2 pemikiran pada “Simbol dan Nilai

  1. BU Al…jngn pindah…. 🙂
    murid2 bagaimana bu….?
    banyak hal yg jadi pertimbangan, tp bagaimana dengan niat awal kita bu?

    Belum tentu di tempat baru keadaannya lebih baik…kita berjuang yuk buuu!!!

  2. Banyak hal yang terjadi dalam hidup dan kehidupan kita.Tentu ada suka-duka, baik-buruk. Nah semuanya, kata orang-tergantung bagaimanakita menyikapinya.
    Hal yang tampaknya buruk bagi kita, sebenarnya belum tentu buruk pada akhirnya. Demikian pula sebaliknya.

    Oleh karena itu, para ustadz selalu memberikan nasihat agar semua kegiatan positif yang akan kita lakukan diniatkan sebagai ibadah agar hasilnya barokah dan selalu dalam koridor-Nya.

    Salam hangat dari Surabaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s