Jadi Guru SD Kita Lemot

Cara ngajar yang baik itu gimana sih?

Ya, yaa… pasti banyak jawabannya. Kreatif, inovatif, dan sebagainya dan sebagainya. Namun, itu semua kan bermuara pada hal yang sama. Gimana kita bisa membuat peserta didik kita tahu, dan paham tentang suatu hal. Juga pembentukan nilai-nilai positif, membentuk figure seorang pencinta ilmu, dan seterusnya.

Suatu kali, seorang teman berkata bahwa bedanya guru dengan yang lain adalah, kalau guru terangnya menyinari sekitar. Dan jagan sampe jadi lilin juga. Terang sebentar, lalu habis terbakar. Seorang teman yang lain, pada kesempatan dan waktu lain dalam hidup saya pernah menyatakan pendapat bahwa seorang guru itu adalah orang yang pinternya di pertengahan. Gak bodoh, tapi juga gak pinter-pinter amat. Soalnya kalau orang pintar, biasanya gak punya kemampuan untuk menyampaikan. Orang bodoh pintar bicara, tapi kan kosong aja. Jadi guru itu orang yang pinternya sedeng-sedeng aja.

Yaa, itu cuma pembicaraan iseng aja antar temen. Lagian juga, ini tulisan santai aja.

Waktu pesantren dulu, Shorof adalah mata pelajaran yang aduhai banget. Sampe berbulan-bulan, saya merasa gak ngerti-ngerti. Bahkan setelah berbulan-bulan itu, saya masih belum juga mudeng sebenernya Shorof itu pelajaran apa sih? Saya tahu, salah satu tata bahasa arab. Tapi apa bedanya sama Nahwu juga gak begitu paham.

Gurunya nerangin pake bahasa arab. Tambah keliyengan kita, kan? Rasanya kayak Ustadzah datang, masuk, ngoceh-ngoceh yang tak dimengerti, lalu keluar. Ujian? Well, Cuma ngapal aja isi buku pegangan yang intinya, gak tau apa yang dihafal, gak ngerti apa juga yang ditulis.

Bukunya tipis sekali, lowh! Buku tertipis dengan durasi yang paling lama. Luarbiasa!

Suatu hari, Ustadzah mengatakan pada kita bahwa ngajar Shorof itu berat.

‘Gak ada guru shorof yang disukai sebab pelajarannya susah. Kalau Nahwu, masih mending. Dikasih contoh juga paham. Kalau Shorof, gimana nyontohinnya?’

Sebenernya, Ustadzah saya ngomong pake bahasa arab waktu itu tapi berhubung penguasaan bahasa arab saya udah jauh sekali mundur sejak lepas pesantren gak pernah dipake lagi gak pernah diulang dan nyaris gak ada stimulus dari luar juga, maka daripada salah saya alih bahasakan saja.

Kata-kata Ustadzah itu akhirnya semacam pembenaran juga buat kita gak berusaha lebih jauh. Habis Ustadzah sendiri bilang susah, seh! Bodo amat, lah! Emangnya siapa juga yang punya cita-cita jadi ahli linguistik bahasa arab.

Kemudian pada suatu hari, Ustadzah Shorof tidak hadir dan guru yang piket adalah Ustadzah Fiqh. Pengennya sih, pas guru gak masuk kan pelajaran kosong, yaaa… Tapi Ustadzah Fiqh adalah orang yang sangat disiplin. Jika ada guru gak masuk pas beliau yang piket, yaudah, beliau masuk dan mengajar.

Maka Ustadzah Fiqh kami mulai membahas pelajaran Shorof. Dan beliau terperanjat sekali bahwa kami ternyata gak bisa apa-apa. Gak ngerti apa-apa.

Akhirnya beliau menyuruh kami untuk menutup buku, simpen dalam tas. Beliau membuat semacam mind map  di papan tulis (kayaknya dulu belum kondang mind map itu) sambil menerangkan.

Beliau menerangkan benar-benar dari awal banget!

Dan karena sesungguhnya kita ini orang yang mau belajar, maka yang biasanya kelas Shorof penuh anak ngantuk ribut ngobrol guru gak didengarkan, mendadak hening. Semua kosentrasi penuh ke depan.

Rasanya saat itu, kepala saya dibuka lebar-lebar. Dua jam pelajaran memang gak cukup untuk menggantikan berbulan-bulan kosong, tapi cukup untuk Ustadzah Fiqh memberikan landasan yang kuat pada kami. Dan pelajaran Shorof selanjutnya, kami cukup dapat memahaminya.

Saya kira bedanya adalah, Ustadzah Fiqh lebih pintar mengkomunikasikan pesan kepada kita. Dia bicara dengan bahasa level kita, menganalogikan dengan sesuatu yang dekat dengan dunia kita, dan menggunakan fasilitas yang ada dengan sebaik-baiknya.

Makanya jadi guru itu artinya kita musti bergaul sama peserta didik kita. Biar tau bahasa mereka, apa yang lagi in di dunia mereka. Cuma lama-lama, itu jadi masalah juga!

Suatu kali berbincang dengan seorang guru kelas 1 di sekolah tetangga.

’Saya udah 10 tahun ngajar kelas satu. Seneng aja sih, tapi kita jadi lemot. Gaya ngomongnya ikut anak-anak. Susah untuk bicara bahasa sulit lagi.’

Masa sih?

’Loh, kamu emang gak ngerasain? Jadi guru SD kita jadi lemot. Terasa banget kalau ngobrol sama temen yang bukan guru atau guru SMA. Mereka bisa ngomong gaya ilmiah, kita udah kebiasaan gaya gampang begini, ya, jadi susah keluar gaya ilmiahnya.’

Pas baca-baca jurnal yang saya tulis saat sebelum jadi guru, mulai kepikiran. Lah, iya, juga, yaa… Kemana itu tulisan saya yang bahasanya keren-keren? Sekarang jadi begini aja. Terbiasa tiap hari harus menjelaskan sesuatu dengan bahasa levelnya kelas lima, nih!

*sigh*

Iklan

2 pemikiran pada “Jadi Guru SD Kita Lemot

  1. Seorang guru memang harus bisa mancolo putro-mancolo putri artinya molah-malih tergantung siapa yang dihadapi.
    Kalau berhadapan dengan murid kelas I ya jangan bicara bergaya Menteri he he he
    salam hangat dari Surabaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s